Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.
Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.
Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa- Sisa yang Tertinggal
Suara rintik hujan yang menghantam atap seng vila tua itu terdengar seperti ribuan jemari yang mengetuk pintu, meminta masuk. Di dalam, suasana masih kaku. Bau kapur barus dari selimut yang melilit tubuh Alea bercampur dengan aroma kopi hitam yang baru saja diseduh Reno. Baskara duduk di sudut ruangan, wajahnya hanya diterangi oleh pendar biru dari layar tabletnya. Cahaya itu membuat bayangan di wajahnya tampak lebih tajam, lebih dingin.
"Minumlah," ujar Baskara tanpa menoleh, menggeser segelas kopi ke arah Reno yang baru saja kembali dari teras belakang dengan napas tersengal.
"Terima kasih, Bas. Sinyal satelit di sini stabil, tapi enkripsinya harus terus diperbarui tiap tiga puluh menit. Sarah punya orang-orang yang bisa melacak jejak digital sekecil apa pun jika kita lengah," lapor Reno. Ia meneguk kopi itu dengan cepat, matanya yang merah menunjukkan betapa lelahnya dia.
Alea, yang sejak tadi terdiam di kursi jati, mulai mengamati sekeliling. Matanya terpaku pada sebuah foto tua yang tergantung miring di dinding dekat perapian yang mati. Foto itu memperlihatkan seorang wanita cantik dengan kebaya sederhana, tersenyum lembut sambil memegang setangkai bunga mawar.
"Itu ibumu?" tanya Alea pelan, suaranya memecah keheningan yang menyesakkan.
Baskara berhenti menggerakkan jemarinya di layar. Ia mendongak, menatap foto itu sejenak. "Dian Mahardika. Dia bukan hanya ibuku, dia adalah pemilik sah dari lima puluh persen saham awal perusahaan sebelum ayahku melakukan 'restrukturisasi' setelah kematiannya. Dia mencintai kesederhanaan, berbanding terbalik dengan gedung kaca yang sekarang memakai nama belakangnya."
"Wajahnya... sangat damai," bisik Alea. Ada rasa bersalah yang kembali mencubit hatinya. "Dia terlihat seperti seseorang yang tidak akan pernah menyakiti siapapun."
"Memang tidak," sahut Baskara dengan nada yang mendadak berat. "Dan itulah kelemahannya. Di dunia yang dikelola oleh orang-orang seperti Sarah dan ayahku, kebaikan adalah komoditas yang bisa dieksploitasi. Ibumu—maksudku, Sarah—tahu persis cara menggunakan empati ibuku untuk masuk ke dalam lingkaran keluarga kami."
Baskara berdiri, berjalan mendekati Alea. Ia berdiri tepat di depan gadis itu, memaksanya untuk mendongak. "Kau tahu, Alea? Kadang aku bertanya-tanya, apakah kau juga mewarisi sifat 'malaikat' yang mematikan itu? Atau kau sebenarnya tahu lebih banyak daripada yang kau tunjukkan?"
Alea tidak memalingkan wajah. Matanya yang sembap menatap langsung ke dalam manik mata Baskara yang kelam. "Jika aku tahu, aku tidak akan duduk di sini bersamamu, Baskara. Aku akan menjadi orang pertama yang melaporkan mereka ke polisi bertahun-tahun yang lalu. Aku kehilangan orang tuaku, dan aku dipaksa mencintai pembunuh mereka. Apakah kau pikir itu adalah sesuatu yang ingin kusembunyikan?"
Ketegangan di antara mereka membeku sesaat, hingga suara notifikasi dari perangkat Reno memecah suasana.
"Bas! Kita punya pergerakan!" seru Reno.
Baskara segera menghampiri meja kerja darurat Reno. Di layar monitor, terlihat cuplikan dari kamera dasbor sebuah kendaraan yang dikendalikan oleh salah satu informan Reno di Jakarta. Mobil limosin Sarah terlihat memasuki sebuah kompleks perumahan kelas atas di wilayah Jakarta Selatan, tapi bukan menuju rumah pribadinya.
"Itu bukan arah ke kantor atau bandara," gumam Baskara. "Ke mana dia pergi?"
"Itu adalah area di mana pengacara pribadi Mahardika Group, Markus Siregar, tinggal," jelas Reno. "Jika Sarah menemui Markus sekarang, dia pasti sedang menyiapkan strategi perlindungan hukum atau... penghancuran bukti yang belum kita temukan."
Baskara terdiam, otaknya bekerja dengan kecepatan penuh. "Dia ingin mencuci tangan. Dia akan membiarkan ayahku menjadi kambing hitam sendirian. Jika ayahku masuk penjara, Sarah akan memegang kendali penuh atas perusahaan melalui surat kuasa yang kemungkinan besar sudah dia paksa ayahku untuk menandatanganinya bertahun-tahun lalu sebagai tindakan pencegahan."
"Kita harus menghentikannya," ujar Alea tiba-tiba. Ia sudah berdiri, selimut wolnya jatuh ke lantai. "Ada sesuatu yang mungkin bisa membantu."
