seorang gadis bernama kayla diculik oleh orang misterius saat sedang bereda di club malam bersama teman temannya. pria misterius itu lalu mengurung kayla di sebuah ruangan yang gelap bagaikan penjara. kayla bertanya tanya siapa pria yang menculiknya.
apa yang akan dilakukan oleh penculik itu kepada kayla yuk baca kelanjutan kisah dari tahanan obsesi.
mencari ide itu sulit gusy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHAMILAN DAN LEDAKAN
Di dalam peti mati baja yang mewah itu, waktu tidak lagi diukur dengan terbitnya matahari, melainkan dengan detak jantung yang semakin tidak beraturan. Berminggu-minggu telah berlalu sejak ledakan server itu. Aris, dalam kegilaannya, telah menciptakan sebuah ekosistem kecil yang sakit di dalam kamar yang terkunci mati. Ia masih memiliki persediaan makanan darurat yang tersimpan di brankas dinding, namun kewarasannya telah lama habis.
Hingga suatu pagi, sebuah realitas baru yang lebih mengerikan menghantam mereka.
Kayla terbangun dengan rasa mual yang hebat. Bukan lagi mual karena rasa jijik pada Aris, melainkan rasa mual yang datang dari dalam inti tubuhnya. Ia berlari ke kamar mandi, memuntahkan cairan pahit ke wastafel marmer sementara Aris memperhatikan dari ambang pintu dengan mata yang cekung dan tajam.
"Kau sakit?" tanya Aris, suaranya parau karena jarang digunakan.
Kayla tidak menjawab. Ia terduduk di lantai kamar mandi yang dingin, tangannya gemetar memegang perutnya yang terasa berbeda. Ia menghitung dalam hati, mencoba mengingat siklusnya yang telah lama kacau. Kenyataannya menghujam jantungnya: ia telah terlambat lebih dari dua bulan.
Penyatuan paksa yang terjadi berkali-kali di bawah ancaman dan obat penenang itu telah membuahkan hasil yang paling tidak diinginkan.
Aris, yang melihat reaksi Kayla, perlahan mendekat. Ia berlutut di depan Kayla, tangannya yang dingin merayap menuju perut gadis itu. Awalnya Kayla tersentak, namun Aris menahannya dengan kekuatan yang tak tergoyahkan.
"Tidak mungkin..." gumam Aris. Tiba-tiba, sebuah binar gila muncul di matanya. Sesuatu yang lebih mengerikan dari sekadar obsesi. "Kau mengandung... kau mengandung anakku, Kayla."
Aris tertawa rendah, sebuah tawa yang bergema di dinding baja kamar itu. "Maya tidak pernah memberiku ini. Dia pergi sebelum aku bisa menanamkan hidup di dalamnya. Tapi kau... kau berbeda. Kau adalah tanah yang subur."
Bagi Kayla, kehamilan ini adalah hukuman mati yang berjalan. Ia mengandung benih dari monster yang telah menghancurkan hidupnya. Setiap kali ia merasakan mual, ia diingatkan pada malam-malam mengerikan itu. Ia merasa tubuhnya bukan lagi miliknya; sekarang tubuhnya adalah penjara bagi nyawa lain yang ditakdirkan untuk lahir di dalam .
Mengetahui kehamilan itu, sifat posesif Aris bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih ekstrem. Ia tidak lagi menyiksa Kayla secara fisik, namun ia memperlakukannya seperti sebuah wadah kaca yang sangat rapuh. Ia memaksa Kayla makan lebih banyak, meskipun Kayla ingin memuntahkannya kembali.
Aris mulai berbicara pada perut Kayla. Ia membisikkan rencana-rencana gila tentang bagaimana anak ini kelak akan menjadi pewaris kerajaan gelapnya, bagaimana anak ini tidak akan pernah melihat dunia luar yang "kotor" dan hanya akan mengenal Aris sebagai tuhan mereka.
"Dia akan menjadi sempurna," bisik Aris sambil menempelkan telinganya ke perut Kayla yang masih rata. "Dia tidak akan pernah mengkhianatiku seperti yang kau lakukan."
