NovelToon NovelToon
Mr. Profesor

Mr. Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Cintapertama
Popularitas:210
Nilai: 5
Nama Author: Amabillis.13

Zoya telah jatuh cinta kepada dosennya bernama Arlo. Arlo adalah sosok dosen yang dingin dan tidak ramah... dia kikuk dengan hal asmara.
lalu bagaimana zoya akan meluluhkan hati Mr. profesor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Namun, kemampuan akting Claeton benar-benar luar biasa. Bisa dibilang, ia adalah orang yang seolah terlahir untuk menjadi aktor. Peran apa pun yang ia mainkan selalu terasa hidup dan meyakinkan, karena ia memiliki pendekatan akting yang berbeda untuk setiap karakter. Hampir tidak pernah terlihat bayangan dirinya yang asli di dalam tokoh yang ia perankan… seolah ia benar-benar menghilang di balik peran itu. Orang seperti ini memang seperti ditakdirkan untuk hidup di dunia seni peran.

Maka, meskipun wajahnya tidak sesuai dengan standar estetika arus utama, Claeton tetap sangat populer dan diakui dalam industri.

Sutradara Rahengga segera memanggil Zoya, lalu menunjuk Claeton yang berdiri di sampingnya.

“Zoya, ini Claeton. Kalau ada yang tidak kau mengerti, tanyakan saja padanya.”

Sepertinya Rahengga sudah lebih dulu memberi tahu Claeton tentang Zoya. Tatapan aktor itu terhadap Zoya terlihat ramah, seperti seorang senior yang sedang melihat juniornya.

Dengan suara rendah, Claeton berkata, “Tanyakan saja jika ada yang tidak kau pahami.”

Zoya mengangguk patuh. “Saya tidak akan sungkan.”

Begitu Zoya selesai berbicara, Rahengga langsung menimpali,

“Begini saja. Mulai sekarang, Zoya, kau belajar akting dari Claeton. Dan Claeton, kau belajar bela diri dari Zoya. Jujur saja, Claeton, dasar bela dirimu terlalu lemah. Dalam hal ini, kau harus belajar dengan serius darinya.”

Zoya sempat mengira Rahengga sedang melindunginya, ternyata sang sutradara justru memiliki rencana lain. Ia merasa sedikit geli sekaligus pasrah. Sambil tertawa kecil, ia menjawab, “Baiklah, nanti tanyakan saja pada saya.”

Sikap Zoya yang lugas membuat Rahengga semakin senang. Ia menepuk tangan ringan, lalu berkata, “Kalau begitu, kalian berdua pergilah berlatih adegan bersama dan menyesuaikan chemistry. Besok kita resmi mulai syuting.”

Claeton mengangguk sigap, kemudian mengajak Zoya menuju area belakang untuk mendalami naskah bersama.

Zoya sudah membaca naskah berkali-kali sebelum datang dan menghafal hampir semua dialognya dengan sangat kuat. Kemampuan menguasai teks itu membuat Claeton mulai memandangnya dengan lebih serius.

Setelah mereka menjalani latihan dua adegan, sikap Claeton yang awalnya hanya sebatas ingin membimbing perlahan berubah. Ia menjadi lebih fokus, benar-benar memperhatikan cara Zoya memahami karakter dan membawakan dialognya.

Zoya sama sekali tidak seperti yang dikatakan Rahengga… bahwa ia hanya pemain figuran yang muncul sekilas dalam beberapa adegan. Sebaliknya, Zoya seolah memang dilahirkan untuk berakting. Bakatnya bahkan terasa sangat kuat, mungkin tidak kalah dari Claeton sendiri.

Bahkan saat hanya membaca dialog, ketika mata besar Zoya yang jernih menatap lawan mainnya, Claeton merasa ada sesuatu yang berubah. Di momen itu, yang ia lihat bukan lagi Zoya, melainkan sosok Adea… wanita tulus namun tragis seperti yang ada di dalam naskah.

Malam harinya, saat Rahengga sedang makan bersama Claeton, Claeton akhirnya membuka suara.

“Zoya itu tidak sederhana.”

Tangan Rahengga yang sedang mengambil makanan terhenti sejenak. Ia mengira Claeton maksudnya Zoya bermain licik, sehingga wajahnya menjadi agak tidak senang. Namun ia menahan amarahnya dan bertanya, "Apanya yang tidak sederhana?"

Claeton tidak menyadari mengapa Rahengga tiba-tiba terlihat tidak senang. Ia hanya menyampaikan pendapatnya dengan santai.

“Kemampuan penguasaan dialognya sangat bagus, dan matanya sangat ekspresif,” katanya sambil mengingat adegan tadi. “Aku punya firasat… dia akan populer.”

Mendengar bahwa itu bukan komentar negatif seperti yang sempat ia khawatirkan, suasana hati Rahengga langsung membaik. Bahkan saat Claeton memuji Zoya, Rahengga tanpa sadar menyeringai bangga.

“Tentu saja,” katanya dengan nada puas. “Lihat dulu siapa yang menemukannya!”

Memikirkan bahwa dialah orang pertama yang menemukan bakat Zoya, Rahengga merasa sangat bangga pada dirinya sendiri.

