Seorang pria mati dengan penyesalan karena gagal menegakkan kebenaran.
Ia terlahir kembali sebagai pengacara magang yang diremehkan...dan mendapatkan Sistem Keadilan Absolut kemampuan untuk melihat kebohongan, mengungkap fakta tersembunyi, dan menentukan putusan paling adil.
Dari kasus kecil hingga konspirasi besar, ia mulai mengguncang dunia hukum yang korup.
Namun satu hal segera ia sadari...
Keadilan sejati tidak selalu sama dengan hukum.
Dan kali ini...dia yang akan menentukan mana yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Hakim Ketua Santoso segera menatap Arga dengan tatapan tajam.
"Pengacara Penggugat, menurut catatan resmi kepolisian, peristiwa itu tidak terjadi seperti yang Anda gambarkan. Mohon segera tunjukkan bukti yang sah dan valid!"
Pengacara Rina Wijaya langsung menyambar dengan penuh percaya diri, "Betul sekali Yang Mulia! Saya yakin Pengacara Penggugat sedang menuduh tanpa dasar dan memfitnah klien saya!"
"Pada hari kejadian, CCTV pihak pengelola MRT sedang dalam perbaikan dan tidak beroperasi. Lalu saya bertanya, bagaimana mungkin dia bisa mengetahui detail kejadian seakurat itu? Apakah dia hadir di sana menyaksikan semuanya secara langsung? Atau dia hanya mengarang cerita?"
"Selain itu, soal tuduhan bahwa klien saya menendang pangkal paha... mana mungkin dua wanita muda berani bertindak seberani itu melawan pria dewasa? Itu tidak masuk akal! Apakah ada bukti medis atau saksi yang mendukung?"
"Dan terakhir, catatan polisi tertulis jelas bahwa Laras dan Tania sudah meminta maaf. Anda bilang permintaan maaf mereka tidak tulus? Itu kan perasaan subjektif! Mana bukti fisiknya?"
"Tentang video di TokTok mereka, apakah di situ tertulis nama Bimo? Tidak kan? Jadi mana buktinya bahwa yang mereka bicarakan itu adalah Bimo?"
Rina menoleh ke arah Laras dan Tania, memberi kode.
"Laras, Tania, jelaskan pada Hakim yang Mulia, video di TokTok kalian itu tentang siapa sebenarnya?"
Laras langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat memelas dan dramatis.
"Jujur Pak Hakim... Hari itu saya memang bertemu dengan seorang pria mesum di pagi hari. Saya sudah memaksa dia menghapus foto dan minta maaf. Video TokTok saya itu tentang dia, BUKAN tentang Bimo sama sekali!"
"Terus kenapa Bimo ngotot banget sih? Mau cari sensasi ya? Mau naikkan nama diri? Sekarang malah saya dan Tania yang kena cyberbullying habis-habisan, hidup kami hancur... Kalau bukan ditahan sama keluarga dan teman-teman, rasanya saya sudah lompat dari gedung aja udah," ucap Laras dengan suara bergetar, seolah-olah dia yang paling menderita.
Tania langsung ikut menangis sejadi-jadinya, air mata beneran menetes seolah dia korban terzalimi.
"Iya Pak... Kenapa sih dia nggak bisa lupain aja? Justru Bimo itu yang duluan bikin video nyebut-nyebut nama kami! Saya jadi depresi berat, susah jalanin hidup normal, tiap hari dapat hinaan dan ancaman. Bimo, apa sih yang kamu mau dari kami?! Kami kan udah minta maaf! Mau kami sujud baru puas ha?!"
Rina Wijaya tersenyum penuh kemenangan.
"Sudah sangat jelas kan Yang Mulia? Klien sayalah yang menjadi korban sebenarnya. Karena keras kepalanya Bimo dan ingin mencari popularitas, mental klien saya hancur dan depresi. Justru kami membalikkan tuntutan! Kami menuntut Bimo minta maaf secara terbuka dan membayar ganti rugi tekanan mental serta biaya pengobatan sebesar 360 Juta Rupiah!"
Pembelaan Rina sangat jitu. Opini publik dan pandangan Hakim mulai bergeser ke sisi mereka. Ini persis strategi yang membuat Bimo kalah telak di sidang pertama.
Tanpa CCTV resmi, tanpa bukti fisik yang kuat, siapa bisa membantah? Rina yakin Arga sudah buntu dan tidak punya apa-apa.
