cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTARUNGAN Di RS. AL SHIFA GAZZA
DESKRIPSI MISI DARI TANAH TERLUKA
Mimpi Besar Anak Bangsa di Tengah KRISIS KEMANUSIAAN
Di tengah tanah Palestine yang tak pernah benar-benar mengenal kata damai, sebuah misi kemanusiaan membawa enam anak bangsa Indonesia menjejakkan kaki di Kota Gazza. Mereka adalah lima prajurit Arhanud 14 Cirebon—Sertu Bima, Andri, Eren, Agung, dan Dimas—bersama dr. Sandi Kurniawan, seorang dokter militer yang ditugaskan sebagai bagian dari pasukan perdamaian PBB dan tim medis internasional.
Misi mereka sederhana namun mulia: menjaga stabilitas, melindungi warga sipil, dan memberikan layanan medis di wilayah konflik. Namun, tak satu pun dari mereka menyangka bahwa penugasan ini akan berubah menjadi perjalanan paling berbahaya dalam hidup mereka—sebuah misi yang kelak menentukan nasib banyak bangsa.
Di hari-hari awal kedatangan mereka di Gazza, rombongan Indonesia menyaksikan secercah harapan di tengah keterbatasan. Laura Islamiyah, putri Menteri Kesehatan Palestine, baru saja menyelesaikan studi S1-nya di bidang biomedis. Di usia mudanya, Laura berhasil menemukan sebuah formula vaksin virus corona—hasil riset yang ia kerjakan diam-diam dengan fasilitas terbatas, namun berpotensi menyelamatkan jutaan nyawa.
Formula itu disimpan dalam sebuah flash disc kecil, benda sederhana yang nilainya jauh lebih besar dari emas dan senjata. Namun harapan itu tak bertahan lama.
Dalam sebuah insiden yang mengguncang, ayah Laura ditembak oleh tentara isriwil. Kota Gazza kembali bergolak. Laura, ibunya dr. Hadijah, seorang dokter senior penuh dedikasi, serta adiknya Anisa Putri, mendadak menjadi target perburuan. Tentara isriwil berusaha merebut flash disc berisi formula vaksin tersebut—bukan untuk kemanusiaan, melainkan untuk kepentingan kekuasaan.
Di tengah kekacauan itulah, Sertu Bima dan rekan-rekannya mengambil keputusan yang melampaui perintah tertulis: melindungi Laura dan keluarganya, apa pun risikonya. Bersama dr. Sandi, mereka menyelamatkan Laura dan keluarganya dari pengejaran yang semakin brutal, berpindah dari satu tempat perlindungan ke tempat lain, menyamar, dan bertahan dengan strategi seadanya.
Namun bahaya belum berakhir.
Di balik layar, seorang tokoh berpengaruh muncul: Jenderal Okto, pimpinan militer isriwil yang ambisius dan tanpa belas kasihan. Menyadari nilai besar dari formula vaksin tersebut, ia mengeluarkan perintah rahasia—mengerahkan anak buahnya dan pemburu hadiah internasional dari berbagai negara. Imbalannya mencengangkan: 10 juta dolar Amerika bagi siapa pun yang berhasil menangkap Laura dan membawa flash disc itu ke tangannya.
Sejak saat itu, perjalanan berubah menjadi pelarian tanpa henti.
Dari reruntuhan kota di Palestine, menembus jalur gelap lintas negara, hingga wilayah-wilayah netral yang penuh intrik, Sertu Bima, Dimas, Andri, Eren, Agung, dan dr. Sandi harus menghadapi serangan demi serangan. Mereka bukan hanya berhadapan dengan tentara isriwil, tetapi juga para pemburu profesional—mantan tentara bayaran, ahli strategi, dan kelompok bayangan yang hidup dari konflik.
