Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.
Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.
"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."
Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.
Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: TEST PACK DAN AIR MATA
Apartemen Rangga, SCBD — 22:15 WIB
Lift penthouse berbunyi “ding” lembut, seolah tak ingin mengganggu kesunyian malam. Livia melangkah keluar lebih dulu, tumit high heels Louboutin-nya mengetuk marmer dingin dengan irama tegas, meski ada getar halus di kakinya.
Rangga mengikuti di belakang, tangannya masih menggenggam erat jari-jari Livia—genggaman yang tak pernah lepas sejak mereka meninggalkan gedung kementerian tadi sore. Mama Ratna sudah pulang ke Menteng, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan kota yang terasa semakin mencekik.
Begitu pintu apartemen tertutup otomatis dengan bunyi “klik” halus, Livia langsung menarik tangannya dengan cepat. Ia berjalan ke ruang tamu luas, melempar tas Chanel-nya ke sofa kulit abu-abu, lalu berdiri membeku di depan jendela.
Di luar sana, gemerlap Jakarta malam ini seperti lautan permata yang dingin dan tak berjiwa.
Rangga tak langsung bicara. Dengan ketenangan yang sudah terlatih menahan badai dalam dada, ia melepas blazer hitamnya, menggantungkannya rapi di kursi bar, lalu menuang dua gelas air mineral dingin. Satu gelas ia letakkan diam-diam di meja kaca depan Livia.
“Minum dulu,” katanya pelan, suaranya dalam dan berat yang masih membuat jantung Livia berolah raga sendiri.
Livia tak menoleh. “Aku nggak haus.”
Rangga mendekat. Langkahnya pelan, terukur, seperti saat ia melangkah ke net untuk melakukan drop shot mematikan. Ia berhenti tepat di belakang Livia. Jarak mereka kini hanya beberapa senti.
“Livia,” bisiknya, suaranya kini benar-benar di dekat telinga gadis itu. “Tatap aku.”
Livia akhirnya berbalik. Matanya merah—bukan karena menangis, tapi karena amarah dan ketakutan yang membara di dadanya. “Kamu percaya foto itu? Kamu beneran percaya aku hamil anak Mateo?”
Rangga menatapnya dalam-dalam. Mata hitamnya yang biasanya teduh kini gelap seperti malam tanpa bintang, penuh intensitas yang sulit dibaca. “Aku nggak peduli foto itu asli atau palsu. Aku cuma mau dengar langsung dari mulutmu.”
Livia tertawa getir. “Dari mulutku? Kamu tahu aku sudah tidur sama Mateo. Di mata kamu aku cuma cewek liar yang gampang hamil di luar nikah? Aku berjiwa bebas tapi aku bukan wanita bodoh, Rangga. I protected myself.”
Livia mencoba mundur, tapi punggungnya sudah menabrak kaca jendela yang dingin.
Rangga tak memberi ruang. Ia malah menyudutkan Livia dengan tubuhnya, tangan kiri menumpu kaca di samping kepala gadis itu, sementara tangan kanan naik perlahan, ibu jarinya menyentuh dagu Livia dengan kehangatan yang bikin kulitnya merinding.
“Aku nggak pernah bilang kamu bodoh,” kata Rangga serak, wajahnya kini begitu dekat hingga napas mereka saling bercampur. “Tapi Mateo… dia cinta pertamamu. Dia pria pertama yang bikin kamu merasa diinginkan sebagai perempuan, bukan cuma atlet. Aku tahu itu. Dan aku benci itu.”
Livia menatapnya tajam, menantang. “Kamu benci? Atau sebenarnya kamu cemburu?”
Rangga tersenyum tipis—senyum yang sangat seksi sekaligus berbahaya, membuat perut Livia mengencang. “Keduanya.”
Ia mendekat lagi hingga hidung mereka hampir bersentuhan. “Aku benci karena dia pernah menyentuhmu. Aku cemburu karena kamu pernah kasih segalanya buat dia. Tapi sekarang, Livia… aku yang ada di sini. Aku yang akan lindungi kamu. Bahkan dari masa lalumu sendiri.”
Jantung Livia berdegup gila-gilaan. Ini sisi Rangga yang jarang dilihat orang: bukan lagi pangeran bulutangkis yang santun di depan kamera, tapi pria yang posesif, gelap, dan sangat dominan—pria yang bisa bikin lutut perempuan mana pun lemas.
“Kamu possessive banget,” bisik Livia, suaranya parau karena napas yang tersengal. “Aku benci kamu kalau kayak gini.”
Sebenarnya dia tidak yakin dengan sikap posesif ini tetapi tidak ingi orang lain menang, termasuk Rangga.
Rangga tak mundur. Tangannya turun ke pinggang Livia, memegangnya lembut tapi tegas, jari-jarinya seperti membakar kulit gadis itu melalui kain dress sutra tipis.
“Benci? Tapi kamu nggak nolak. Kamu biarin aku pegang kayak gini.”
Rangga menunduk perlahan, hidungnya menyapu ceruk leher Livia dengan sengaja. Napas hangatnya membuat bulu kuduk Livia berdiri semua.
