NovelToon NovelToon
Candy Cane

Candy Cane

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Beda Usia
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: Lunea Bubble

Candelle Luna (Candy), 19 tahun, tidak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena… ibu tirinya takut anak kandungnya menikah dengan pria “tua, kaya, dan super pelit”.

Hasilnya?
Candy yang dikorbankan sebagai pengantin pengganti untuk Revo Bara Luneth—pria 37 tahun yang lebih dingin dari kulkas dua pintu, hemat bicara, dan hemat… segalanya.

Pernikahan ini harusnya berakhir kacau.
Tapi ternyata, gadis yang terlihat penurut itu punya lebih banyak kejutan daripada permen candy cane yang manis di luar, pedas di dalam.

"Gadis pendiam dan lembut itu… dia? Tidak mungkin." — Revo

"Astaga, hidup baru mulai, tapi sudah dilempar ke mode hard married life!" — Candy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunea Bubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nasi Jadi Kerak

Usai pertemuan dengan Candy, Danny memilih diam seribu bahasa. Ia tak seperti biasanya—melapor lebih dulu sebelum diminta.

Justru sikap itulah yang membuat Revo, yang dikenal pendiam, mulai merasa sedikit gelisah. Ingin rasanya ia menendang kursi Danny agar pria itu bicara.

Revo tidak tahu bahwa saat ini Danny sedang sibuk mencari bala bantuan. Jemarinya tak berhenti menari di atas layar ponsel.

Danny sempat ciut. Keringat dingin mengalir ketika sang kekasih tak kunjung bisa dihubungi. Namun setelah Bella membalas pesannya, jarinya kembali bergerak cepat, mengetik aduan panjang tentang kemungkinan tamatnya karier—beserta alasan-alasannya.

Sayangnya, tak ada balasan.

Nyalinya semakin ciut.

Atmosfer panas di dalam mobil seolah meningkat. Danny melepas satu lagi kancing kemejanya. Kini, yang bisa ia lakukan hanya berdoa setelah semua usaha yang ia kerahkan.

Ia sengaja memilih duduk di samping sopir, memastikan Revo tak melihat kelakuannya—sekaligus membeli waktu. Revo memang tak pernah bertanya, tapi tatapan matanya selalu berbicara.

Danny sadar, kali ini ia sedang bertaruh besar untuk kelangsungan kariernya.

Menurutnya, Candy terlalu cocok untuk bosnya yang dingin dan irit bicara itu. Karena itu, ia memilih mencoba peruntungan.

Sesampainya di depan gedung Luneth Grup, Danny bergegas turun dan membukakan pintu untuk Revo.

Saat Revo melewatinya, Danny menunduk, lalu mempercepat langkah, mensejajarkan diri di samping bosnya menuju ruang kerja.

Setiap langkah terasa berat. Pintu putih polos itu tampak semakin dekat—membuat jantungnya berpacu semakin cepat.

Danny menghela napas panjang saat kakinya mendarat lebih dulu di depan pintu itu. Sebelah tangannya terangkat, bersiap membuka pintu. Dia yakin, riwayatnya benar-benar tamat.

"Silakan, Pak Bos,"ucap Danny, memberi jalan untuk Revo.

"Bicara juga," balas Revo singkat sambil melewatinya.

Danny susah payah menelan cairan bening di mulutnya.

Ruangan yang biasanya paling ia sukai kini terasa seperti ruang sidang—siap melahapnya hidup-hidup.

Revo duduk di kursi kekuasaannya, menatap Danny dengan sorot tajam. Sekretaris sekaligus sahabatnya itu masih bungkam. Jemari Revo mengetuk-ngetuk permukaan meja, tanda kesabarannya menipis.

Danny memejamkan mata sesaat, mengumpulkan sisa keberanian di dalam dirinya.

"Pertemuan tadi… " Danny berhenti sejenak.

Ketukan jari Revo terhenti.

"Namanya Candy," lanjut Danny.

Sebelah alis Revo terangkat. Isyarat jelas—tak perlu basa-basi. Dia sudah tahu siapa gadis itu.

Ah, terserah sajalah, batin Danny.

"Pernikahannya tidak jadi batal."

Tatapan Revo mengeras.

"Justru dipercepat dua minggu lagi," jelas Danny akhirnya.

"Dua minggu," ulang Revo datar.

Danny mengangguk cepat.

"Itu namanya menambah masalah."

"Oh, ayolah, Rev!" seru Danny frustrasi.

"Siapa suruh kau tadi tidak mau menemuinya."

"Kau sendiri yang membuat masalah," jawab Revo tanpa emosi. "Jadi kenapa harus aku yang menyelesaikannya?"

"Benar juga," sahut Danny refleks.

"Menurutku dia gadis yang baik. Polos, kalau dibandingkan Rania."

"Rania jelas lebih dewasa."

Danny menghela napas pelan. "Kalau begitu, kenapa kau tidak langsung menghubungi Rania dan bilang padanya: Rania, aku dipaksa menikah. Tolong bantu aku menikah pura-pura. Kita kan berteman baik. Aku akan memberimu kompensasi, dan bla… bla… bla…"

Revo terdiam sejenak sebelum akhirnya bicara singkat.

"Kalimantan atau Sumatra?"

Klik.

Suara pintu terbuka berbarengan dengan ucapan Revo. Sayangnya, Danny tidak langsung menyadarinya.