Di tengah pelarian panjang itu, ikatan pun terjalin. Laura belajar bahwa mimpi besar selalu menuntut keberanian. Dr. Hadijah menemukan kembali harapan pada kemanusiaan. Anisa Putri belajar arti kehilangan dan keteguhan. Sementara para prajurit Indonesia menyadari bahwa misi ini bukan lagi sekadar tugas negara, melainkan panggilan nurani.
Akhir perjalanan membawa mereka menuju Jakarta, tempat seorang presiden telah menunggu—siap menerima amanah besar demi kepentingan dunia. Namun sebelum sampai di sana, satu pertanyaan terus menghantui mereka:
Apakah mereka mampu menjaga misi ini tetap hidup, ketika nyawa mereka sendiri menjadi taruhannya?
MISI DARI PALESTINE adalah kisah tentang keberanian di tengah konflik, tentang persahabatan lintas bangsa, dan tentang mimpi besar yang lahir dari puing-puing peperangan. Sebuah novel yang mengajak pembaca percaya bahwa bahkan di tempat paling gelap sekalipun, harapan masih bisa diperjuangkan.
BAB 1
Di Bawah Langit Gaza yang Terluka**
Dentuman itu kembali terdengar.
DUAARR!
Getaran keras mengguncang dinding Rumah Sakit Al Shifa, Kota Gaza. Lampu-lampu berkedip, debu jatuh dari langit-langit yang retak. Jeritan manusia bersahut-sahutan, bercampur suara sirene dan takbir yang lirih namun tegar.
“Tandu! Cepat bawa tandu ke sini!”
Seorang dokter muda berambut hitam, tubuhnya berlumur darah—bukan darahnya sendiri—berteriak lantang di tengah kekacauan. Seragam medisnya bertuliskan kecil di dada kiri:
dr. Sandi Kurniawan – Indonesia
Ia baru saja menekan luka tembak di perut seorang bocah lelaki yang usianya tak lebih dari sepuluh tahun.
“Jangan tidur, Nak. Lihat saya,” ucapnya lembut namun tegas, meski di matanya berkecamuk amarah yang tak terucap.
“Nama kamu siapa?”
“Y… Yusuf,” jawab bocah itu gemetar.
“Yusuf kuat. Yusuf pejuang,” kata dr. Sandi sambil menepuk pundak kecil itu. “Kita sama-sama berjuang, ya.”
Seorang perawat perempuan datang berlari, kerudung putihnya sedikit berantakan, wajahnya cantik namun terlihat letih oleh malam-malam tanpa tidur.
“Dr. Sandi, ruang operasi darurat sudah penuh. Kita harus gunakan lorong timur,” katanya cepat dalam bahasa Inggris bercampur Arab yg diterjemahkan oleh penulis menggunakan b. Indonesia saja semuanya demi kenyamanan dalam membacanya.
Dr. Sandi menoleh. Pandangannya sejenak tertahan.
Perawat itu bernama Laura Islamiyah.
Usianya baru dua puluh dua tahun, mahasiswa kedokteran Universitas Islam Gaza yang kini relawan penuh waktu di Al Shifa. Di balik matanya yang bening, tersimpan duka yang dalam—duka yang belum sempat ia tangisi.
“Baik, Laura. Bantu saya pegang infusnya,” jawab dr. Sandi.
Laura mengangguk. Tangannya cekatan, meski jari-jarinya sedikit bergetar.
“Tekanan darahnya turun, Dok,” ucapnya.
“Kita stabilkan dulu. Saya tidak akan biarkan dia pergi malam ini,” kata dr. Sandi tegas.
Laura menatap dr. Sandi.
“Terima kasih… sudah datang jauh-jauh ke sini,” ucapnya lirih.
Dr. Sandi tersenyum tipis.
“Kemanusiaan tidak punya jarak, Laura.”
Belum sempat mereka melangkah, ledakan lain terdengar lebih dekat. Teriakan semakin panik.
“Tentara! Mereka masuk!” teriak seseorang dari ujung lorong.
Wajah Laura seketika pucat.
“Tidak… tidak sekarang,” bisiknya.
