Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: PERJAMUAN DI MULUT SERIGALA
BAB 8: PERJAMUAN DI MULUT SERIGALA
Mansion Raisinghania berdiri dengan angkuh di atas bukit, seperti benteng tua yang menyimpan ribuan rahasia kelam. Malam ini, lampu-lampu kristal di aula utama menyala lebih terang dari biasanya. Bagi Aarohi, setiap jengkal tanah di halaman rumah ini adalah saksi bisu penderitaannya. Saat mobil mewah yang menjemputnya berhenti di depan teras marmer, Aarohi menarik napas dalam-dalam.
"Ingat, Aarohi... kau adalah Anjali sekarang. Jangan biarkan emosimu menghancurkan topengmu," bisiknya pada diri sendiri.
Pintu besar itu terbuka, dan Deep berdiri di sana menyambutnya. Ia tampak sangat impresif dengan kemeja sutra hitam, namun perhatian Aarohi segera teralih pada sosok wanita di belakang Deep. Tara berdiri di sana dengan gaun merah yang sangat ketat, memegang gelas wine merah yang warnanya persis seperti darah. Mata Tara berkilat penuh permusuhan.
"Selamat datang, Nona Anjali. Sebuah kehormatan bagi kami bisa menjamu investor sehebat Anda di rumah kami yang sederhana," kata Deep sambil mengulurkan tangannya.
Aarohi menyambutnya dengan senyum tipis yang sempurna. "Rumah ini sangat indah, Tuan Deep. Memiliki aura yang sangat... kuat. Seolah-olah setiap dindingnya bisa berbicara."
"Oh, dinding-dinding ini memang berbicara, Nona," sela Tara sambil melangkah maju, suaranya terdengar tajam. "Tapi biasanya mereka hanya membisikkan peringatan kepada orang asing yang mencoba masuk tanpa izin."
"Tara, jaga sopan santunmu," tegur Deep dingin, namun matanya tetap mengawasi reaksi Anjali.
Mereka pun menuju ruang makan. Meja makan itu dipenuhi dengan hidangan mewah, namun suasananya terasa sangat mencekam. Aarohi duduk tepat berhadapan dengan Tara. Di bawah cahaya lampu gantung, kemiripan wajah mereka berdua menjadi sangat nyata. Jika bukan karena gaya rambut dan riasan yang berbeda, siapa pun akan mengira mereka adalah bayangan di dalam cermin.
"Jadi, Anjali..." Tara memulai serangannya sambil memotong daging steaknya dengan kasar. "Deep bilang kau besar di London. Sangat jauh dari Shimla. Apa yang membuatmu begitu tertarik pada bisnis di kota terpencil ini? Bukankah London lebih menjanjikan bagi wanita... berkelas sepertimu?"
Aarohi menyesap air putihnya dengan anggun. "London memang indah, Nyonya Tara. Tapi Shimla memiliki sesuatu yang tidak dimiliki London: kenangan. Saya merasa memiliki keterikatan yang aneh dengan kota ini. Rasanya seperti ada sesuatu yang tertinggal di sini yang harus saya ambil kembali."
Mata Deep menyipit mendengar kata "ambil kembali". "Apa itu, Anjali? Properti? Atau mungkin... keadilan?"
Aarohi tertawa ringan, sebuah tawa yang terdengar sangat tulus namun penuh misteri. "Keadilan adalah kata yang berat, Tuan Deep. Saya lebih suka menyebutnya sebagai 'penyelesaian transaksi'. Dalam bisnis, segala sesuatu harus seimbang, bukan?"
Tara membanting garpunya ke atas piring porselen, menimbulkan bunyi denting yang memekakkan telinga. "Berhenti bertele-tele! Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau menggunakan parfum yang sama dengan parfum kesukaanku? Mengapa caramu memegang gelas ini persis seperti caraku?"
Aarohi menatap Tara dengan tatapan tenang namun menghina. "Parfum ini adalah edisi terbatas dari Paris, Nyonya. Jika kita memiliki selera yang sama, mungkin itu karena kita memiliki insting yang sama. Bedanya, saya menggunakan insting saya untuk membangun bisnis, sementara Anda... saya tidak tahu apa yang Anda lakukan sepanjang hari selain merasa tidak aman di rumah sendiri."
Wajah Tara merah padam. Ia berdiri dari kursinya, tangannya gemetar karena marah. "Kau berani menghinaku di rumahku sendiri?!"
"Tara! Duduk!" bentak Deep. Suaranya menggelegar di ruang makan yang sunyi itu. Deep menoleh ke arah Anjali, namun anehnya, ada kilatan kekaguman di matanya. Ia menyukai keberanian Anjali—sesuatu yang tidak pernah dimiliki Aarohi yang lugu.
"Maafkan istri saya, Anjali. Dia sedang tidak sehat belakangan ini," kata Deep dengan nada yang merendahkan Tara.
Aarohi tersenyum manis. "Tidak apa-apa, Tuan Deep. Saya mengerti. Memiliki wajah yang cantik memang sering kali membuat seseorang merasa terancam saat bertemu dengan orang yang setara."
Setelah makan malam yang menegangkan itu, Deep mengajak Anjali berkeliling taman belakang. Tara hanya bisa menatap mereka dari balkon lantai atas dengan dendam yang membara. Di taman, di bawah cahaya bulan, Deep berhenti tepat di depan air mancur kecil.
"Kau sangat berbeda dengan wanita mana pun yang pernah kutemui, Anjali," kata Deep, suaranya kini melunak. Ia melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara mereka. "Ada sesuatu tentangmu yang membuatku merasa... aku sudah mengenalmu seumur hidupku."
Aarohi menatap Deep, merasakan kebencian yang mendalam namun ia memaksakan sebuah tatapan yang penuh kerinduan palsu. "Mungkin di kehidupan sebelumnya kita adalah musuh, Tuan Deep. Atau mungkin... kita adalah sepasang kekasih yang saling menghancurkan."
Deep meraba helai rambut pendek Anjali. "Jika benar begitu, aku tidak keberatan dihancurkan olehmu."
Tepat saat itu, Aarohi menyadari Tara sedang mengawasi dari balkon. Ia sengaja mendekatkan wajahnya ke arah Deep, seolah-olah hendak menciumnya. Ia ingin Tara melihat ini. Ia ingin benih-benih kegilaan di hati Tara meledak.
"Sampai jumpa besok di kantor, Deep," bisik Aarohi tepat di telinga Deep, sengaja memanggilnya tanpa embel-embel 'Tuan'.
Aarohi berbalik dan berjalan menuju mobilnya. Di dalam mobil, ia melihat ke arah kaca spion, menatap Mansion Raisinghania yang perlahan menjauh. Ia tersenyum dingin.
"Satu poin untukku, Tara," gumamnya. "Malam ini aku tidak hanya masuk ke rumahmu, tapi aku juga mulai masuk ke dalam pikiran suamimu. Mari kita lihat, berapa lama kau bisa bertahan sebelum kau sendiri yang akan mencekik Deep karena cemburu."