NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.

Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

si jenius jinyu

Sudah 3 minggu Jinyu berada didunia dan menjadi anak adopsi keluarga su. Musim dingin masih membekukan kompleks militer dengan suhu yang menusuk tulang, tetapi di kamar kecil Su Jinyu, kehangatan terasa berbeda.

Tiga minggu telah berlalu sejak ia resmi menjadi anggota keluarga Su. Kamar mungil yang dulu hanya ruang penyimpanan berdebu itu kini berubah total. Dinding-dindingnya kini putih bersih oleh cat kapur baru, lantai kayunya telah dibersihkan dan dilapisi minyak khusus agar tidak mudah lapuk. Genteng-genteng bocor di atap telah diganti dengan genteng hijau baru yang membuat kamar terasa lebih hangat.

Di sudut ruangan, sebuah lemari kayu berukir sederhana berdiri kokoh hadiah dari Ayah Su setelah tahu putri kecilnya suka menyimpan barang-barang temuannya. Dan yang paling mewah, di atas ranjang lipat yang sama, terbentang seprai sutra halus berwarna krem muda. Di tahun 1963, sutra adalah barang mewah yang hanya bisa didapat dengan kupon kain khusus. Ibu Liu rela mengumpulkan kupon berbulan-bulan demi membelinya.

Su Jinyu berbaring menatap langit-langit yang kini tak lagi lapuk. Matanya setengah terpejam, telinganya menangkap ocehan dari samping.

"...terus soal nomor tiga itu, aku baca ulang berkali-kali tetap tidak mengerti. Masa sih, segitiga siku-siku dengan sudut 30 derajat, panjang sisi ini, terus harus cari panjang sisi itu? Aku pusing!"

Su Weimin duduk bersila di lantai dekat ranjang, buku PR musim dingin terbuka di pangkuannya. Alisnya berkerut, mulutnya manyun seperti anak kecil yang kehilangan permen.

Jinyu tidak menjawab. Ia hanya memutar matanya dalam hati. Bocah ini sudah mengoceh sejak satu jam lalu.

"...lalu soal nomor lima, ini tentang kecepatan kereta. Yuyu, kamu tahu tidak, kalau kereta api dari Beijing ke Shanghai itu—"

"Kakak ketiga."

Weimin terhenti. "Eh?"

"Kamu sudah cerita dari tadi. Aku muak."

Weimin cemberut. "Tapi PR-nya susah! Aku tidak bisa!"

Jinyu menghela napas panjang. Dengan gerakan malas, ia menelungkup, meraih buku di pangkuan kakaknya, lalu menariknya ke hadapan.

Mata cokelat keemasannya menyapu setiap halaman. Soal matematika kelas 5 SD. Persamaan sederhana, geometri dasar, soal cerita tentang kecepatan dan jarak.

Jinyu mengangkat sebelah alis. "Mudah sekali."

Weimin langsung membusungkan pipi. "Huh! Kamu bilang mudah? Kamu bahkan belum sekolah! Jangan sombong!"

"Aku tidak sombong. Ini memang mudah." Jinyu memutar matanya malas. "Sini, aku ajari."

Dan mulailah sesi belajar yang tidak biasa. Dengan suara datar namun jelas, Jinyu menjelaskan setiap soal satu per satu. Rumus phytagoras untuk segitiga siku-siku. Perbandingan sudut istimewa. Cara mengubah soal cerita menjadi persamaan matematika.

Sepuluh menit kemudian.

Weimin menatap bukunya dengan mata berbinar. "Wah... aku mengerti! Yuyu, kamu hebat sekali!"

Jinyu hanya mengangkat bahu. "Dasar."

"Kamu cantik dan pintar!" Weimin memeluk adiknya dengan antusias, membuat Jinyu sedikit kaku—masih belum terbiasa dengan kontak fisik hangat seperti ini. "Aku akan bilang ke Ibu!"

Sebelum Jinyu sempat melarang, Weimin sudah melesat keluar kamar.

