Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!
23.TGD.23
Malam itu, desa seolah memberikan kado paling sunyi dan paling indah bagi Shelly dan Arkan. Setelah pesta rakyat yang meriah di tengah sawah berakhir, dan langkah-langkah kaki warga yang mengantar mereka sampai ke depan gerbang mulai menjauh, suasana di "Omah Tandur"—rumah baru mereka—terasa begitu magis.
Lampu-lampu taman yang didesain Arkan berpijar temaram, menyiram dinding kayu jati dan aksen batu alam dengan warna keemasan. Bau tanah basah sisa siraman sore tadi bercampur dengan aroma melati dari ronce yang masih melilit di keris Arkan dan sanggul Shelly.
Arkan menutup pintu depan yang terbuat dari kayu jati tebal dengan perlahan. Suara *klik* kunci yang berputar terasa begitu final, menandakan bahwa kini, di dalam ruang ini, hanya ada mereka berdua.
"Akhirnya..." Arkan menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya di pintu. Ia menatap Shelly yang masih berdiri kaku di tengah ruang tamu, tampak sangat anggun namun sekaligus rapuh di bawah sorotan lampu gantung.
Shelly menoleh, tersenyum tipis sembari memegang jemari tangannya yang saling bertautan. "Iya, Mas. Akhirnya."
Arkan berjalan mendekat, langkahnya pelan di atas lantai kayu yang masih berbau pelitur baru. Ia berhenti tepat di depan Shelly. "Capek banget, ya? Seharian menyalami hampir seluruh warga desa."
Shelly terkekeh kecil, rasa tegangnya sedikit mencair. "Mas Arkan yang harusnya aku tanya. Tadi kulihat Mas sampai harus melayani debat Pak Kardi soal kemiringan atap rumah ini di tengah-tengah acara makan."
"Yah, begitulah Pak Kardi," Arkan ikut tertawa, tangannya terangkat untuk membantu Shelly melepas peniti di pundak kebayanya dengan sangat hati-hati. "Dia bilang, arsitek kota nggak boleh sombong kalau belum teruji rumahnya nggak bocor pas hujan badai. Dia menantangku, Shel."
"Lalu Mas jawab apa?" Shelly mendongak, menatap mata suaminya.
"Aku bilang, kalau rumah ini bocor, aku siap disuruh mencangkul di sawahnya selama satu musim penuh tanpa bayaran," jawab Arkan serius, namun matanya berkilat jahil.
"Mas! Kamu nekat banget janji begitu," Shelly mencubit pelan lengan Arkan.
Arkan menangkap tangan Shelly, menggenggamnya erat. "Aku nggak nekat, Shel. Aku yakin karena pondasi rumah ini dibangun dengan cinta yang paling kuat. Dan juga... aku nggak mau kalah di depan bapak mertuaku."
---
Arkan membimbing Shelly menuju kamar utama. Kamar itu didesain dengan jendela besar yang menghadap langsung ke arah sawah, namun malam ini tirai bambu yang halus tertutup rapat. Di tengah ruangan, sebuah tempat tidur kayu dengan seprai putih bersih sudah menanti.
"Duduk dulu, Shel. Biar kubantu melepas sanggulmu. Kelihatannya berat sekali," ujar Arkan.
Shelly duduk di tepi ranjang, membelakangi Arkan. Ia merasakan tangan Arkan yang biasanya memegang penggaris skala kini dengan sangat lembut dan telaten mencabut satu per satu jarum pentul dan hiasan melati dari rambutnya.
"Sakit nggak?" bisik Arkan.
"Sedikit senut-senut, Mas. Tapi nggak apa-apa. Ini bagian dari perjuangan jadi pengantin desa," jawab Shelly sembari memejamkan mata, menikmati sentuhan tangan Arkan di kepalanya.
"Shel," panggil Arkan pelan.
"Iya, Mas?"
"Tadi waktu ijab kabul... jantungku rasanya mau copot. Aku pernah presentasi di depan juri internasional, tapi nggak pernah segemetar tadi. Waktu aku jabat tangan Bapakmu, rasanya seluruh beban dunia ada di sana."
Shelly memutar tubuhnya sedikit, menatap Arkan. "Bapak bilang apa tadi waktu Mas Arkan cium tangannya setelah sah?"