Dr. Sandi menoleh tajam. “Apa yang terjadi?”
“Mereka sering masuk ke rumah sakit,” jawab Laura dengan suara tertahan. “Mencari alasan… menebar ketakutan.”
Langkah sepatu bot terdengar keras. Tiga tentara bersenjata masuk ke area belakang rumah sakit. Mata mereka menyapu ruangan dengan dingin.
Salah satu dari mereka menatap Laura terlalu lama.
“Hei, kamu!” bentaknya kasar sambil menunjuk Laura.
Laura mundur satu langkah. “Saya hanya perawat. Ini rumah sakit.”
Tentara itu tertawa sinis.
“Semua di sini berbohong.”
Dua tentara lain mendekat. Salah satunya menarik lengan Laura dengan kasar.
“Lepaskan!” Laura berteriak, berusaha melepaskan diri.
Dr. Sandi langsung berdiri di depan Laura.
“Hentikan! Dia tenaga medis. Ini rumah sakit!” suaranya lantang, bergetar oleh kemarahan.
Tentara itu menatap dr. Sandi dengan meremehkan.
“Dan kamu siapa?”
“Saya dokter. Dari Indonesia. Tentara perdamaian PBB.”
Nama itu tak membuat mereka gentar. Salah satu tentara justru mendorong dada dr. Sandi.
“Menjauh!”
Detik itu juga, sesuatu dalam diri dr. Sandi meledak.
Bukan amarah buta—melainkan insting yang telah ia latih sejak SMP, dari padepokan kecil di kampungnya, hingga ia dewasa dan menjadi dokter. Pencak silat bukan sekadar bela diri baginya, melainkan disiplin jiwa.
Saat tentara itu kembali menarik Laura, dr. Sandi bergerak.
Cepat. Tepat. Tanpa ragu.
Tangannya menepis senjata, kakinya menyapu. Tentara pertama terjatuh. Yang kedua mencoba menyerang, namun siku dr. Sandi menghantam dadanya, membuatnya terhuyung dan roboh.
“Dokter, hati-hati!” teriak Laura.
Tentara ketiga mengayunkan popor senjata. Dr. Sandi menunduk, memutar tubuh, dan menghantamkan pukulan telak ke rahang lawan.
Bruk!
Satu per satu, ketiganya tumbang, terkapar tak sadarkan diri.
Lorong rumah sakit mendadak sunyi.
Laura berdiri terpaku, napasnya tersengal.
“Ya Allah…” bisiknya.
Dr. Sandi menoleh, dadanya naik turun.
“Laura, kamu tidak apa-apa?”
Air mata jatuh dari mata Laura. Ia menggeleng, lalu tanpa sadar memeluk dr. Sandi.
“Terima kasih… Terima kasih sudah menyelamatkan saya,” ucapnya terisak.
Dr. Sandi terdiam sejenak, lalu menepuk pundaknya dengan hati-hati.
“Kamu tidak sendirian. Selama saya di sini, tidak akan saya biarkan ketidakadilan merajalela.”
Laura mengangkat wajahnya.
“Ayah saya… dr. Mahmud Yunus… beliau tewas di rumah sakit ini,” ucapnya lirih. “Ditembak saat menolong pasien.”
Dr. Sandi terdiam. Dadanya terasa sesak.
“Beliau pahlawan sejati,” kata dr. Sandi pelan.
Di kejauhan, suara adzan Maghrib menggema, bercampur dengan sirene dan tangis Gaza.
Di bawah langit yang terluka, dua insan dari dua bangsa berbeda berdiri berdampingan—dipertemukan oleh perang, disatukan oleh kemanusiaan.
Dan tak satu pun dari mereka tahu, bahwa malam itu adalah awal dari takdir panjang yang akan mengubah hidup mereka… dan hidup seorang anak bernama Anisa Putri.
Darah di Lorong Al Shifa**
Suara tembakan itu datang terlalu dekat.
DOR! DOR!
