NovelToon NovelToon
Air Mata Seorang Istri: Kakakku, Perebut Suamiku

Air Mata Seorang Istri: Kakakku, Perebut Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh / Teman lama bertemu kembali / Romansa / Konflik etika
Popularitas:82.4k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.

Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.

"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.

"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Kirana duduk di kursi meja makan sambil menghitung uang hasil jualannya selama enam hari terakhir. Lembaran uang itu ia susun rapi di atas meja kayu, satu per satu, dengan hati-hati seperti sedang menghitung harapan.

Satu juta rupiah.

Angka itu mungkin kecil bagi sebagian orang, tetapi bagi Kirana, jumlah itu adalah bukti bahwa ia masih bisa berdiri meski tanpa sandaran yang dulu ia percayai sepenuh hati.

Awalnya, uang itu ingin ia gunakan untuk menyewa jasa detektif. Ia ingin bukti kuat, bukti yang tak bisa dipatahkan oleh kebohongan atau drama air mata dari Rafka. Namun, pesanan yang terus berdatangan membuat rencananya bergeser.

Dengan uang ini, Kirana bisa menambah modal. Bisa membeli bahan lebih banyak. Bisa bertahan lebih lama.

Kirana membuka buku catatan kecilnya, membaca daftar pesanan untuk minggu depan.

“Bu RT pesan tiga puluh porsi. Bu Bidan seratus porsi. Haji Soleh seratus porsi. Lalu, Mamanya Zaki dua puluh lima porsi,” gumam Kirana pelan.

Kirana tersenyum kecil. Dia masih tidak menyangka para tetangga banyak yang mendukung usahanya. Tetangga-tetangga yang selama ini hanya menyapanya sekilas, kini mempercayakan konsumsi untuk acara mereka padanya. Mereka tahu masakan Kirana bukan sekadar enak, tapi dibuat dengan hati, sehingga cocok di lidah siapa pun.

Hari ini, Kirana memutuskan libur jualan. Ia ingin menemani Gita. Hari yang ditunggu-tunggu putrinya sudah tiba, pergi ke Timezone bersama Rafka.

Setidaknya, pikir Kirana, permasalahan orang dewasa tidak boleh merampas kebahagiaan anak.

“Ma, Papa mana?” tanya Gita dengan wajah berbinar.

Gadis kecil itu sudah siap sejak pagi. Rambutnya dikepang rapi, bajunya bersih dan wangi. Senyumnya penuh harap.

“Coba lihat di kamar,” jawab Kirana sambil mengusap pipi Gita. “Papa dari tadi bilang mau siap-siap.”

“Yeay!” Gita langsung berlari, langkahnya ringan dan penuh semangat.

Kirana tersenyum melihatnya. Ada perasaan hangat dan takut yang beradu di dadanya.

Dengan semangat empat lima, Gita berlari menuju kamar kedua orang tuanya. Dia mengetuk pintu beberapa kali, tetapi tidak terdengar sahutan ayahnya.

“Papa, aku masuk, ya!”

Tak ada jawaban.

Pintu kamar terbuka perlahan. Gita melongok ke dalam, matanya menyapu ruangan. Lemari tertutup. Tempat tidur rapi. Kamar mandi kosong.

“Papa…?” panggil Gita lagi.

Hening.

“Kok Papa-nya enggak ada?” gumam Gita, kebingungan. Tangis kecil mulai menggetarkan suaranya.

Di waktu yang sama, di rumah lain, Rafka sedang berjongkok di sisi ranjang Kinanti. Ara berdiri di dekat pintu, wajahnya panik.

“Om, Mama enggak apa-apa, kan?” tanya Ara dengan mata berkaca-kaca.

Rafka menepuk bahu bocah itu. “Tidak ada luka. Semoga mamamu cuma pingsan sebentar.”

Kinanti terbaring dengan wajah pucat. Beberapa detik kemudian, matanya terbuka perlahan.

“Aku senang kamu datang,” ucap Kinanti lemah. “Tadi kepalaku pusing… sepertinya kecapekan.”

Rafka mengangguk. Di dadanya, ada rasa bersalah yang berdesakan dengan rasa kasihan.

Tangisan Ara pecah lagi.

“Kalau Mama sakit, aku tidak jadi pergi ke wahana bermain,” ucap Ara yang menangis keras.

Kinanti mengelus rambut anaknya. “Maafkan Mama, Ara.”

“Aku mau naik kuda poni!” teriak Ara, menangis semakin kencang.

Kinanti menoleh ke Rafka. Tatapannya lembut, namun ada tekanan di sana.

“Mas, bisa antarkan kami ke wahana bermain?” pintanya pelan. “Ara enggak akan tenang kalau keinginannya enggak dituruti.”

Rafka terdiam. Bayangan Gita muncul di benaknya. Janji yang sudah ia ucapkan.

“Sepertinya tidak bisa,” katanya ragu. “Aku sudah janji ke Gita.”

Kinanti menghela napas, lalu berbicara dengan suara yang lebih dalam, lebih menusuk.

“Mas, kamu bisa ajak Gita kapan saja. Tapi Ara ....” Kinanti melirik ke arah anaknya. “Saat ini Ara membutuhkan kamu. Dia bisa sakit jika nagis lama,” ujar Kinanti. “Kasihan Ara, Mas. Dia anak yatim yang kehilangan kasih sayang seorang ayah. Ara sudah menganggap kamu papanya.”