“Aku tunggu sampai kita sah. Aku nggak mau kamu berpikir kamu menggunakan untuk semalam.”
Livia menelan ludah. Tubuhnya bereaksi tanpa izin, gairah mengalir deras dari titik sentuhan tangan Rangga. “Bukannya kamu pernikahan ini karena saham? Karena bisnis keluarga?”
Rangga menarik napas panjang, lalu mundur sedikit agar bisa menatap mata Livia lagi. “Awalnya… iya. Aku nggak akan bohong. Papa aku butuh kendali atas pelabuhan keluarga Liang. Tapi aku lebih dulu suka sama kamu, Liv melebihi apa pun.”
Livia hanya menatapnya secara seksama, berusaha mencari dusta di balik matanya. “Gimana dengan kemungkinan aku hamil, Ngga?”
Rangga melepaskan Livia sejenak, berjalan ke meja untuk ambil ponselnya. “Besok pagi kita tes ulang di lab terbaik. Aku udah hubungi dokter pribadi keluarga Adiwinata.”
Livia mengangguk pelan. Ia mengambil gelas air yang tadi ditawarkan, meminumnya hingga tandas.
“Aku tahu itu bohong. Mateo cuma suka mainin psikologis orang. Tapi aku takut, Rangga. Takut karierku tamat. Takut identitasku sebagai pebulutangkis dirusak selamanya.”
Rangga kembali mendekat. Kali ini ia peluk Livia dari belakang—pelukan hangat, kuat, dan sangat protektif. Dagu pria itu bertumpu di pundak Livia, bibirnya hampir menyentuh kulit telinganya.
“Kamu nggak akan kehilangan karirmu. Aku pastiin itu.”
Livia tersenyum kecil—senyum pertama malam itu. “Kamu mulai gombal, ya?”
Rangga mencium sekilas ceruk lehernya—hanya sentuhan bibir ringan, tapi cukup bikin Livia bergidik nikmat. “Bukan gombal. Ini janji seorang pria.”
Entah mengapa Livia malah tidak merasa aneh. Pria ini benar-benar…membingungkan. Ada dua versi dari Rangga dan sepertinya Livia tertarik dengan keduanya.
***
Tiba-tiba ponsel Livia bergetar hebat di meja begitu Rangga pergi. Grup chat “Liang Empire” meledak.
Vania: LIV!!! Udah tes ulang belum?! Gue sama Sherly udah di bawah apartemen. Bawa test pack dari apotek 24 jam. Kita naik sekarang juga!
Sherly: Plus minyak pengasih edisi premium dari dukun Thailand. Dijamin Rangga lupa saham, cuma inget kamu!
Livia tertawa kecil membaca pesan gila kakak-kakaknya. Ia balas cepat: Naik aja. Tapi jangan ribut.
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Vania dan Sherly masuk bagaikan badai kecil, tas besar di tangan, wajah penuh drama.
“Livia!” Vania langsung peluk adiknya erat. “Muka kamu pucat banget! Rangga, kamu apain adik gue?!”
Rangga hanya angkat alis dari sofa. “Selamat malam, Kak Vania.”
Sherly langsung sodorkan test pack. “Cepet ke kamar mandi. Kita tunggu di sini.”
Livia menghela napas panjang, ambil alat itu, lalu masuk ke kamar mandi utama. Lima menit di dalam terasa seperti abad. Saat keluar, wajahnya datar. Ia lempar test pack ke meja kaca.
Satu garis. Negatif.
Vania dan Sherly langsung jerit girang, peluk Livia bergantian. Rangga berdiri, matanya penuh kelegaan besar, meski kilat gelap masih tersisa. Ia mendekat, tarik Livia ke pelukannya lagi—di depan kakak-kakaknya.
“Aku sudah bilang,” bisiknya di telinga Livia. “Apa pun hasilnya, kamu tetap milikku.”
Namun senyum Livia lenyap saat ponselnya bergetar lagi. Pesan dari nomor tak dikenal. Video pendek: Mateo di lobi SCBD, tersenyum sinis ke kamera pengawas, pegang kertas hasil lab DNA dengan nama Livia tercetak jelas.
Caption: “Besok pagi ini tayang di semua media. Selamat tidur, calon istri Rangga. Atau… calon ibu anakku?”
Livia membeku. Tangannya dingin. Rangga rebut ponsel itu, wajahnya langsung mengeras seperti batu.
“Dia ada di bawah,” gumam Rangga dingin. “Aku turun sekarang.”
Livia pegang lengan Rangga erat. “Jangan. Ini jebakan. Dia mau bikin ribut biar media dapet foto kamu berantem lagi.”
Rangga tatap Livia—matanya membara api posesif, siap membakar siapa saja yang berani menyentuh miliknya.
“Aku nunggu kita nikah sah buat punya kamu sepenuhnya. Tapi malam ini… aku nggak akan biarin bajingan itu ada dalam radius seratus meter dari kamu.”
Rangga mengambil kunci mobil, langkah tegas ke pintu.
Livia, Vania, dan Sherly saling pandang horor. Lift mulai turun ke lobi. “Ya Tuhan!” seru Vania dan Sherly bersamaan.