Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.
Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.
Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANTANGAN DARI ANAK SEKOLAH LAIN
Hari itu setelah jam sekolah berakhir, Evan dan Rina sedang berjalan menuju warung makan dekat sekolah untuk membeli makanan ringan sebelum pulang. Udara sore kota terasa sedikit panas dan lembap, dengan suara kendaraan yang lalu lalang dan keramaian orang yang sedang pulang kerja memenuhi udara. Mereka berbicara riang tentang tugas sekolah yang akan datang dan rencana mereka untuk mengikuti lomba ilmu pengetahuan yang akan diadakan minggu depan.
"Tahu tidak Evan, saya sudah mulai mengumpulkan bahan untuk makalah kita tentang tanaman obat tradisional," ujar Rina dengan antusias, menggeleng-gelengkan tas ransel yang tergantung di pundaknya. "Bukankah itu sangat menarik? Kayaknya ada hubungan dengan ilmu yang kamu pelajari dari Kakekmu kan?"
Evan tersenyum lembut sambil mengangguk. "Ya benar. Bahkan mungkin saya bisa minta tolong Kakek untuk menjelaskan lebih lanjut tentang beberapa tanaman yang mungkin tidak banyak diketahui orang."
Saat mereka hendak memasuki warung makan, sekelompok anak laki-laki berusia sekitar SMA atau mungkin sudah kuliah muda mendekat dari arah yang berlawanan. Mereka mengenakan seragam sekolah yang berbeda dengan milik Evan dan Rina, dengan rambut yang diatur gaya bebas dan beberapa di antaranya mengenakan gelang logam dan rantai leher yang mencolok.
"Sialan, anak sekolah aja sok pintar ya," ujar salah satu dari mereka dengan suara yang kasar ketika melewati Evan dan Rina. "Lihat aja gaya berpakaiannya – kampungan banget!"
Rina ingin membantah namun Evan menarik lengan nya dengan lembut dan menggelengkan kepalanya sebagai tanda untuk tidak memperdulikan mereka. Namun kelompok itu seolah tidak mau berhenti – mereka berbalik dan mengelilingi Evan dan Rina dengan wajah yang penuh dengan senggama.
"Dengar sini kampungan," ujar pemimpin kelompok itu yang bertubuh besar dan memiliki bekas luka di pipinya. "Kita sedang cari hiburan hari ini. Kalau kamu punya uang, sebaiknya berikan aja pada kita kalau tidak mau ada masalah."
"Saya tidak punya uang untuk diberikan pada orang seperti kamu," jawab Evan dengan suara yang tenang namun tegas. "Kalau kamu butuh uang, sebaiknya cari cara yang benar seperti bekerja atau menjual sesuatu yang bermanfaat."
Kelompok itu tertawa dengan suara yang menyakitkan telinga. "Waduh, kampungan tapi sok berani bicara ya? Kamu tidak tahu siapa kita kan? Kita adalah anggota klub beladiri SMA Taruna Jaya – tidak ada orang yang berani menyanggah kita di daerah ini."
Pemimpin kelompok itu melangkah mendekat ke Evan dengan tatapan yang penuh ancaman. "Kamu terlihat sok cuek aja. Kalau benar-benar berani, ayo kita duel di lapangan kosong belakang pasar nanti jam lima. Buktikan kalau kamu bukan hanya orang yang bisa bicara besar saja."
Evan melihat ke arah Rina yang wajahnya sudah mulai memucat karena takut. Ia tahu bahwa jika dia menerima tantangan itu, dia bisa dengan mudah mengalahkan kelompok tersebut dengan ilmu beladiri yang dia pelajari dari Kakek Darmo. Namun ingatan akan kata-kata leluhurnya dan nilai-nilai yang dia anut selalu ada di benaknya – "Ilmu beladiri bukan untuk menyakiti atau membuktikan kekuatan diri..."
"Saya tidak akan berduel dengan kamu," jawab Evan dengan tenang. "Saya tidak melihat ada manfaat apa pun dari pertarungan seperti itu. Kalau kamu ingin membuktikan kemampuan beladirimu, sebaiknya ikuti perlombaan resmi atau gunakan nya untuk melindungi orang yang lemah – bukan untuk mengganggu orang lain."
Kelompok itu semakin marah mendengar kata-kata Evan. "Aduh, sok suci ya kamu? Kalau kamu tidak mau duel, kita akan membuat hidupmu jadi tidak nyaman di sekolah dan di sekitar sini. Kamu dan teman cewek kampungan itu akan selalu kita ganggu setiap hari!"
