NovelToon NovelToon
RAHASIA SURAT WASIAT

RAHASIA SURAT WASIAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.

Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. KEMIRIPAN YANG MENGHUBUNGKAN KELUARGA

Setelah kedatangan polisi dan suasana yang tegang di gedung utama, Ridwan menggunakan waktu senggang untuk pergi ke kantin perusahaan pada jam makan siang. Dia masih mengenakan seragam keamanan, namun kini dengan sikap yang lebih mantap—dia tahu bahwa bukti-buktinya sudah aman di tangan pihak berwenang dan keluarga Wijaya, sehingga tidak perlu lagi bersembunyi dengan terlalu banyak.

Kantin perusahaan cukup ramai dengan karyawan yang sedang makan dan berbincang, namun sebagian besar berbicara dengan suara rendah tentang kejadian pagi tersebut. Ridwan mengambil makanan sederhana dan memilih tempat duduk di sudut yang agak sunyi, jauh dari keramaian agar bisa merenungkan langkah-langkah selanjutnya.

Saat dia sedang mulai makan, dia merasa ada seseorang yang sedang melihatnya dari arah pintu kantin. Dia mengangkat kepalanya dan melihat seorang wanita dengan baju kerja kantor putih bersih, rambut hitam diikat rapi, dan kacamata bulat yang sedang berdiri dengan ekspresi wajah yang penuh dengan kagum dan rasa ingin tahu. Wanita tersebut adalah Siti—staf keuangan baru yang telah menemukan bukti tentang perpindahan aset ilegal ke nama Ratna dan Rio.

Siti mendekat ke mejanya dengan langkah yang lambat dan hati-hati. Dia menarik kursi di hadapannya dan duduk dengan cermat, seperti sedang memastikan bahwa dia tidak salah mengenali orang yang dia lihat. “Maafkan saya jika mengganggu makan Anda,” ujarnya dengan suara yang lembut namun jelas. “Tapi saya tidak bisa tidak memperhatikan wajah Anda. Anda sangat mirip dengan Bu Dewi Wijaya—pendiri perusahaan ini yang saya sering dengar dari cerita karyawan lama.”

Ridwan tersenyum lembut, mengangguk dengan pemahaman. “Banyak orang yang mengatakan hal yang sama, Bu,” jawabnya dengan suara yang ramah. “Saya adalah Ridwan Wijaya Santoso—anak dari Bu Dewi dan ahli waris sah perusahaan ini.”

Ekspresi wajah Siti berubah secara drastis. Matanya melebar dan dia hampir menjatuhkan tas yang dia pegang di pangkuannya. “Wahai Tuhan…” bisiknya dengan suara yang penuh dengan emosi. “Anda adalah cucu Pak Wijaya yang hilang selama delapan tahun? Saya adalah Siti Wijaya—sepupu dari ibu Anda, Dewi. Saya bekerja di sini dengan nama samaran Siti Kusuma untuk menyelidiki kejahatan yang dilakukan oleh Ratna dan Budi.”

Ridwan merasa hati-nya terasa hangat mendengar kata-kata tersebut. Setelah bertahun-tahun merasa sendirian, akhirnya dia bertemu dengan anggota keluarga ibunya yang sebenarnya. “Saya sudah mendengar tentang Anda dari Pak Wijaya,” katanya dengan suara yang penuh dengan rasa syukur. “Pak mengatakan bahwa Anda telah menemukan bukti penting tentang bagaimana mereka mengalihkan aset perusahaan ke nama pribadi mereka.”

Siti mengangguk perlahan, kemudian mengambil tangan Ridwan dengan erat. “Kakak Dewi adalah orang yang paling baik di keluarga kita,” ujarnya dengan suara yang mulai berkaca-kaca. “Ketika dia masih hidup, dia selalu mengatakan bahwa Anda akan menjadi orang yang besar dan akan melanjutkan warisannya. Saya tidak bisa percaya bahwa akhirnya kita bisa bertemu seperti ini.”

Mereka mulai berbicara dengan erat, berbagi informasi tentang apa yang masing-masing telah temukan selama menyelidiki perusahaan. Siti memberitahu Ridwan tentang semua data keuangan yang dia kumpulkan, termasuk rencana Ratna dan Rio untuk menjual sebagian besar aset perusahaan kepada perusahaan asing. Ridwan pun memberitahu Siti tentang folder “Proyek Rahasia Dewi” yang dia temukan, beserta bukti bahwa Budi dan Ratna telah meracuni ibunya dengan sengaja.