Kayla hanya bisa menatap langit-langit dengan mata kosong. Ia merasa jiwanya telah mati, namun tubuhnya dipaksa untuk terus hidup demi janin tersebut. Ia mulai berpikir untuk mengakhiri segalanya, namun Aris seolah bisa membaca pikirannya. Aris menyingkirkan semua benda tajam, bahkan sendok pun diganti dengan plastik .
Di luar kamar baja, Adrian tidak tinggal diam. Ia tahu Aris masih berada di dalam. Suara hantaman godam dan mesin pemotong logam mulai terdengar dari balik dinding baja. Adrian ingin mengambil kembali "asetnya", terutama setelah ia mendengar desas-desus melalui mikrofon darurat yang masih berfungsi bahwa Kayla mungkin hamil.
Bagi Adrian, anak yang dikandung Kayla adalah nilai tawar yang lebih tinggi lagi. Sebuah keturunan dari garis darah mereka yang bisa dibentuk sejak lahir.
"Aris! Buka pintunya!" teriak Adrian dari balik dinding baja. Percikan api dari alat pemotong mulai terlihat di sudut pintu. "Kau tidak bisa menyembunyikannya selamanya! Anak itu milik keluarga, bukan milikmu sendiri!"
Aris berdiri, mengambil pistol yang ia simpan di balik bantal. Ia menatap pintu yang mulai berlubang itu, lalu menatap Kayla yang meringkuk di tempat tidur.
"Mereka ingin mengambil anak kita, Kayla," ucap Aris dengan suara tenang yang mematikan. "Tapi jangan takut. Jika mereka berhasil masuk, aku akan memastikan kita bertiga pergi bersama-sama. Tidak akan ada yang bisa memiliki kalian selain aku."
Kayla memegang perutnya. Untuk pertama kalinya, ia merasakan dorongan untuk bertahan hidup—bukan untuk Aris, bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk memastikan nyawa yang tak berdosa di dalamnya tidak tumbuh menjadi monster seperti ayahnya atau pamannya.
Pintu baja mulai jebol. Adrian hampir berhasil masuk. Aris sudah bersiap dengan senjatanya, sementara Kayla berada di titik terendah sekaligus tertinggi dalam hidupnya.
Percikan api dari alat pemotong logam plasma cutter milik Adrian mulai menghujani lantai kamar, menciptakan bau hangus yang menyengat. Lubang di pintu baja itu semakin lebar, membentuk garis merah membara yang siap runtuh. Di dalam kamar, Aris berdiri dengan tenang, namun ketenangannya adalah jenis ketenangan badai yang siap menghancurkan apa saja.
Ia mendekati Kayla yang masih lemas di atas tempat tidur. Dengan tangan kiri, ia mengelus perut Kayla yang menjadi pusat obsesi barunya, sementara tangan kanannya menggenggam pistol dengan kokoh.
"Dengar, Sayang," bisik Aris, matanya berkilat di balik kegelapan. "Anak ini adalah bukti bahwa kau adalah takdirku. Adrian tidak akan pernah menyentuh kalian. Aku lebih baik melihat rumah ini terbakar menjadi abu daripada membiarkan dia mengambil sisa hidupmu."
Jebolnya Benteng Terakhir
BRAKK!
Panel baja itu akhirnya tumbang, menghantam lantai dengan suara dentuman yang memekakkan telinga. Adrian melangkah masuk melewati kepulan asap, mengenakan rompi antipeluru dan memegang senjata otomatis. Di belakangnya, beberapa pria suruhan yang tampak seperti tentara bayaran bersiap dengan senjata lengkap.
"Sudah berakhir, Aris!" teriak Adrian, suaranya parau karena amarah. "Kau sudah gila. Kau menghancurkan server, kau menghancurkan bisnis kita, dan sekarang kau ingin mengubur diri dengan wanita itu? Berikan dia padaku, dan mungkin aku akan membiarkanmu hidup di rumah sakit jiwa."
Aris tertawa, suara tawa yang terdengar sangat asing dan menyeramkan. "Hidup tanpa dia adalah kematian yang lebih buruk, Kak. Dan sekarang, ada nyawa baru di sini. Darah dagingku. Kau tidak berhak atas dia!"