Tangisan Ara menjadi-jadi.

Rafka menutup mata sejenak.

“Baiklah,” ucap pria itu akhirnya. “Tapi sampai jam sepuluh. Jam sebelas aku harus sudah di rumah.”

Wajah Kinanti langsung berbinar. Ara melompat kegirangan.

“Terima kasih, Mas,” ucap Kinanti sambil tersenyum. Ada sesuatu dalam senyum itu,, kepuasan.

Mereka berangkat bersama. Di wahana bermain, orang-orang yang melihat akan mengira mereka keluarga kecil yang bahagia.

Di rumah, Gita akhirnya menangis di pelukan Kirana.

“Mama, Papa ke mana?” Gita terisak tangis.

Kirana mencoba menghubungi Rafka. Panggilan tak diangkat. Pesan tak dibalas.

Kesabaran Kirana runtuh.

“Kamu itu pergi ke mana, sih, Mas!” gumam Kirana kesal.

Gita mengusap matanya. “Ma, apa Papa ke rumah Ara?”

Kirana tersentak. Pertanyaan polos itu menghantam tepat di dadanya.

“Bukannya Mas Rafka tahu hari ini kita mau ke Timezone” batin Kirana bergetar.

“Ma, telepon Tante Kinanti saja,” pinta Gita lirih. “Tanya Papa ada di sana, atau enggak.”

Dengan tangan gemetar, Kirana menekan nomor Kinanti.

“Halo, Ki?” suara Kinanti terdengar riuh oleh suara anak-anak dan musik. “Ada apa?”

“Mbak, apa Mas Rafka ada sama kalian?” tanya Kirana, menahan napas.

“Oh, Rafka?” jawab Kinanti ringan. “Iya. Lagi naik komedi putar sama Ara.”

Dunia Kirana seakan runtuh. Dia memejamkan mata. Dadanya sesak. Janji itu bukan hanya pada dirinya, tetapi pada anak mereka.

“Memangnya ada apa, Ki?”

“Tidak apa-apa, Mbak,” ucap Kirana akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. “Terima kasih.”

Telepon ditutup.

Gita menatap ibunya dengan mata basah.

“Papa lagi sama Ara, ya, Ma?”

Kirana menarik putrinya ke dalam pelukan. Tangannya gemetar hebat.

Di saat itulah Kirana tahu bukan hanya kepercayaan dan kesetiaan yang dihancurkan oleh Rafka, tetapi juga rasa bahagia anaknya. Itu adalah luka yang tidak akan pernah bisa ia maafkan dengan mudah.

***

Jangan tunda baca bab 20 nanti, ya. Biar retensi bisa tercapai. Atas perhatiannya aku ucapkan terima kasih.

1
Lala lala
hal kecil tp detail
bab sebelumnya kirana mendapatkan struk belanja dr saku celana..
bab lanjutan dia melihat struk teselip di bawah meja rias..
ken darsihk
kakak mu adalah mauttt Kirana
Naya En-lish
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Kiss//Kiss//Kiss//Kiss//Kiss/
ken darsihk
Tetap semangat Kirana
Susanty
gak bisa ngebayangin,adik ipar atau kaka ipar, nauzubillah,gak kepikiran di otak aku😤🤭
Dewi Sri
Turut Berduka cita, semoga amal kebaikan bibi author di trima... Aamiin
Karennina
kutunggu updatenya kak😄
Sunaryati
Ikhlaskan saja kehilangan rumah masa lalu penuh derita batin yang menyakitkan, lebih baik fokus pada rumah masa depan yang menjanjikan dan hati nyaman. Untuk orang tuamu bukan kamu yang menjauhi tapi mereka yang tidak kau dekati untuk berbakti.
Sunaryati
Keputusan kamu sudah benar tidak menikahi Kinanti, untuk menjaga perasaan putrimu Gita, Rafka.Jika kau sadar salah taubatlah. Berika uang gono- gini untuk Kinara, sebagai ganti tabungan yang kau habiskan untuk menuruti hawa nafsu bejatmu. Berikan nafkah putrimu, segara rutin
Ila Latifah
emak kirana juga aneh sih. apakah kirana anak tiri?
Ma Em
Semangat Kirana semoga usaha Kirana makin sukses , Kirana dan Gita selalu bahagia .
Naufal Affiq
lanjut kak
Dew666
💎🍭
Rahma Inayah
betapa egois nya bu Maya SDH jls2 Kinanti yg slah merusak.rumh tangga adiknya tp ttp aja Kirana yg di benci padhl satu rahim bukan ank tiri or angkat tp kasih syg kentara berbeda
tutiana
semangat kirana 💪🏻💪🏻💪🏻
tutiana
nah,,, karmanya enak to kinanti, selamat menikmati
Asyatun 1
lanjut
tutiana
ya ampun Thor pengen ngaplok mulutnya kinanti deh
Nanik Arifin
marahmu salah alamat, Maya... hrsnya yg kau usir, kau buang dr keluarga itu Kinanti, bukan Kinara. yg mencoreng nama keluarga, yg jd pelakor itu Kinanti. semua hancur Krn ulah Kinanti. mengapa org lain yg dituding & Kinanti ttp disayang". anda waras ?? kalian emg keluarga problematik
🌸Santi Suki🌸: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Tri Lestari Endah
semangat kirana 💪
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏
🌸Santi Suki🌸: ❤️❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!