Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Lampu kamar sudah diredupkan. Gita tertidur pulas di kamar sebelah setelah seharian bermain dan menangis kecil yang tak sempat diceritakan. Di kamar utama, Kirana berbaring menyamping, punggungnya menghadap Rafka. Namun matanya masih terbuka. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Sebuah pertanyaan yang sejak siang tadi berputar-putar di kepalanya, tak kunjung menemukan jawaban.
“Mas,” ucap Kirana akhirnya, memecah keheningan. Suaranya pelan, tapi tajam. “Apa kemarin Mas pergi ke Hotel Melati?”
Rafka yang sudah setengah terlelap, seketika mematung. Jantungnya berdegup kencang, seolah baru saja dipukul dari dalam. Tenggorokannya kering. Otaknya berputar cepat, mencari celah aman.
“Ka-pan?” tanya Rafka gugup, terlalu cepat untuk sebuah pertanyaan yang seharusnya tenang.
“Kemarin,” jawab Kirana singkat. Dia membalikkan badan, kini menatap wajah suaminya dengan sorot penuh telisik, bukan menuduh, tetapi mencari kebenaran.
“Kemarin?” ulang Rafka, berusaha menata napas. “Oh ... kemarin aku menolong seseorang.”
Kirana mengerjap. “Menolong?” alisnya terangkat.
“Iya,” lanjut Rafka cepat. “Ada pelancong ketinggalan bus. Dia bingung cari tempat menginap murah. Aku cuma bantu antar. Habis itu langsung pulang.”
Kalimat itu meluncur begitu lancar. Terlalu lancar. Rafka sendiri terkejut betapa mudahnya kebohongan itu keluar dari mulutnya. Dulu, dia bahkan kesulitan menyembunyikan kejutan kecil dari Kirana. Kini, dia lihai memintal dusta.
Kirana mengembuskan napas lega. “Syukurlah,” ucapnya tulus. “Tadi aku sempat mikir yang enggak-enggak.”
Rafka menelan ludah. Ada rasa bersalah yang menggerogoti dadanya, tapi dia memilih menguburnya dalam-dalam.
“Yang,” ucapnya cepat, berusaha mengalihkan arah. “Kita mau kasih kado apa buat Mbak Kinanti?”
Kirana mengernyit. “Eh? Kenapa harus kasih kado?”
Rafka terdiam sejenak.
“Mbak Kinanti kan bukan anak kecil,” lanjut Kirana. “Lagipula, selama ini juga dia enggak pernah kasih kado ke aku.”
Kalimat itu diucapkan datar, tetapi ada luka lama yang menyelip di sana. Luka yang sudah terlalu sering diabaikan.
“Oh, ya, sudah,” sahut Rafka singkat. “Tidur saja. Sudah malam.”
Rafka memeluk Kirana dari belakang, menghirup wangi tubuh istrinya yang selalu membuatnya tenang. Ironis. Pelukan yang menenangkan itu justru datang dari perempuan yang sudah dia khianati.
Tak lama, napas Rafka teratur. Sementara Kirana masih terjaga, menatap kosong ke arah dinding. Entah kenapa, rasa lega tadi berubah menjadi firasat yang tak bisa dijelaskan.
***
Jam menunjukkan pukul sepuluh lewat ketika Kirana menjemput Gita dan Ara di TK. Dia menjemput tidak naik motor, tetapi naik becak. Dulu, saat bekerja di pabrik, dia punya motor. Kini kendaraan itu menjadi alat cari nafkah ayahnya, setelah pensiun dari kantor pos dan bekerja sebagai ojol kampung.
Sebenarnya jarak TK ke rumah tak sampai lima ratus meter. Jika hanya Gita, Kirana biasa berjalan kaki. Namun, karena harus mengantar Ara ke rumah Bu Maya di desa sebelah, mereka memilih naik becak. Orang tuanya selalu khawatir Ara kepanasan atau kelelahan.
Di dalam becak, Ara meringis, memegangi perutnya.
“Tante… perut aku sakit,” keluhnya.
“Kamu mau eek?” tanya Gita polos.
Kirana refleks meraih dahi Ara. “Tadi makan apa saja?”
“Cilok sama es,” jawab Ara, wajahnya pucat dan berkeringat.
Kirana menghela napas. “Kita langsung pulang, ya. Nanti Tante balurin minyak kayu putih.”
Begitu sampai rumah Bu Maya, kepanikan langsung menyergap.
“Ara kenapa?!” Bu Maya berseru melihat cucu kesayangannya digendong Kirana.