Baskara dan Reno menoleh serentak.
"Apa?" tanya Baskara skeptis.
"Sarah punya sebuah brankas kecil di ruang kerjanya di rumah. Bukan brankas besar yang ada di balik lukisan, tapi satu yang disembunyikan di bawah lantai kayu di bawah meja riasnya. Aku pernah melihatnya sekali saat aku masih kecil, saat aku masuk ke kamarnya untuk mencarinya karena aku mimpi buruk. Dia sangat marah saat itu—sangat marah hingga dia mengurungku di kamar selama dua hari."
Alea menarik napas panjang. "Dia bilang itu hanya tempat menyimpan perhiasan tua, tapi cara dia ketakutan saat aku melihatnya... itu bukan reaksi seseorang yang hanya menyembunyikan kalung. Dia memegang sebuah kunci perak kecil yang selalu ada di kalungnya."
Baskara menyipitkan mata. "Dan kau baru memberitahuku sekarang?"
"Aku baru mengingatnya, Baskara! Ingatanku tentang masa kecil di rumah itu penuh dengan hal-hal yang berusaha kuhapus!" balas Alea dengan nada tinggi.
Baskara berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu. Lantai kayu berderit di bawah langkahnya. "Jika kunci itu ada di lehernya, kita tidak bisa mengambilnya dengan mudah. Tapi jika brankas itu berisi bukti fisik Proyek 'Erase' atau dokumen asli pengalihan aset orang tuamu, maka itu adalah jantung dari kekuasaan Sarah."
"Tapi kita tidak bisa kembali ke rumah itu sekarang," sela Reno. "Polisi mungkin sudah memasang garis kuning di sana, atau setidaknya pengawal Sarah masih berjaga."
"Tidak," sahut Baskara dengan senyum tipis yang dingin. "Polisi hanya fokus pada Hendra Mahardika untuk saat ini. Mereka akan menggeledah ruang kerja ayahku, bukan kamar pribadi Sarah, kecuali mereka punya surat perintah yang sangat spesifik. Sarah sangat pintar memisahkan aset dan privasinya."
Baskara menatap ke arah luar jendela, ke arah kegelapan hutan Bogor yang basah. "Kita butuh pengalihan. Sesuatu yang akan menarik Sarah keluar dari persembunyiannya dan menjauhkan penjaganya dari rumah itu."
"Apa rencanamu?" tanya Reno ragu.
"Kita akan melepaskan umpan kedua," ujar Baskara. Ia mengambil ponsel sekali pakai dari sakunya. "Reno, kirimkan potongan rekaman suara Sarah yang kita dapatkan dari penyadapan minggu lalu ke Markus Siregar. Biarkan dia tahu bahwa kliennya bukan hanya seorang penjahat, tapi juga seseorang yang siap mengkhianati pengacaranya sendiri jika situasi memburuk. Buat mereka saling mencurigai."
"Dan Alea," Baskara menoleh pada gadis itu. "Kau harus siap. Kembali ke rumah itu bukan hanya untuk mengambil dokumen. Kau akan melihat wajah asli dari tempat yang kau sebut 'rumah' selama ini."
Alea mengepalkan tangannya di samping tubuh. "Aku sudah kehilangan rumahku sejak hari mereka membunuh orang tuaku. Tempat itu hanyalah penjara dengan jeruji emas. Aku siap menghancurkannya."
Baskara mengangguk kecil, sebuah pengakuan tak langsung atas keberanian Alea. Namun, di dalam hatinya, Baskara merasakan kegelisahan yang aneh. Semakin dekat dia dengan tujuannya, semakin dia merasa bahwa menghancurkan Sarah berarti juga menghancurkan dunia Alea sepenuhnya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Baskara tidak yakin apakah dia sanggup melihat kehancuran itu hingga akhir.
"Reno, siapkan mobil dalam sepuluh menit. Kita gunakan jalur tikus lewat Parung. Kita akan masuk ke Jakarta sebelum matahari terbit," perintah Baskara.
Saat Reno sibuk membereskan peralatannya, Baskara kembali berdiri di depan foto ibunya. Ia menyentuh bingkai kayu yang berdebu itu dengan ujung jarinya.
Ibu, sebentar lagi, batinnya. Sebentar lagi keadilan akan kembali ke tempat yang seharusnya. Tapi kenapa rasanya kemenangan ini mulai terasa seperti beban yang begitu berat?
Hujan di luar mulai mereda, meninggalkan suara tetesan air yang jatuh dari daun-daun tua, seolah-olah alam pun sedang menahan napas menunggu badai berikutnya yang akan segera melanda pusat kota Jakarta. Di dalam mobil yang kembali melaju membelah malam, tidak ada lagi yang berbicara. Masing-masing tenggelam dalam rencana, dendam, dan rasa takut yang saling bertautan, menuju satu titik temu yang akan mengubah takdir Mahardika Group selamanya.