NovelToon NovelToon
Scandal In Berlin

Scandal In Berlin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Kharisma

Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dingin yang mengancam

Sophie pulang saat hujan rintik mulai membasahi trotoar Berlin yang dingin. Ia melepaskan sepatu hak tingginya di ambang pintu apartemennya yang sempit, membiarkan kakinya menyentuh lantai kayu yang berderit. Aroma sup hambar dan bau obat-obatan menyambutnya—aroma yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama sepuluh tahun terakhir.

"Sophie? Itu kau?" suara lemah ayahnya, Hans Adler, terdengar dari balik tirai tipis yang memisahkan ruang tengah dan tempat tidur.

Sophie segera mengganti wajah "asisten baja"-nya dengan senyum lembut. "Iya, Ayah. Aku pulang."

Ia mendekati Hans yang sedang duduk bersandar di tumpukan bantal. Hans sedang memegang sebuah bingkai foto tua yang peraknya sudah menghitam. Di dalamnya, ada foto seorang wanita cantik dengan gaun pesta sutra putih, berdiri di depan sebuah vila megah di kawasan Grunewald.

Itu adalah Eleanor Adler, ibu Sophie.

"Ibumu selalu suka musim gugur di Berlin," bisik Hans, jemarinya yang gemetar mengusap kaca foto itu. "Dia bilang, warna daun yang berubah mengingatkannya pada emas yang berkilau. Sebelum... sebelum semuanya diambil dari kita."

Sophie duduk di tepi tempat tidur, mengambil tangan ayahnya dan menggenggamnya erat. Hatinya perih setiap kali mengingat ibunya.

Eleanor tidak meninggal karena kecelakaan atau penyakit tua. Ia meninggal karena "patah hati" dan rasa malu yang luar biasa hanya setahun setelah skandal korupsi itu meledak.

Eleanor, yang terbiasa hidup dalam kehormatan dan lingkungan elit, tidak kuat menanggung hinaan publik dan kemiskinan mendadak yang menimpa mereka. Ia jatuh sakit karena depresi berat dan akhirnya menyerah pada malam musim dingin yang sama dinginnya dengan tatapan Maximilian Hoffmann kemarin.

"Ibu sudah tenang sekarang, Ayah," bisik Sophie, meskipun ia sendiri merasa dadanya sesak.

"Maafkan aku, Sophie," air mata mulai menggenang di mata Hans yang keruh.

"Seharusnya kau sedang berada di Paris atau London, menikmati hidupmu sebagai wanita muda yang sukses. Bukannya membusuk di tempat ini dan bekerja sebagai buruh hanya untuk membeli obat-obatanku. Jika saja keluarga Hoffmann tidak menjebakku..."

Sophie terdiam. Nama itu kembali muncul. Setiap kali ayahnya menyebut "Hoffmann", Sophie teringat pada ciuman di kantor, tatapan intens di ruang rapat, dan penghinaan yang ia terima.

"Aku akan membereskannya, Ayah," ucap Sophie dengan nada yang sangat dingin dan penuh tekad. "Aku berjanji, nama Adler akan bersih kembali. Dan mereka yang membuat Ibu menderita... mereka akan merasakan kehilangan yang sama."

Malam itu, setelah ayahnya tertidur, Sophie duduk di meja makannya yang kecil dengan lampu belajar yang redup. Ia mengeluarkan sebuah flashdisk kecil yang ia sembunyikan di balik jahitan tas kerjanya. Di dalamnya terdapat salinan beberapa dokumen yang sempat ia pindai secara diam-diam dari komputer Max hari ini.

Ia menatap foto ibunya sekali lagi. Ia teringat bagaimana ibunya dulu sering membacakan cerita tentang ksatria dan putri di balkon vila mereka. Sekarang, tidak ada ksatria yang datang menyelamatkannya. Jika ia ingin keadilan, ia harus menjadi pedang itu sendiri.

Bagi Sophie, setiap hinaan dari Max adalah bahan bakar. Dan setiap debaran jantung yang ia rasakan saat Max berada di dekatnya adalah pengkhianatan terhadap memori ibunya yang harus ia matikan segera.

...****************...

Pagi itu, suasana di kantor Hoffmann Motors terasa sangat berbeda. Jika sebelumnya ada percikan amarah dan tensi yang meledak-ledak, kini hanya ada keheningan yang kaku. Sophie telah membangun dinding es yang sangat tinggi di sekelilingnya.

Ia datang tepat waktu, menyiapkan semua berkas, dan memastikan meja Max bersih tanpa cela. Namun, ada satu hal yang hilang: tatapan matanya.