Di dapur, Ibu Liu sedang merapikan peralatan makan sambil bersenandung kecil. Weimin muncul dengan wajah berseri-seri.

"Ibu! Ibu! Yuyu hebat! Dia bisa mengerjakan PR-ku!"

Ibu Liu menoleh, tersenyum gemas melihat antusiasme putranya. "Ya sudah, bagus kalau kalian belajar bersama."

"Bukan, Bu! Maksudku, yuyu yang mengerjakan! Dia mengajari aku! Semua soal! Hanya sepuluh menit!"

Ibu Liu menghentikan kegiatannya. "Apa?"

"Iya, Bu! Yuyu pintar sekali! Ayo lihat!"

Weimin menarik tangan ibunya menuju kamar Jinyu. Ibu Liu setengah ragu—anak ketiganya ini memang sering melebih-lebihkan. Tapi sorot mata Weimin kali ini berbeda. Sungguh-sungguh. Tidak ada tanda-tanda bercanda.

Saat memasuki kamar, Ibu Liu melihat putri kecilnya berbaring di ranjang sutra, tangan mungilnya menopang dagu, matanya menatap langit-langit dengan malas.

"Jinyu," panggil Ibu Liu lembut sambil duduk di sisi ranjang. "Weimin bilang kamu bisa mengerjakan PR-nya. Benarkah?"

Jinyu menoleh, menatap ibu barunya dengan ekspresi datar. "Iya, Bu. Mudah kok."

Ibu Liu tertegun. Lalu matanya berbinar. Tanpa berkata apa-apa, ia bangkit dan bergegas keluar kamar.

Jinyu mengerjapkan mata bingung. "Kakak ketiga, Ibu kenapa?"

Weimin mengangkat bahu. "Entahlah."

Beberapa menit kemudian, Ibu Liu kembali. Kali ini tangannya membawa dua buku tebal. Sampulnya sudah lusuh, kertasnya menguning, tapi masih terbungkus plastik hati-hati.

"Ini," kata Ibu Liu sambil menyerahkan buku-buku itu pada Jinyu. "Coba lihat."

Jinyu duduk, mengambil buku pertama. Materi SMP Jilid 1. Buku kedua. Materi SMA Jilid 2.

Dia menatap ibunya dengan bingung. "Bu?"

"Kamu mengerti ini?" tanya Ibu Liu dengan suara bergetar harap.

Jinyu terdiam. Dalam hati, ia cepat berpikir. Di dunia akhir zaman, ia adalah ratu yang menguasai teknologi canggih. Walaupun dia selalu malas mengerjakan pekerjaan, tapi matematika dasar seperti ini adalah permainan anak-anak. Tapi bagaimana menjelaskannya pada ibu angkatnya ini?

"Aku... pernah mempelajari beberapa materi ini," jawabnya hati-hati. "Di rumah orang tua angkatku dulu, sebelum aku diusir. Ada beberapa buku bekas di sana. Aku suka membacanya."

Ibu Liu menatapnya dengan mata berkaca-baca. Tanpa ba-bi-bu, ia menarik Jinyu ke dalam pelukan hangat, lalu mengecup kedua pipi mungilnya berkali-kali.

"Putriku jenius! Putri ibu pintar sekali!" serunya bahagia.

Jinyu diam membeku dalam pelukan itu. Lagi-lagi pelukan.

Weimin yang melihat itu ikut berbinar. Ia segera memanfaatkan momen. "Bu, aku boleh main ke rumah Xiao Wang sekarang? PR-ku sudah selesai!"

Ibu Liu, yang masih dalam suasana hati bahagia, mengangguk tanpa pikir panjang. "Boleh, boleh. Pulang sebelum makan malam, ya!"

"Oke!" Weimin langsung berlari kegirangan.

Ibu Liu kembali menatap Jinyu dengan tatapan penuh cinta. "Ibu akan masak makanan kesukaanmu malam ini. Kamu mau apa?"

