NovelToon NovelToon
HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.

Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.

Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DARI JALANAN MENJADI PEMIMPIN DUNIA

Mentari pagi menyinari lokasi pembangunan Universitas Hadian di pinggiran Jakarta, yang kini telah mencapai tahap akhir. Qinara, yang sekarang berusia dua puluh satu tahun, berdiri di tengah kompleks bangunan yang megah—gedung kelas yang luas, perpustakaan yang besar, laboratorium sains yang modern, dan rumah sakit yang terpasang di dalam kampus. Dia mengenakan baju batik yang dibuat Laras dengan motif buku dan lampu, melambangkan pendidikan sebagai cahaya yang menerangi jalan. Di tangannya, dia memegang tongkat kayu Pak Santoso dan kotak pemberian ayahnya yang kini penuh dengan bukti-bukti pencapaian selama bertahun-tahun.

Pak Rio berdiri di sebelahnya, membawa laporan progres pembangunan. Matanya penuh kebanggaan yang tak terkatakan. "Qinara, Universitas Hadian akan siap dibuka dalam tiga bulan. Kita telah menerima pendaftaran dari lebih dari 2.000 alumni Sekolah Hadian dan anak-anak miskin dari seluruh Indonesia. Bahkan beberapa mahasiswa dari luar negeri ingin mendaftar—mereka mendengar tentang model pendidikan kita yang berbasis kasih sayang."

Qinara mengangguk, melihat pekerja yang sibuk menyelesaikan finishing bangunan. Cahaya mentari menyinari atap kaca perpustakaan, membuat ruangan di dalamnya terang dan nyaman. "Ya, Pak. Ini adalah lanjutan yang sempurna dari impian ayahmu. Dia tidak hanya ingin anak-anak bisa sekolah dasar—dia ingin mereka bisa mencapai potensi penuhnya, menjadi pemimpin yang mampu mengubah dunia."

Kabelo dari Afrika Selatan, yang sekarang telah menjadi koordinator proyek sekolah di benua Afrika, mendekatinya. "Kak Qinara, proyek di Afrika sudah mencapai 100 sekolah. Anak-anak di sana selalu bertanya tentangmu, tentang Universitas Hadian. Banyak dari mereka ingin melanjutkan studi di sini setelah lulus sekolah dasar."

Qinara tersenyum. "Kita akan membuat beasiswa khusus untuk mahasiswa dari luar negeri, Kabelo. Universitas Hadian harus menjadi tempat bagi anak-anak dari seluruh dunia untuk bertemu, berbagi ide, dan bekerja bersama-sama."

Sore hari, mereka berjalan ke Sekolah Hadian Jakarta untuk bertemu dengan alumni yang akan mendaftar ke Universitas Hadian. Siti, yang telah menjadi direktur Yayasan Hadian, telah mengumpulkan mereka di lapangan olahraga. Di antara mereka adalah Sari dari Papua—yang sekarang berusia sembilan belas tahun dan telah lulus sebagai siswa terbaik Sekolah Hadian Papua—and Johan dari Medan—yang telah menyelesaikan studi kedokteran dasar dan ingin melanjutkan ke spesialisasi anak.

"Siti, beritahu aku tentang calon mahasiswa," kata Qinara.

Siti membuka berkas yang dia bawa. "Kak, mereka semua memiliki cerita yang luar biasa. Sari ingin mengambil jurusan pendidikan, ingin membangun sekolah di daerah yang lebih terpencil di Papua. Johan ingin mengambil jurusan spesialisasi anak, ingin bekerja di rumah sakit Universitas Hadian untuk membantu anak-anak miskin."

Qinara melihat ke arah Sari dan Johan, yang tersenyum padanya. Dia merasa bangga—anak-anak yang dulu dia bantu sekarang siap untuk melangkah ke tahap berikutnya. "Kita akan mendukung mereka semua. Mereka adalah masa depan Universitas Hadian, masa depan Indonesia."

Di saat itu, Laras datang bersama dengan Aisha—yang sekarang berusia sembilan tahun dan sudah menjadi siswa terbaik di kelasnya. Aisha membawa lukisan baru yang dia buat—lukisan tentang Universitas Hadian yang berdiri di tengah banyak sekolah di seluruh dunia, dengan bintang terang di atasnya yang melambangkan ayahnya.

"Kak Qinara, ini untuk pembukaan universitas. Aku ingin menjadi mahasiswi di sini nanti, mengambil jurusan seni untuk menggambar cerita anak-anak yang kamu bantu," kata Aisha dengan antusias.

Qinara menerima lukisan itu dengan hati-hati dan memeluknya. "Kamu pasti bisa, Aisha. Universitas Hadian akan menunggu mu."

Keesokan harinya, Qinara terbang ke Swiss untuk menghadiri rapat komite penasihat global PBB untuk pendidikan anak-anak. Dia adalah ketua komite, dan rapat ini akan membahas rencana untuk mencapai tujuan bahwa setiap anak di dunia mendapatkan pendidikan hingga usia 12 tahun dalam lima tahun ke depan.

Di rapat, delegasi dari lebih dari 100 negara hadir. Qinara memberikan presentasi tentang model Sekolah Hadian dan bagaimana itu bisa diterapkan di seluruh dunia. Dia menunjukkan data bahwa lebih dari 90% alumni Sekolah Hadian melanjutkan pendidikan ke tingkat berikutnya, dan banyak dari mereka telah menjadi pemimpin komunitas.