Mereka mulai mendorong Evan dengan lembut dan mencoba menarik ransel nya. Rina menangis dan mulai memanggil bantuan, namun orang-orang di sekitarnya hanya melihat dan tidak berani campur tangan karena takut pada kelompok tersebut.
Pada saat yang tepat, seorang pria yang mengenakan baju olahraga klub beladiri SMA Taruna Jaya mendekat dengan cepat. Ia adalah Pak Rio – pelatih klub beladiri sekolah mereka yang juga merupakan mantan atlet beladiri tingkat nasional.
"Apa yang kalian lakukan sini!" teriak Pak Rio dengan suara yang kuat dan penuh kemarahan. "Saya sudah bilang berkali-kali bahwa anggota klub beladiri tidak boleh menggunakan kemampuan nya untuk mengganggu orang lain atau melakukan tindakan yang tidak benar!"
Kelompok itu segera melepaskan Evan dan berdiri dengan rapi, wajah mereka penuh dengan rasa takut dan bersalah. "Maaf Pak Rio... kami hanya ingin bersenang-senang saja," ujar salah satu dari mereka dengan suara yang pelan.
"Senang-senang dengan mengganggu orang tidak bersalah? Itu bukanlah cara seorang pesilat yang baik bertindak!" ujar Pak Rio dengan tegas. "Kalian semua harus meminta maaf pada kedua anak ini dan kemudian ikut saya kembali ke sekolah. Kita akan membicarakan tentang ini dengan kepala sekolah dan orang tua kalian – mungkin kalian perlu dihentikan sementara dari klub beladiri hingga kalian benar-benar memahami filosofi dari olahraga yang kalian geluti!"
Kelompok itu segera meminta maaf pada Evan dan Rina dengan wajah yang penuh rasa malu, kemudian mengikuti Pak Rio pergi meninggalkan mereka. Rina segera menangis ria dan memeluk Evan dengan erat.
"Terima kasih sudah tidak melakukan apa-apa tadi, Evan," ujar dia dengan suara yang masih bergetar karena menangis. "Kalau kamu menyerang mereka, kamu pasti akan dianggap sebagai pelaku juga dan bisa terkena masalah besar."
Evan mengelus punggung Rina dengan lembut untuk menenangkannya. "Saya hanya mengingat apa yang diajarkan Kakek saya," ujarnya dengan lembut. "Dia selalu bilang bahwa keberanian bukan hanya tentang bisa melawan orang lain – terkadang keberanian terbesar adalah bisa mengendalikan diri dan tidak melakukan sesuatu yang bisa menyakiti orang lain meskipun kita sangat ingin melakukannya."
Mereka kemudian masuk ke warung makan untuk membeli makanan dan menenangkan diri setelah kejadian yang membuat ketakutan itu. Saat mereka makan, seorang pemuda yang duduk di meja sebelah mereka mendekati mereka dengan senyum ramah. Ia mengenakan baju kerja kantor dan memiliki tatapan yang cerdas dan penuh penghormatan.
"Maaf ya boleh saya menyela?" ujarnya dengan sopan. "Saya melihat kejadian tadi dan sangat terkesan dengan cara kamu menangani situasi tersebut. Tidak banyak orang yang bisa tetap tenang dan tidak menggunakan kekuatan meskipun sedang dihina dan diancam seperti itu."
Evan dan Rina mengangkat pandangan mereka ke arah pria muda itu dengan sedikit heran. "Terima kasih banyak," ujar Evan dengan sopan. "Saya hanya melakukan apa yang saya yakini benar saja."
Pria muda itu mengangguk dengan penuh penghormatan. "Nama saya Budi – saya adalah pegawai dari dinas pendidikan daerah dan juga anggota komite perlindungan anak sekolah. Saya akan melaporkan kejadian ini kepada pihak berwenang agar tindakan seperti itu tidak terulang lagi. Dan untuk kamu – jika kamu benar-benar memiliki kemampuan beladiri yang baik, sebaiknya kamu gunakan nya untuk hal yang positif seperti mengikuti perlombaan resmi atau menjadi pelatih untuk anak-anak yang membutuhkan."
Ia memberikan kartu nama nya kepada Evan sebelum pergi. "Jika kamu membutuhkan bantuan apa pun atau ingin berbicara lebih jauh tentang bagaimana menggunakan kemampuanmu dengan benar, silakan hubungi saya ya."