Jinyu hanya menggeleng lemah. "Terserah Ibu saja."

Ibu Liu tersenyum, lalu mengecup kening Jinyu sekali lagi sebelum beranjak pergi ke dapur.

Jinyu menatap pintu yang tertutup, lalu kembali berbaring di ranjang sutranya. Matanya menatap langit-langit.

"Keluarga aneh," gumamnya pelan. Tapi sudut bibirnya terangkat sedikit.

Shsss~ "ternyata sang ratu kita sangat pintar matematika" kata yoyo yang muncul di sampingnya.

Jinyu hanya memutar mata dengan malas dan menjentikkan kepala ular itu.

"Walaupun aku selalu bolos pelajar sejarah, aku tetap mempertahankan ranking ku"

Yoyo melingkarkan tubuhnya di tangan Jinyu "Baiklah, shsss~, kau selalu ranking di tengah, jika mood bisa naik dan jika tidak mood ranking mu akan selalu disitu, sebenarnya kamu pintar tapi pemalas, shshss~"

"Suka-suka saya dong, lagipula kamu pikir aku ini seorang protagonis yang harus bisa semuanya, huh?"

"Shsshsss~, kamu meremehkan dirimu sendiri Jinyu, tapi kamu benar-benar pemalas, bahkan bisa mempertahankan ranking untuk tidak naik ataupun turun, setidaknya ranking 1 ini malah ditengah"

Jinyu : ... Terimakasih atas pujiannya

Di luar dugaan Jinyu, kabar tentang kejeniusannya menyebar cepat. Weimin yang bertemu teman-temannya di lapangan kompleks tidak bisa menahan diri.

"Adikku jenius, tahu! Dia bisa mengerjakan PR matematikaku! Padahal dia belum sekolah!"

"Apa? Masa sih?"

"Iya! Sungguh! PR yang susah itu, dia selesaikan cuma sepuluh menit!"

Anak-anak itu menyebarkan cerita ke orang tua masing-masing. Para ibu yang tiga minggu lalu dihadang Jinyu dengan rahasia mereka, kini mendengar versi berbeda tentang gadis kecil bermata keemasan itu.

"Katanya anak Komandan Su jenius?"

"Iya, dengar-dengar belum sekolah tapi sudah bisa matematika SMP."

"Apa benar? Jangan-jangan rumor doang?"

"Coba lihat nanti."

Dan dengan cepat, julukan baru melekat pada Su Jinyu. Bukan lagi "ratu gosip" seperti yang para ibu bisikkan setelah kejadian di teras dulu. Kini ia dikenal sebagai "jenius kecil" di kompleks militer.

Malam harinya, Su Yichen pulang dari markas. Mantel hijau tentaranya masih melekat, wajah tegasnya sedikit lelah. Tapi begitu melangkah masuk rumah, Ibu Liu sudah menyambut dengan wajah berseri.

"Yichen, ada yang ingin kusampaikan."

Su Yichen mengangkat alis. "Apa? Jangan bilang Weimin berulah lagi."

"Bukan. Ini tentang Jinyu."

Nama itu langsung membuat Su Yichen tersenyum. Tiga minggu terakhir, ia merasa hidupnya lebih berwarna dengan kehadiran putri kecil itu. Meski kadang Jinyu bersikap terlalu dewasa, ia tetap sayang.

"Apa tentang Jinyu?"

Ibu Liu bercerita panjang lebar. Tentang PR Weimin, tentang Jinyu yang mengerjakannya dengan mudah, tentang buku SMP dan SMA yang ia pahami.

Su Yichen awalnya ragu. Tapi melihat istri dan putra bungsunya sama-sama bersemangat, ia memutuskan untuk menguji sendiri.

"Jinyu," panggilnya sambil masuk ke kamar putrinya.

Jinyu yang sedang berbaring langsung duduk. "Baba/ayah." (Panggilan untuk ayah dalam bahasa Mandarin)

"Ayah dengar kamu pintar matematika. Coba Ayah lihat."

