Menjadi istri Ferdiansyah adalah ujian kesabaran tanpa batas bagi Sekar. Di rumah mertuanya, ia tak lebih dari babu yang harus melayani keluarga suaminya dengan jatah uang belanja hanya 25 ribu rupiah sehari. Ferdi selalu berdalih ekonomi sulit dan menuntut Sekar untuk terus berhemat, bahkan hanya untuk membeli bedak seharga 30 ribu pun Sekar harus menerima hinaan menyakitkan.
Ferdi ternyata menyimpan rahasia besar. Ia naik jabatan dengan gaji fantastis yang ia sembunyikan rapat-rapat. Tak hanya pelit pada istri sah, Ferdi ternyata berselingkuh dengan bawahannya di kantor. Tak mau hancur, Sekar mulai bangkit secara diam-diam. Lewat bantuan Amelia, ia belajar menjadi penulis novel sukses yang menghasilkan pundi-pundi rupiah dari balik layar ponselnya. Saat suaminya sibuk berkhianat dan mertuanya terus menghina, Sekar justru sedang membangun kerajaan hartanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kena Batunya
“Hah??? Serius kamu, Ris???”
Bu Nimas langsung melotot kaget begitu mendengar ucapan Riska. Mukanya berubah tegang. Curiga yang selama ini cuma jadi dugaan, sekarang mulai terasa seperti kenyataan.
Tanpa banyak pikir lagi, Bu Nimas langsung ikut masuk ke kamar Sekar bersama putrinya.
Hari itu mereka berdua benar-benar seperti detektif gagal yang lagi kesetanan.
Kamar Sekar langsung dibongkar habis-habisan.
Lemari dibuka paksa. Baju-baju dilempar sembarangan ke kasur dan lantai. Laci meja rias dibolak-balik. Bahkan tas-tas Sekar ikut diperiksa satu per satu.
“Mana ya…” gumam Riska sambil ngos-ngosan.
“ Iya mana yah? Ibu udah capek begini.”
Bu Nimas juga mulai berkeringat.
“Huuu..Dua puluh juta itu banyak lho, Bu. Masa gak ada jejaknya sih?” gerutu Riska sambil terus mengacak tumpukan pakaian.
Bu Nimas duduk sebentar di pinggir kasur sambil mengusap lehernya yang pegal.
“Ibu jadi bingung sendiri. Apa jangan-jangan kita salah nuduh?”
“Ih, Ibu!” Riska langsung sewot. “Jelas-jelas Mbak Sekar sekarang sering jajan. Dari mana coba uangnya?”
Bu Nimas terdiam.
Kalau dipikir-pikir memang aneh.
Sekar yang biasanya cuma makan tahu tempe sekarang malah sering beli makanan enak di luar.
“Teman aku lihat Mbak Sekar makan bubur di alun-alun pagi tadi, Bu” lanjut Riska meyakinkan. “Mana mungkin Amelia yang katanya temannya itu dia terus yang bayarin Mbak Sekar?”
Mata Riska lalu bergerak ke atas lemari.
Tiba-tiba matanya membesar.
“BUUUU!”
“Apa????”
“Itu atas lemari belum dicek!”
Bu Nimas langsung mendongak.
“Eh iya juga…”
Riska langsung semangat lagi.
“Pasti disembunyiin di atas sana!”
“Kalau dimakan tikus gimana?” celetuk Bu Nimas polos.
“Ya ampun, Bu! Fokus dulu dong! Bisa-bisanya mikir gitu.”
Riska langsung menyeret kursi kecil meja rias mendekati lemari.
“Pegangin ya, Bu! Jangan sampai goyang!”
“Iya iya ……. dasar cerewet!”
Riska pun mulai naik ke atas kursi sambil berjinjit. Tangannya meraba-raba bagian atas lemari yang penuh debu.
Sedikit lagi…
Sedikit lagi…
Namun tiba-tiba………..BRAAAK!!!!!
Pintu kamar terbuka keras.
“KALIAN NGAPAIN DI KAMARKU HAAA ????”
Suara Sekar menggelegar sampai membuat Bu Nimas dan Riska langsung loncat kaget.
Saking kagetnya, tangan Bu Nimas refleks melepaskan kursi.
Akibatnya….
“IBUUUUU!!”
GUBRAAAK!
Riska jatuh telungkup ke lantai dengan suara keras.
“Aduhhh!! Mulutkuuu!”
Riska langsung meraung sambil memegangi bibirnya yang terasa nyut-nyutan.
Sekar berdiri di ambang pintu sambil melotot tajam.
Tatapannya dingin.
Marah.
Kamar yang tadi dia rapikan sekarang berubah seperti kapal pecah.
Bajunya berserakan di mana-mana.
Laci terbuka semua.
Kasur berantakan.
Bahkan mukena miliknya terinjak di lantai.
Seketika emosi Sekar langsung naik sampai ubun-ubun.
“Heh, Sekar! Ini semua gara-gara kamu!” teriak Bu Nimas panik sambil membantu Riska bangun. “Lihat tuh bibir adik iparmu sampai berdarah!”
Sekar malah tertawa sinis.
“Salah sendiri! Siapa suruh masuk kamar aku sembarangan? Memang kalian cari apa?”
