Zian Arsya, seorang laki-laki mandiri dan sukses di usia 29 tahun, telah menjadi tulang punggung keluarga setelah di percaya ayah dan ibunya untuk mengelola usaha Hotel dan Restoran. Namun, di balik kesuksesannya, Zian menyembunyikan masa lalu pahit yang membuatnya menjadi pendiam dan jarang bicara. Dia pernah dikhianati kekasihnya semasa kuliah, yang memilih laki-laki lain, membuatnya kehilangan kepercayaan pada cinta.
Suatu hari, Zian dijodohkan dengan Raya, seorang gadis cantik, ramah, dan pintar yang sangat perhatian. Zian setuju dengan perjodohan itu, tapi dia tidak berani mengungkapkan masa lalunya kepada Raya dan keluarganya. Dia takut kehilangan kesempatan untuk memiliki keluarga dan cinta yang sebenarnya.
Namun, kehadiran Raya membuat Zian perlahan-lahan membuka diri dan menghadapi masa lalunya. Apakah Zian akan mampu mengungkapkan kebenaran kepada Raya dan keluarganya? Atau akankah rahasia itu menjadi beban yang menghancurkan kebahagiaan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis Aman
Sore Hari Hotel Arsya.
Hari berjalan lebih lambat dari biasanya.
Raya duduk di balik meja front office dengan postur tegak yang sedikit kaku. Tidak ada kejadian aneh. Tidak ada telepon misterius. Tidak ada bayangan mencurigakan di balik kaca lobi.
Namun rasa tidak aman itu… tetap tinggal.
Setiap orang yang lewat, setiap pintu yang terbuka, setiap suara langkah membuatnya refleks menoleh.
“Kamu tegang dari tadi.”
Raya tersentak kecil. “Eh… tidak, Kak.”
Rekan kerjanya tersenyum tipis. “Santai aja. Hari ini aman kok.”
Raya membalas dengan anggukan, meski perasaannya belum sepenuhnya yakin.
Ia melirik ke arah lift direksi tanpa sadar.
Sejak siang tadi, Zian tidak muncul ke lobi. Tapi kehadirannya terasa… seperti bayangan yang tak terlihat.
Menjaga dari jauh.
---
Ruang Pribadi Zian Waktu yang Sama.
Zian berdiri di depan jendela besar, menatap kota dari lantai atas.
Hari ini relatif tenang. Terlalu tenang.
Randa sudah melapor: tidak ada pergerakan mencurigakan. Tim keamanan bayangan siaga. Semua staf aman.
Seharusnya itu melegakan.
Tapi tidak.
Zian justru merasa waspada karena ia tahu, ketenangan seperti ini biasanya hanya jeda.
“Bos,” suara Derry menyela dari sofa. “Raya aman. CCTV lobi aman. Semua normal.”
Zian mengangguk pelan. “Terima kasih.”
Derry memperhatikannya sebentar lalu menghela napas.
“Lo kelihatan capek.”
“Aku baik-baik saja.”
“Kalimat itu bohong,” sahut Derry santai. “Lo dari tadi ngeliatin jam. Udah tiga kali.”
Zian tidak menyangkal.
“Bos,” lanjut Derry lebih pelan, “lo lagi berdiri di antara dua hal.”
Zian meliriknya. “Apa maksudmu?”
“Logika sama perasaan.”
Zian terkekeh singkat, hambar. “Aku tidak punya waktu untuk perasaan.”
Derry bangkit. “Justru itu masalahnya.”
Ia berjalan menuju pintu. “Gue tinggal dulu. Jangan lupa makan.”
Pintu tertutup, dan ruangan kembali sunyi.
Zian menurunkan pandangan ke ponselnya.
Nama Raya ada di layar. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan.
Namun hanya melihat namanya… cukup membuat dadanya terasa berat.
...
Lobi Hotel Menjelang Pulang Kerja.
Raya merapikan meja, bersiap mengakhiri shift.
Hari ini terasa panjang. Dan anehnya… melelahkan meski tidak terjadi apa-apa.
“Raya,” panggil supervisor. “Pak Zian minta kamu ke ruangannya sebentar.”
Raya mengangguk, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
"baik Bu, saya segera ke sana."
Raya berfikir, "ada apa, pak Zian menyuruhku ke sana?"
Raya menghela nafas, ia buru-buru menemui Zian sebelum pulang.
...
Ruang Pribadi Zian Beberapa Menit Kemudian.
Raya berdiri di depan meja kerja Zian, kali ini suasananya berbeda. Tidak tegang, tidak genting, hanya sunyi.
“Ada yang ingin Bapak sampaikan?” tanya Raya sopan.
Zian berdiri, lalu mendekat tanpa terburu-buru. Menjaga jarak aman.
“Kamu ingin pindah shift sementara?” tanyanya.
Raya terkejut. “Pindah?”
“Hanya sementara. Sampai situasi benar-benar aman.”
Raya ragu. “Kalau saya bilang tidak?”
Zian menatapnya sejenak. Tidak memaksa.
