"Aku membelimu seharga 10 miliar. Jadi, jangan harap bisa melarikan diri dariku, bahkan ke sekolah sekalipun."
Gwen (18 tahun) hanyalah siswi SMA tingkat akhir yang bercita-cita kuliah seni. Namun, dunianya runtuh saat ayahnya kabur meninggalkan hutang judi sebesar 10 miliar kepada keluarga terkaya di kota itu.
Xavier Aradhana (29 tahun), CEO dingin yang dijuluki 'Iblis Bertangan Dingin', memberikan penawaran gila: Hutang lunas, asalkan Gwen bersedia menjadi istri rahasianya.
Bagi Xavier, Gwen hanyalah "alat" untuk memenuhi syarat warisan kakeknya. Namun bagi Gwen, ini adalah penjara berlapis emas. Ia harus menjalani kehidupan ganda: menjadi siswi lugu yang memakai seragam di pagi hari, dan menjadi istri dari pria paling berkuasa di malam hari.
Sanggupkah Gwen menyembunyikan statusnya saat Xavier mulai menunjukkan obsesi yang tak masuk akal? Dan apa yang terjadi saat cinta mulai tumbuh di tengah kontrak yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Antar Jemput di Gang Gelap
Mulai berbisik-bisik secara rahasia, beberapa siswi di barisan depan membuat Gwenola merasa seolah seluruh sendi tulangnya menjadi lumpuh seketika. Ia segera menyembunyikan tangan kanannya ke balik punggung sambil menelan ludah dengan susah payah di depan papan tulis yang dingin. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya karena ia sadar bahwa kilauan berlian tadi adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal.
Guru matematika yang berdiri di sampingnya tampak mengerutkan dahi sambil menatap Gwenola dengan pandangan yang sangat penuh selidik. Suasana kelas yang tadinya riuh rendah kini berubah menjadi sunyi senyap seolah semua orang sedang menunggu penjelasan dari sang gadis. Gwenola merasa dunia di sekelilingnya berputar dengan sangat cepat hingga ia harus berpegangan pada pinggiran meja guru yang keras.
"Gwenola, ada apa dengan tanganmu?" tanya guru tersebut dengan suara yang terdengar sangat curiga.
Gwenola menggelengkan kepala dengan cepat sambil mencoba mengatur napasnya yang mulai terasa sangat sesak dan tidak beraturan. Ia memaksa sebuah senyuman kecil muncul di bibirnya yang pucat pasi agar tidak ada yang curiga lebih jauh lagi. Jemarinya di balik punggung terus meraba cincin itu, memastikan benda tersebut tidak akan terlihat lagi oleh mata-mata yang lapar akan gosip.
"Hanya bekas luka lama yang tidak sengaja terbentur pintu rumah tadi pagi," kilah Gwenola dengan nada bicara yang sangat gemetar.
Ia segera menyelesaikan soal di papan tulis dengan tulisan yang nampak sangat berantakan dan tidak beraturan sama sekali karena rasa takut yang luar biasa. Setelah dipersilakan kembali ke tempat duduk, Gwenola langsung menenggelamkan wajahnya di atas tumpukan buku pelajaran yang tebal. Sepanjang sisa pelajaran, ia merasa seolah ada ribuan jarum yang sedang menusuk punggungnya akibat tatapan tajam dari teman-teman sekelasnya.
Bel sekolah yang menandakan waktu pulang akhirnya berbunyi, namun hal itu justru membuat kecemasan Gwenola semakin meningkat berkali-kali lipat. Ia ingat perintah Xavier bahwa mobil jemputan akan menunggunya di gang gelap yang sunyi dan kotor tidak jauh dari sekolah. Gwenola berjalan keluar kelas dengan langkah yang sangat terburu-buru, menghindari sapaan dari siapa pun yang mencoba mendekatinya.
"Gwen, kau mau pulang bersama kami ke toko buku?" tawar seorang teman laki-lakinya yang dikenal sangat gigih mendekatinya.
