Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asal Kamu Bahagia
Makan malam baru saja usai ketika Seno Tanudjaja menarik putri kandungnya, Salma, masuk ke ruang kerja. Wajah sang ayah terlihat serius, membuat Salma bertanya-tanya.
"Pa, ada apa? Kok tegang gitu?"
Seno duduk, menatap putrinya lekat-lekat. "Salma, jawab jujur. Apa kamu pacaran sama Aksa Abhimana?"
Salma nyaris tersedak ludahnya sendiri. "Siapa yang bilang, Pa?" tanyanya sambil menahan tawa. "Memangnya menurut Papa, Aksa itu gimana?"
"Sayang..." Seno menghela napas, nada suaranya campuran antara cemas dan protektif. "Papa bukan orang tua kolot. Tapi kamu masih kecil. Papa cuma takut..."
"Takut aku salah pilih?" potong Salma lembut. Ia berlutut di samping kursi ayahnya, menatap mata Seno dengan sungguh-sungguh. "Aku tahu batasan, Pa. Aku nggak memungkiri kalau aku suka sama Aksa. Tapi Pa, ketemu orang yang tepat lebih awal itu bukan kesalahan, kan?"
"Kamu masih terlalu muda," keluh Seno. "Gimana kalau dia cuma mau manfaatin kamu?"
"Aksa nggak akan begitu. Papa tahu sendiri, setiap aku dalam bahaya, dia selalu ada. Pa, tolong percaya sama aku ya? Anggap Papa teman curhatku, bukan sipir penjara. Boleh, kan?"
Seno menatap wajah putrinya yang kini terasa begitu dewasa. Akhirnya, pertahanannya runtuh. Ia mengusap puncak kepala Salma. "Papa pegang janji kamu. Asal kamu bahagia dan tahu batasan, Papa dukung. Tapi ingat, kalau dia macem-macem, bilang Papa."
"Siap, Bos!" Salma terkekeh, lalu mengecup pipi ayahnya. "Tenang aja, putri Papa ini nggak bakal ngecewain keluarga. Pacaran atau nggak, aku bakal tetap jadi juara!"
Seno tersenyum lega. Melihat punggung Salma yang beranjak pergi, ia merasa melihat bayangan istrinya saat muda dulu. Keras kepala, tapi penuh kasih sayang.
Keluar dari ruang kerja, Salma tidak langsung ke kamarnya. Ia melangkah menuju kamar bernuansa serba merah muda di ujung lorong, kamar Manda.
Begitu pintu dibuka, Manda yang sedang duduk di ranjang langsung terlonjak. Wajahnya pucat saat melihat siapa tamunya. Ia hendak membanting pintu, tapi kaki Salma lebih cepat menahannya.
"Kak Manda sayang, kok panik gitu? Kita kan saudari, udah lama nggak deep talk," sindir Salma dengan senyum manis yang mematikan.
Salma melenggang masuk, menutup pintu di belakangnya, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar mewah itu. "Kamar Kakak ini kayak istana putri ya. Papa Mama beneran sayang banget sama Kakak, sampai didesain seindah ini biar Kakak nggak ngerasa dibedain."
Manda mendengus, berusaha menutupi ketakutannya dengan arogansi. "Halah, nggak usah basa-basi busuk. Lo ke sini mau pamer, kan? Karena Papa belain lo terus?"
"Pamer? Belum waktunya," Salma terkekeh pelan, melangkah mendekat. "Aku cuma mau ngingetin, ujian akhir tinggal dua hari lagi. Semoga nilai Kakak tetap bagus ya. Jangan sampai kesalip aku. Malu lho, kalau sampai kalah sama adik yang selama ini Kakak anggep bodoh."
"Mimpi!" desis Manda, matanya berkilat penuh racun. "Lo nggak sadar betapa nyebelinnya lo sekarang? Sengaja banget mancing emosi gue. Sakit jiwa lo!"
"Kata 'sakit jiwa' atau 'murahan' kayaknya lebih cocok buat Kakak deh," balas Salma santai.
