Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perjalan
Beberapa minggu setelah panggilan video itu, persiapan untuk perjalanan ke Florence sudah berjalan dengan lancar. Rian telah menyusun jadwal yang mencakup kunjungan ke pasar lokal, kelas memasak tradisional, dan pertemuan dengan komunitas penulis Italia. Rama memilih lensa kamera baru untuk menangkap keindahan arsitektur Renaissance dan warna-warni makanan khas Tuscany. Siti membawa buku catatan baru, di mana dia mulai menulis draf awal tentang bagaimana pasta—seperti makanan khas dari berbagai negara—menjadi simbol koneksi antar generasi.
Ketika mereka tiba di Bandara Internasional Leonardo da Vinci di Roma sebelum melanjutkan perjalanan ke Florence dengan kereta api, seorang wanita dengan rambut pirang kemerahan dan senyum ramah sudah menunggu di pintu keluar. “Saya adalah Giulia, penerbit dari rumah penerbitan La Vita in Cucina,” ucapnya dengan aksen Italia yang lembut, sambil mengulurkan tangan. “Saya sudah tidak sabar untuk menunjukkan kepada kalian betapa indahnya Florence dan betapa hangatnya orang Italia dalam berbagi makanan dan cerita.”
Perjalanan kereta api selama satu jam lebih membawa mereka melalui pemandangan pedesaan Tuscany yang memesona—perkebunan anggur yang rapi berbaris di lereng bukit, kebun zaitun yang hijau menyala di bawah matahari musim semi, dan desa-desa kecil dengan atap bata merah yang terpencil di antara ladang. “Ini seperti lukisan yang hidup,” bisik Rama sambil terus mengambil foto dari jendela kereta. “Sama seperti padang rumput Gauteng yang luas, atau sawah terasering di Indonesia—setiap tanah punya cara sendiri untuk berbicara dengan hati kita.”
Di Florence, mereka tinggal di sebuah vila tua yang dimiliki oleh keluarga Giulia, terletak di tepi sungai Arno. Dari balkon kamar mereka, mereka bisa melihat Menara Arnolfo yang menjulang tinggi dan kubah Katedral Santa Maria del Fiore yang berwarna merah bata yang ikonik. Malam pertama, Giulia mengundang mereka ke rumah makan keluarga yang terletak di sebuah gang kecil di distrik Oltrarno. Tempat itu tidak besar, tapi penuh dengan aroma bawang putih yang dipanggang, kemangi segar, dan saus tomat yang dimasak perlahan selama berjam-jam.
“Kakek saya mendirikan tempat ini pada tahun 1950-an,” cerita Giulia sambil menyajikan piring tagliatelle dengan saus ragù yang lezat. “Resepnya sama persis seperti yang dia pelajari dari ibunya—setiap sendok penuh dengan kenangan tentang keluarga yang berkumpul di meja makan setiap malam.” Di sudut rumah makan, seorang pria tua dengan wajah berkerut namun mata yang hangat sedang bermain biola klasik Italia. Ketika melodi lembut mengisi ruangan, Siti ingat akan nyanyian nenek Lwazi di padang rumput Afrika—bagaimana musik bisa menyampaikan perasaan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Keesokan paginya, mereka bertemu dengan Marco, koki yang telah diundang penerbit untuk berbagi cerita tentang pasta keluarga. Marco bekerja di sebuah toko pasta kecil yang terletak di dekat Pasar Sant’Ambrogio. Di sana, dia menunjukkan bagaimana membuat tagliatelle dari awal—menepuk tepung dengan telur hingga menjadi adonan yang kenyal, lalu menggulirkannya tipis seperti kertas sebelum dipotong dengan tangan menjadi jalur-jalur yang sempurna.
“Setiap keluarga Italia punya resep pasta yang berbeda,” ujar Marco sambil mengajak mereka mencoba menggulir adonan. “Ibu saya selalu bilang bahwa pasta yang dibuat dengan tangan membawa cinta lebih banyak daripada yang dibuat dengan mesin. Ketika kita membuatnya bersama keluarga, kita sedang menenun cerita kita ke dalam setiap seratnya.”
Saat itu, pesan video datang dari teman-teman di seluruh dunia. Maria sedang di Valencia, bersama dengan beberapa petani yang akan menyumbangkan saffron untuk paella mereka di acara khusus bulan depan. Sofia sedang merencanakan workshop tari Samba di sekolah lokalnya di Brasil, di mana anak-anak akan belajar tidak hanya tari tapi juga makna budaya di balik setiap gerakan. Zoe membawa kelompok anak-anak Aborigin untuk mengunjungi situs bersejarah nenek moyang mereka, mengajarkan mereka tentang tanaman yang bisa digunakan sebagai makanan dan obat. Ken sedang mempersiapkan kelas membuat mochi untuk merayakan musim semi yang akan datang, dengan harapan bisa mengajak lebih banyak orang memahami tradisi Hanami.