Arkan tersenyum, ada binar haru di matanya. "Bapak bisik begini: 'Nak Arkan, sekarang Shelly bukan lagi tanggung jawab Bapak. Tapi kalau kamu bikin dia nangis, Bapak bakal ambil dia lagi lewat jalur belakang sawah.' Bapakmu itu humoris tapi horor juga ya, Shel."
Shelly tertawa riuh, tawa yang lepas dan jujur. "Bapak memang begitu. Beliau itu protektif sekali. Tapi tadi aku lihat Bapak menangis waktu kita sungkeman. Bapak sudah benar-benar mengikhlaskan aku bersamamu, Mas."
---
Setelah Shelly berganti pakaian dengan daster batik yang lebih nyaman dan Arkan mengenakan sarung serta kaos polos, mereka tidak langsung beristirahat. Shelly membuka pintu geser menuju balkon kecil yang menjorok ke arah sawah.
Angin malam berembus dingin. Shelly memeluk tubuhnya sendiri, dan seketika ia merasakan kehangatan saat Arkan menyampirkan sebuah kain jarik ke bahunya dari belakang. Arkan kemudian memeluknya dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Shelly.
"Lihat itu, Mas," Shelly menunjuk ke kegelapan sawah. Di sana-sini, lampu kecil dari sensor irigasi berkedip hijau. "Anak-anak buahku di sana tetap bekerja, bahkan di malam pernikahan ibunya."
Arkan mengecup pelipis Shelly. "Kamu itu benar-benar direktur yang gila kerja. Bahkan di malam pertama pun yang dibahas masih sensor irigasi."
"Habisnya, aku senang melihatnya, Mas. Dulu sawah itu gelap sekali kalau malam. Sekarang, cahaya-cahaya kecil itu seperti bintang yang jatuh ke bumi. Itu masa depan kita, Mas."
Arkan memutar tubuh Shelly agar menghadapnya. Ia memegang kedua pipi Shelly dengan tangannya yang hangat. "Masa depan kita bukan cuma soal sawah, Shel. Tapi soal bagaimana aku dan kamu membangun hidup di sini. Aku sudah memutuskan, besok aku akan mulai memindahkan semua peralatan kantorku ke ruangan depan."
"Mas beneran nggak nyesel? Teman-temanmu di Jakarta tadi banyak yang nanya kan, 'Arkan, kamu beneran mau jadi arsitek desa?'" tanya Shelly, memastikan kembali keteguhan hati suaminya.
Arkan menatap Shelly dalam-dalam. "Shel, dengar ya. Tadi waktu aku melihat teman-temanku dari Jakarta makan lesehan di tengah sawah, tertawa lepas, dan seolah lupa sama beban kerja mereka, aku sadar satu hal. Dunia nggak butuh satu lagi gedung pencakar langit yang dingin di Jakarta. Dunia butuh tempat-tempat seperti ini. Dan aku ingin menjadi orang yang membangun tempat-tempat seperti ini bersamamu."
Shelly tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah mau memilih jalan yang nggak biasa ini bersamaku."
"Aku nggak milih jalan yang nggak biasa, Shel. Aku cuma milih jalan yang menuju ke kamu. Dan kebetulan, jalan itu penuh lumpur dan bau padi," jawab Arkan sembari mengusap air mata di pipi Shelly.
---
Mereka kembali masuk ke dalam kamar, namun belum juga beranjak ke tempat tidur. Shelly duduk di kursi kayu sembari menyisir rambutnya yang panjang terurai.
"Mas," panggil Shelly.
"Ya, Sayang?" Arkan menjawab sambil merapikan beberapa kado yang diletakkan di sudut kamar.
"Nanti kalau kita punya anak... Mas mau dia jadi apa? Arsitek seperti Mas atau petani seperti aku?"
Arkan menghentikan aktivitasnya, lalu berjalan mendekati Shelly dan berjongkok di depannya. "Aku mau dia jadi orang yang bahagia, Shel. Kalau dia mau jadi pelukis yang menggambar sawah, boleh. Kalau dia mau jadi insinyur yang bikin traktor canggih, boleh. Tapi yang paling penting, aku mau dia punya akar yang kuat seperti ibunya."