Jinyu menghela napas dalam hati. Kenapa semua orang antusias sekali.

Tapi ia tetap mengangguk patuh. Su Yichen mengambil buku SMP yang tadi diberikan Ibu Liu, membuka satu halaman acak.

"Soal ini. Persamaan kuadrat. Bisakah?"

Jinyu menatap soal itu sebentar sebelum menjelaskan persamaan sederhana dengan variabel x. Dalam hati ia tertawa. Di dunia akhir zaman, ia bisa menghitung lintasan peluru kendali dengan rumus ribuan kali lebih rumit. Tapi di sini, ia harus berpura-pura berpikir sebentar.

Dua detik kemudian, ia menjawab. "X sama dengan 3 atau minus 2, Baba."

Su Yichen tertegun. Ia memeriksa kunci jawaban di belakang buku. Benar.

Ia mencoba soal lain. Lebih sulit. Fungsi trigonometri dasar. Jinyu menjawab dalam lima detik.

Soal SMA. Integral sederhana. Jinyu menulis jawaban dengan lancar di atas kertas bekas yang diberikan Ibu Liu.

Su Yichen tercengang. Ibu Liu yang melihat dari ambang pintu sudah menangis haru. Weimin berjingkrak-jingkrak.

"Ayah," kata Jinyu dengan suara datar, "Aku hanya membaca buku di rumah orang tua angkat dulu."

Su Yichen tidak peduli. Ia mengangkat putri kecilnya, memeluknya erat. "Ayah bangga padamu! Mulai besok, Baba akan carikan guru privat untukmu. Kamu harus sekolah cepat."

"Tidak perlu ayah, aku suka membaca sendiri"

"Baiklah, baiklah. Beritahu ayah kalau kamu ingin sekolah lebih awal."

Jinyu hanya bisa mengangguk pasrah dalam pelukan itu.

Keluarga ini..., pikirnya. Mereka terlalu mudah bahagia.

Tapi saat melihat wajah-wajah berseri di sekelilingnya, sesuatu yang hangat kembali mengalir di dadanya.

Mungkin... tidak apa-apa.

Mungkin menjadi pusat perhatian keluarga seperti ini... tidak terlalu buruk.. 

1
Dewiendahsetiowati
kenapa Yoyo dan Xiao Hu tidak di taruh di ruang dimensi jadi bisa ikut kemana2
Dewiendahsetiowati: Karena biasanya ikut Jinyu kemana2 apalagi Yoyo selalu ada disekitar Jinyu
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
benar2 Ratu iblis sejati membunuh 1000 orang dalam semalam
XIA LING
lanjutkan 💪
nana
ditunggu up nya🤭
Dewiendahsetiowati
ditunggu up selanjutnya, bikin nagih bacanya..semangat terus thor
Dewiendahsetiowati
Ratu iblis yang masih punya hati
Dewiendahsetiowati
Jinyu mantab
Batara Kresno
bukannya diruang dimensi banyak senjata pistol kan punya dia
Cloudia: iya, tapi dia selagi bisa tanpa senjata dimensi nya ya digas terus
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin baca semakin candu dengan ceritanya,gak pernah bosan bacanya
Marsya
pokoknya the best dech ceritanya author,smangat slalu author👍👍👍👍
nana
lanjut min😍
Batara Kresno
kerem ceritanya thor semangat yerus buat up date ya sllu ditunggu
Batara Kresno
keren
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Ellasama
makin seruuu, makin banyak up ny/Hey/
Ellasama
up yg banyak y Thor, selalu suka SM karyamu💪
Ellasama
terus up y Thor jangan putus ditengah jalan /Determined/
Marsya
kk udah kirim kopi biar smangat nulis novelnya y!.😉😉😉😉😉
Marsya
ceritanya keren,👍👍👍👍👍👍👍
Ellasama
suka banget, akhirnya yg satu ini si fl punya ruang angkasa/ dimensi, semangat /Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!