Perayaan empat tahun pernikahan Laura, seorang pemimpin perusahaan muda dirayakan begitu meriah bersama suaminya yang juga yang juga temannya saat SMA. Hubungan mereka begitu harmonis, layaknya pasangan suami istri sempurna di mata publik yang melihatnya.
Namun, kebahagiaan itu seketika di rusak oleh sebuah pesan dari seseorang misterius yang seolah tak suka dengan pernikahannya.
Dia pun mencari tahu sendiri kebenarannya, dan menguak kenyataan yang lebih mencengangkan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Widia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan
Laura terus mengingat perkataan Andreas, alasan pria itu menyukai dirinya sampai sekarang. Bagi Andreas, tak ada wanita setulus Laura yang rela meluangkan waktu hanya untuk merawatnya saat kecelakaan.
Apalagi posisinya yang sedang jauh dari orang tua, karena harus merantau untuk kuliah.
Namun bagi Laura, semua itu hanya untuk menutupi rasa bersalah yang dia dan Dave lakukan. Kecelakaan yang terjadi pagi itu, akibat kelalaian Dave saat menyetir yang masih terpengaruh di bawah kendali minuman keras.
"Kau salah paham Andreas, aku hanya ingin menutupi kesalahan Dave saat itu," gumamnya sambil menatap halaman belakang dari jendela kamar.
"Sayang," panggil Dave yang membuat Laura mengaburkan kenangan masa lalunya.
"Larissa menangis di kamarnya, apa kau tak mendengarnya?"
"Aku sedang pusing memikirkan beberapa masalah perusahaan," sangkal Laura yang mencoba menutupi semuanya dari Dave.
"Kau tak perlu memikirkan hal itu, bagaimana kalau kau istirahat dan fokus pada Larissa. Biarkan sepupumu yang memegang perusahaan. Kau cukup mengawasinya," saran Dave yang cukup masuk akal. Walau sebenarnya dia tak bisa sepenuhnya percaya pada saudaranya.
"Dave, ada sesuatu yang ingin aku ajukan."
Dave sedikit tersentak mendengar perkataan istrinya, namun dia tetap terlihat santai agar Laura tak merasa tersinggung.
Laura mengeluarkan beberapa dokumen, yang beberapa hari lalu di buat oleh Andreas. Dokumen tersebut berisi perjanjian mengenai rumah tangganya yang nantinya akan dia ajukan ke pengacaranya.
"Aku ingin kau menandatangani dua surat ini," ucap Laura sambil menyodorkan dua lembar surat yang membuat Dave terlonjak kaget.
"Wah, kau membuat seakan kita akan berpisah sayang."
"Apa maksudmu Dave? Aku membuat ini untuk mengingatkan semua janjimu padaku. Kalau kau tidak mau menandatangani ini, maka perusahaanmu lah yang akan menjadi jaminan untuk membayar hutangmu," tegas Laura dengan nada lembut dan wajah sendu. Dave terlihat kikuk, hutang yang dia miliki pada Laura cukup besar walau tak sebanding dengan aset keluarga yang dia miliki.
"Kau istriku, dan aku tak mungkin mengecewakanmu," ucap Dave yang menandatangani surat tersebut tanpa dia baca keseluruhannya. Dan juga surat kepemilikan rumah dan surat tanah yang di buat oleh Laura pada notaris.
"Terima kasih sayang," ucap Laura sambil mencium pipi suaminya. Dave menutupi rasa kesalnya, karena harus merelakan rumah ini untuk Laura.
"Yang penting, rumah tangga ku dan Laura baik-baik saja," gumamnya sambil membelai wajah Laura.
Dave pun keluar dari kamar setelah menandatangani dokumen yang Laura berikan. Namun tanpa sadar, sang istri telah mendapat beberapa helai rambut milik Dave yang telah Laura gunting saat dia mencium pipi suaminya.
"Aku sudah mengantongi rambut Dave dan juga Larissa. Tinggal Mona, dan setelah itu semuanya selesai."
Laura pun sudah mendapatkan rekaman suara dari alat perekam yang dia tinggalkan di kamar Larissa. Dia berniat menyalakan alat tersebut di kantornya setelah mendapat rekaman CCTV dari eyang ibu Dave.
Laura keluar dari kamar, dan melihat Dave yang sedang memangku Larissa sambil memberinya apel yang telah di kupas. Dia pun duduk di hadapan ayah dan anak tersebut, sambil memandangnya dengan senyuman sinis.