“Kalau itu keputusanmu,” katanya pelan, “aku akan tetap menghormatinya.”
Jawaban itu membuat Raya sedikit tenang.
Ia menarik napas. “Untuk sekarang… saya mau tetap di sini.”
Zian mengangguk. “Baik.”
Hening lagi.
Lalu Zian berkata, lebih rendah,
“Terima kasih sudah datang ke sini tadi siang.”
Raya mengangkat wajahnya. “Saya takut.”
“Aku tahu.”
“Dan saya tahu ini bukan salah Bapak.”
Zian menatapnya, tajam tapi lembut. “Tetap saja… aku yang bertanggung jawab.”
Raya tersenyum kecil. “Kalau begitu, kita sama-sama bertahan.”
Kata kita membuat Zian terdiam sesaat.
Ia berdeham. “Aku minta Derry mengantarmu pulang.”
...
Di Dalam Mobil, Perjalanan Pulang.
Derry mengemudi sambil melirik lewat spion.
“Tenang aja, Mbak Raya. Sama gue, aman.”
Raya tersenyum tipis. “Terima kasih.”
Mobil melaju.
Di gedung belakang mereka, Zian berdiri di dekat jendela, memperhatikan sampai mobil itu benar-benar meninggalkan area hotel.
Bukan karena curiga, tapi karena… ia perlu memastikan.
...
.Malam Hari di Apartemen Raya.
Raya tiba di apartemennya dengan selamat. Ia menutup pintu, bersandar sebentar, menarik napas panjang.
Hari ini… tidak ada gangguan. Namun perasaannya tetap berisik.
Ia meraih ponsel, ragu sejenak, lalu mengirim pesan singkat.
' Raya'
"Terima kasih sudah memastikan saya aman."
Beberapa detik kemudian, balasan masuk.
' Zian'
"Itu tugasku."
Raya menatap layar itu lama.
Lalu mengetik dan menghapus beberapa kali akhirnya mengirim.
' Raya'
"Menurut saya… itu bukan cuma tugas."
Tidak ada balasan langsung.
Di ruangannya, Zian membaca pesan itu berkali-kali.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Ia tidak tahu bagaimana cara menyangkal perasaannya sendiri.
Malam itu berlalu tanpa gangguan, tanpa ancaman, tanpa bayangan. Namun keduanya tahu…
Ketenangan ini bukan akhir.
Hanya garis aman sementara sebelum sesuatu yang jauh lebih besar bergerak mendekat.
Lampu apartemen menyala redup.
Raya berjalan pelan menuju dapur, mengganti sepatu dengan sandal rumah. Apartemennya kecil, sederhana, dan tenang terlalu tenang untuk pikirannya yang masih penuh.
Ia menuang air ke gelas, namun berhenti sebelum meneguknya.
Ponselnya masih di tangannya.
Pesan terakhir Zian.
Itu tugasku.
Dan balasannya sendiri.
Menurut saya… itu bukan cuma tugas.
Tidak ada balasan.
Raya menghembuskan napas pelan, bukan kecewa lebih seperti sadar bahwa ia telah melangkah sedikit terlalu jauh.
“Apa yang kamu harapkan, sih…,” gumamnya pada diri sendiri.
Ia duduk di sisi ranjang, memeluk bantal sejenak sebelum akhirnya merebahkan diri. Pandangannya menatap langit-langit kamar, kosong, tapi pikirannya berisik.
Ia teringat tatapan Zian sore tadi.
Nada suaranya ketika mengatakan aku akan tetap menghormatinya. Cara ia berdiri tidak terlalu dekat, tapi juga tidak menjauh.
Bukan sikap seorang bos semata.
“Kenapa aku merasa aman… saat dia ada,” bisik Raya lirih, nyaris malu pada perasaannya sendiri. Ia memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, tidurnya datang tanpa mimpi buruk meski jantungnya masih menyimpan getaran halus yang belum ia pahami.
...
Malam Hari Rumah Mewah Zian.
Rumah dua lantai itu sunyi baginya. hanya ada beberapa Asisten, tukang kebun dan dua satpam berjaga.
Terlalu sunyi untuk ukuran tempat tinggal seseorang seperti Zian.
Lampu ruang keluarga menyala terang, memantulkan interior dingin dan rapi. Tidak ada foto keluarga terpajang. Tidak ada suara. Tidak ada kehangatan.
Zian duduk di sofa dengan jas dilepas, kemeja masih rapi, tangan memegang ponsel.
Pesan itu. Ia membaca ulang untuk kesekian kalinya.
" Menurut saya… itu bukan cuma tugas."
Zian menghela napas perlahan. Meletakkan ponsel, lalu berdiri, berjalan menuju jendela besar yang menghadap taman belakang. Ia membuka kancing manset, seperti biasa gerakan mekanis yang selalu ia lakukan saat pikirannya penuh.
“Tugas…” gumamnya sinis.
Ia sudah hidup bertahun-tahun dengan kata itu.