Setelah pulang ke kampung itu malam hari, Evan segera pergi menemui Kakek Darmo di bawah pohon beringin. Ia menceritakan seluruh kejadian dengan jujur – mulai dari bagaimana dia dihina dan ditantang duel hingga bagaimana dia memilih untuk tidak menggunakan kekuatannya dan akhirnya dibantu oleh Pak Rio dan Budi.
Kakek Darmo mendengarkan dengan penuh perhatian, kemudian tersenyum dengan bangga dan menepuk bahu Evan dengan lembut. "Kamu telah membuat keputusan yang sangat bijak, cucu," ujarnya dengan suara yang penuh kebanggaan. "Banyak orang akan langsung bereaksi dengan marah dan menggunakan kekuatan mereka untuk membuktikan diri atau membalas dendam. Tapi kamu memilih jalan yang lebih sulit namun lebih benar – jalan yang menunjukkan bahwa kamu benar-benar memahami filosofi dari ilmu yang kamu pelajari."
Ia berdiri dan mengajak Evan untuk berjalan sedikit di sekitar lapangan sambil menerangkan sesuatu yang penting. "Ilmu beladiri yang kita pelajari ini bukan hanya tentang kemampuan fisik untuk melindungi diri atau mengalahkan lawan," ujar Kakek Darmo dengan suara yang penuh makna. "Ia juga tentang kemampuan untuk mengendalikan emosi kita, untuk berpikir dengan jernih dalam situasi sulit, dan untuk menemukan solusi yang damai untuk setiap masalah yang kita hadapi."
Ia berhenti dan melihat ke arah langit malam yang penuh dengan bintang-bintang. "Ketika kamu bisa mengendalikan diri dan tidak menggunakan kekuatanmu untuk menyakiti orang lain meskipun kamu memiliki alasan yang sah untuk melakukannya, itu berarti kamu telah mencapai tingkat kesadaran yang tinggi dalam ilmu beladiri kita. Itu adalah pencapaian yang jauh lebih berharga daripada kemampuan untuk mengalahkan sepuluh orang sekaligus dalam pertarungan."
Kakek Darmo kemudian mengambil tongkat kayu nya dan mulai menunjukkan beberapa gerakan yang lebih halus dan penuh dengan keanggunan. "Mulai dari besok pagi, saya akan mengajarkan kamu teknik-teknik beladiri yang lebih mendalam – teknik yang tidak hanya tentang kekuatan fisik melainkan tentang bagaimana menggunakan energi dan kecepatan untuk menghindari serangan dan menghentikan lawan tanpa harus menyakiti mereka secara parah. Ini adalah tingkat selanjutnya dalam ilmu kita – hanya diberikan kepada mereka yang telah membuktikan bahwa mereka bisa mengendalikan diri dan memiliki hati yang benar."
Evan merasa hati nya penuh dengan semangat dan rasa syukur mendengar kata-kata Kakek Darmo. Ia menyadari bahwa meskipun dia harus menghadapi penghinaan dan ancaman dari orang lain, pengalaman itu telah mengajarkannya sesuatu yang sangat berharga – bahwa keberanian sejati bukanlah tentang bisa melawan atau menyakiti orang lain, melainkan tentang bisa memilih jalan yang benar meskipun itu adalah pilihan yang paling sulit.
Di bawah naungan pohon beringin yang besar dan di bawah sinar bulan yang terang, Evan merasa bahwa dirinya semakin siap untuk menghadapi tantangan yang akan datang di masa depan. Ia tahu bahwa dia akan terus menghadapi orang-orang yang tidak mengerti nilai-nilai yang dia anut atau yang ingin mengganggunya karena berbeda. Namun dengan dukungan dari Kakek Darmo, teman nya Rina, dan orang-orang baik seperti Pak Rio dan Budi, ia merasa bahwa dirinya memiliki kekuatan dan kebijaksanaan untuk menghadapi semua itu dengan hati yang tenang dan penuh kebaikan.
Dan seperti pohon beringin yang kokoh berdiri di tengah badai tanpa patah atau roboh, Evan merasa bahwa dirinya telah tumbuh menjadi seseorang yang lebih kuat dan lebih dewasa – seseorang yang tidak hanya memiliki kemampuan untuk melindungi diri namun juga memiliki keinginan yang tulus untuk membantu orang lain dan menjaga kedamaian di sekitarnya.