Laura berlari menyusuri lorong belakang Rumah Sakit Al Shifa sambil menggenggam tangan seorang anak perempuan kecil. Napas mereka terengah, langkah kaki berpacu dengan waktu.
“Ayo, Anisa! Jangan berhenti!” ucap Laura dengan suara gemetar namun tegas.
Anisa Putri—adik kandung Laura—berusia sebelas tahun. Matanya sembab, wajahnya pucat, tapi ia berusaha berlari sekuat tenaga.
“Kak… Ayah… Ayah di mana?” tanyanya terisak.
Laura terdiam sejenak. Dadanya sesak. Air mata hampir jatuh, tapi ia menahannya.
“Ayah sedang menolong orang sakit, Sayang,” jawabnya pelan, meski hatinya tahu kebenaran pahit yang baru saja ia saksikan.
Beberapa menit sebelumnya…
Dr. Mahmud Yunus, Menteri Kesehatan Palestina, berdiri di ruang triase darurat. Jas putihnya berlumur darah, namun tangannya tetap sigap menghentikan perdarahan seorang korban.
“Prioritaskan anak-anak dan perempuan,” katanya tegas kepada tim medis. “Saya bertanggung jawab.”
Langkah sepatu bot mendekat. Seorang kolonel bersama dua tentara bersenjata masuk dengan wajah dingin.
“Kamu!” bentak sang kolonel. “Kami tahu siapa kamu.”
Dr. Mahmud menoleh perlahan.
“Saya dokter. Ini rumah sakit.”
“Kamu pemimpin. Musuh,” jawab kolonel itu singkat.
Dr. Mahmud menghela napas.
“Jika menolong nyawa adalah kejahatan, maka saya siap menanggungnya.”
Satu suara tembakan memecah ruangan.
Dan di sanalah Laura berdiri terpaku, menyaksikan ayahnya terjatuh—tanpa sempat mengucap salam perpisahan.
“Kak… kenapa ayah jatuh?” tanya Anisa saat itu.
Laura menggigit bibirnya, lalu menarik Anisa berlari.
Kembali ke lorong kini—
Ledakan pintu terdengar. Dua tentara lain mengamuk, membalikkan ranjang pasien, menendang peralatan medis.
“Cari mereka!” teriak salah satu.
Laura dan Anisa bersembunyi di balik pintu ruang farmasi. Laura menutup mulut Anisa agar tak bersuara.
“Tutup mata kamu,” bisik Laura.
Namun sebelum apa pun terjadi, sosok dr. Sandi muncul di ujung lorong.
“Laura!” serunya.
Laura menoleh, air matanya akhirnya jatuh.
“Dokter… Ayah saya…”
Dr. Sandi langsung memahami tanpa kata.
“Bawa Anisa ke belakang. Sekarang,” ucapnya.
Namun dua tentara itu sudah melihat mereka.
“Berhenti!” teriak salah satu sambil mengangkat senjata.
Dr. Sandi melangkah maju, berdiri di antara mereka.
“Ini rumah sakit,” katanya dingin. “Dan saya tidak akan mundur.”
Salah satu tentara menyerang. Dr. Sandi menghindar, tubuhnya bergerak lincah meski lelah. Tendangan mengenai sisi tubuhnya, membuatnya terhuyung.
“Dokter!” teriak Laura panik.
Dr. Sandi bangkit kembali.
“Jangan takut!” serunya.
Pimpinan mereka—kolonel berpangkat tinggi—melangkah masuk. Wajahnya keras, penuh pengalaman perang.
“Kamu kuat,” katanya sinis. “Tapi kamu sendirian.”
Pertarungan berlangsung sengit. Dr. Sandi terdesak. Nafasnya berat, peluh bercampur darah menetes dari pelipisnya. Namun ia bertahan—bukan demi dirinya, melainkan demi mereka yang berlindung di belakangnya.
“Selama saya berdiri,” ucapnya tersengal, “tak seorang pun bisa menyentuh mereka.”