"KELUAR!" Manda menjerit, telunjuknya gemetar menunjuk pintu. "Gue muak lihat muka lo!"
"Kak, jangan emosi dong. Aku cuma mau bilang..." Salma mendekatkan wajahnya, menatap Manda lurus-lurus. "Farel Barata kemarin ngejar-ngejar aku, mohon-mohon pengen jadi temen aku lagi."
Nama itu adalah pemicu bom waktu. Farel adalah obsesi Manda. Mendengar cowok pujaannya mengejar Salma, akal sehat Manda putus.
"Dasar cewek gatel!" Manda berteriak histeris. "Lo ngerayu semua cowok! Lo pikir lo hebat? Dasar pelacur!"
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat mulus di pipi kanan Manda. Suara kulit beradu itu menggema di kamar yang sunyi.
Manda mematung, memegangi pipinya yang panas. Matanya terbelalak tak percaya. "Lo... lo nampar gue?"
PLAK!
Satu lagi di pipi kiri. Impas.
"Nampar lo, emang kenapa? Mau teriak? Mau panggil Papa Mama?" Salma menantang, suaranya dingin menusuk tulang. "Panggil aja. Biar mereka tahu seberapa kotor mulut putri angkat kesayangan mereka."
"Gue sumpahin lo mati, Salma! Gue bakal bales ini!" Manda menangis karena marah dan sakit.
Salma maju selangkah, membuat Manda mundur ketakutan hingga jatuh terduduk di kasur. "Manda, denger baik-baik. Semua fitnah, jebakan, dan kejahatan lo selama bertahun-tahun ini... dua tamparan tadi belum ada apa-apanya."
Salma mencengkeram bahu Manda, menatap manik matanya dalam-dalam. "Lo boleh macem-macem sama gue. Tapi kalau sampai gue tahu lo punya niat jahat ke Papa Mama... gue pastiin hidup lo bakal kayak neraka. Ngerti?"
Manda gemetar hebat. Aura Salma benar-benar menekan mentalnya. Ia merasa ditelanjangi, seolah semua rahasia busuknya diketahui oleh Salma.
"Kalau lo nggak betah, silakan angkat kaki," bisik Salma terakhir kali sebelum berbalik dan membanting pintu kamar itu.
BRAK!
Manda tersentak, air matanya tumpah. Salma yang sekarang bukan domba yang bisa ia bully. Dia adalah serigala.
Kembali ke kamarnya, Salma menghempaskan tubuh ke kasur. Mengintimidasi Manda ternyata cukup menguras energi, tapi sangat memuaskan.
Ponselnya bergetar. Rentetan pesan dari Aksa memenuhi layar.
Salma, sayang... kok dikacangin?
Bales dong, Tuan Putri.
Kalau nggak dibales aku gigit nih.
Salma tertawa kecil. Siapa sangka cowok sedingin Aksa bisa se-bucin ini? Ia baru saja mengetik balasan ketika panggilan masuk dari Aksa muncul.
"Halo, Tuan Putri. Akhirnya diangkat juga," suara berat Aksa terdengar menggoda.
"Apaan sih, geli tahu," elak Salma, meski pipinya memerah.
"Geli tapi seneng kan?" goda Aksa. "Eh, aku mau ngomong serius. Soal Pak Rahmat, guru silat kita."
"Kenapa? Aku baru mau minta izin Papa buat mindahin mereka."
"Telat, Sayang. Udah aku beresin," potong Aksa bangga. "Kemarin sore aku suruh orang pindahin Pak Rahmat dan Rara ke tempat yang aman. Jalan Pendekar terlalu bahaya buat mereka."
Salma tertegun. "Gercep banget?"
"Apapun yang menyangkut kamu, itu prioritas nomor satu. Lagian, aku lebih tenang kalau guru kita aman," ujar Aksa lembut. "Oh ya, satu lagi. Soal kecelakaan di restoran. Coba kamu tanya Papa, dia pernah ada masalah nggak sama Manajer Golden Gym milik grup kalian, namanya Hendra Kurniawan?"