Tugas menjaga perusahaan, menjaga nama keluarga, mengubur masa lalu.
Melindungi orang lain selalu terasa seperti kewajiban.
Tapi kali ini… berbeda. Ia membayangkan Raya di apartemennya yang sederhana. Sendirian. Mungkin masih gemetar. Mungkin masih bertanya-tanya kenapa semua ini menimpanya.
Zian mengepalkan tangan.
“Ini tidak boleh,” ucapnya pelan pada pantulan dirinya di kaca. “Aku tidak boleh melibatkan perasaan.”
Karena ia tahu betul Perasaan adalah celah.
Dan celah adalah undangan bagi kehancuran. Namun, di balik logika yang ia pegang mati-matian, satu kebenaran muncul tanpa bisa dicegah, Ia sudah terlibat.
Zian memejamkan mata.
Dan untuk pertama kalinya setelah lama… doa singkat keluar begitu saja dari hatinya:
Biarkan malam ini berlalu tanpa sesuatu terjadi padanya.
duhh Derry jahil mulu suka godain Zian 😄😄
di tunggu updatenya ya Sayyy quuu Author kesayangan🥰🤗 semangat terus Sayyy🤗
duhh Derry godain Raya dan Zian mulu bikin ngakak 😆😆😆
penasaran dg lanjut nyaa
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuuu tetap semangat Sayyy quuu 🥰🤗💪
jangan² Raya juga jatuh cinta sama Zian 😄😄
bener kata Zian ada seseorang yang harus dia jaga yaitu Raya..
perhatian nya ma Raya,
Zian sepertinya emang jatuh cinta sama Raya 😅😅
duhh Zian minta Derry antar Raya plg gk tuh 😅😅
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu 🥰 semangat terus Sayyy 🤗💪
tapi bnr kok Zian emng sepertinya jatuh cinta sama Raya 😅😅😅
tapi Zian gk mengakuinya 😅😅😅
ledekin terus Zian ya Derry lucu soalnya 😅😅😅
untungnya Zian baik baik Saja...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuuu tetap semangat Sayyy makin seru cerita nya🥰🤗
Derry ada² saja blg nnt juga bakal tau
tau apa yaa kira² apakah Zian dan Raya akan menikah? 😄😄
bener banget Raya hrs mengenal Zian lagi...
tinggal di tunggu kapan nikah nya😄😄
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat ya Sayyy 🤗🥰
jgn dong Zian harus menjauh dari Raya 🥲..
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat ya Sayyy 🤗🥰
duhh gmn yaa klo Raya dan Zian tau soal perjodohan 😌😌
Ya ampuun Derry usil banget suka jailin Raya sampai malu malu dong 😆😆😆
. penasaran dg lanjutannya, di tunggu kekocakan Derry Sayyy quuu Author kesayangan tetap semangat ya Sayyy 🤗quuu🤗 🥰💪
Zain minta Derry antar Raya plg buat mastiin Raya aman gk tuh 😄😄
ciieee Raya dahh nyaman tuh dg Zain 😄😄
namun gmn dg perasaan Zain? mungkin Zain juga sama😄😄
penasaran dg lanjut nyaa
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat ya Sayyy quu🤗🥰💪
siapa tuhhh yg menghubungi Raya?? jgn² masa lalu Zian duhh Raya dalam bahaya dong 😌😌
yg menghubungi Raya cowok yaa, ada hubungan apa Raya dg cowok itu?
l
penasaran dg lanjut nyaa
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu 🤗🥰💪
Duhh Raya merasa ada yg mengikutinya... 😄😄
Derry blg ke Zian lapor polisi dong... 😁😁
Siapa yaa yg mengikuti Raya 🤔🤔
Derry menggaruk kepala gk tuh 😆😆
Derry bingung dong menatap bos nya 😄😄
Zian blg Raya harus mendapatkan pengawasan khusus gk tuh 😆😆
Bener tuh Derry sejak kapan Raya sepenting itu buat bos 😄😄
Duhhh siapa sihh pria bertato leher itu... 😌😌
Waduhh Derry ngomong Bos yang dulu belain cewek waktu itu, berani nyaa Derry 😆😆
Derry di suruh diam gk tuh 😆😆
Derry nanya mulu 😆😆
Penasaran dg lanjut nya.
Di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu
Tetap semangat Sayyy 🥰🤗💪
Zian pasti nya akan cari tau siapa mereka 🥲🥲
duhhh Zian blg ke Raya klo ada apa-apa ksh tau dong 😄😄
mengapa tuh Raya berdebar debar jgn² Raya bnran suka sama Zain 😄😄
duhh siapa yaa Pria yg mengintai Raya??
penasaran dg lanjut nyaa...
Di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu
Tetap semangat ya Sayyy 🤗🥰
duhhh Zian tiba ingat masaalu nya 🥲
ada seseorang yg mengancam Zian dongg...
kasihan Zian🥲🥲
penasaran dg lanjut nyaa
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy 🤗🥰💪
duhhh seperti nya Zian bakal suka sama Raya😄😄