Tanpa peringatan, Aris melepaskan tembakan. Baku tembak meletus di dalam ruangan yang sempit itu. Peluru-peluru berseliweran, menghancurkan kaca-kaca lemari dan melubangi dinding mewah. Kayla segera berguling jatuh ke lantai, berlindung di balik rangka tempat tidur yang kokoh, tangannya melindungi perutnya dengan insting pelindung yang luar biasa.
"Ambil wanitanya! Jangan sampai dia tertembak!" perintah Adrian kepada anak buahnya.
Salah satu anak buah Adrian mencoba merangkak mendekati Kayla, namun Aris dengan membabi buta menembak pria itu tepat di dadanya. Aris bertarung seperti binatang buas yang melindungi sarangnya. Namun, ia kalah jumlah. Sebuah peluru mengenai bahu Aris, membuatnya terhuyung ke belakang.
"Aris!" teriak Kayla, bukan karena cinta, tapi karena ia tahu jika Aris mati sekarang, ia akan jatuh ke tangan Adrian yang jauh lebih pragmatis dan kejam.
Di tengah kekacauan itu, sebuah ledakan kecil terjadi di sudut ruangan—mungkin tabung oksigen darurat atau sistem pemadam api yang terkena peluru. Asap putih tebal memenuhi ruangan, menghalangi pandangan semua orang.
Kayla melihat celah. Ia melihat sebuah pintu kecil di balik lemari pakaian yang sedikit terbuka akibat getaran ledakan. Itu adalah jalur akses teknis yang pernah ia perhatikan saat Aris sedang memperbaikinya. Dengan sisa tenaganya, Kayla merangkak di bawah kepulan asap, mengabaikan rasa sakit di tubuhnya dan rasa mual yang melilit.
Ia berhasil masuk ke dalam celah sempit itu tepat saat Adrian melepaskan rentetan tembakan ke arah tempat tidur.
Di dalam lorong teknis yang gelap, Kayla terus merangkak. Ia bisa mendengar teriakan Aris yang memanggil namanya dan suara Adrian yang memerintahkan anak buahnya untuk mengejarnya. Di dalam kegelapan itu, Kayla berbisik pada janin di perutnya.
"Kita harus keluar... kita harus keluar dari neraka ini," gumamnya dengan air mata mengalir.
Di dalam kamar, Aris yang sudah terluka parah melihat Kayla menghilang ke dalam lubang. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum penuh kegilaan. Ia tahu ia tidak akan bisa mengejar Kayla. Ia meraih sebuah remot kontrol kecil yang tertanam di bawah meja rias—remot penghancur diri (self-destruct) yang disiapkan untuk menghapus semua bukti eksperimen jika fasilitas itu diserbu.
Adrian menyadari apa yang dilakukan adiknya. "Aris, jangan! Kau akan membunuh kita semua!"
"Jika aku tidak bisa memilikinya, maka dunia tidak boleh memilikinya," ucap Aris pelan.
KLIK.
Ledakan besar mengguncang seluruh pondasi rumah mewah itu. Api menjilat dari lantai atas hingga ke basement. Aris dan Adrian terkubur di bawah reruntuhan kemegahan yang mereka bangun dari penderitaan orang lain.
Kayla, yang saat itu sudah berada di ujung lorong teknis yang menuju ke luar gedung, terlempar keluar oleh tekanan udara ledakan. Ia jatuh di atas rumput basah di pinggir hutan. Ia berbalik dan melihat rumah mewah itu kini menjadi bola api raksasa di tengah kegelapan malam.
Ia terengah-engah, tubuhnya penuh luka, namun ia bebas. Aris telah tiada, begitu juga ancaman videonya. Namun, ia tidak benar-benar sendirian. Sambil memegangi perutnya yang mulai terasa hangat, Kayla menatap langit malam yang luas.
Ia bebas, namun ia membawa bagian dari monster itu bersamanya. Sebuah kehidupan baru yang lahir dari tragedi, yang kini menjadi alasan satu-satunya bagi Kayla untuk terus melangkah maju, menjauh dari reruntuhan masa lalunya.
Rumah mewah itu telah hancur. Aris dan Adrian tewas. Kayla bebas namun hamil di tengah hutan tanpa membawa apa pun.