Setiap kali Max keluar dari ruangannya, Sophie hanya akan berdiri sebentar, menundukkan kepala dengan sopan, dan berbicara dengan nada yang begitu monoton, hampir menyerupai asisten digital.

"Ini jadwal Anda hari ini, Tuan. Anda ada pertemuan makan siang dengan direktur bank di pukul dua belas. Semua dokumen sudah saya siapkan di tas kerja Anda," ucap Sophie tanpa ekspresi.

Max berdiri di ambang pintu, menunggu. Ia menunggu Sophie memprotes, menunggu Sophie menyindirnya soal ciuman itu, atau setidaknya menunggu Sophie menatapnya dengan kemarahan. Namun, Sophie benar-benar melakukan apa yang Max minta semalam: ia menganggap kejadian itu tidak pernah ada.

...****************...

Setelah dua jam bekerja dalam keheningan yang menyiksa, Max mulai merasa gelisah. Ia tidak terbiasa diabaikan—terutama oleh wanita yang memenuhi pikirannya sepanjang malam.

Ia menekan tombol interkom. "Nona Adler, masuk ke ruanganku. Sekarang."

Sophie masuk, berdiri tepat di depan meja Max dengan buku catatan di tangan. "Ya, Tuan Hoffmann? Ada yang bisa saya bantu?"

Max menyandarkan punggungnya, mencoba terlihat berwibawa meski hatinya kacau.

"Laporan yang kau buat tadi... ada beberapa bagian yang kurang jelas. Jelaskan padaku secara langsung."

Sophie mendekat, namun ia tetap menjaga jarak yang sangat aman. Ia mulai menjelaskan poin demi poin dengan sangat teknis. Max sengaja tidak mendengarkan; ia hanya memperhatikan bagaimana Sophie berusaha keras untuk tidak membalas tatapannya.

"Sophie," potong Max tiba-tiba.

Sophie berhenti bicara, tapi matanya tetap tertuju pada dokumen. "Ada masalah dengan penjelasannya, Tuan?"

"Kenapa kau tidak menatapku saat bicara?" tanya Max, suaranya mulai terdengar tidak sabar.

"Saya rasa fokus pada data jauh lebih penting daripada kontak mata, Tuan. Bukankah Anda ingin saya menjadi asisten yang efisien?" jawab Sophie tenang.

Max menggeram rendah. Ia sengaja menjatuhkan penanya ke lantai, tepat di dekat kaki Sophie. "Ambilkan."

Sebuah perintah klise yang seharusnya membuat Sophie merasa rendah. Namun, Sophie hanya berjongkok dengan sangat anggun, mengambil pena itu, dan meletakkannya kembali di meja Max tanpa satu kata pun protes. Ia tidak memberikan reaksi "emosional" yang diinginkan Max.

Putus asa karena terus diabaikan, Max melakukan hal yang lebih konyol. Ia membatalkan makan siang bisnisnya yang sangat penting secara mendadak.

"Batalkan makan siang dengan direktur bank. Aku ingin kau menemaniku ke lokasi pembangunan pabrik baru di pinggiran Berlin," perintah Max.

"Tapi Tuan, itu pertemuan penting untuk pendanaan kuartal depan—"

"Aku pemilik perusahaan ini, Nona Adler. Batalkan saja," potong Max sengit. Ia berharap Sophie akan marah atau berdebat dengannya seperti biasanya.

Sophie terdiam sejenak, lalu mencatat perintah itu. "Baik, Tuan. Saya akan segera menghubungi pihak bank untuk meminta maaf atas ketidakhadiran Anda."

Melihat Sophie yang begitu "patuh" dan tidak peduli, Max justru merasa semakin kalah. Ia menyadari bahwa dengan menyuruh Sophie melupakan kejadian itu, ia justru telah kehilangan satu-satunya akses emosional yang ia miliki terhadap wanita itu.

Sophie tidak lagi menganggapnya sebagai musuh yang harus dilawan, melainkan hanya sebagai "atasan" yang harus dilayani. Dan bagi Max, diabaikan oleh Sophie jauh lebih menyakitkan daripada dibenci olehnya.

1
Amaya Fania
loh bukannya max punya adek kemarin?
Ika Yeni
ceritanyaa bagus torr menarikk,, semangat up ya thir😍
Babyblueeee: Ditunggu yaaaa 🤭
total 1 replies
Amaya Fania
udah gila si richard, anak sendiri mau dipanggang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!