“Ini adalah momen yang sempurna untuk mengadakan pertemuan kecil di sini juga,” usulkan Giulia. “Kita bisa mengundang keluarga dan teman-teman lokal untuk datang, membawa hidangan khas Italia seperti lasagna, risotto milanese, dan tiramisu. Kita juga bisa mengundang beberapa pelajar dari sekolah bahasa lokal yang datang dari berbagai negara—seperti Prancis, Jerman, dan India. Makanan akan menjadi jembatannya lagi.”
Hari berikutnya, di halaman belakang vila Giulia yang dihiasi dengan tanaman zaitun dan bunga matahari, mereka menyusun meja panjang yang ditutupi dengan kain bergambar motif matahari—simbol dari kehangatan dan kehidupan yang ada di banyak budaya. Marco dan timnya menghidangkan pasta dengan berbagai saus, mulai dari pesto khas Liguria hingga carbonara klasik Roma. Tetamu lokal membawa cannoli dari Sicilia dan panettone yang dibuat khusus. Pelajar dari berbagai negara juga datang dengan hidangan mereka—ratatouille dari Prancis, bratwurst dari Jerman, biryani dari India, dan banyak lagi.
Meskipun bahasa berbeda—beberapa berbicara dalam Bahasa Italia, Bahasa Prancis, Bahasa Jerman, atau Bahasa Hindi—tawa dan senyum menjadi bahasa yang sama. Ketika seorang pelajar India bernama Priya mulai menari dengan gaya Bharatanatyam yang anggun, seorang penari kontemporer dari Prancis bergabung dengan gerakan yang lembut, diikuti oleh seorang anak muda dari Brasil yang membawa irama Samba yang penuh semangat. Semua berpadu menjadi tarian yang indah, menggambarkan keberagaman dan persatuan manusia.
Rama merekam bagaimana matahari mulai terbenam di balik kubah katedral yang ikonik, menerangi langit dengan warna emas dan ungu yang memesona. Siti mencatat cerita Marco tentang bagaimana kakeknya pernah membantu keluarga tetangga selama masa kesulitan dengan membagikan semua makanan yang ada di rumah makan mereka. “Itu adalah contoh nyata dari apa yang kalian sebut Ubuntu di Afrika,” kata Marco dengan senyum. “Kita adalah satu sama lain—tanpa batasan negara atau budaya.”
Ketika perjalanan di Florence hampir berakhir, penerbit Italia mengumumkan bahwa buku Cinta yang Menghubungkan Benua telah menjadi bestseller di beberapa kota Italia dalam waktu hanya dua minggu. Mereka juga menerima undangan dari penerbit di Prancis dan Jerman yang ingin menerjemahkan buku tersebut dan mengundang mereka ke festival budaya di Paris dan Berlin.
Di malam terakhir sebelum kembali ke Semarang, mereka melakukan panggilan video dengan semua teman di seluruh dunia. Layar ponsel penuh dengan wajah-wajah yang ceria dari berbagai benua—dari Johannesburg hingga Kyoto, dari Sydney hingga Valencia, dari Lagos hingga Florence. Setiap orang berbagi cerita terbaru mereka: anak-anak di padang rumput Afrika sudah bisa menyanyi lagu dari berbagai negara, kelas pembuatan dumpling di Cina semakin banyak pesertanya, pohon sakura yang ditanam Ken sudah mulai tumbuh dengan baik, dan di Brasil, kostum baru untuk Carnaval sudah siap dengan warna yang lebih cerah dari sebelumnya.
Siti memegang salinan buku dalam bahasa Italia yang baru diterbitkan, lalu berkata dengan suara yang penuh harapan. “Kita mulai dengan satu cerita kecil di sebuah perpustakaan di Semarang. Sekarang, cerita kita telah mencapai sudut-sudut dunia yang berbeda. Tapi yang paling penting adalah bahwa kita telah membangun keluarga besar yang tidak terbatas oleh jarak. Setiap makanan yang kita bagikan, setiap tarian yang kita lakukan bersama, setiap cerita yang kita dengarkan—semua itu membuat dunia menjadi tempat yang lebih hangat dan penuh cinta.”
Rian kemudian menunjukkan pesan baru dari seorang penerbit di Mesir. “Mereka ingin kita datang ke Kairo,” katanya dengan mata bersinar. “Mereka bilang ada tradisi makanan dan cerita kuno yang belum pernah kita eksplorasi—tentang makanan yang disajikan dalam upacara kuno dan bagaimana cerita leluhur masih hidup dalam setiap hidangan.”
Siti melihat ke arah semua teman di layar ponsel, lalu mengetik pesan yang sama seperti yang pernah mereka kirim sebelumnya—hanya saja kali ini dengan harapan yang lebih besar: “Kita akan terus berjalan, terus berbagi, terus bercerita. Karena cinta dan cerita tidak pernah berhenti—mereka hanya akan terus tumbuh, menyebar seperti akar pohon yang kuat atau aliran sungai yang tak pernah kering. Mari kita mulai cerita baru ini, bersama-sama lagi.”
Dalam hitungan detik, balasan datang dari semua arah dunia—semua dengan kata-kata yang sudah menjadi janji antar mereka: “Mari kita mulai cerita baru ini bersama.”