"Lihat, mamamu sudah cantik. Sepertinya dia bersiap untuk pergi jalan-jalan dengan kita," ucap Dave sambil menunjukan jari ke arah Laura. Larissa terlihat tertawa dan juga senang saat Dave mengajaknya bicara.
Laura hanya diam, dan memberikan kembali sepotong apel pada Larissa.
***
Laura menghentikan mobilnya di depan rumah eyang ibu. Sore itu dia datang sendiri tanpa Dave dan Larissa. Dia beralasan pada suaminya untuk menghabiskan quality time bersama teman-teman semasa kuliah.
"Setelah pulang dari sini, aku akan pergi ke mall dan berbelanja sedikit pakaian untuk Larissa. Dan juga ke rumah sakit," ucapnya sambil berjalan masuk ke rumah eyang ibu.
Seorang pelayan datang dan berkata jika eyang ibu sudah menunggunya.
"Eyang," sapanya pada eyang ibu yang sedang duduk sambil menikmati segelas teh hangat.
"Aku sudah menunggumu dan juga menyiapkan ini," ucap eyang memberikan sebuah flashdisk yang menjadi bukti perselingkuhan Dave.
"Apa om Randi tahu tentang ini?"
"Justru dia yang memasang CCTV itu dan mengumpulkan semua buktinya," ucap eyang dengan nada suara lemah.
"Apa eyang sakit?" Tanya Laura khawatir, dan mengecek suhu tubuh wanita tua dia hadapannya.
"Pulanglah dan tunjukan semua bukti ini padanya. Setelah itu, berpisahlah dan cari suami yang lebih baik dari cucuku," ucap eyang yang membuat Laura menangis.
Walau harapannya baik, namun ada harapan yang membuat Laura sedikit tak rela. Baginya, menikah sekali seumur hidup adalah keinginan terbesarnya. Namun jika benar Dave telah berkhianat dan masih menjalin hubungan dengan Mona, maka dia memilih untuk berpisah daripada hidup di atas pengkhianatan.
"Eyang, aku sangat mencintainya. Tapi jika pengkhianatan itu masih dia lakukan hingga sekarang, maka aku akan memilih untuk berpisah dengannya," ucap Laura dengan perasaan sedikit tak ikhlas.
"Wanita sepertimu tak pantas untuk di khianati. Apalagi di duakan dengan wanita seperti Mona. Jangan pernah rendahkan harga dirimu demi cinta yang sama sekali tak bisa menghargaimu."
Ucapan itu seolah menjadi pesan terakhir dari eyang ibu. Satu minggu setelah pertemuan terakhir mereka, eyang ibu meninggal. Ada rasa sesak dan juga penyesalan bagi Laura, karena dia belum sempat untuk mengucapkan terima kasih dan juga maaf pada wanita tua itu.
Dave menatap jenazah eyang ibu dengan tatapan kosong, seolah ada penyesalan luar biasa yang dia simpan di hatinya.
Semua keluarga dan tamu berkumpul, mendoakan Elma yang kini hanya tinggal nama dan juga kenangan.
Para tamu yang datang melayat pun, berpamitan pulang setelah Elma di kebumikan. Kini rumah itu kosong dan yang tersisa hanya Randi juga Dave dan Laura yang menemaninya.
"Om, kami pamit pulang. Besok, aku dan Laura akan kesini dan menginap bersama Larissa," ucap Dave sambil mengusap pundak Randi.
"Tak perlu repot, aku tak apa-apa sendirian di sini. Kau dan Laura pasti sangat sibuk," jawab Randi yang masih memandang foto keluarga.
"Bagaimana kalau oom mencari seorang istri, agar tidak kesepian?" Canda Dave yang tak tahu waktu, Laura pun mencubit tangan suaminya.
"Dave, aku juga sedang memikirkan hal itu. Tapi, aku adalah putra ayahku dan aku takut jika aku seperti dia. Eyang bapak bukanlah pria setia, alasan eyang ibu sakit-sakitan karena eyang bapak yang memilih hidup bersama istri mudanya sampai akhir hidupnya," jelas Randi yang membuat Dave dan Laura terlonjak kaget.
Dave pun sudah bersiap di dalam mobil, sambil menunggu Laura yang sedang membawa beberapa barang eyang ibu yang sudah dipilihkan mendiang untuknya.
"Ada surat dalam kotak perhiasan itu, bacalah tanpa Dave. Itu surat dari eyang ibu."
Laura mengangguk, dan masuk ke dalam mobil. Dave pun membawa mobilnya melaju meninggalkan rumah yang menjadi kenangan masa kecil keduanya.
terlalu lucu klo laura harus bersaing dgn gundiknya.... yg g ada levelnya
🤣🤣