Kolonel itu menyerang lagi. Kali ini lebih brutal. Dr. Sandi jatuh berlutut.
“Dokter!” Laura menangis.
Tiba-tiba—
“TIARAP!”
Suara itu menggema keras.
Lima prajurit berseragam loreng hijau masuk serentak.
“ARHANUD 14 CIREBON!”
Sertu Bima memimpin di depan, diikuti Agung, Eren, Andri, dan Dimas.
“Amankan area!” perintah Bima.
Dalam hitungan detik, situasi berbalik. Senjata tentara dilucuti, yang pingsan diborgol. Kolonel itu akhirnya tumbang setelah perlawanan terakhirnya dipatahkan.
Dr. Sandi terduduk, napasnya berat.
Bima menghampirinya.
“Dokter, Anda luar biasa. Tapi sekarang, kita evakuasi.”
Laura memeluk Anisa erat.
“Kita selamat, Dik… Ayah pasti bangga.”
Anisa menatap dr. Sandi dengan mata penuh harap.
“Om dokter… terima kasih.”
Dr. Sandi tersenyum lemah.
“Kamu anak hebat, Anisa.”
Di tengah kekacauan, di antara darah dan reruntuhan, sebuah ikatan lahir—ikatan antara duka, keberanian, dan harapan.
Dan dari Gaza yang terluka, perjalanan panjang mereka pun baru saja dimulai.
Enam Melawan Sepuluh**
Langit Gaza memerah oleh api dan asap.
Di halaman luar Rumah Sakit Al Shifa, puing-puing berserakan. Ambulans terbakar di sisi jalan, kaca-kaca pecah berkilau seperti serpihan dosa perang. Suara tembakan terdengar di kejauhan, namun di depan gerbang rumah sakit, ketegangan justru mengental—hening yang berbahaya.
Sertu Bima berdiri paling depan. Tubuhnya tegap, matanya tajam menyapu keadaan. Di belakangnya, Agung, Eren, Andri, Dimas, dan dr. Sandi bersiap—bukan sebagai penyerang, melainkan penjaga kemanusiaan.
“Gerbang depan tertutup. Kontak visual ada di arah timur,” lapor Agung pelan.
Belum sempat Bima menjawab, suara langkah sepatu bot terdengar. Dari balik asap, sepuluh tentara bersenjata muncul membentuk setengah lingkaran. Di tengah mereka, seorang perwira tinggi melangkah maju—wajahnya dingin, sorot matanya kejam.
“Saya Letnan Benjamin,” katanya lantang dalam bahasa Inggris. “Kalian dikepung.”
Bima mengangkat tangan, memberi isyarat agar pasukannya tetap tenang.
“Kami pasukan perdamaian PBB,” jawab Bima tegas. “Ini rumah sakit. Mundur.”
Letnan Benjamin tersenyum miring.
“Serahkan perempuan itu dan anak kecil di belakangmu. Laura Islamiyah dan Anisa Putri. Kami butuh sandera.”
Laura yang berdiri di belakang dr. Sandi gemetar. Anisa menggenggam baju kakaknya erat-erat.
“Tidak!” seru Laura. “Kami warga sipil!”
Dr. Sandi melangkah setengah maju, namun Bima segera mengangkat tangan.
“Tenang, Dok.”
Bima menatap lurus ke arah Letnan Benjamin.
“Permintaanmu ditolak.”
Wajah Letnan Benjamin mengeras.
“Ini perintah. Jika tidak, kami tembak.”
Bima tersenyum tipis—senyum seorang prajurit yang tahu arti sumpah.
“Kami tidak menyerahkan warga sipil. Apalagi anak-anak.”
“Kalau begitu—” Letnan Benjamin mengangkat tangannya memberi aba-aba.
“Siap!” teriaknya.
Dalam sepersekian detik, pertempuran pecah.
Agung dan Eren bergerak ke kiri, berlindung di balik puing ambulans. Andri dan Dimas menutup sisi kanan. Bima maju satu langkah, memecah fokus lawan.