“Saya tidak menyangka bahwa mereka bisa melakukan hal yang begitu keji,” ujar Siti dengan suara yang penuh dengan kemarahan. “Kakak Dewi mempercayai mereka dengan sepenuh hati, bahkan menganggap Ratna sebagai sahabatnya. Tapi ternyata mereka hanya melihatnya sebagai rintangan yang harus dihilangkan.”

Ridwan mengangguk dengan ekspresi yang penuh dengan tekad. “Itulah mengapa kita harus bekerja sama untuk memastikan bahwa mereka mendapatkan hukuman yang mereka pantaskan,” katanya dengan suara yang jelas dan tegas. “Dengan bukti yang kita miliki bersama, tidak ada cara bagi mereka untuk kabur dari hukum.”

Pada saat itu, mereka melihat Mira masuk ke kantin dengan beberapa berkas dokumen di tangannya. Mira langsung mendekati mereka setelah melihat bahwa Ridwan sedang berbincang dengan Siti. “Maafkan saya mengganggu,” ujar Mira dengan suara yang ramah. “Saya baru saja mendapatkan salinan dokumen hukum tambahan yang bisa menjadi bukti tentang bagaimana mereka memalsukan surat wasiat Bu Dewi dan menghalalkan segala cara untuk mengambil alih perusahaan.”

Siti melihat Mira dengan ekspresi yang penuh dengan rasa ingin tahu. “Anda adalah Mira—staf hukum yang telah membantu Ridwan bukan?” tanya dia dengan suara yang penuh dengan penghargaan. “Pak Wijaya telah bercerita tentang Anda. Kami sangat berterima kasih atas semua bantuan yang Anda berikan kepada keluarga kami.”

Mira tersenyum lembut, mengangguk dengan sopan. “Bu Dewi telah membantu saya banyak saat saya baru mulai bekerja di sini,” jawabnya dengan suara yang penuh dengan penghargaan. “Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan untuk membayar budi baiknya dan memastikan bahwa keadilan diberikan kepada orang yang benar-benar berhak atas perusahaan ini.”

Ketiga mereka mulai membicarakan rencana selanjutnya—bagaimana cara menyusun semua bukti menjadi kasus hukum yang kuat, siapa saja saksi yang bisa diajak untuk bersaksi di pengadilan, dan bagaimana cara melindungi diri mereka dari kemungkinan balasan yang dilakukan oleh Ratna dan pihaknya. Mereka sepakat untuk bekerja sama erat dengan tim pengacara keluarga Wijaya dan memberikan semua bukti yang mereka miliki kepada pihak berwenang agar proses hukum bisa berjalan dengan cepat dan lancar.

Sebelum jam makan siang berakhir dan mereka harus kembali bekerja, Siti mengambil sebuah foto dari dompetnya dan memberikannya kepada Ridwan. Foto tersebut menunjukkan Dewi bersama keluarga Wijaya ketika masih muda, dengan wajah yang ceria dan penuh dengan harapan. “Ini adalah foto keluarga yang saya simpan sebagai kenang-kenangan,” ujar Siti dengan suara yang lembut. “Sekarang saya merasa tepat untuk memberikannya kepada Anda sebagai ahli waris sah dari ibu Anda.”

Ridwan menerima foto tersebut dengan hati-hati, melihat wajah ibunya dengan penuh cinta dan penghargaan. Dia merasakan bahwa setelah bertahun-tahun hidup dalam kegelapan dan kesendirian, akhirnya dia menemukan tempatnya di dalam keluarga yang mencintainya dan akan selalu mendukungnya dalam perjuangan untuk mendapatkan keadilan.

Di bawah sinar matahari yang menerangi jendela kantin dengan terang, Ridwan melihat ke arah Siti dan Mira dengan pandangan yang penuh dengan harapan dan tekad. Dia tahu bahwa perjuangan hukum yang akan datang tidak akan mudah, tapi dengan dukungan dari keluarga dan teman-teman baru yang bisa dia percayai, dia merasa bahwa dia memiliki kekuatan dan keberanian yang dibutuhkan untuk menghadapi segala sesuatu yang akan datang. Di hatinya, dia berjanji kepada ibunya bahwa dia akan melanjutkan warisannya dengan penuh rasa hormat dan memastikan bahwa nama Dewi Wijaya akan selalu dikenang sebagai orang yang benar-benar peduli dengan kesejahteraan masyarakat dan tidak akan pernah terlupakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!