Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Menenun Benang Cahaya
Berada di dalam kapsul "Navigasi Langit" terasa seperti berada di dalam jantung sebuah bintang yang tenang. Tidak ada suara mesin yang menderu, hanya dengung halus yang terdengar seperti nyanyian tanpa kata. Alana berdiri di depan panel instrumen yang kini tidak lagi terlihat seperti mesin baginya, melainkan seperti sebuah kanvas raksasa yang berisi jalinan emosi seluruh dunia.
Di kursi pilot, Arlo bekerja dengan jemari yang menari di atas tuts kristal. Ia tidak sedang mengendalikan arah terbang pesawat dengan kompas magnetik, melainkan dengan tarikan gravitasi dari perasaan-perasaan manusia di bawah sana.
"Lihat ini, Alana," Arlo menunjuk ke sebuah layar transparan yang melayang di udara. "Setiap bintik cahaya yang kau lihat di sana adalah sebuah jiwa yang sedang berada di titik nadir. Mereka yang kehilangan harapan, mereka yang merasa suaranya tidak pernah didengar oleh langit."
Alana mendekat, memperhatikan bintik-bintik cahaya yang berkedip lemah, hampir padam. Beberapa di antaranya berwarna kelabu kusam, lainnya ungu tua yang melambangkan kesedihan mendalam.
"Dulu, kakekmu dan aku hanya bisa memantau," lanjut Arlo. "Tapi dengan adanya kau di sini, kita bisa melakukan lebih dari itu. Kau memiliki empati seorang seniman. Kau bisa merasakan warna dari kesedihan mereka, dan kau bisa mengubahnya menjadi kata-kata."
Alana menyentuh salah satu bintik cahaya yang berdenyut di koordinat yang ia kenali: Jakarta. Seketika, sebuah gambaran melintas di benaknya. Ia melihat seorang wanita paruh baya duduk di meja makan yang sepi, menatap sebuah bingkai foto yang kosong. Itu adalah ibunya.
Hati Alana mencelos. "Ibu..."
Di dunia bawah, Alana telah dinyatakan hilang. Ia membayangkan kepanikan ibunya, air mata yang tumpah saat polisi menemukan mobilnya ditinggalkan di pinggir jalan Navasari, dan kesunyian yang kini menyelimuti rumah mereka. Rasa bersalah mulai merayap di hati Alana, sebuah beban berat yang sejenak melupakan keajaiban di sekelilingnya.
"Aku meninggalkannya dalam kegelapan, Arlo. Dia pikir aku sudah mati," bisik Alana, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Arlo berdiri dan mendekati Alana, meletakkan tangannya di bahu perempuan itu. "Itulah sebabnya kita di sini. Kita bukan pencuri nyawa, Alana. Kita adalah pemberi pesan. Kau bisa mengiriminya 'Surat Cinta dari Langit' pertamamu. Bukan di atas kertas, tapi melalui frekuensi yang akan menyentuh jiwanya."
"Bagaimana caranya?"
Arlo menunjuk ke sebuah wadah berisi tinta yang berpendar perak tinta yang sama dengan yang digunakan dalam surat-surat yang diterima Alana dulu. Di sampingnya, terdapat selembar membran tipis yang bening seperti sayap capung.
"Tuliskan apa yang ingin kau katakan. Biarkan perasaanmu mengalir ke dalam tinta ini. Setelah selesai, kita akan meluncurkannya melalui 'Jalur Atmosfer' yang langsung menuju ke mimpinya."
Alana mengambil pena bulu yang ujungnya terbuat dari kristal. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan badai di dalam dadanya. Ia tidak ingin menulis tentang sains atau dimensi lain; ia ingin menulis sebagai seorang anak yang mencintai ibunya.
Ia mulai menulis di atas membran bening itu. Tinta perak itu menyerap ke dalam serat membran, menciptakan pendaran yang semakin terang setiap kali Alana menuliskan sebuah kata.
Ibu...
Jangan cari aku di tempat yang gelap. Jangan tangisi tubuh yang kau pikir telah hilang. Aku tidak pergi jauh; aku hanya pindah ke sisi lain dari cahaya yang sering kita lihat bersama saat senja.
Aku telah menemukan kedamaian yang selama ini tidak bisa kuberikan pada diriku sendiri. Di sini, tidak ada fitnah, tidak ada pengkhianatan, hanya ada kebenaran yang bersinar secerah bintang. Aku sedang menjalankan tugas besar untuk menjaga langit agar tetap indah bagi mereka yang masih berjuang di bumi.
Setiap kali Ibu melihat bintang biru yang berdenyut di ufuk utara, ketahuilah bahwa itu adalah aku yang sedang berbisik: 'Aku baik-baik saja'. Hiduplah dengan penuh warna, Ibu. Jangan biarkan kesedihanku menjadi abu yang menutupi harimu.
Aku mencintaimu, melampaui batas cakrawala.
Alana
Setelah kata terakhir tertulis, membran itu mulai melayang dengan sendirinya. Arlo membuka sebuah katup kecil di dinding kapsul yang terhubung dengan tabung vakum.
"Siap?" tanya Arlo.
Alana mengangguk. Ia melepaskan membran itu ke dalam tabung. Seketika, pesan itu melesat keluar, berubah menjadi seberkas cahaya perak yang terjun bebas menuju bumi, membelah awan malam seperti meteor yang sangat lambat.
Alana terpaku di jendela, memperhatikan cahaya itu hingga hilang di antara gemerlap lampu kota Jakarta di kejauhan.
"Dia akan merasakannya saat dia bangun besok pagi," kata Arlo lembut. "Dia tidak akan tahu dari mana asalnya, tapi dia akan merasa beban di dadanya sedikit lebih ringan. Dia akan mulai bisa tersenyum lagi, meski ia tidak tahu mengapa."
Alana menyandarkan kepalanya di dada Arlo. Kehangatan pria itu memberinya kekuatan baru. Ia menyadari bahwa perannya kini bukan lagi sebagai korban dari sebuah skandal, melainkan sebagai penjaga harapan bagi ribuan jiwa lainnya.
"Arlo," panggil Alana pelan.
"Ya?"
"Masih banyak bintik cahaya kelabu di luar sana. Orang-orang yang merasa ditinggalkan, orang-orang yang merasa dunia terlalu kejam untuk mereka."
Arlo mengeratkan pelukannya. "Kita punya waktu selamanya, Alana. Kita akan menenun benang cahaya ini satu per satu. Kita akan memastikan bahwa tidak ada satu pun orang yang menengadah ke langit dalam keputusasaan tanpa mendapatkan setidaknya satu baris surat cinta dari kita."
Pesawat cahaya itu kembali bergerak, kali ini menuju sebuah pusaran energi di atas benua lain yang sedang dilanda badai besar. Di dalam navigasi itu, Alana mulai belajar mengenali "warna" suara manusia. Ia belajar membedakan antara rindu yang tulus dan dendam yang membara.
Bab ini bukan lagi tentang pelarian Alana, melainkan tentang transformasinya. Dari seorang wanita yang hancur karena kata-kata jahat manusia, menjadi seorang penulis takdir yang menggunakan kata-kata cahaya untuk menyembuhkan dunia.
Di bawah sana, di Navasari, Elian yang sedang duduk di beranda rumah kakek Alana, mendongak ke langit. Ia melihat sebuah goresan perak kecil melintas di atas kepalanya. Ia tersenyum tipis, tahu bahwa Alana baru saja memulai misi pertamanya.
"Teruslah menulis, Alana," bisik Elian pada angin. "Bumi ini sangat butuh surat-suratmu."