"Pendidikan tidak hanya tentang buku dan ujian—itu tentang memberi kasih sayang, dukungan, dan harapan. Ketika anak-anak merasa dicintai dan dihargai, mereka akan bersemangat untuk belajar dan mencapai impian mereka," ucap Qinara, dan suara tepuk tangan meriah terdengar.

Setelah presentasi, menteri pendidikan dari beberapa negara menawarkan untuk bekerja sama dengan Yayasan Hadian untuk membangun sekolah di negaranya. Menteri dari Kenya berkata, "Qinara, modelmu sangat efektif. Kita ingin membangun 50 sekolah di Kenya dengan bantuanmu."

Qinara menyetujui dengan senyum. "Kita akan mulai merencanakan bulan depan. Bersama-sama, kita bisa mencapai tujuan kita."

Malam itu, Qinara berdiri di teras hotel di Swiss, memandang gunung-gunung yang ditutupi salju. Dia memegang kotak pemberian ayahnya dan lukisan Aisha. Dia membaca surat ayahnya sekali lagi:

"Tetap kuat, tetap cerdas, dan jangan pernah menyerah. Semua hartaku adalah milikmu, tapi warisan terbesar yang kurasa adalah keberanian untuk mencari kebenaran dan kasih sayang untuk membantu orang lain."

Dia menyenyum, menyadari bahwa warisan ayahnya telah tumbuh menjadi sesuatu yang luar biasa. Jaringan Sekolah Hadian sekarang telah mencapai 350 sekolah di 40 negara, membantu lebih dari 80.000 anak. Universitas Hadian akan segera dibuka, dan rencana untuk mencapai tujuan pendidikan global semakin dekat terwujud.

Beberapa minggu kemudian, Qinara kembali ke Indonesia untuk mempersiapkan pembukaan Universitas Hadian. Pada hari pembukaan, lebih dari 20.000 orang hadir—alumni, calon mahasiswa, guru, sukarelawan, delegasi PBB, dan tokoh masyarakat dari seluruh dunia. Pak Santoso, yang sekarang sudah berusia 92 tahun dan duduk di kursi roda, diantar ke panggung oleh Siti dan Rudi.

"Qinara, aku telah melihatmu tumbuh dari anak kecil yang menangis karena kehilangan ayah, menjadi pemimpin dunia yang mengubah hidup ribuan anak. Universitas Hadian adalah bukti bahwa impian bisa menjadi kenyataan. Ayahmu pasti bangga padamu—kamu telah melampaui semua harapannya," ucap Pak Santoso, dan semua orang menangis dengan senang.

Setelah pidato, presiden Indonesia yang hadir memberikan pidato dan melakukan upacara pemotongan pita. Dia memberikan penghargaan khusus kepada Qinara—"Bintang Mahaputra Adipradana"—penghargaan tertinggi untuk warga Indonesia yang memberikan kontribusi luar biasa bagi negara dan dunia.

"Qinara, kamu adalah pahlawan nasional dan pahlawan dunia. Kamu telah menunjukkan bahwa Indonesia bisa memberikan kontribusi besar bagi dunia. Kita bangga padamu," ucap presiden.

Suara tepuk tangan yang meledak berdiri di seluruh tempat, berlangsung selama lebih dari tiga puluh menit. Anak-anak dari Sekolah Hadian menyanyikan lagu "Cahaya Hati" yang disusun khusus untuk acara ini, dan semua orang bergandeng tangan, merayakan momen bersejarah ini.

Malam itu, Qinara pergi ke makam ayahnya bersama keluarga dan teman-temannya. Dia membawa pita yang dipotong saat pembukaan universitas dan lukisan Aisha. Dia duduk di dekat makam, membicarakan semua yang telah terjadi.

"Ayah, Universitas Hadian sudah dibuka. Lebih dari 2.000 mahasiswa akan mulai studi di sini bulan depan. Mereka akan menjadi guru, dokter, pengacara, dan insinyur yang akan membantu banyak orang. Sudah dua puluh satu tahun sejak kamu pergi, tapi kamu selalu ada di sini—dalam setiap halaman buku yang dibaca, setiap pelajaran yang diajarkan, setiap nyawa yang diselamatkan."

Dia melihat ke arah langit malam yang penuh bintang, menemukan bintang terang yang selalu dia anggap sebagai ayahnya. "Aku mencintaimu selamanya, ayah. Terima kasih telah memberiku impian yang besar dan kekuatan untuk mewujudkannya. Warisanmu akan hidup selamanya, sebagai cahaya yang menerangi jalanan masa depan bagi banyak orang."

Laras memeluknya dengan erat. "Qinara, aku bangga menjadi ibumu. Kamu telah membangun sesuatu yang abadi, sesuatu yang akan membantu generasi mendatang. Ayahmu pasti sangat bangga padamu."

Qinara membalik memeluk Laras. "Terima kasih, Ibu. Tanpa kamu dan semua orang—Pak Rio, Pak Santoso, Pak Slamet, Siti, Kabelo, dan semua yang percaya—aku tidak bisa melakukan ini. Kita adalah keluarga yang sebenarnya, dibangun dari hati dan kasih sayang yang abadi."

Mentari esok akan muncul, dan dengan itu, lebih banyak impian untuk dicapai dan lebih banyak cahaya untuk diberikan. Qinara tahu bahwa perjalanan hidupnya masih panjang, tapi dia siap untuk menghadapinya—dengan keberanian dari ayahnya, dukungan dari keluarga yang tercinta, dan tekad yang kuat untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Dia berdiri tegak, memegang kotak pemberian ayahnya dan tongkat kayu Pak Santoso, melihat ke arah masa depan yang terang dan penuh harapan—cahaya ayahnya selalu akan menerangkannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!