NovelToon NovelToon
Penghianatan Tak Termaafkan

Penghianatan Tak Termaafkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Selingkuh / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."

​Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.

​Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.

​Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.

Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.

By: Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 17

Aula mewah Hotel Mulia Jakarta malam itu tampak seperti samudra cahaya yang menyilaukan, dipenuhi oleh aroma parfum niche yang mahal dan denting gelas kristal yang saling beradu.

Acara Business Excellence Awards bukan sekadar perayaan pencapaian tahunan, bagi kaum elit, ini adalah ajang pamer taring dan unjuk kekuatan bagi para penguasa ekonomi yang mendikte jalannya negeri.

Kirana berdiri tegak di tengah kerumunan yang sibuk menjilat satu sama lain. Ia memegang gelas sampanye dengan jemari yang terlihat sangat stabil, seolah-olah ia terbuat dari pualam yang tak tergoyahkan. Namun, di balik topeng ketenangannya, hatinya bergemuruh hebat sejak ia melihat nama Arka Mahendra tercetak tebal di daftar tamu kehormatan sebagai CEO Phoenix Construction.

Kirana sempat mengira - mungkin sedikit berharap dengan sombong - bahwa Arka akan hancur lebur setelah penolakan kejamnya di taman rehabilitasi setahun lalu. Ia mengira Arka akan menyerah pada nasib, hidup dari belas kasihan tunjangan yang ia berikan, dan perlahan menghilang dari radar sosial.

Namun, pria yang kini berdiri hanya sepuluh meter darinya itu tampak seperti orang yang baru lahir kembali dari api penyucian. Arka terlihat lebih tajam, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya daripada versi dirinya yang dulu.

Kirana sengaja berjalan menjauh dari kerumunan, menuju balkon yang lebih sepi untuk mencari udara segar. Namun, langkahnya terhenti secara fisik saat ia melihat sosok pria yang sangat ia kenal sedang berdiri membelakanginya, menatap gemerlap lampu Jakarta yang membentang luas.

"Kau tumbuh dengan sangat baik dalam setahun ini, Kirana. Setelan hitam itu... benar-benar menunjukkan siapa penguasa rimba beton ini sekarang," suara Arka terdengar rendah, tenang, namun penuh dengan tekanan yang tak kasat mata.

Kirana menarik napas dalam, memaksakan otot-otot wajahnya tetap datar. "Aku tidak menyangka kau punya cukup nyali untuk hadir di acara sekelas ini, Arka. Bukankah lebih baik kau fokus belajar berjalan di taman rehabilitasi daripada mencoba berlari di antara para raksasa yang bisa menginjakmu kapan saja?"

Arka berbalik perlahan. Tidak ada kilatan kemarahan di matanya, yang ada hanyalah sebuah kekosongan yang membuat Kirana merasa asing dan sedikit merinding. Arka melangkah mendekat, melewati batas tiga langkah yang selama ini dijaga ketat oleh Kirana sebagai benteng pertahanannya.

Ia berhenti tepat di depan wajah Kirana, begitu dekat hingga Kirana bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat di tengah angin malam yang dingin.

"Aku belajar berjalan hanya untuk mengejarmu, Kirana. Tapi aku belajar berlari untuk melampauimu," bisik Arka, suaranya mengandung janji yang mengerikan.

Ia meraih tangan kanan Kirana dengan gerakan yang begitu cepat hingga Kirana tidak sempat menghindar. Namun, Arka tidak mencium tangannya. Ia hanya menatap lekat-lekat cincin berlian besar di jari tengah Kirana, cincin yang dibeli Kirana sendiri sebagai simbol kemandirian mutlaknya.

"Cincin yang indah. Tapi itu terlihat sangat kesepian, sama persis dengan pemiliknya yang kini tinggal di puncak menara gading yang dingin."

Kirana menyentak tangannya dengan kasar. "Jangan lancang! Kau bukan siapa-siapa lagi bagiku! Kau hanyalah sebuah kesalahan di masa lalu yang sudah kuhapus!"