“Sakit perut, Bu. Mungkin habis jajan cilok pedas dan minum es.”
“Kok, kamu biarkan Ara jajan sembarangan?” nada Bu Maya meninggi, telunjuknya hampir mengarah ke Kirana.
Kirana terkejut. “Aku juga baru tahu barusan, Bu. Aku enggak tahu dia jajan cilok.”
Bu Maya berdecak. “Gita, seharusnya kamu larang Ara kalau jajanan sembarang!” Kali ini Bu Maya malah menyalahkan Gita.
Gita terdiam. Bahunya turun. Wajahnya mengkerut menahan tangis. Hatinya yang lembut tak sanggup menerima tuduhan itu.
Kirana langsung berdiri. Dadanya panas. Dia tidak terima anaknya disalahkan atas apa yang tidak dilakukan olehnya.
“Bu, kenapa malah Gita yang disalahkan? Harusnya Ara yang dinasihati, bukan anak saya!”
Bu Maya terdiam sesaat, lalu memalingkan wajah.
Tak ada permintaan maaf.
Kirana menggenggam tangan Gita erat. “Ayo, kita pulang.”
Kirana dan Gita pulang dengan perasaan kesal. Gita dan Ara sama-sama cucu Bu Maya, tetapi mendapatkan perlakuan yang berbeda.
Sepanjang jalan pulang, Gita diam. Langkahnya pelan. Kirana tahu, perlakuan itu membekas. Terlalu sering. Terlalu dalam.
“Kita beli es krim dulu, yuk,” ajak Kirana lembut.
Mata Gita langsung berbinar. “Beneran, Ma?”
“Tentu saja.”
Mendengar itu Gita sangat senang. Dia pun kembali tersenyum.
Di minimarket kecil, Gita memilih es krim paling murah. Dia paham kondisi orang tuanya. Paham, tanpa pernah diajari.
“Makannya nanti di rumah ya,” pesan Kirana sambil membuka pintu kaca.
“Aku mau sekarang, Ma,” sahut Gita ceria.
BRUK!
“Aaaa!” teriak Gita kaget.
Es krim terlepas dari tangannya, jatuh tepat mengenai sepatu seseorang. Sepatu itu terlihat mahal berwarna hitam mengilap.
Kirana yang sedang memasukkan uang kembalian ke tas, langsung menoleh. “Ada apa—”
Dia terdiam.
“Es krimnya jatuh, Ma,” ucap Gita ketakutan.
“Kirana?” panggil seorang pria.
Tubuh Kirana menegang. “Algara?”
Pria itu tersenyum kecil. Wajahnya tak banyak berubah sejak SMA, hanya kini lebih dewasa, lebih rapi, dan lebih tampan.
“Om, maafin aku,” ucap Gita dengan suara bergetar. “Aku enggak sengaja.”
Algara menghela napas. Jam di pergelangan tangannya dilirik sekilas. Jelas dia sedang terburu-buru.
“Maaf,” Kirana menyela cepat. “Sepatu kamu jadi kotor. Berapa harganya? Biar aku ganti.”
Algara menatap sepatu itu sebentar, lalu kembali menatap Kirana. “Murah kok,” ucapnya santai. “Cuma lima belas juta.”
Dunia Kirana runtuh seketika. Kakinya lemas. Angka itu berputar-putar di kepalanya, terlalu besar untuk sebuah sepatu dan terlalu mustahil untuk dia ganti.
Wajah Gita memucat. Kirana refleks menarik Gita yang ketakutan ke dalam pelukannya, seolah ingin melindunginya dari dunia yang terasa kejam.
“Alga, aku enggak punya uang sebanyak itu,” ucap Kirana lirih, menahan air mata. “Aku minta maaf.”
Algara terdiam. Raut wajahnya berubah. Ada sesuatu yang melintas di matanya, terkejut atau mungkin juga iba.
“Kirana,” ucapnya pelan. “Aku cuma bercanda.”
Kirana mengangkat wajah. “Hah?”
Algara tersenyum tipis. “Sudah. Itu cuma sepatu. Bisa dicuci.”
Kirana menutup mulutnya, air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Bukan karena sepatu, tetapi karena perasaan rendah yang selama ini dia pendam, dan kini tumpah ruah dalam satu kejadian kecil.
Algara yang berdiri di hadapan Kirana tak menyadari bahwa pertemuan tak terduga ini akan membuka kembali pintu masa lalu, di saat kehidupan Kirana sedang rapuh oleh rahasia yang belum terungkap.
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