NovelToon NovelToon
Di Balik Kontrak Ibu Susu

Di Balik Kontrak Ibu Susu

Status: tamat
Genre:Anak Kembar / Pernikahan Kilat / Ibu Pengganti / Cinta setelah menikah / Ibu susu / Pengasuh / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

🏆JUARA YAAW PERIODE 3 2025 TEMA KREATIF "IBU SUSU"🏆

Dituduh pembunuh suaminya. Diusir dari rumah dalam keadaan hamil besar. Mengalami ketuban pecah di tengah jalan saat hujan deras. Seakan nasib buruk tidak ingin lepas dari kehidupan Shanum. Bayi yang di nanti selama ini meninggal dan mayatnya harus ditebus dari rumah sakit.

Sementara itu, Sagara kelimpungan karena kedua anak kembarnya alergi susu formula. Dia bertemu dengan Shanum yang memiliki limpahan ASI.

Terjadi kontrak kerja sama antara Shanum dan Sagara dengan tebusan biaya rumah sakit dan gaji bulanan sebesar 20 juta.

Namun, suatu malam terjadi sesuatu yang tidak mereka harapkan. Sagara mengira Shanum adalah Sonia, istrinya yang kabur setelah melahirkan. Sagara melampiaskan hasratnya yang ditahan selama setelah tahun.

"Aku akan menikahi mu walau secara siri," ucap Sagara.

Akankah Shanum bertahan dalam pernikahan yang disembunyikan itu? Apa yang akan terjadi ketika Sonia datang kembali dan membawa rahasia besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

“Kalau Sonia kembali,” Papi Leon menimpali dingin, “apa yang akan kamu lakukan?”

Pertanyaan itu menembus dada Sagara seperti pisau. Ia menunduk, diam cukup lama. Waktu terasa berhenti.

“Aku harap ... Sonia bisa menerima Shanum,” jawab Sagara akhirnya, lirih namun mantap.

Mami Kartika menatapnya dengan mata membulat penuh amarah. “Mana ada wanita yang mau dimadu?!” bentaknya. “Kamu pikir Sonia akan tersenyum dan bilang ‘terima kasih’ setelah kamu menikahi wanita lain di belakangnya?”

Papi Leon berdiri perlahan. Rahangnya mengeras. “Benar kata Mami kamu. Sonia itu baik, lembut, dan setia. Tapi dia nggak akan bisa menerima ini. Gara, kamu sudah melakukan kesalahan besar.”

Kata “kesalahan besar” bergema di telinga Sagara. Ia menunduk, menggenggam tangan erat-erat. Di dalam dirinya, antara cinta dan tanggung jawab saling beradu tanpa pemenang.

Mami Kartika berdiri dengan langkah cepat, wajahnya masih basah oleh air mata yang tak disadari.

“Jangan sampai kamu menyesal atas perbuatanmu ini,” katanya dengan suara bergetar.

Papi Leon menatap anaknya terakhir kali sebelum mengikuti istrinya masuk ke dalam rumah. “Kadang cinta bukan alasan yang cukup untuk menjalin hubungan dengan orang baru,” katanya pelan sebelum berlalu.

Sunyi.

Hanya suara tangis Arsyla dan Abyasa dari dalam rumah yang terdengar samar, bercampur dengan desir angin yang menyapu halaman.

Sagara berdiri mematung di sana, mencoba bernapas di tengah tekanan yang menyesakkan dada. Ia tahu cinta selalu menuntut keberanian. Tapi keberanian pun kadang berharga mahal, salah satunya restu orang tua.

Sagara menatap ke arah rumah. Di sana, Shanum duduk di lantai teras, memangku kedua anak mereka yang mulai tenang setelah menangis. Wajahnya terlihat lembut dan penuh ketenangan, meski hatinya pasti hancur.

Sagara mendekat perlahan. Tatapan mereka bertemu. Dua pasang mata yang sama-sama terluka dan lelah, tetapi masih saling mencari kekuatan dalam diam.

Sagara tersenyum samar. “Ayo,” katanya lembut, mencoba menutupi luka yang baru saja terbuka. “Kita pergi jalan-jalan. Nikmati hari libur ini dengan keluarga kecil kita.”