"Hendra Kurniawan?" Salma mengulang nama itu.
"Iya. Dia orang terakhir yang kontak sama pelaku penabrakan. Dan malam itu juga dia kabur dari kota ini."
"Oke, aku bakal tanya Papa."
"Satu lagi, Sal... Hati-hati sama Riko. Firasatku nggak enak soal kakak angkatmu yang satu itu."
Salma menghela napas. "Tenang aja. Aku juga nggak pernah percaya sama dia. Sama kayak Manda, dia itu ular."
"Baguslah kalau kamu waspada. Yaudah, istirahat gih. Mimpiin aku ya. Nanti kalau udah gede, bayar semua kebaikan aku ini dengan nikah sama aku, oke?"
"Ih! Dasar tukang modus!" Salma memutus sambungan dengan wajah merah padam. Jantungnya berdegup kencang. Gombalan Aksa benar-benar berbahaya buat kesehatan jantungnya.
Setelah menenangkan diri, Salma turun kembali ke ruang kerja ayahnya. Ia harus menyampaikan info soal Hendra, tapi dengan cara yang halus agar papanya tidak curiga.
"Pa," Salma melongokkan kepala. "Aku baru inget sesuatu soal kecelakaan kemarin."
"Apa itu?"
"Waktu di seberang jalan, aku lihat ada orang yang kayaknya aku kenal. Namanya Hendra... siapa gitu, Manajer Gym perusahaan kita. Begitu mobil nabrak, dia lari panik. Aneh banget."
Wajah Seno langsung mengeras. "Hendra Kurniawan?"
"Iya, kayaknya itu namanya!"
"Oke, Papa mengerti. Kamu istirahat ya, biar Papa yang urus sisanya."
Salma mengangguk dan pamit undur diri. Misi selesai. Kini biarkan orang tua yang membereskan tikus-tikus itu.
Keesokan paginya, Manda tidak muncul di meja makan. Katanya sakit. Salma tersenyum simpul; mental Manda pasti down parah setelah "sesi curhat" semalam.
"Non Salma, mulai hari ini Non diantar jemput Pak Asep aja ya. Nggak usah naik umum lagi," kata Pak Asep saat membukakan pintu mobil. "Oh ya, Nyonya Besar juga kirim dua bodyguard buat jagain Non di sekolah. Mereka nunggu di gerbang."
"Bodyguard?" Salma mengerutkan kening. "Jangan bilang yang pake jas item kacamata item kayak di film?"
"Bukan Non, mereka anak Pak Yuda, asisten kepercayaan Pak Seno. Namanya Yoga dan Surya. Masih muda kok."
Sesampainya di gerbang SMA Citra Bangsa Global, Salma langsung mengenali dua sosok yang dimaksud. Mereka memang mencolok, tapi bukan karena jas hitam.
Yang satu berdiri tegak dengan wajah datar dan serius. Yang satu lagi, dengan seragam sekolah lain yang agak berantakan, sedang asyik bersandar di tembok sambil menggoda siswi-siswi yang lewat.
Sudah pasti yang genit itu Yoga.
Pak Asep memanggil mereka. "Yoga! Surya! Ini Non Salma."
Surya mengangguk sopan. "Pagi, Nona."
Yoga menoleh malas-malasan setelah melempar wink ke seorang siswi. Ia menatap Salma dari atas ke bawah. "Pak Asep, ini Nonanya? Lumayan juga, cantik."
"Yoga! Sopan santun!" tegur Pak Asep.
"Elah, santai Pak. Kan fakta," Yoga menyeringai jahil ke arah Salma. "Halo Non Cantik. Siap saya jagain?"
Salma membalas senyuman itu dengan tatapan jenaka. "Kak Yoga juga ganteng kok. Di sekolah ini jarang ada cowok yang pede-nya setinggi langit kayak Kakak."
Senyum Yoga memudar. Ia paling benci disindir halus.