"Benarkah?" Arka tersenyum sinis, sebuah senyuman predator yang membuat Kirana ingin menampar wajahnya sekaligus memeluknya dengan erat. "Kalau aku memang bukan siapa-siapa, kenapa tanganmu gemetar hebat saat aku menyentuhnya tadi? Tubuhmu tidak bisa berbohong sepertimu, Kirana."

Ketegangan itu berlanjut ke dalam ruang utama saat lelang amal dimulai. Sebuah jam tangan antik Patek Philippe yang sangat langka dilelang untuk pembangunan sekolah di daerah terpencil. Kirana, yang ingin memperkuat citra dermawan bagi konsorsium Nirmala-Kencana, segera membuka tawaran di angka 1 miliar rupiah.

"1,5 miliar," suara Arka menggema dari meja seberang tanpa ada nada ragu sedikit pun.

Kirana melirik tajam, matanya menyipit penuh permusuhan. "2 miliar."

"3 miliar," balas Arka cepat, matanya menatap langsung ke mata Kirana dengan tatapan menantang yang seolah-olah sedang menelanjangi semua strategi Kirana.

Para tamu mulai berbisik-bisik riuh. Ini bukan lagi sekadar lelang amal untuk pendidikan, ini adalah perang terbuka antara dua mantan kekasih yang kini menjadi rival bisnis paling sengit di Jakarta.

Kirana merasa emosinya mulai terpancing ke permukaan. Ia tahu Arka baru saja membangun perusahaannya, dan uang sebesar itu pasti sangat berisiko bagi likuiditas Phoenix Construction yang baru seumur jagung. Ia ingin menghancurkan Arka di arena ini.

"5 miliar!" teriak Kirana, emosinya mulai menguasai logika finansialnya.

Ruangan mendadak hening seketika. Kirana merasa menang, ia membusungkan dadanya dan menatap Arka dengan senyum kemenangan yang angkuh. Namun, di luar dugaan, Arka justru meletakkan papan tawarannya dengan santai, menyesap minumannya, dan tersenyum sangat lebar, sebuah senyuman yang belum pernah Kirana lihat sebelumnya.

"Selamat, Kirana. Kau baru saja membayar tiga kali lipat dari harga pasar yang seharusnya untuk sebuah jam tangan yang sebenarnya tidak kau butuhkan sama sekali," Arka bertepuk tangan pelan, suaranya terdengar meremehkan di tengah keheningan. "Aku hanya ingin menguji seberapa besar ego yang kau miliki sekarang. Ternyata, egomu jauh lebih besar daripada akal sehatmu sebagai seorang CEO. Terima kasih telah mendonasikan uang sebanyak itu karena provokasiku."

Kirana membeku di kursinya. Wajahnya memerah karena malu yang luar biasa. Ia sadar, dengan sangat menyakitkan, bahwa ia baru saja masuk ke dalam jebakan psikologis yang sangat rapi yang dipasang oleh Arka. Arka tidak pernah berniat memenangkan jam itu, ia hanya ingin membuat Kirana terlihat emosional, tidak stabil, dan mudah diprovokasi di depan mata para investor kelas dunia.

Setelah acara selesai, hujan deras mengguyur Jakarta, menciptakan suasana yang semakin kelam. Kirana berdiri di lobi hotel menunggu mobilnya saat ia melihat pemandangan yang membuat dadanya sesak. Arka sedang berbicara akrab dengan seorang wanita cantik, seorang arsitek muda ternama yang dikabarkan menjadi partner barunya di Phoenix Construction.

Mereka tertawa, dan Arka tampak sangat perhatian, menyampirkan jas abu-abunya ke bahu wanita itu agar tidak kedinginan terkena tempias hujan.

Rasa cemburu yang luar biasa, yang selama ini ia tekan di dasar hatinya, membakar dada Kirana dengan hebat. Ia merasa ingin berteriak bahwa Arka adalah miliknya, bahwa hanya ia yang berhak mendapatkan perhatian itu, meski ia sendiri yang telah membuang Arka secara hina setahun lalu.