Claeton hanya mengangguk sambil tersenyum kecil melihat reaksinya.

Keesokan harinya, setelah proses syuting dimulai, Zoya terkejut saat melihat seorang wanita baru berada di lokasi syuting. Namanya Meilan.

Bersamaan dengan itu, Zoya menerima kabar bahwa naskah mengalami perubahan.

Dalam versi terbaru, Meilan akan memerankan Adira, kakak Adea, yang pada akhirnya menjalin hubungan asmara dengan Marlon.

Bukan hanya menambahkan satu karakter baru, perubahan tersebut bahkan mengubah akhir cerita. Marlon, yang seharusnya berakhir sendirian setelah bercerai dengan Anetha, kini memiliki seorang wanita di sisinya.

Jelas, latar belakang orang ini sama sekali tidak sederhana.

Perlu diketahui bahwa Rahengga terkenal sebagai sutradara yang keras kepala dan sangat berpegang pada prinsip. Baginya, investor boleh memberikan dana, tetapi jangan berharap bisa menitipkan aktor lewat jalur belakang.

Karena itu, fakta bahwa seseorang mampu menyisipkan satu peran baru ke dalam naskah garapan Rahengga sudah cukup membuktikan betapa kuatnya pengaruh yang dimiliki wanita ini di balik layar.

Zoya menerima naskah baru itu dan membacanya dengan teliti. Alurnya memang mengalami banyak perubahan. Sebagian besar adegan interaksi antara Adea dan Marlon kini dialihkan kepada karakter Meilan.

Bukan hanya itu, dalam versi terbaru ini Adea juga tidak lagi memiliki perasaan cinta terhadap Marlon setelah mereka putus. Hubungan mereka, selain kerja sama dalam menghadapi sang psikopat, nyaris tidak menyisakan apa pun selain konflik hingga upaya pembunuhan di akhir cerita. Seluruh perkembangan emosi dan hubungan yang sebelumnya dimiliki Adea kini berpindah menjadi milik karakter Meilan.

Akibatnya, perubahan emosional Marlon yang begitu besar setelah kematian Adea kini dijelaskan hanya sebagai rasa bersalah. Rasa bersalah terhadap seorang wanita yang pernah sangat mencintainya, lalu membencinya karena keegoisannya sendiri, namun tetap bersikap profesional demi pekerjaannya hingga akhirnya berakhir tragis… tewas karena bom saat rela menjadi umpan.

Penjelasan itu memang masih masuk akal. Namun, secara keseluruhan, ada sesuatu yang terasa hilang dari kedalaman ceritanya.

Membagi plot yang awalnya dimiliki satu karakter menjadi dua tokoh berbeda membuat sosok Adea kehilangan keutuhannya. Karakter yang semula kuat, lembut, dan tulus kini terasa jauh lebih datar.

Hal itulah yang membuat Rahengga semakin tidak nyaman. Sejak awal, ia sangat menyukai karakter Adea dan bahkan sengaja mencari Zoya untuk memerankannya. Karena itu, perubahan ini jelas bukan sesuatu yang ia inginkan.

Melihat wajah Rahengga yang masam dan merasakan aura dingin di sekitarnya, Zoya dengan cerdas memilih tetap diam.

Saat syuting dimulai, dugaan Zoya semakin terbukti.

Meskipun saat ini Rahengga belum terlalu populer di dalam negeri, salah satu karyanya pernah memenangkan penghargaan besar di luar negeri. Karena itulah, proyek pertamanya di tanah air ini langsung menarik banyak aktor veteran dengan kemampuan akting yang mumpuni.

Namun, bahkan para aktor senior itu pun tidak ada yang tampil semewah Meilan.

Meilan datang membawa empat orang asisten. Saat syuting di luar ruangan, kecuali ketika kamera mulai merekam, selalu ada seseorang yang memayunginya agar tidak terkena sinar matahari. Begitu adegan selesai, keempat asistennya langsung bergerak bersamaan… ada yang memayungi, ada yang mengipasi, dan yang paling berlebihan, ada asisten khusus yang hanya bertugas membawakan air minum.

Bahkan artis papan atas yang sudah lama terkenal pun jarang bersikap semewah itu. Pemandangan tersebut membuat Rahengga, yang sejak awal memang tidak menyukai Meilan, semakin menunjukkan wajah muramnya.

Claeton memiliki hubungan pribadi yang cukup baik dengan Rahengga, sehingga ia tahu persis bagaimana Meilan bisa masuk ke proyek ini. Melihat tingkah Meilan sekarang, lalu mengingat bakat Zoya yang luar biasa namun harus kehilangan lebih dari setengah porsi adegannya, Claeton merasa semuanya sangat tidak adil bagi Zoya.

Bukan hanya merebut banyak adegan dan bersikap berlebihan, Meilan juga terus mengeluhkan jadwalnya yang padat. Ia berkali-kali mendesak Rahengga agar adegannya didahulukan.

Rahengga, yang sejak awal memang ingin Meilan segera menyelesaikan bagiannya agar suasana lokasi syuting kembali tenang, akhirnya menyetujui permintaan itu dan memprioritaskan pengambilan adegan Meilan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!