"Kak Yoga, nanti kalau jagain aku, tolong dikurangin ya tebar pesonanya. Kasihan cewek-cewek di sini, nanti pada pingsan. Sisain dikit buat cowok sekolah kami dong," lanjut Salma dengan wajah polos yang menyebalkan.
Yoga menggertakkan gigi. "Bocah tengil."
"Makasih ya Kakak-kakak ganteng! Semangat kerjanya!" Salma melambaikan tangan ceria lalu melenggang masuk.
Sepeninggal Salma, Yoga menendang kerikil dengan kesal. "Sur, lo rela disuruh jagain bocah ingusan yang mulutnya pedes gitu?"
Surya hanya melirik datar. "Kerja ya kerja. Jangan remehin dia, Yoga. Tatapannya beda. Dia bukan cewek manja biasa."
Di dalam kelas, suasana sudah ramai. Baru saja Salma duduk, Naya Wardhana, sahabat jeniusnya, sudah menepuk bahunya heboh.
"Sal! Aku udah dapet ruko kosong buat Pak Rahmat! Nanti sore kita ke sana ya, bujuk mereka pindah!"
Salma tersenyum. "Telat, Nay. Udah beres."
"Hah? Maksudnya?"
"Aksa udah mindahin mereka kemarin sore. Sekarang mereka aman."
Naya melongo, lalu mendramatisir keadaan. "Gila... Aksa gercep banget! Padahal aku udah sujud-sujud ke Bokap biar dipinjemin ruko. Sia-sia dong air mata buayaku?"
Mereka tertawa bersama. Namun, tawa itu terhenti ketika seorang siswi bernama Sarah menghampiri meja Salma dengan wajah penasaran yang tidak sopan.
"Eh Salma, itu dua cowok ganteng di depan gerbang tadi... pengawal lo?"
"Iya, kenapa?" jawab Salma singkat.
"Bagi ID Line mereka dong!" pinta Sarah tanpa basa-basi.
Salma menghela napas lelah. "Gue nggak punya. Mereka cuma kerja."
"Pelit amat sih! Lo kan udah punya Aksa, masa bodyguard sendiri diembat juga? Maruk banget jadi cewek!" Sarah mulai nyolot, suaranya mengundang perhatian seisi kelas.
"Gue bilang nggak punya ya nggak punya, Sarah. Kenapa nggak minta sendiri tadi?"
"Halah, alesan! Dasar cewek gampangan!" Sarah berbalik badan sambil menggerutu keras, "Cuih, pelacur!"
Hening. Satu kelas menahan napas.
"Berhenti di situ."
Suara Salma tidak keras, tapi dingin dan menusuk, membuat langkah Sarah terhenti seketika. Salma bangkit dari kursinya, berjalan perlahan menghampiri Sarah.
"Apa? Mau ngadu ke cowok lo?" tantang Sarah, meski kakinya sedikit gemetar saat melihat tatapan Salma.
Salma tersenyum, tapi senyum itu tidak mencapai matanya. Ia berjalan mengelilingi Sarah, seperti predator mengitari mangsa.
"Gue ini orangnya pendendam lho, Sarah. Kalau ada yang ngatain gue satu kalimat, gue bakal balikin sepuluh kalimat," bisik Salma.
"Lo... lo mau ngapain?"
"Ulangi kalimat terakhir lo tadi," perintah Salma datar. "Gue cuma mau pastiin telinga gue nggak salah denger. Lo ngatain gue apa tadi? Pelacur?"
Sarah mundur selangkah, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Aura Salma yang biasanya tenang kini terasa mencekik.
"Kenapa diem? Tadi suaranya kenceng banget," Salma memiringkan kepala, tatapannya semakin tajam. "Denger ya, Sarah. Lo boleh ngegosip, tapi kalau mulut lo kotor lagi di depan muka gue... jangan nyesel kalau besok lo nggak punya muka buat dateng ke sekolah ini lagi."
penampilan cupu ternyata suhu 😂
darin sinta,salsa,ini salma
semangat Thor ⚘️⚘️⚘️