Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.
Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.
Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.
Tak ada yang mengira.
apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 : Kepingan teka-teki
“Iya, kami memeriksa ruang pribadi dokter Mily, dan menemukan fotomu bersama dirinya.” Ucapan salah satu asisten meluncur datar, seolah hanya pertanyaan biasa.
Petugas cleaning service itu tak sanggup membalas. Gelisah merayap di wajahnya, jemarinya saling menggenggam, keringat membasahi pelipis. Diamnya terasa semakin menusuk, membuat Alexander yang sejak tadi memperhatikan hampir kehilangan kendali.
Tatapannya menajam, dingin dan mengancam.
“Jawab semua pertanyaanmu!!” Suaranya menghantam udara, bergema sampai menekan dada orang-orang yang mendengarnya.
Petugas itu terperanjat, suaranya bergetar ketika akhirnya bersuara. “I-iya… kami hanya teman dekat… kebetulan bekerja di tempat yang sama.”
Asisten kembali menunduk pada catatannya. “Petugas CCTV melaporkan, kalian terlihat berdebat sengit di lorong lantai tujuh, tepat pukul 00:20. Apa yang kalian ributkan?”
Wajah petugas itu berubah pucat. Matanya berkelabat gelisah, tubuhnya mundur setapak demi setapak. “T-tidak… aku tidak tahu… dia tidak mengatakan apapun padaku!” suaranya pecah, lebih mirip jeritan ketakutan daripada jawaban.
Langkahnya mencoba menjauh, seolah mencari celah untuk melarikan diri. Namun tiba-tiba....
Duar!
Suara dentuman memecah udara. Alexander menghantam dinding keras-keras, serpihan debu berjatuhan, membuat tubuh petugas itu membeku.
Sorot mata Alexander kini membakar, suaranya dalam dan berat, nyaris berbisik namun penuh ancaman.
“Buka mulutmu… sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran.”
Petugas cleaning service itu hanya menggeleng, tetap menolak memberi jawaban. Tubuhnya mundur perlahan, seolah mencari celah untuk menghindar. Kesabaran Alexander kian menipis.
“Sungguh… kami tidak memperdebatkan apa pun. Aku hanya petugas kecil,” ujarnya gugup.
Alexander menghela napas berat, lalu menoleh pada asistennya. “Bawa dia ke kantor polisi. Dapatkan semua data yang kita butuhkan.”
Instruksi itu langsung dijalankan. Penangkapan kecil terjadi, membuat petugas cleaning service itu meronta sambil memohon dengan suara bergetar. “Tuan… bukan saya! Sungguh, bukan saya yang membunuhnya…”
Alis Alexander mengerut, tatapannya menusuk tajam. “Aku tidak menuduhmu membunuh. Mengapa kau justru mengaku?” Ucapan itu terdengar seperti pisau, menanamkan kecurigaan baru di udara.
Panik semakin melumpuhkan petugas itu. “Tidak… maksudku bukan begitu… aku hanya diancam karena menyelundupkan barang-barang operasi. Aku tidak pernah membunuh siapa pun…”
Alexander tidak menanggapi. Wajahnya tetap datar, hanya mengangkat tangan sebagai isyarat agar asistennya menyeret pria itu pergi. “Jelaskan saja semua di sana. Aku tak ingin melihatmu lagi.”
Ia lalu berbalik, meninggalkan ruangan bersama salah satu asistennya, sementara seorang lainnya masih sibuk menahan petugas itu.
Langkah Alexander terhenti di koridor. Langit sore memantulkan cahaya keemasan lewat kaca besar di depannya. Sorot matanya kosong, meski wajahnya tampak tenang, pikirannya dipenuhi lapisan pertanyaan yang tak berhenti berputar.
“Tuan, sebaiknya kita istirahat sebentar,” ujar asistennya pelan, menyelipkan buku catatan ke dalam saku jas.
“Tidak. Kau saja,” balas Alexander dingin.
Ia berbalik, meninggalkan asistennya berdiri seorang diri. Tatapannya tetap datar, hanya meninggalkan jejak langkah yang berat, seolah tengah menyusun ulang potongan teka-teki yang belum menemukan bentuk.
Malam pun turun. Kantin rumah sakit lengang, diterangi lampu yang redup. Alexander duduk sendirian, menatap kosong layar ponselnya, menunggu kabar dari asistennya yang sedang melakukan interogasi di kantor polisi. Sesekali ia menarik napas panjang, menyadari betapa kasus ini berbeda, bukan sekadar sulit, melainkan seolah sengaja ditutup-tutupi.
Ia menyuapkan makanan perlahan, hingga suara langkah halus mendekat. Seorang gadis meletakkan sebotol minuman di mejanya. “Tuan, ini titipan dari asisten Anda,” ucapnya dengan senyum ramah.
Alexander menoleh. Ia mengenali wajah itu. Gadis yang pernah dilihatnya bersama seseorang di lorong. Hanya saja, namanya tak pernah ia ketahui.
“Asistenku? Di mana dia?” tanyanya tenang.
“Sedang berbicara dengan temanku. Ia menitipkan ini untuk Anda. Oh… apakah Anda masih marah padanya?”
“Tidak. Aku hanya tidak suka diganggu.”
“Begitu?” Senyum lembut menghiasi wajah gadis itu sebelum ia berbalik hendak pergi.
Namun langkahnya terhenti saat Alexander memanggil. “Kau sendirian? Di mana teman-temanmu?”
“Temanku yang mana?”
“Yang sering berlarian di lorong. Seperti orang bodoh.”
“Oh… Victoria?” Gadis itu tersenyum tipis. “Dia tidak bodoh. Hanya labil, maklum tahun pertama jadi residen.”
“Orang sepertinya tidak akan pernah bisa jadi dokter.”
Ucapannya terdengar menyakitkan, membuat gadis itu hanya mengangguk canggung sebelum melangkah pergi. Alexander tetap diam di kursinya. Tapi tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis, seolah beban yang menekannya sedikit mereda hanya karena satu nama.
“Victoria…” bisiknya pelan.