Mata Danny membulat. Pria dingin di hadapannya itu benar-benar mendepaknya.

Danny mengakui dia memang salah—tapi rasanya bukan kesalahan yang cukup fatal untuk diusir sampai keluar pulau.

Lagipula, calon istri bosnya itu cukup baik, polos, dan cantik. Jarang menemukan gadis seperti itu di zaman sekarang.

Kenapa hukumannya harus seberat ini?

"Nggak ada Kalimantan atau Sumatra," ucap seseorang dengan langkah tegap.

"Mam," sapa Revo sambil bangkit menyambut Berlian.

"Ah, akhirnya kau datang, sayang!" keluh Danny lemas.

Tubuhnya langsung merosot ke lantai begitu melihat Bella berjalan di belakang Berlian.

"Eh, kamu kenapa?" tanya Bella khawatir sambil membantu Danny berdiri.

"Pokoknya mami nggak mau tahu. Kamu harus menikah sama Candy," ujar Berlian mantap.

Revo mundur beberapa langkah dan memilih berdiri di dekat jendela. Kalau maminya sudah turun tangan, perdebatan panjang hampir pasti terjadi.

"Dia terlalu muda," bela Revo.

"Salah kamu sendiri. Dulu sudah dicarikan yang sesuai usiamu, malah ditolak," ketus Berlian sambil melipat tangan.

Hening sejenak.

"Dia terlalu kecil untuk mengurus rumah tangga," ucap Revo akhirnya memecah keheningan.

"Ada mami dan para pelayan yang akan membantu."

"Dia tidak cocok berdampingan denganku."

"Candy cantik, muda, dan fresh. Bagian mana yang tidak cocok?"

"Usianya belum cukup untuk memberi keturunan."

"Memangnya mami sama papi mendesak kamu buat memberi kami keturunan?" hardik Berlian.

"Dia—"

"Udah, Revo! Jangan kebanyakan alasan!" potong Berlian tajam.

Senyum kemenangan perlahan muncul di sudut bibir Danny melihat perdebatan ibu dan anak itu.

"Skakmat," gumamnya pelan.

Berlian melangkah mendekat, menatap lekat wajah Revo.

"Menikah dengan Candy atau kamu nggak akan melihat mami lagi," tegas Berlian.

Sontak Revo menegakkan tubuhnya.

"Maksud mami apa?"

Berlian memutar tubuh dengan santai.

"Ya mami akan pergi jauh. Sembunyi di tempat yang nggak akan bisa kamu temukan," jawabnya ringan. "Siap-siap saja diteror papi," tambahnya dengan senyum kemenangan.

Ingatan lama langsung menyerbu benak Revo—saat maminya merajuk lalu menghilang. Papinya seperti orang kerasukan saat mencarinya. Bukan pemandangan yang baik untuk anak berusia delapan tahun.

Padahal masalahnya sepele. Papinya hanya lupa ulang tahun pernikahan karena terlalu sibuk mengurus perusahaan.

Maminya memang sangat andal dalam bersembunyi. Bahkan dengan koneksi luas, papinya tak pernah berhasil menemukan. Hingga kini, baik Revo atau papinya tetap tidak tahu di mana tempat favorit maminya bersembunyi.

"Oke," jawab Revo singkat sebelum memilih pergi.

"Yes!" seru Berlian puas.

"Terima kasih, Tante," ucap Danny tulus.

"Tapi bener kan, Dan? Candy itu cocok buat Revo?" tanya Berlian memastikan.

"Seratus persen, Tante."

"Meski Tante memaksa Revo menikah, Tante tetap ingin punya mantu yang baik," ujar Berlian.

"Zia tenang aja. Penilaian Mas Danny selalu oke," sahut Bella menenangkan.

Berlian mengangguk. "Zia juga ngerasa begitu. Dari foto saja, sorot matanya menenangkan. Dia pasti anak baik."

"Kalau begitu kita harus siap-siap, Zia. Pernikahannya dipercepat dua minggu," ujar Bella.

Berlian mengangguk mantap. "Ho oh!"

"Dan, kamu jadi kepala tali dengan keluarga Candy. Kalau mereka kerepotan, tawarkan saja supaya keluarga kita yang mengurus semuanya," titah Berlian.

"Baik, Tante," jawab Danny.

Wajahnya kembali cerah. Matanya berbinar menatap Bella dan Berlian, bak malaikat pelindung.

Sementara itu, di kamar Candy.

Sepulang dari restoran tadi, Candy langsung mencari Mbok Sarah untuk mengadu.

"Hiks! Gimana dong, Mbok?" isak Candy di pangkuan Mbok Sarah.

"Ya mau gimana lagi, Non," ucap Mbok Sarah lembut sambil mengelus rambut hitam Candy. "Nasi sudah menjadi kerak. Nggak bisa jadi nasi lagi."

Candy langsung terduduk. "Nasi sudah jadi bubur kali, Mbok."

"Eh, Non. Yang bener itu yang tadi. Nasi kalau jadi bubur masih bisa jadi nasi lagi. Nah, kalau sudah jadi kerak—gimana mau jadi nasi lagi?"

Candy tak tahu apakah ia harus tertawa atau menangis.

Yang jelas, di tempat lain, seorang pria bernama Revo Bara Luneth baru saja berkata "oke"— tanpa sedikit pun tahu bagaimana cara mencintai calon istrinya.

 

Note:

Zia (panggilan untuk Tante dalam bahasa Italia)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!