Shanum menatap wajah suaminya lama, lalu mengangguk pelan. Tidak ada tanya, tidak ada protes. Dari matanya, Sagara tahu Shanum mengerti segalanya.

Mereka keluar dari rumah itu tanpa menoleh ke belakang. Di pundak Sagara masih ada berat yang belum selesai. Di genggaman tangannya ada ketenangan yang membuatnya tetap bertahan.

Shanum menatap jalanan di depan mobil mereka, menahan isak yang hampir pecah.

Dalam hatinya ia berbisik,

“Apa pun keputusan Mas di masa mendatang, aku akan ikhlas.”

Di balik senyum kecil yang ditinggalkan di bibirnya, tersimpan sebuah luka dalam yang hanya bisa disembuhkan oleh waktu atau cinta yang benar-benar tulus.

***

Sejak hari pengakuan itu, suasana rumah tak lagi sama. Shanum merasakannya lebih dulu.

Bukan dari kata-kata kasar, tetapi dari tatapan dingin yang tak lagi lembut seperti dulu. Dari langkah Mami Kartika yang kini lebih cepat melewatinya, seolah keberadaannya hanyalah bayangan di dinding.

Pagi itu, Shanum sedang menyiapkan sarapan untuk Sagara. Tangannya sibuk mengatur roti panggang, menyeduh kopi, dan memotong buah segar untuk si kembar. Senyumnya berusaha setegar mungkin. Dari arah belakang, suara tumit sepatu yang beradu dengan lantai marmer membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

“Pagi, Nyonya,” sapa Shanum dengan suara lembut.

Jujur saja Shanum terkejut dengan kedatangan Mami Kartika ke rumah Sagara. Biasanya wanita paruh baya itu datang pagi-pagi, jika Papi Leon sedang pergi ke luar kota.

Mami Kartika hanya mengangguk tanpa menatap. “Pagi.”

Suara itu datar, tanpa ekspresi. Dulu, setiap kali Shanum berkata begitu, Mami selalu menimpali dengan senyum dan sapaan hangat: “Pagi juga, Shanum.”

Namun kini, sapaan itu hilang bersama penerimaan yang dulu pernah ia rasakan.

Sagara turun dari tangga dengan langkah tenang, mengenakan kemeja abu-abu dan celana panjang hitam. Rambutnya sedikit acak-acakan, namun aura karismatiknya tetap kuat. Begitu melihat Shanum, senyum lembut langsung terbit di wajahnya.

“Pagi, istriku yang cantik.” Sagara memeluk dan mencium pipi Shanum.

Ucapan itu membuat Mami Kartika menoleh sekilas, lalu menunduk kembali pada cangkir tehnya.

Shanum tersenyum kikuk. “Mas, malu sama Mami,” bisiknya pelan.

Sagara justru tertawa kecil, lalu mendekat dan mencium puncak kepalanya di depan Mami Kartika. “Biar sekalian tahu, kalau aku bangga punya istri sepertimu.”

Mami Kartika meletakkan cangkirnya pelan, namun nadanya tegas. “Sagara, ada yang perlu kamu ingat. Belum tentu semua orang bisa menerima hubungan kalian begitu saja.”

Nada suara wanita paruh baya itu dingin dan menusuk.

Shanum menunduk, hatinya mengerut seperti kain yang terlipat. Ia ingin menjawab, tetapi memilih diam.

Sagara menatap ibunya tajam. “Aku tidak peduli apa kata orang, Mi. Yang penting aku tahu, apa yang aku jalani ini benar.”

“Benar menurutmu,” balas Mami Kartika tanpa menatap. “Tapi tidak untuk keluargamu.”

“Terserah,” balas Sagara yang duduk menikmati sarapan buatan istrinya.

Suasana sarapan pagi itu berubah tegang. Hanya suara sendok dan tawa kecil si kembar yang mengisi ruang. Shanum berusaha menenangkan Abyasa yang melempar potongan biskuit, sementara hatinya sendiri seperti sedang dilempar oleh kenyataan.