“Kami cuma cari…..”
“Mau cari uang Mas Ferdi yang hilang kan?” potong Sekar tajam.
Bu Nimas langsung diam.
Riska juga mendadak salah tingkah.
Sekar melangkah masuk sambil menyilangkan tangan di dada.
“Cari aja terus. Sampai lebaran monyet juga gak bakal ketemu.”
Karena memang uang itu tidak dia simpan di rumah.
Semuanya aman di rekening baru miliknya.
Dan mereka tidak akan pernah tahu.
“Halah! Ini rumah Ibu!” bentak Bu Nimas akhirnya. “Ibu bebas masuk kamar mana aja!”
Sekar cuma mengangguk pelan.
“Oh gitu ya…”
Senyum tipis muncul di bibirnya.
Aneh.
Tenang.
Tapi justru bikin Bu Nimas merinding sendiri.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Sekar tiba-tiba keluar kamar.
Riska langsung mengusap bibirnya yang mulai bengkak.
“Kok tumben Mbak Sekar diem aja?” bisiknya heran.
“Paling takut sama Ibu.” jawab Bu Nimas sok yakin walau sebenarnya deg-degan.
Mereka pun mulai berjalan menuju pintu kamar.
Namun baru dua langkah mereka langsung membeku.
Sekar sudah berdiri di depan pintu lagi.
Kali ini di tangannya ada tongkat pemukul kasti dari kayu.
Tatapan matanya tajam banget sampai bikin Riska langsung pucat.
Sekar memukul-mukul pelan tongkat itu ke telapak tangannya.
Plak.
Plak.
Plak.
“Mau pergi gitu aja setelah bikin kamarku kayak kapal pecah?”
Suasana langsung mencekam.
“Ma-mau apa kamu?” suara Bu Nimas mulai bergetar.
Sekar tersenyum tipis.
“Beresin.”
“Hah?”
“ Maksudnya??”
“Semua.”
Sekar menunjuk kamar yang berantakan.
“Balikin kondisi kamarku seperti semula.”
Bu Nimas langsung melotot gak percaya.
“Kamu nyuruh ibu mertua sendiri beres-beres??? Kamu mau durhaka jadi mantu?”
“Kalau salah ya salah.” Sekar balas menatap tajam. “Aku juga manusia Bu. Punya privasi. Nggak usah bawa-bawa durhaka.”
“Heh!”
“Jangan mentang-mentang ini rumah ibu terus seenaknya bongkar barang aku!”
Suara Sekar kali ini benar-benar berbeda.
Tidak ada nada takut. Tidak ada nada mengalah. Yang ada cuma kemarahan yang selama ini dia tahan.
Sekar lalu mengangkat tongkat kastinya sedikit.
“Kalau gak diberesin…”
BRAAAK!
Tongkat itu dihantamkan keras ke pintu sampai Bu Nimas dan Riska jerit kecil ketakutan.
“Aku pastiin kalian keluar dari kamar ini sambil benjol semua!”
Riska langsung gemetaran.
“I-iya! Kita beresin!”
Bu Nimas yang biasanya galak sekarang malah ciut.
“Iya Sekar… jangan emosi…”
Sekar langsung menunjuk tumpukan baju di lantai.
“Cepat!”
Akhirnya dengan wajah dongkol dan kelas, Bu Nimas serta Riska jongkok membereskan kamar Sekar.
Baju-baju dilipat lagi.
Laci dirapikan lagi.
Kasur dibenerin lagi.
Sedangkan Sekar berdiri sambil mengawasi mereka seperti mandor galak.
Dalam hati dia puas bukan main. Akhirnya sekali ini mereka kena batunya juga. Selama ini mereka seenaknya menindas dia. Sekarang gantian.
Tiba-tiba….
“Lho… ada apa ini?”
Suara Ferdiansyah terdengar dari depan kamar.
Pria itu baru pulang kerja.
Namun langkahnya langsung berhenti melihat pemandangan aneh di depan mata.
Ibunya dan Riska lagi jongkok beresin kamar.
Sedangkan Sekar berdiri sambil pegang tongkat kasti.
Ferdiansyah sampai mengernyit bingung.
“Ini apaan? Sekar ada apa ini? Ibu…Riska???”
Melihat kakaknya datang, Riska langsung pasang mode paling drama.
“Mas Ferdiii…” tangisnya mendadak pecah. “Tolongin Riska…”
Sekar langsung memutar bola mata malas. Sekar yakin, adiknya itu akan membuat drama ikan terbang lagi dengan mengadu pada kakaknya. Menceritakan hal yang tidak-tidak tentang dirinya. Kenapa ibu dan adiknya itu bisa ada di kamar mereka? Kenapa Riska sampai nangis lebay begitu….
Ha….Dia yakin suaminya itu akan membela ibu dan adiknya. Tapi Sekar adalah Sekar. Dia tidak mau disalahkan atau ditindas lagi selama ia di jalan yang benar.
Sekar Sari hanya bersandar santai di tembok kamar sambil melipat tangan di dada. Tatapannya dingin. Sama sekali tidak terlihat bersalah. Dia menunggu pertunjukkan sore ini. Pasti seru
kapoooooooook