Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin perhatian
Ketidakhadiran rasa sakit terkadang jauh lebih menyiksa daripada rasa sakit itu sendiri. Itulah yang dirasakan Brixton Alistair Vance selama beberapa minggu terakhir. Ia yang biasanya menjadi pusat gravitasi di kediaman ini—pria yang suaranya bisa membuat para pelayan menunduk gemetar dan yang tatapannya mampu membuat Alana menangis tersedu-sedu—kini merasa seperti hantu di rumahnya sendiri.
Alana telah berubah. Wanita itu tidak lagi menatapnya dengan binar harapan, tidak lagi memohon belas kasihan, dan yang paling menyesakkan: ia tidak lagi membenci Brixton dengan cara yang terlihat. Alana memperlakukannya dengan kesopanan yang begitu datar dan formal, seolah Brixton hanyalah seorang penyewa kamar yang kebetulan tinggal di gedung yang sama.
Kebebasan yang Alana temukan dalam hobinya merawat bunga dan kemandiriannya dalam menangani kehamilannya sendiri menciptakan tembok yang tidak bisa ditembus oleh amarah Brixton. Dan hal itu, entah bagaimana, membuat Brixton merasa frustrasi hingga ke tulang sumsumnya.
Pagi itu, Brixton sengaja tidak langsung berangkat ke kantor. Ia duduk di ruang tengah, pura-pura membaca koran bisnis, padahal matanya terus melirik ke arah tangga. Ia menunggu Alana turun. Ia ingin melihat reaksi Alana terhadap "hadiah" yang telah ia siapkan di atas meja makan.
Beberapa menit kemudian, Alana muncul. Ia mengenakan gaun hamil berwarna biru muda yang longgar, rambut merah jambunya dikepang rapi ke samping. Wajahnya tampak lebih segar, meski gurat pucat akibat mual pagi masih sedikit bersisa. Ia berjalan dengan tenang, tangannya sesekali mengusap perutnya yang kian menonjol.
Begitu sampai di meja makan, Alana berhenti sejenak. Di sana, di samping piring sarapannya, tergeletak sebuah kotak perhiasan dari beludru hitam bermerek ternama. Di dalamnya terdapat kalung berlian zamrud yang harganya setara dengan sebuah apartemen mewah.
Brixton melipat korannya, berdeham keras untuk menarik perhatian. "Itu untukmu. Aku melihatnya di katalog kemarin dan kupikir warna hijaunya cocok dengan matamu."
Alana menatap kotak itu datar. Tidak ada keterkejutan, tidak ada binar kesenangan. Ia hanya menutup kembali kotak itu dengan gerakan anggun.
"Terima kasih, Brixton. Ini sangat mahal," ucap Alana pelan. Ia duduk dan mulai menuangkan susu ke mangkuk sereal gandumnya. "Tapi kurasa aku tidak butuh perhiasan baru. Aku jarang keluar rumah kecuali untuk kontrol dokter atau ke pasar swalayan."
"Pakai saja jika kau mau. Aku membelinya agar kau tidak terlihat menyedihkan saat ada tamu yang datang," sahut Brixton, mencoba menutupi rasa kecewanya dengan nada kasar yang biasa ia gunakan.
"Baiklah. Aku akan menyimpannya di brankas," jawab Alana singkat, lalu ia mulai makan dengan tenang, mengabaikan keberadaan Brixton sepenuhnya.
Brixton mengepalkan tangannya di bawah meja. Hanya itu? pikirnya gusar. Tidak ada ucapan terima kasih yang tulus? Tidak ada pertanyaan kenapa aku membelikannya?
Karena cara halus tidak berhasil, Brixton mencoba cara yang lebih provokatif. Siang harinya, ia memerintahkan seluruh tukang kebun untuk membongkar bagian pojok taman bunga Alana dengan alasan ingin membangun paviliun kecil untuk tempat bersantai. Ia tahu betul itu adalah area di mana Alana baru saja menanam bibit bunga lili yang langka.
Ia berdiri di balkon, menunggu Alana keluar dan berteriak marah padanya. Ia merindukan emosi Alana. Ia ingin Alana memakinya, menangis karena bunganya dirusak, atau setidaknya datang padanya untuk memohon agar pembangunan itu dihentikan.
Alana akhirnya keluar. Ia melihat para pekerja yang sedang mencangkul tanahnya. Ia berdiri di sana selama beberapa detik, memperhatikan bibit-bibitnya yang hancur terinjak-injak.
Brixton menyeringai dari atas. "Area itu akan jauh lebih berguna jika ada bangunan permanen di sana, bukan sekadar tanaman yang akan layu."
