Keluarga Arini dan Rizky tampak sempurna di mata orang lain – rumah yang nyaman, anak yang cerdas, dan karir yang sukses. Namun di balik itu semua, tekanan kerja dan harapan keluarga membuat Rizky terjerumus dalam hubungan selingkuh dengan Lina, seorang arsitek muda di perusahaannya. Ketika kebenaran terungkap, dunia Arini runtuh berkeping-keping. Novel ini mengikuti perjalanan panjang mereka melalui rasa sakit, penyesalan, dan usaha bersama untuk memulihkan kepercayaan yang hancur, serta menemukan makna cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANDA-TANDA YANG TERLEWATKAN
Jam 07.30 pagi, Arini sudah selesai mengantar Tara ke taman kanak-kanak.
Di jalan pulang, dia melihat kedai kopi kecil yang baru saja dibuka dekat rumah mereka.
Tanpa sadar, matanya tertuju pada sebuah mobil hitam yang sangat mirip dengan mobil Rizky yang diparkir di depan kedai itu.
Dia mengerutkan kening dan memperlambat mobilnya. Tapi ketika dia akan mendekat lebih jauh, mobil itu langsung melaju dan hilang di jalan raya.
Arini mencoba menenangkan diri – mungkin hanya mobil yang mirip saja. Rizky seharusnya sudah berada di kantor atau lokasi proyek pada jam ini.
Setelah sampai di rumah, dia menemukan bungkusan kecil di meja tamu. Di atasnya ada kartu ucapan yang tertulis: "Untuk istri tercinta, semoga hari mu menyenangkan. Dari suamimu yang mencintaimu." Di dalam bungkusan ada kalung mutiara kecil yang cantik – hadiah ulang tahun yang sudah lewat dua minggu yang lalu.
Arini merasa hati menjadi hangat. Mungkin dia terlalu banyak berpikir buruk tentang Rizky yang sering pulang larut.
Suaminya masih mencintainya dan memperhatikannya seperti dulu. Dia segera memasang kalung itu dan melihat cermin dengan senyum puas.
Namun rasa khawatirnya kembali muncul ketika dia membersihkan kamar tidur sore itu.
Di laci meja rias Rizky, dia menemukan bungkus kecil parfum wanita dengan merek yang tidak pernah dia gunakan.
Parfum itu memiliki aroma bunga yang kuat dan menyengat – sangat berbeda dengan aroma lembut yang biasanya dia sukai.
"Mungkin dia membeli untuk hadiah teman atau kerabat," ujarnya dalam hati, mencoba tidak berpikir negatif.
Dia menyembunyikan parfum itu kembali ke laci dan segera pergi ke dapur untuk mengurus pesanan kue.
Dewi sudah menunggu di sana dengan membawa daftar pesanan yang harus diselesaikan hari ini.
"Bu Arini, pesanan kue tart pernikahan sudah siap untuk diambil jam 15.00. Saya sudah memeriksa semua detail hiasannya seperti yang kamu minta."
"Bagus, Dewi. Kamu bisa membungkusnya dengan hati-hati ya. Ini pesanan penting dari klien reguler kita." Arini mulai membuat adonan untuk kue ulang tahun anak-anak, tapi pikirannya tetap terganggu dengan parfum yang ditemukannya.
Sore itu, ketika dia sedang menghias kue, suara mesin mobil Rizky terdengar di halaman depan.
Arini segera keluar untuk menyambut suaminya, namun langkahnya terhenti ketika dia melihat Lina keluar dari mobil bersama Rizky.
Wanita muda itu mengenakan baju kerja yang rapi dan membawa tas kerja besar.
"Sayang, ini Lina – arsitek muda yang bekerja sama dengan saya di proyek gedung baru," ujar Rizky dengan senyum, memperkenalkan kedua wanita itu. "Lina mau mampir sebentar untuk membahas beberapa hal penting tentang proyek."
Lina tersenyum ramah dan menjabat tangan Arini. "Senang bertemu denganmu, Bu Arini. Pak Rizky sering bercerita tentangmu dan bisnis kue yang kamu kelola dengan baik."
Arini merasa sedikit canggung namun tetap menjawab senyumnya. "Senang bertemu denganmu juga, Lina. Silakan masuk saja ya. Saya akan membuatkan kamu kopi."
Di ruang tamu, Arini menyajikan kopi dan beberapa kue kecil yang baru saja dia buat.
Dia duduk di kursi lain, mencoba mengikuti pembicaraan mereka tentang proyek, tapi sebagian besar istilah teknis yang mereka gunakan tidak dia mengerti.
Dia melihat bagaimana Rizky dan Lina bekerja sama dengan sangat harmonis – mereka saling mengerti satu sama lain hanya dengan satu pandangan saja.
Setelah Lina pergi, Arini memutuskan untuk bertanya. "Kamu bekerja sangat erat dengan dia ya, sayang?"
"Ya, sayang. Dia memang sangat berbakat dan bisa dipercaya. Tanpanya, proyek ini pasti akan lebih sulit untuk diselesaikan." Rizky mengambil gelas kopinya dan menyendoknya perlahan. "Kenapa kamu tanya?"
"Tidak apa-apa. Cuma penasaran saja." Arini tidak berani mengatakan tentang parfum yang dia temukan atau mobil yang mirip yang dia lihat di kedai kopi. Dia tidak ingin dianggap curiga atau tidak percaya pada suaminya.
Malam itu, ketika mereka sedang berbaring di ranjang, Rizky tiba-tiba berbicara. "Sayang, mungkin saya akan lebih sering keluar bersama tim untuk mengurus proyek ini. Klien sudah mulai puas dengan perubahan yang kita lakukan, jadi kita perlu menjaga momentum ini agar proyek selesai tepat waktu."
Arini menutup matanya dan mengangguk. "Baiklah, sayang. Tapi jangan lupa untuk merawat dirimu ya. Jangan sampai kamu sakit karena terlalu banyak bekerja."
Rizky memeluknya dengan erat dan mencium dahinya. "Saya tahu, sayang. Kamu selalu mengingatkan saya hal yang penting."
Namun ketika Rizky tertidur beberapa saat kemudian, Arini masih terjaga dengan pikiran yang berlarut-larut.
Dia melihat wajah suaminya yang sedang tertidur dengan tenang, dan tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Tanda-tanda kecil mulai muncul di sekelilingnya, tapi dia memilih untuk mengabaikannya karena takut kehilangan keluarga yang dicintainya.
Di rumah kontrakan milik Lina yang kecil namun nyaman, wanita muda itu sedang melihat foto Rizky yang dia ambil diam-diam saat mereka bekerja bersama di kedai kopi.
Dia menyentuh wajah Rizky di layar ponsel dengan lembut, merasakan perasaan yang semakin dalam dan tidak bisa dikendali lagi.
"Saya tahu ini salah," bisiknya pelan sambil melihat ke arah langit malam yang penuh bintang. "Tapi saya tidak bisa menghentikan perasaan ini."
Dia tahu bahwa apa yang dia rasakan kepada Rizky adalah sesuatu yang tidak boleh ada.
Namun godaan untuk terus berada bersama dengannya, untuk merasakan kasih sayang dan perhatian yang dia berikan, membuatnya siap mengambil risiko apapun – bahkan jika itu berarti merusak keluarga yang bahagia.