Saat Arka menyadari keberadaan Kirana, ia hanya memberikan anggukan sopan yang sangat formal, seolah-olah Kirana adalah orang asing biasa yang pernah ia temui di sebuah rapat membosankan. Arka kemudian masuk ke mobilnya bersama wanita itu, meninggalkan Kirana yang mematung.

Di dalam mobilnya sendiri, Kirana akhirnya runtuh. Ia menangis dalam diam, air matanya merusak riasan wajahnya yang sempurna. "Kenapa ini sakit sekali? Aku yang mengakhiri semuanya! Aku yang menyuruhnya pergi! Aku yang menang!" teriaknya dalam hati sambil memukul-mukul kemudi mobil dengan putus asa.

Keesokan harinya, Kirana mendapat kabar yang jauh lebih buruk. Proyek pembangunan jembatan nasional yang selama ini ia incar - *yang ia anggap sudah pasti dimenangkan oleh Nirmala-Kencana* - ternyata jatuh ke tangan Phoenix Construction. Arka memenangkan tender prestisius itu dengan selisih angka yang sangat tipis dan desain teknik yang jauh lebih efisien.

Tanpa pikir panjang, Kirana mendatangi kantor Arka tanpa janji temu. Ia menerobos masuk melewati sekretaris Arka yang mencoba menghalanginya. Ia mendobrak pintu ruangan Arka dengan penuh amarah.

"Kau mencuri dataku, Arka! Bagaimana mungkin kau bisa tahu persis angka penawaranku yang bersifat rahasia negara?!" tuduh Kirana sambil membanting tasnya ke meja Arka.

Arka sedang duduk tenang di kursi kebesarannya, menatap beberapa cetak biru jembatan. Ia mendongak perlahan, menatap Kirana yang tampak berantakan karena amarah yang meledak-ledak.

"Aku tidak mencuri datamu, Kirana. Itu terlalu rendah bagiku," ujar Arka dengan nada tenang yang mematikan. "Aku hanya mengenalmu lebih baik daripada siapa pun di dunia ini. Aku tahu kau akan bermain aman dengan margin keuntungan 15%, karena kau selalu takut pada risiko sejak pengkhianatanku dulu. Jadi, aku bermain di angka 14%. Sederhana, bukan? Kau sendiri yang mengajariku bahwa bisnis adalah soal mengenal musuhmu."

Kirana mendekati meja Arka, menumpukan kedua tangannya, menatap Arka dengan mata yang berkilat marah. "Kau sengaja melakukan ini semua hanya untuk menghancurkanku? Setelah semua yang aku lakukan untuk membersihkan namamu di pengadilan dan memberimu kesempatan hidup kedua?!"

Arka berdiri dari kursinya, berjalan perlahan mengitari mejanya, dan tiba-tiba mengurung Kirana di antara meja dan tubuhnya yang tegap. Ia mencondongkan tubuhnya, membuat Kirana terdesak.

"Aku melakukan ini bukan untuk menghancurkanmu, Kirana. Aku melakukan ini untuk membuktikan padamu bahwa aku bukan lagi beban atau objek kasihan yang harus kau beri tunjangan bulanan," bisik Arka, suaranya serak dan dalam. "Aku ingin kau melihatku sebagai lawan yang setara. Karena hanya dengan menjadi lawan yang bisa mengalahkanmu, kau akan berhenti memandangku dari atas takhta esmu yang tinggi itu. Aku ingin kau melihatku sebagai seorang pria lagi."

Jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Amarah Kirana yang tadinya meluap mendadak berubah menjadi desakan rindu yang sangat tak tertahankan. Matanya tanpa sadar turun ke bibir Arka, dan Arka menyadari perubahan itu. Arka mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan, menciptakan percikan listrik yang menyakitkan.

"Kau membenciku, Kirana? Katakan padaku dengan jujur bahwa kau benar-benar membenciku sambil menatap langsung ke dalam mataku," tantang Arka dengan suara parau yang menggoda.