Alana mendongak. Matanya bertemu dengan mata Brixton. Namun, tidak ada kemarahan di sana. Alana hanya menghela napas panjang, memberikan senyum tipis yang penuh pemakluman kepada para tukang kebun yang tampak tidak enak hati, lalu ia berbalik.
"Tidak apa-apa," suara Alana terdengar jernih hingga ke balkon. "Lahan ini milik keluarga Vance. Kau berhak melakukan apa pun yang kau mau. Aku akan memindahkan sisa tanamanku ke pot kecil saja."
Alana berjalan pergi menuju gudang alat, mengambil beberapa pot, dan mulai menyelamatkan bibit yang tersisa dengan tenang. Ia bahkan tidak menoleh lagi ke arah Brixton.
Brixton meninju pagar balkon dengan keras. Rasa frustrasinya memuncak. Alana seperti air; tidak peduli seberapa keras ia memukulnya, air itu hanya akan beriak sebentar lalu kembali tenang. Ia merasa tidak lagi memiliki kekuatan untuk melukai hati wanita itu. Alana telah melepaskan keterikatan emosionalnya pada Brixton, dan itu adalah hukuman yang paling berat bagi pria yang haus akan dominasi.
Malam harinya, Brixton mencoba strategi lain. Ia memutuskan untuk tidak pergi ke bar. Ia ingin "memberikan kehadirannya" kepada Alana. Ia memerintahkan koki rumah untuk menyiapkan makan malam romantis dengan lilin-lilin di meja taman yang tersisa.
Alana datang memenuhi undangannya, namun lagi-lagi, ia bersikap seperti robot yang sopan.
"Kenapa kau tidak ke bar malam ini?" tanya Alana di sela-sela makan malam mereka. Tidak ada nada cemburu dalam suaranya, murni hanya rasa ingin tahu yang hambar.
"Aku sedang malas," jawab Brixton pendek. Ia menuangkan wine ke gelasnya sendiri sementara Alana meminum jus jeruk. "Kau... kau tampak lebih berat. Apa bayi itu sangat merepotkanmu?"
"Dia tumbuh dengan baik," Alana mengusap perutnya secara otomatis. "Terkadang dia menendang sangat kuat di malam hari, tapi aku sudah terbiasa menanganinya sendiri."
"Kenapa tidak membangunkan aku jika dia menendang? Aku ayahnya, aku berhak tahu," ucap Brixton, mencoba masuk ke dalam ruang pribadi Alana.
Alana menatapnya dengan tatapan yang seolah-olah sedang melihat orang asing yang aneh. "Untuk apa? Kau butuh istirahat untuk bekerja, Brixton. Dan biasanya, di jam-jam itu kau baru saja pulang dari bar dalam keadaan mabuk. Aku tidak ingin mengganggu kesenanganmu."
Brixton terdiam. Kalimat itu bukan sindiran, tapi sebuah kenyataan yang Alana sampaikan dengan sangat jujur hingga terasa menusuk.
"Aku bisa berhenti pergi ke sana jika kau mau," Brixton tiba-tiba berucap, sebuah kalimat yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri. Ia merasa putus asa untuk mendapatkan reaksi dari Alana.
Alana meletakkan garpunya, menatap Brixton dengan ekspresi kasihan. "Brixton, kau tidak perlu melakukan itu untukku. Pergilah jika itu membuatmu bahagia. Aku sudah terbiasa dengan kesunyian di rumah ini. Sejujurnya, aku justru merasa lebih tenang saat kau tidak ada di rumah. Aku bisa merajut, membaca, dan berbicara dengan bayiku tanpa merasa diawasi atau dinilai."
Aku lebih tenang saat kau tidak ada.
Kata-kata itu bergema di kepala Brixton. Ia merasa harga dirinya hancur berkeping-keping. Selama ini ia menganggap dirinya sebagai pusat penderitaan Alana, namun sekarang ia menyadari bahwa ia bahkan tidak cukup penting untuk menjadi pengganggu ketenangan Alana.
Rasa frustrasi itu berubah menjadi obsesi yang aneh. Brixton mulai membatalkan banyak janji temu bisnis hanya untuk pulang lebih awal. Ia sering tertangkap basah oleh Bibi Martha sedang berdiri di depan pintu kamar Alana yang tertutup, ragu-ragu untuk mengetuk.
Suatu sore, ia melihat Alana sedang mengalami mual yang hebat di ruang tengah. Wajah Alana memucat, dan ia membungkuk memegangi perutnya. Brixton segera berlari mendekat.
"Alana! Kau kenapa? Aku akan panggil dokter!" Brixton mencoba merangkul bahu Alana.
Alana dengan lembut namun tegas menepis tangan Brixton. Ia mengambil botol kecil minyak aroma terapi dari sakunya, menghirupnya, lalu duduk perlahan di sofa. "Hanya mual biasa, Brixton. Tidak perlu panik. Aku sudah tahu cara menanganinya."