Shelly mengelus rambut Arkan. "Akar yang kuat ya?"
"Iya. Akar yang tahu dari mana dia berasal. Kayak kamu. Biarpun sudah sekolah sampai Jepang, sudah jadi direktur sukses, kamu nggak pernah malu bilang kalau kamu anak petani. Itu kemewahan karakter yang nggak dimiliki banyak orang kota, Shel."
Shelly terdiam, meresapi kata-kata Arkan. "Tahu nggak Mas, dulu waktu aku pertama kali kuliah di kota, aku sering minder. Aku sembunyikan tanganku kalau habis pulang kampung karena takut teman-temanku lihat bekas lumpur di kuku. Tapi sekarang... aku justru bangga kalau tanganku bau tanah."
"Dan tangan itu yang sekarang memegang hatiku," Arkan mencium telapak tangan Shelly yang terasa sedikit kasar namun hangat. "Tangan ini yang bakal kita pakai buat bangun rumah-rumah penduduk desa supaya lebih sehat, tangan ini yang bakal bikin koperasi kita makin besar."
---
Suasana semakin hening. Suara jangkrik di luar terdengar seperti musik orkestra alami yang menenangkan. Arkan berdiri, lalu membimbing Shelly untuk berdiri juga.
"Shelly Anindya," ucap Arkan dengan nada yang sangat serius namun lembut.
"Iya, Mas?"
"Malam ini, di rumah yang kubangun sendiri untukmu, di tengah sawah yang kamu rawat dengan jiwamu, aku berjanji satu hal. Aku mungkin nggak bisa kasih kamu kehidupan mewah ala sosialita Jakarta. Aku mungkin nggak bisa ajak kamu makan di restoran mewah setiap malam minggu."
Arkan menarik napas sejenak, menatap mata Shelly yang jernih. "Tapi aku janji, setiap pagi kamu bangun, kamu akan melihat matahari terbit dari jendela itu dengan rasa tenang. Aku janji, setiap kali kamu lelah dari sawah, rumah ini akan selalu hangat untukmu. Dan aku janji, aku akan jadi irigasi yang selalu mengalirkan dukungan buat semua mimpimu, sampai padi terakhir di bumi ini dipanen."
Shelly tidak bisa lagi menahan harunya. Ia memeluk Arkan erat-erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. "Mas Arkan... aku nggak butuh kemewahan itu. Kemewahan terbesarku adalah saat Mas mau berdiri di sampingku, di tengah sawah, dan bilang kalau Mas bangga punya istri seperti aku."
"Aku sangat bangga, Shel. Lebih dari bangga," bisik Arkan sembari mengelus punggung Shelly.
---
Arkan mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur kecil di sudut ruangan yang membiaskan cahaya remang-remang. Keheningan malam desa seolah menyelimuti "Omah Tandur" dengan doa-doa yang tulus.
Di luar, angin berembus pelan, menggoyangkan batang-batang padi yang mulai menguning, seolah ikut menari merayakan penyatuan dua jiwa yang luar biasa ini. Malam itu, di bawah atap kayu jati yang kokoh, kisah Shelly dan Arkan bukan lagi soal "siapa mengejar siapa", tapi soal bagaimana dua orang manusia sepakat untuk berjalan beriringan, menanam harapan di setiap jengkal tanah yang mereka injak.
"Selamat malam, Istriku," bisik Arkan di telinga Shelly.
"Selamat malam, Suamiku," balas Shelly dengan suara yang nyaris hilang tertelan rasa bahagia yang memenuhi dadanya.
Malam itu, "Omah Tandur" menjadi saksi bisu bahwa cinta yang paling kuat adalah cinta yang memiliki akar pada bumi dan memiliki sayap pada ilmu pengetahuan. Sebuah kisah asmara yang dimulai dari bus antar kota, melewati dinginnya Jepang, dan berakhir di hangatnya sebuah rumah kayu di tepi sawah.
Dan esok pagi, saat matahari pertama menyentuh embun di ujung daun padi, Shelly dan Arkan akan bangun sebagai satu kesatuan, siap mengerjakan ladang kehidupan mereka yang baru.