Gwenola tersentak dan segera menggelengkan kepala dengan ekspresi wajah yang nampak sangat panik seolah sedang melihat sosok hantu. Ia tahu bahwa jika orang suruhan Xavier melihatnya berbicara dengan laki-laki, maka hukuman yang sangat berat akan segera menantinya di rumah mewah itu. Tanpa menjawab sepatah kata pun, Gwenola berlari sekencang mungkin menuju arah gang sempit yang sudah disepakati sebelumnya.
Hawa lembap dan aroma sampah yang menyengat segera menyambut kedatangan Gwenola saat ia memasuki wilayah gang gelap tersebut. Di ujung lorong yang suram, sebuah mobil hitam mewah dengan kaca yang sangat gelap sudah terparkir dengan mesin yang masih menyala halus. Gwenola merasa dadanya sesak melihat kendaraan yang nampak sangat mengancam itu sudah menunggu kedatangannya seperti pemangsa.
"Cepat masuk ke dalam sebelum ada orang lain yang melihatmu berada di sini!" perintah sebuah suara bariton dari balik kaca yang perlahan terbuka.
Gwenola terkejut saat menyadari bahwa Xavier sendiri yang berada di dalam mobil tersebut, bukan hanya sopir pribadinya seperti tadi pagi. Ia segera masuk ke kursi belakang dengan gerakan yang sangat kaku dan penuh dengan rasa cemas yang amat sangat mendalam. Di dalam kabin mobil yang sangat dingin itu, Xavier menatapnya dengan pandangan yang sangat menusuk hingga ke relung jiwanya.
"Kenapa kau terlambat lima menit dari waktu yang sudah aku tentukan?" tanya Xavier dengan nada suara yang sangat dingin dan rendah.
Gwenola hanya bisa menundukkan kepala sambil meremas ujung seragam sekolah menengah atas yang ia kenakan dengan sangat kuat. Ia tidak berani menceritakan tentang insiden cincin di kelas tadi karena ia tahu hal itu hanya akan memicu kemarahan sang pimpinan perusahaan. Atmosfer di dalam mobil mewah itu terasa sangat mencekam, jauh lebih menakutkan daripada badai yang melanda kota semalam.
"Tadi ada tugas tambahan yang harus aku selesaikan terlebih dahulu sebelum pulang," bohong Gwenola dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Xavier tidak menanggapi alasan tersebut, ia justru meraih tangan kanan Gwenola lalu menariknya dengan gerakan yang sangat kasar dan tiba-tiba. Ia memeriksa jari manis Gwenola seolah ingin memastikan bahwa segel kepemilikannya masih terpasang dengan sangat sempurna di sana. Seringai tipis yang nampak sangat licik muncul di wajah tampan pria itu saat ia melihat kilau berlian yang masih utuh.
"Ingatlah bahwa setiap detik hidupmu sekarang adalah milikku, dan aku tidak suka asetku membuang waktu secara percuma," ucap Xavier sambil mempererat cengkeramannya.
Gwenola meringis kesakitan saat kuku-kuku jari Xavier menekan kulit tangannya yang sangat halus hingga meninggalkan bekas kemerahan yang nyata. Ia merasa seolah dirinya benar-benar bukan lagi seorang manusia, melainkan hanya sebuah barang dagangan yang sangat mahal harganya. Tiba-tiba mobil berhenti secara mendadak di tengah jalan yang sangat sunyi karena ada sebuah kendaraan lain yang menghadang jalan mereka.
"Siapa yang berani menghalangi jalanku di saat seperti ini?" geram Xavier sambil membuka laci dasbor yang berisi sebuah benda logam hitam.
Gwenola terbelalak saat melihat Xavier mengeluarkan sebuah senjata api yang berkilat tajam di bawah cahaya lampu jalanan yang mulai meremang. Jantungnya berdegup sangat kencang karena ia menyadari bahwa kehidupan ganda yang ia jalani baru saja memasuki babak yang sangat berbahaya. Di luar sana, beberapa orang pria berbadan besar mulai turun dari mobil penghadang dengan membawa balok kayu yang sangat tebal.