"Tapi kau pucat sekali! Biarkan aku membantumu ke kamar!"
"Tidak perlu. Aku hanya butuh duduk diam selama lima menit. Kau pergilah, bukankah kau ada janji main golf dengan Julian?" Alana memejamkan matanya, mengatur napasnya sendiri, benar-benar menutup akses bagi Brixton untuk membantu.
Brixton berdiri di sana, tangannya menggantung di udara. Ia merasa sangat tidak berguna. Ia yang selama ini memaksa Alana untuk melayaninya, kini ditolak bahkan untuk sekadar memberikan bantuan fisik. Alana benar-benar telah memutus semua ketergantungan padanya.
Puncaknya terjadi ketika Brixton mencoba membelikan perlengkapan bayi yang sangat mewah—ranjang bayi berlapis emas, pakaian dari desainer ternama, dan mainan-mainan mahal. Ia memenuhi ruang bayi yang baru saja didekorasi dengan barang-barang itu.
Ia membawa Alana ke ruangan itu, berharap melihat binar kekaguman. "Lihat, aku sudah menyiapkan semuanya. Anak kita akan memiliki yang terbaik."
Alana menatap ruangan yang penuh sesak dengan kemewahan itu. Ia tidak tersenyum.
"Barang-barangnya bagus, Brixton," ucap Alana pelan. "Tapi aku sudah membeli beberapa baju rajut sederhana dan ranjang kayu biasa dari toko di dekat pasar kemarin. Kurasa bayi tidak butuh emas, dia hanya butuh ruang yang tenang."
"Lemparkan saja barang-barang murah itu ke tempat sampah! Pakai yang aku belikan!" bentak Brixton, frustrasinya pecah menjadi kemarahan.
Alana menatapnya dengan tenang, matanya yang hijau zamrud tampak jernih tanpa rasa takut. "Kenapa kau sangat marah, Brixton? Kau ingin aku berterima kasih? Kau ingin aku merasa berhutang budi padamu lagi agar kau bisa menekanku?"
"Aku hanya ingin kau memperhatikanku!" teriak Brixton akhirnya, mengakui kelemahannya secara tidak sengaja.
Keheningan seketika menyelimuti ruangan itu. Alana menatapnya lama, lalu ia berjalan mendekat, berhenti tepat di depan Brixton. Ia tidak menyentuhnya, namun kehadirannya terasa sangat kuat.
"Kau memiliki seluruh duniaku dalam genggamanmu, Brixton," bisik Alana. "Kau punya hartaku, tubuhku, dan kau punya anak yang kukandung ini. Tapi kau sudah menghancurkan hatiku sejak hari pertama kita menikah. Kau sendiri yang mengusirku dari hidupmu. Kau sendiri yang memilih untuk memandangi foto Elena dan pergi ke bar dengan wanita lain."
Alana menarik napas dalam. "Sekarang, setelah aku belajar untuk hidup tanpa mengharapkan apa pun darimu, kenapa kau merasa terganggu? Kau seharusnya senang karena aku tidak lagi menangis di depanmu. Kau seharusnya senang karena aku tidak lagi mengemis cintamu."
"Alana, aku..."
"Kau tidak bisa mendapatkan apa yang sudah kau hancurkan, Brixton," potong Alana lembut. "Sekarang, jika kau permisi, aku ingin kembali ke taman. Bunga-bungaku lebih membutuhkanku daripada kau."
Alana berjalan keluar, meninggalkan Brixton sendirian di ruangan bayi yang mewah namun terasa hampa itu.
Brixton terduduk di lantai, di antara mainan-mainan mahal yang ia beli. Ia menyadari sebuah kebenaran yang mengerikan: ia bisa membeli apa pun di dunia ini, ia bisa memaksa siapa pun untuk tunduk padanya, tapi ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang pernah benar-benar tulus mencoba mencintainya meski ia menyakitinya berkali-kali.
Kini, Alana adalah ratu di dunianya sendiri yang sunyi, dan Brixton hanyalah penonton yang tidak diundang. Rasa frustrasinya kini berubah menjadi lubang hitam yang menghisap jiwanya. Ia menyadari bahwa diabaikan oleh Alana jauh lebih menyakitkan daripada dibenci. Karena dalam kebencian masih ada gairah, namun dalam pengabaian, yang ada hanyalah kematian rasa.
Malam itu, Brixton tidak pergi ke bar. Ia duduk di ruang kerjanya dalam gelap, menatap ke arah taman bunga Alana dari kejauhan, menyadari bahwa meskipun benihnya tumbuh di rahim wanita itu, hatinya telah pindah ke tempat yang tidak akan pernah bisa ia jangkau lagi.