Main-main sama gue? Lo tamat hari ini, bocah, batin Rina sambil menyeringai sinis ke arah Arga.
Hakim Santoso menatap Arga, "Pengacara Penggugat, apa tanggapan Anda? Tunjukkan buktinya sekarang atau sidang akan kami putuskan berdasarkan bukti yang ada."
Suasana menjadi hening. Netizen di kolom komentar mulai pasrah dan pesimis.
[Udah tamat kayaknya ceritanya... Kalah lagi nih.]
[Iya lah, kan catatan polisi resmi bilang udah minta maaf. Susah banget buktiin tulus atau enggaknya.]
[Sia-siah tadi berani banget nuduh sana sini, ternyata bukti kosong melompong.]
[Mending dari awal sewa pengacara senior, nggak bakal kayak gini nasibnya.]
Namun, berbeda dengan ekspresi orang lain, Arga justru tersenyum santai. Sangat santai.
"Hakim Ketua, pihak kami mengajukan KEBERATAN."
"Siapa bilang saya tidak punya bukti? Buktinya ada semuanya di tangan saya!"
"Pertama, soal klaim mereka ketemu 'cowok mesum' di pagi hari. Saya punya bukti rekaman CCTV dan absensi asrama kampus!"
Arga meletakkan berkas ke meja hakim.
"Terbukti pada tanggal 4 September pukul 22.58 sampai tanggal 5 September pukul 16.46, Laras dan Tania tidak pernah keluar dari kamar asrama perempuan Gedung 7! Bagaimana mungkin mereka bisa naik MRT di pagi hari? Terbang? Atau maksudnya ketemu orang itu di dalam mimpi?"
"Jadi jelas sekali, video TokTok yang mereka bilang 'bukan tentang Bimo' itu adalah PALSUTOTAL! Itu emang ditujukan buat Bimo doang!"
"KEBERATAN!" seru Rina Wijaya mencoba memotong.
"KEBERATAN DITOLAK!" bentak Arga lebih dulu. "Hakim Ketua, saya keberatan! Pernyataan saya belum selesai tapi pengacara lawan dengan sengaja dan jahat memotong pembicaraan saya! Saya menuntut agar pengacara lawan dikeluarkan dari ruang sidang sekarang juga!"
Hakim Santoso melirik Rina dengan tidak suka, "Cukup! Pengacara Pembela, jangan seenaknya mengganggu proses persidangan. Ini peringatan keras untuk Anda."
Rina mendengus kesal tapi terpaksa diam.
Arga melanjutkan dengan suara lantang, "Dan yang paling penting... Semua orang pikir karena CCTV MRT rusak, berarti tidak ada bukti kejadian saat itu? SALAH BESAR!"
"Meskipun CCTV resmi rusak, tapi ada saksi mata yang merekam kejadian aslinya! Silakan putar videonya!"
Arga menyerahkan flashdisk ke petugas.
"Putar bukti video!" perintah Hakim Santoso.
BRUTTT...
Layar besar di ruang sidang langsung menyala.
Video itu diambil dari HP seorang penumpang lain pada sore hari kejadian. Kualitasnya cukup jelas.
Terlihat dengan sangat gamblang...
Laras dan Tania berteriak histeris menuduh Bimo.
Dan yang bikin semua orang ternganga... TERLIHAT JELAS momen di mana kaki Laras melayang menendang pangkal paha Bimo dengan keras!
Bimo langsung membungkuk kesakitan, wajahnya memerah menahan sakit, dan HP-nya dirampas secara paksa!
Dan bagian yang paling mematikan... saat polisi melakukan mediasi dan meminta mereka minta maaf!
Di video terdengar sangat jelas suara Laras dengan nada ketus, malas, sambil mendengus dan menoleh ke arah lain:
"Yaa.. maaf, gitu kan?! Puas?!"
Lalu Tania dengan wajah jutek, tangan di pinggang, berteriak dengan nada mengejek:
"Iya maaf! Oke?! Maaf gitu kan?! Apa lagi yang mau?! Jangan deket-deket aku ya nanti aku lapor pelecehan seksual lho! Pergi sana! Udah kan aku bilang maaf?! Petugas kan udah denger aku minta maaf? Apa lagi sih yang kalian mau dari aku?! Hah?!"
lanjut thor ditunggu upnya 👍
semangat author/Determined/
tapi kali ini, saya akan lawan💪
semoga endingnya nggak mengecewakan🤭