Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibawah hujan kita menghangat
Bel sekolah berbunyi, menandakan jam pelajaran terakhir telah usai. Namun, langit di atas sekolah mendadak berubah gelap dan tak lama kemudian hujan deras tumpah ke bumi.
Senja berdiri di depan teras kelasnya, menatap rintik air dengan cemas. Ia tidak membawa payung, dan jarak ke parkiran motor cukup jauh untuk membuatnya basah kuyup.
Tiba-tiba, sebuah bayangan tinggi berdiri di sampingnya. Tanpa menoleh pun Senja tahu itu siapa dari aroma parfumnya yang maskulin. Langit berdiri di sana, masih dengan wajah "datar" andalannya, tapi tangannya sudah sibuk melepas jaket varsity yang ia kenakan.
"Ayo," ajak Langit singkat.
"Ayo mana? Hujan deras begini, Langit," sahut Senja pelan. Ia masih agak dongkol karena kejadian di kantin tadi.
Tanpa banyak bicara, Langit membentangkan jaketnya di atas kepala mereka berdua, menciptakan tenda kecil yang melindungi mereka dari kucuran air. Ia menarik bahu Senja agar mendekat ke tubuhnya.
"Kalau lewat koridor samping, kita harus muter jauh. Mending lari lewat lapangan sekarang. Cepet, sebelum makin deras."
"Tapi baju aku nanti basah, Langit!"
"Nggak akan, kan ada aku," jawab Langit mantap. Ia merangkul pundak Senja dengan protektif, memastikan seluruh tubuh istrinya tertutup jaket, sementara bahu kirinya sendiri mulai dibasahi air hujan. "Satu... dua... lari!"
Mereka pun berlari menembus hujan. Di bawah satu jaket yang sempit, jarak mereka benar-benar hilang.
Senja bisa merasakan detak jantung Langit yang berpacu cepat karena berlari—atau mungkin karena hal lain. Senja terpaksa memeluk pinggang Langit agar tidak terjatuh di lantai yang licin.
Sesampainya di parkiran yang beratap seng, mereka berhenti dengan napas terengah-engah. Rambut depan Langit basah kuyup, meneteskan air ke wajahnya, membuatnya terlihat lebih tampan dari biasanya. Senja sendiri hampir tidak terkena air, hanya ujung sepatunya yang basah.
"Tuh kan, nggak basah," ucap Langit sambil menyeka air di wajahnya. Ia melihat Senja yang terdiam menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kenapa? Terpesona ya lihat suami kamu kehujanan?" goda Langit sambil menyeringai nakal.
Senja tersadar dari lamunannya dan langsung membuang muka, meski pipinya mendadak terasa panas.
"Siapa juga yang terpesona. Kamu tuh... baju kamu basah semua, Langit. Nanti kalau sakit gimana? Abah bisa marah sama aku."
Senja mengeluarkan tisu dari tasnya dan tanpa sadar mulai mengusap air hujan di dahi Langit.
Gerakan tangan Senja yang lembut membuat Langit tertegun. Suasana di parkiran yang bising oleh suara hujan mendadak terasa sunyi bagi mereka berdua.
"Tadi katanya risih, sekarang malah perhatian," bisik Langit pelan, menahan tangan Senja yang ada di wajahnya.
Senja terdiam, tangannya masih digenggam oleh Langit. Di tengah dinginnya air hujan yang mengguyur sekolah, ada sebuah rasa hangat yang perlahan menyebar di dada mereka masing-masing, sebuah rasa yang perlahan mulai meruntuhkan dinding ego yang selama ini mereka bangun.
Di bawah atap jerami gubuk yang sederhana, suara hujan yang menghantam bumi menciptakan melodi yang memutus hubungan mereka dengan dunia luar.
Di sana, hanya ada Langit dan Senja. Langit menatap wajah istrinya yang masih menyisakan rintik air di pipi—membuat kulit Senja tampak bersinar alami di bawah langit yang mendung.