“Agung, Eren! Tahan kiri!”
“Andri, Dimas! Tutup kanan!”
“Sandi, lindungi mereka!”
“Siap!” jawab mereka hampir bersamaan.
Tembakan pertama menghantam tembok. Debu beterbangan. Bima berlari rendah, meluncur ke balik pembatas beton, lalu bangkit dengan gerakan cepat. Satu lawan terjatuh setelah senjatanya terlepas dari genggaman.
“Jangan biarkan mereka mendekat!” teriak Eren.
Agung bergerak sigap, menjatuhkan lawan yang mencoba memutari posisi mereka. Andri dan Dimas bertarung jarak dekat, memanfaatkan ruang sempit di antara puing—gerakan cepat, terukur, tanpa ragu.
Letnan Benjamin maju sendiri.
“Kamu pemimpinnya?” katanya pada Bima.
“Betul,” jawab Bima, napasnya teratur. “Dan kamu salah memilih sasaran.”
Letnan Benjamin menyerang. Bima menghindar, membalas dengan teknik kuncian. Keduanya bergulat sengit. Pukulan demi pukulan saling berbalas. Bima terdesak sejenak, lututnya menghantam tanah.
“Bima!” teriak Dimas.
“Fokus posisi!” balas Bima.
Dengan sisa tenaga, Bima bangkit. Ia memutar tubuh, mengunci lengan lawannya, dan menjatuhkan Letnan Benjamin ke tanah. Senjatanya terlempar jauh.
“Sudah cukup,” kata Bima, terengah namun mantap.
Satu per satu, tentara musuh tumbang atau mundur. Yang tersisa memilih menyerah. Senyap kembali menyelimuti halaman rumah sakit—sunyi yang pahit, namun aman.
Agung mendekat.
“Area aman, Sertu.”
Bima mengangguk. “Amankan senjata. Pastikan tidak ada yang terluka.”
Dr. Sandi keluar perlahan, Laura dan Anisa di belakangnya. Laura menatap para prajurit Indonesia dengan mata berkaca-kaca.
“Kalian… menyelamatkan kami,” ucapnya lirih.
Bima menoleh, wajahnya melunak.
“Kami hanya melakukan tugas, Mbak.”
Anisa melangkah kecil ke depan.
“Om tentara… terima kasih,” katanya polos.
Bima berlutut agar sejajar dengan Anisa.
“Jaga mimpi kamu, ya. Dunia butuh anak pemberani seperti kamu.”
Di kejauhan, sirene kembali terdengar. Namun di halaman Al Shifa, harapan masih berdiri—dijaga oleh enam pria dari Indonesia yang memilih melindungi, bukan menindas.
Dan di antara puing dan debu Gaza, takdir Laura dan Anisa mulai menemukan jalannya.
Malam turun perlahan di Gaza.
Langit hitam dipenuhi asap, sementara cahaya api dari kejauhan menjadi satu-satunya penerang jalanan yang hancur. Di belakang Rumah Sakit Al Shifa, sebuah ambulans tua melaju perlahan—lampunya dimatikan, sirenenya dibungkam.
Di dalamnya, terbaring jenazah dr. Mahmud Yunus.
Tubuhnya telah dibungkus kain putih. Wajahnya tenang, seolah tertidur setelah kelelahan panjang mengabdi pada bangsanya.
Dr. Sandi Kurniawan duduk di samping jenazah itu, menundukkan kepala. Tangannya bergetar saat merapikan kain kafan.
“Maafkan kami, Dokter Mahmud,” bisiknya. “Kami akan membawa Anda ke tempat yang terhormat.”
Di bangku belakang, Laura memeluk Anisa Putri erat-erat. Anisa tak menangis lagi—air matanya seakan habis. Ia hanya menatap lurus, menggenggam tangan kakaknya dengan jari-jari kecil yang dingin.
“Ayah pulang ke Allah, ya Kak?” tanyanya lirih.
Laura menelan ludah.