***

Hari-hari berikutnya, perubahan sikap itu semakin terasa. Mami Kartika tak lagi memanggilnya dengan nada lembut.

Jika dulu Shanum selalu diajak berbincang, kini hanya sapaan dingin yang terucap,

“Shanum, tolong ambilkan air.”

“Atau, kamu sudah selesai memandikan dan kasih ASI si kembar?”

Tak ada senyum, tak ada tatapan mata hangat

Namun, Sagara justru sebaliknya. Ia semakin hangat, semakin memperhatikan Shanum. Setiap sore, saat pulang kerja, pria itu selalu membawa sesuatu untuk Shanum, entah bunga mawar putih yang menjadi kesukaannya, atau roti kecil dari toko favorit mereka.

“Untuk penguat energi,” kata Sagara suatu sore, sambil menaruh kotak roti di meja.

Shanum tersenyum kecil. “Mas, kamu nggak perlu repot begini setiap hari.”

“Aku ingin kamu tahu, aku selalu ingat kamu bahkan saat sibuk di luar.”

Kalimat itu sederhana, tapi begitu menembus hati Shanum. Ia tahu, dunia di luar mungkin menilai dirinya sebagai “istri kedua yang tak resmi”, tetapi di mata Sagara, ia lebih dari sekadar itu. Ia merasa dicintai, dijaga, dimuliakan.

Sagara tidak hanya memberikan cinta lewat kata-kata. Ia menunjukkannya dalam setiap tindakan.

Ketika malam tiba dan si kembar sudah tertidur, Sagara sering menarik Shanum ke ruang keluarga, menyalakan lampu temaram, dan mengajaknya berbincang. Kadang tentang masa lalu, kadang tentang rencana masa depan.

Hubungan mereka tumbuh di atas badai. Namun anehnya, badai itu justru membuat akar cinta mereka makin kuat.

Di setiap malam, ketika dunia terlelap dan hanya suara detik jam yang terdengar, mereka menemukan kehangatan dalam pelukan dan doa.

Tak ada yang vulgar, tak ada yang berlebihan. Hanya dua manusia yang saling memahami luka, saling menenangkan tanpa banyak bicara.

Namun, di sisi lain rumah, ada hati yang mulai mengeras. Mami Kartika mulai curiga dengan ketenangan Shanum.

Baginya, terlalu aneh bila seorang wanita bisa begitu tenang setelah tahu dirinya tidak disukai. Ia mulai memperhatikan gerak-gerik Shanum diam-diam. Dari cara bicara, mengurus anak, hingga menata dapur. Bahkan hal kecil seperti meletakkan gelas pun jadi bahan pengamatan.

Suatu sore, ketika Shanum sedang bermain bersama si kembar, Mami Kartika datang mendekat dengan wajah datar.

“Shanum, kamu betah tinggal di rumah ini?”

Pertanyaan itu terdengar lembut, tetapi ada nada tajam di baliknya.

Shanum menoleh pelan. “Betah, Nyonya. Selama masih boleh di sini, saya ingin berbuat yang terbaik untuk keluarga ini.”

“Berbuat terbaik?” Mami menyipitkan mata. “Untuk siapa? Untuk Gara, atau untuk dirimu sendiri?”

Shanum terdiam. Jantungnya berdegup cepat, tapi ia berusaha tetap tenang. “Untuk semuanya, Nyonya.”

Mami Kartika tersenyum dingin, lalu berbalik tanpa bicara lagi. Dari tatapan itu, Shanum tahu wanita itu belum bisa menerima dirinya sepenuhnya.

