Tiara Mo akan menghadiri kompetisi tinju tahunan, namun dalam perjalanan ia mengalami kecelakaan dengan truk tangki minyak , saat sadar ia sudah menempati tubuh permaisuri 200kg.
" APA APA INI ! APA PEMILIK TUBUH ASLI TIDAK BISA MENAHAN RASA LAPAR !" Pekik tiara mo kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 : Kemenangan + Penobatan
Hujan mulai turun membasahi bumi perbatasan saat Letnan Fang dan pasukannya mengepung mulut gua. Di bawah remang cahaya obor yang tertiup angin, Fang berdiri dengan pedang terhunus, wajahnya yang lebam akibat pukulan Lin Yue sebelumnya tampak mengerikan di bawah siraman air hujan.
"Lin Yue! Keluar dan serahkan kaisar palsu itu!" teriak Fang. "Jangan biarkan emosi menghancurkan sisa-sisa Bangsa Tang yang kau bawa!"
Lin Yue melangkah keluar dari kegelapan gua. Ia tidak membawa pedang, hanya tangan kosong yang dibalut kain perban hingga ke buku jari. Di belakangnya, Mei Mei dan Jenderal Yuan bersiap dengan posisi bertahan.
"Bangsa Tang tidak hancur karena emosi, Fang. Bangsa Tang hancur karena pengkhianat pengecut sepertimu!" suara Lin Yue tenang, namun menusuk.
Tanpa peringatan, Lin Yue melesat. Di atas tanah berlumpur yang licin, ia menunjukkan teknik footwork tingkat tinggi. Fang mengayunkan pedangnya secara horizontal, namun Lin Yue melakukan ducking sempurna, masuk ke zona dalam, dan mendaratkan hook kanan yang telak ke rusuk Fang.
Krak!
Suara tulang rusuk yang patah terdengar jelas. Fang terhuyung, namun ia membalas dengan tendangan yang memaksa Lin Yue mundur ke tepi tebing. Di bawah mereka, jurang curam dengan aliran sungai yang deras menganga lebar.
"Kau selalu merasa lebih kuat, Yue," desis Fang sambil meludah darah. "Tapi di dunia ini, baja lebih kuat dari daging!"
Fang menerjang dengan serangan membabi buta. Lin Yue tetap tenang, ia membiarkan amarahnya mengalir menjadi fokus. Saat pedang Fang menebas ke arah lehernya, Lin Yue menggunakan teknik parry dengan pelindung lengan bajanya, lalu ia meluncurkan kombinasi legendarisnya: Jab, Jab, Cross, Uppercut.
Bugh! Bugh! Bugh! DAK!
Pukulan terakhir, sebuah uppercut murni, menghantam dagu Fang hingga pria itu terangkat dari tanah. Fang jatuh terlentang di bibir tebing, pedangnya terlepas dan jatuh ke jurang.
Lin Yue berdiri di atasnya, napasnya beruap di udara dingin. "Ini untuk ayahku, untuk ibuku, dan untuk setiap rakyat Tang yang kau biarkan mati demi nyawamu sendiri."
Lin Yue memberikan satu tendangan terakhir yang mengirim Fang jatuh ke dalam gelapnya jurang. Pengkhianatan masa lalu itu kini tertutup selamanya oleh gemuruh air di bawah sana.
Pasukan Fang yang melihat pemimpin mereka jatuh, seketika kehilangan nyali. Di saat yang sama, Han Shuo muncul dari dalam gua, meski masih dipapah, ia mengangkat lencana Kaisar Naga. "Letakkan senjata kalian, atau kalian akan mati sebagai pemberontak!"
Melihat kaisar asli mereka masih hidup dan berdiri tegak di samping wanita yang baru saja menghancurkan jagoan mereka, pasukan itu menjatuhkan senjata dan berlutut di tengah hujan. Kemenangan militer telah diraih, kini saatnya menuju kemenangan tahta yang abadi.
***
Satu bulan telah berlalu sejak pertempuran di tebing utara. Istana Daxuan kini tidak lagi suram. Tembok-tembok yang dulu hangus telah diperbaiki, namun kali ini dengan sentuhan ukiran khas Bangsa Tang yang gagah, sebagai simbol persatuan dua bangsa yang kini setara.
Di Aula Utama yang baru, Han Shuo duduk di atas singgasana emas. Namun, ada yang berbeda. Di samping singgasananya, sejajar dan sama tingginya, terdapat sebuah kursi kebesaran untuk sang Permaisuri. Sebuah pemandangan yang belum pernah terjadi dalam sejarah Daxuan.
Lin Yue melangkah masuk ke aula. Ia mengenakan jubah permaisuri berwarna merah darah dengan bordiran naga dan harimau yang saling melilit. Tubuhnya kini benar-benar ideal—ramping, atletis, dan memancarkan aura otoritas yang tak terbantahkan. Tidak ada lagi yang berani menyebutnya "Gunung Lemak". Kini, rakyat mengenalnya sebagai "Dewi Harimau dari Tang".
Di pengadilan terakhir itu, Ibu Suri dan Selir Ning dibawa masuk dengan rantai di kaki mereka. Mereka telah kehilangan segalanya—kecantikan, harta, dan martabat.
"Hukumannya telah diputuskan," suara Han Shuo menggema. "Kalian akan diasingkan ke wilayah perbatasan paling tandus untuk bekerja di ladang gandum sisa hidup kalian. Kalian akan merasakan sendiri apa artinya kelaparan, hal yang selama ini kalian timpakan pada Bangsa Tang."
Setelah pengadilan selesai, Han Shuo turun dari singgasananya. Ia menghampiri Lin Yue di depan para menteri dan jenderal. Di hadapan semua orang, sang Kaisar berlutut di depan permaisurinya.
"Lin Yue," ucap Han Shuo, suaranya dipenuhi ketulusan. "Kau memberiku hidup saat aku hanyalah bayangan. Kau memberiku tahta saat aku tak punya harapan. Hari ini, aku bukan hanya memintamu menjadi permaisuriku, tapi menjadi penguasa bersama di sampingku."
Lin Yue tersenyum, lalu ia menarik Han Shuo berdiri. "Aku tidak butuh pria yang berlutut di depanku, Han Shuo. Aku butuh pria yang bisa berlatih tanding denganku sampai fajar."
Han Shuo tertawa dan menarik Lin Yue ke dalam pelukan yang erat di depan seluruh istana. Sorak sorai "Hidup Kaisar dan Permaisuri!" bergemuruh, menandai berakhirnya era penindasan.
Agak canggung ya. Jika sekarang aku diberi pilihan, kembali menjadi petinju profesional atau tetap di jaman kuno ini. Maka aku akan memilih menetap disini...bersama orang...ini. Batin Lin Yue sembari menatap Han Shuo penuh arti.
Terimakasih dewa , atas segala kebaikan yang dilimpahkan padaku. Batin Lin yue. Pada dasarnya, di dunia asal atau di dunia baru, Lin Yue adalah sosok tenang yang menghanyutkan. Ia bisa membawa orang lain hingga berada di surga bahkan menjatuhkan mereka ke neraka.
***
Happy Reading ❤️
Mohon Dukungan untuk :
• Like
• Komen
• Subscribe
• Follow Penulis
Terimakasih❤️
🧐