Tangan Langit yang hangat perlahan terangkat, jemarinya mengusap lembut sisa air hujan di wajah Senja.
Gerakannya sangat perlahan, seolah sedang menyentuh permata yang paling rapuh. Ibu jarinya kemudian turun, mengusap bibir Senja yang sedikit gemetar karena hawa dingin.
Senja seakan terhipnotis. Ia menatap mata Langit yang biasanya tajam dan menantang, namun kini penuh dengan kelembutan yang dalam.
Saat wajah Langit mulai condong mendekat, napas hangat pria itu terasa menerpa wajahnya. Secara refleks, Senja memejamkan mata, membiarkan perasaannya mengambil alih akal sehatnya.
Detik berikutnya, Langit menempelkan bibirnya pada bibir Senja. Sebuah ciuman yang awalnya hanya sentuhan lembut penuh keraguan, berubah menjadi lumatan pelan yang sarat akan rasa kasih sayang.
Tidak ada lagi keterpaksaan, tidak ada lagi rasa canggung yang menghalangi. Langit menikmati setiap detik manisnya bibir sang istri, sementara Senja yang awalnya diam mulai bergerak mengikuti alur, tangannya tanpa sadar meremas jaket Langit, menarik suaminya itu agar tidak ada lagi jarak di antara mereka.
Hujan di luar gubuk semakin menderu, seolah sengaja menyembunyikan momen intim itu dari pandangan dunia. Air yang jatuh membasahi bumi seolah menjadi saksi bisu bersatunya dua hati yang dulu sempat menolak satu sama lain.
Di tengah dinginnya suasana persawahan, mereka saling mendekap erat, mencari kehangatan dalam ciuman yang terasa begitu tulus dan membuat keduanya seolah lupa bahwa mereka masih berada di tengah gubuk di pinggir jalan.
Langit sedikit menjauhkan wajahnya, dahi mereka masih bersentuhan. Napas keduanya menderu pendek dan berat. Langit membisikkan sesuatu tepat di depan bibir Senja.
"Jangan pernah minta saya jauh-jauh lagi ya..." bisiknya serak.
Senja hanya mampu mengangguk kecil dengan wajah yang memerah hebat, menyembunyikan senyum bahagianya di dada bidang suaminya.
Ciuman itu masih terasa begitu dalam dan memabukkan, seolah dunia di luar gubuk kecil itu berhenti berputar. Langit masih mendekap Senja dengan erat, sementara Senja seakan kehilangan seluruh tenaganya, bersandar sepenuhnya pada dada bidang suaminya.
Namun, di tengah suara deru hujan yang semakin lebat, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil yang cukup nyaring dari arah jalan raya, disusul sorot lampu mobil yang menembus sela-sela kayu gubuk.
PIP! PIP!
Senja tersentak kaget. Dengan kekuatan yang muncul tiba-tiba, ia mendorong dada Langit hingga pautan bibir mereka terlepas paksa. Keduanya langsung duduk tegak dengan napas yang memburu dan wajah merah padam.
"Astaga, ada mobil!" bisik Senja panik sambil buru-buru merapikan kerudungnya yang sedikit berantakan.
Langit juga tak kalah salah tingkah. Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangan dan berusaha mengatur napas agar tidak terlihat terlalu mencolok.
Tak lama kemudian, pintu mobil terbuka dan seseorang keluar dengan payung besar. Itu adalah Gus Elang, salah satu pengasuh muda di pondok yang sangat dihormati.
"Langit? Senja? Kalian di dalam?" teriak Gus Elang sambil berjalan mendekati gubuk.
"I-iya, Gus! Di sini!" jawab Langit dengan suara yang sedikit pecah karena gugup.
Begitu Gus Elang sampai di depan gubuk, ia melihat kedua pasangan baru itu duduk agak berjauhan dengan wajah yang tampak... sangat tidak biasa. Gus Elang menyipitkan mata, menatap Langit yang rambutnya acak-acakan dan Senja yang terus menunduk sambil meremas ujung seragamnya.