1
Erna Lubis
saya suka alur ceritanya
Sandisalbiah
lagian Shanum itu ibu kandung Abyasa, jelas dia punya hak penuh atas anknya mengingat Aby masih balita dan itu gak bisa di tuntun perwaliannya atau gak asuhnya apalagi kondisi Sahnum yg mendukung dgn segala finansialnya.. Elia kan cuma nenek dan dia pun gak punya pekerjaan harusnya pengadilan udah bisa jadikan itu semua sebagai pertimbangan utk menentukan hak asuh.. aneh..
Sandisalbiah
karakter Shanum itu baik dan lemah lembut tp terlalu lemah, seakan gak punya niat buat belah diri ... jelas Elia dan Alana yg berbuat buruk padanya tp di tetap diem seakan semua fitnah yg mereka sebarkan itu kebenaran yg dia Terima dgn kediamannya itu.. hah.. gemes juga jadinya
Sandisalbiah
hadehh.. gerah banget setiap baca bab yg ada dua anomali gak jelas ini.. buruk sifat, akhlak, prilaku.. lengkap semua keburukan di borong.. mana awet lagi gak langsung di eliminasi dr cerita..
Sandisalbiah
dasar maruk.. keadilan buat Alvin atau sekedar niat buat memuaskan ego anda.. nyonya Eli..
Sandisalbiah
ibu dan adik almarhum Alvin juga banyak dosa pd Shanum tp mereka tetap hidup dan semakin sombong dgn mulut beracun mereka itu.. apa gak ada tuh azab buat dua perempuan demit itu
Sandisalbiah
Sonia ingin melepaskan Sagara buat Shanum sebagai bentuk kasih sayang terakhir utk org² yg dia cintai.. suami dan juga saudara kembarnya... Shanum yg pertama mengalah utk kebahagiaan Sonia dan kini Sonia ingin menyerahkan kebahagiaan utk Shanum dlm detik terakhir hidupnya
Sandisalbiah
dua org polisi tdk sanggup menahan satu perempuan yg tangannya sudah terborgol...? itu Soraya yg sring banget atau polisinya lemah.. ampun deh
Sandisalbiah
manusia kalau hatinya di penuhi rasa iri dan dengki maka dia tdk akan pernah mensyukuri apa yg dia punya, apa yg ada di sekelilingnya tp hatinya akan tetap di penuhi ambisi utk memiliki dan mengalahkan yg lain sampai meng halalkan segala cara
Sandisalbiah
dan korbannya adalah ayah kandung Abyasa.. suami Shanum... kudu di hukum yg berat itu perempuan sundal
Sandisalbiah
Soraya.. ih.. pengen banget itu betina segera mendekam di hotel prodio
Sandisalbiah
jelas Soraya jd tersangka utama... dan semoga kasusnya segera terungkap
Sandisalbiah
Soraya ini hatinya penuh dgn kelicikan dan culas... jgn bilang kalau dia lah dalang di balik hilangnya Sonia paska melahirkan... krn dia sepertinya juga terobsesi pd Sagara
Sandisalbiah
setidaknya Shanum memiliki Abyasa..
Sandisalbiah
keputusan Sagara dgn menikah lagi emang salah, dan gak ada perempuan yg mau di madu seperti yg nyonya Kartika katakan itu benar tp pembelaan mereka yg terkesan berlebihan utk seseorang yg jelas² meninggalkan suami dan menelantarkan anaknya sendiri.. itu aneh...
Sandisalbiah
dan biasanya setelah saling terbuka dan membuka hati itu anomali lama bakal muncul menghancurkan semuanya... sosok Sonia yg lama menghilang bakal kembali dan ujungnya Shanum kembali menjadi sosok terbuang dgn luka hati dan laranya
Sandisalbiah
bab ini juga ada typo Thor... tertulis " ada tawa dr tiga laki² " kan si kembar cewek cowok ya..
Sandisalbiah
Shanum harus tetap menempati kamar pengasuh dan bila minat Sagara akan mendatanginya dgn alasan agar dia tdk di cap sebagai wanita penghilang dan menanggung malu, terus kalau sampai Shanum hamil emang gak bakalan jd bulan²an mulut org.. mikir gak itu laki yg punya nafsu besar tp gak punya hati
Sandisalbiah
takdir Shanum yg selalu di genangi lautan air mata.. miris banget, dia tetap akan jd yg tersisi
Sandisalbiah
kenapa ank kembar Sagara justru mirip dgn Shanum dan almarhum suaminya, jgn bilang mereka di tukar pas Shanum melahirkan krn dia yg dlm kondisi tdk sadar...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!