“Iya, Sayang. Ayah syahid. Ayah pahlawan.”
Di luar ambulans, Sertu Bima memimpin iring-iringan kecil. Agung, Eren, Andri, dan Dimas menyebar—dua di depan, dua di samping, satu di belakang.
“Kecepatan rendah. Jangan menyalakan lampu,” perintah Bima lewat isyarat tangan.
Baru beberapa ratus meter meninggalkan area rumah sakit—
“Kontak!” bisik Eren.
Suara mesin berat terdengar dari arah belakang. Lampu kendaraan menyala tiba-tiba, menyorot tajam.
“Mereka mengejar!” teriak Agung.
Dr. Sandi menoleh ke jendela ambulans. Jantungnya berdegup kencang.
Laura menggenggam tangannya.
“Dokter…?”
“Tenang,” jawab dr. Sandi, meski suaranya bergetar. “Kita tidak sendiri.”
Di depan, Bima mengangkat tangan, memberi aba-aba berhenti mendadak. Kendaraan musuh mendekat, lima tentara bersenjata turun dan menyebar.
“Serahkan jenazah itu!” teriak salah satu dari mereka. “Itu milik kami!”
Bima melangkah maju, tubuhnya tegap.
“Jenazah ini milik keluarga. Mundur.”
Tentara itu tertawa sinis.
“Kalian tidak punya pilihan.”
“Justru kamu yang tidak,” jawab Bima dingin.
Tembakan peringatan menghantam aspal. Pertempuran kembali pecah—di jalanan sempit Gaza yang penuh reruntuhan.
Agung dan Andri bergerak cepat menutup sisi kiri. Dimas dan Eren mengamankan ambulans. Bima maju, memecah formasi lawan.
“Lindungi ambulans!” teriak Bima.
Dr. Sandi menutup tubuh Laura dan Anisa di dalam ambulans.
“Jangan lihat ke luar,” katanya lembut.
Namun benturan keras membuat ambulans terguncang. Laura memeluk Anisa lebih erat.
“Ya Allah, lindungi kami…”
Di luar, Bima terdesak. Lawan lebih banyak, posisi sulit. Debu dan asap menutupi pandangan.
“Tahan sedikit lagi!” teriak Bima.
Tiba-tiba—
SREEET!
Sebuah kendaraan lapis baja ringan muncul dari persimpangan. Bendera kecil Merah Putih berkibar di sisinya.
“Kedutaan Indonesia!” teriak seseorang dari kejauhan.
Tembakan balasan menghentikan pergerakan lawan. Pasukan yang mengejar terpecah dan mundur.
“Sekarang! Bergerak!” perintah Bima.
Ambulans melaju kembali, kali ini lebih cepat. Jalanan berliku, suara tembakan makin jauh tertinggal.
Beberapa menit kemudian, gerbang besar terbuka. Para petugas keamanan memberi isyarat masuk.
Begitu ambulans berhenti di halaman, Laura terjatuh berlutut. Tangisnya pecah untuk pertama kalinya.
“Ayah… kita sudah aman…”
Dr. Sandi membantu menurunkan jenazah dengan penuh hormat. Sertu Bima berdiri tegak, memberi hormat militer.
“Selamat datang di wilayah aman,” ujar seorang staf kedutaan dengan suara haru.
Anisa menatap bendera Merah Putih yang berkibar.
“Kak… ini Indonesia?”
Laura mengangguk sambil tersenyum di balik air mata.
“Iya, Dik. Negara yang menyelamatkan kita.”
Dr. Sandi berdiri di samping mereka, dadanya terasa berat namun penuh tekad.
Di halaman Kedutaan Besar Indonesia untuk Palestina, di tengah duka dan kelelahan, sebuah janji tak terucap lahir—bahwa pengorbanan dr. Mahmud Yunus tidak akan sia-sia, dan mimpi Anisa Putri akan terus hidup.
Perjalanan mereka belum selesai.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, mereka bernapas tanpa ketakutan.