"Aku... aku membencimu..." bisik Kirana, namun jari-jarinya justru mencengkeram kemeja Arka dengan erat, menarik pria itu lebih dekat.

Arka hampir menciumnya, napas mereka sudah menyatu, namun tepat sebelum bibir mereka benar-benar bertemu, Arka berhenti secara mendadak. Ia menarik diri, melepaskan Kirana, dan kembali ke kursinya dengan ekspresi wajah yang mendadak dingin dan profesional kembali.

"Pergilah, Kirana. Kita punya rapat koordinasi dengan kementerian besok pagi pukul delapan. Jangan sampai emosi pribadimu mengganggu profesionalisme kita lagi di depan umum. Aku tidak tertarik untuk menang melawan seorang wanita yang sedang tidak stabil secara emosional."

Kirana berdiri mematung di tengah ruangan, merasa sangat terhina sekaligus hancur berkeping-keping. Arka baru saja mempermainkan perasaannya dengan sangat kejam, memberikan sedikit harapan lalu menjatuhkannya ke lantai dalam hitungan detik, persis seperti yang sering dilakukan Kirana kepada orang lain.

Kirana berjalan keluar dari ruangan itu dengan tangan yang gemetar hebat. Ia menyadari satu kebenaran yang mengerikan. Arka bukan lagi pria yang bisa ia kendalikan atau ia kasihani. Arka telah bertransformasi menjadi cermin sempurna dari dirinya sendiri. Dingin, penuh perhitungan, tak berperasaan, dan sangat mematikan.

Di dalam ruangannya, setelah pintu tertutup dan Kirana pergi, Arka mengepalkan tangannya hingga gemetar dan urat-uratnya menonjol. Ia memukul meja kayu mahoninya dengan sangat keras. Ia mencintai Kirana hingga hampir gila, rasa rindunya mencekik setiap malam, namun ia tahu pasti, jika ia menyerah dan kembali menjadi Arka yang lemah sekarang.

Kirana tidak akan pernah menghormatinya sebagai pria. Ia harus terus menjadi monster yang dingin ini agar Kirana tetap menatapnya, meskipun tatapan itu penuh dengan kebencian.

Sebab bagi Arka, dibenci oleh Kirana jauh lebih baik daripada dilupakan olehnya.

...----------------...

**Next Episode**.....

1
anju hernawati
bagus jalan ceritanya author lanjut y .....
Miss Ra: siaaappp
total 1 replies
zhelfa_alfira
makin seru
Renjana Senja
nah bener. harus waspada sama barang asing gitu
Renjana Senja
eh. kiriman apa itu kalau boleh tau kawan?
zhelfa_alfira
wah keren²
zhelfa_alfira
lanjut²...
Sunaryati
Okey ku kira walau di penjara Bram tidak tinggal, orang yang serakah hal dunia biasanya sulit menerima kekalahan walau terbukti bersalah
Sunaryati
Menegangkan melebihi cerita mafia
Sunaryati
Semoga Arka selamat
zhelfa_alfira
semangat²
zhelfa_alfira
lanjut sama2 masih punya perasaan tapi ego masih sama² tinggi
zhelfa_alfira
dah selesai yang menegangkan kita tunggu yang manis2 nya lagi.😁🤭
zhelfa_alfira
wow seru nya cerita ini...
zhelfa_alfira
akhirnya keangkuhan arka selesai juga
zhelfa_alfira
bagus akhirnya ketahuan juga padahal reza sudah tau semua kebusukan arka...semangat²
zhelfa_alfira
entah lah bisa² nya masuk lobang yang sama...
zhelfa_alfira
keren² aku suka hancur kan dan hempaskan yang sudah menyakiti
zhelfa_alfira
keren
Miss Ra: /Kiss//Heart/
total 1 replies
zhelfa_alfira
wow keren aku suka karakter kinara tegas...semangat up kk author
zhelfa_alfira: sama² semangat
total 2 replies
zhelfa_alfira
lanjut²
Miss Ra: siaaap...

lanjut besok pagi ya kak..
good night...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!