"Kalian tidak apa-apa? Umi dan Abah khawatir sekali di pondok. Motornya kenapa?" tanya Gus Elang dengan nada menyelidik namun tetap tenang.
"Mogok, Gus. Tadi kena banjir," jawab Langit cepat, mencoba bersikap normal meskipun jantungnya masih berdegup kencang karena hampir tertangkap basah sedang bermesraan.
"Oh, begitu. Ya sudah, ayo cepat masuk mobil. Senja, kamu pucat sekali, jangan-jangan mau demam. Ayo cepat," ajak Gus Elang.
Di dalam mobil, suasana terasa sangat canggung. Gus Elang duduk di depan menyetir, sementara Langit dan Senja duduk di kursi belakang.
Di bawah kegelapan kabin mobil, tangan Langit perlahan bergerak mencari tangan Senja. Ia menggenggam jemari istrinya itu dengan erat di bawah lipatan jaket, seolah memberikan ketenangan.
Senja sempat menoleh ke arah Langit, dan di bawah remang lampu jalan yang masuk ke dalam mobil, ia melihat Langit memberikan senyum tipis—sebuah senyum rahasia yang hanya mereka berdua yang tahu artinya.
Sesampainya di ndalem, suasana rumah sudah sepi namun hangat. Senja segera membersihkan diri dengan air hangat untuk mengusir dingin, disusul oleh Langit.
Namun, saat Langit keluar dari kamar mandi dengan handuk tersampir di leher, ia melihat pemandangan yang membuatnya cemas. Senja sudah bergelung di balik selimut tebal, tubuhnya bergetar kecil karena menggigil.
Langit mendekat, duduk di tepi ranjang dan menyentuhkan punggung tangannya ke dahi Senja. "Ya ampun, panas banget!" seru Langit panik.
Tanpa mempedulikan perutnya yang mulai keroncongan karena belum makan sejak sore, Langit bergegas keluar menemui Umi (Ibu Senja).
Tak lama kemudian, Langit kembali ke kamar membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam hangat dan obat penurun panas.
"Senja, bangun sebentar. Makan dulu sedikit terus minum obat," ucap Langit dengan nada yang sangat lembut, jauh dari kesan kasar yang biasanya ia tunjukkan.
Senja membuka mata dengan sayu, mencoba duduk meski kepalanya terasa berputar. "Nggak nafsu, Langit..." bisiknya lemas.
"Sedikit aja, ya? Biar obatnya bisa masuk. Mau aku suapin?" Langit tidak menunggu jawaban; ia meniup sesendok bubur dan menyuapkannya dengan telaten ke mulut Senja.
Melihat perhatian suaminya yang begitu tulus, Senja menurut. Setelah beberapa suap dan meminum obat, Senja kembali merebahkan tubuhnya.
"Terima kasih, Langit... maaf merepotkan," gumamnya pelan sebelum memejamkan mata, mencoba melawan rasa sakit yang menyerang tubuhnya.
Langit membawa piring kotor ke dapur, lalu kembali lagi dengan sebaskom air hangat dan kain kompres. Ia duduk di samping Senja yang sudah terlelap dalam tidurnya yang gelisah. Dengan sangat hati-hati, Langit memeras kain hangat itu dan meletakkannya di dahi Senja.
Sepanjang malam, Langit tidak beranjak. Ia berkali-kali mengganti air kompres saat kainnya mulai mendingin.
Ia memperhatikan wajah Senja yang sedang sakit—pipinya yang merona merah karena demam dan napasnya yang tidak teratur. Dalam hati, Langit merasa bersalah karena membiarkan Senja kehujanan saat motor mereka mogok tadi.
Di tengah keheningan malam, Langit mengusap lembut tangan Senja yang berada di luar selimut. Ia mengabaikan rasa lapar dan kantuknya sendiri, hanya ingin memastikan bahwa saat istrinya terbangun nanti, suhu tubuhnya sudah kembali normal.