Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Pukul tujuh malam. Kediaman Adyatama terasa tegang. Mama Reva mengenakan gaun sutra ungu yang mahal dan perhiasan berlian terbesar yang ia miliki. Sementara Ayah Haris tampak gagah dengan setelan jas hitam elegan.
Di ruang keluarga, Kirana duduk diam. Ia mengenakan gaun yang paling sederhana di antara mereka, tetapi tetap anggun: long dress berwarna deep emerald yang memeluk tubuhnya dengan elegan. Rambutnya diurai dan hanya dihiasi anting-anting mutiara kecil. Ia memilih pakaian yang tidak mencolok, mencoba menjadi invisible di acara yang bukan urusannya ini.
Tiba-tiba, Bianca muncul dari tangga.
Hening.
Bianca tampak seperti bintang film yang baru turun dari limusin. Wajahnya dipoles riasan smoky eyes yang dramatis, rambutnya ditata ikal sempurna, dan ia mengenakan gaun merah menyala yang sangat menonjol. Di bahunya, tas champagne yang baru dibeli tergantung, dan kakinya menjejak lantai dengan heels 12 cm.
"Bagaimana, Ma? Ayah?" tanya Bianca, berputar sekali di depan orang tuanya.
"Sempurna, Sayang! Kamu benar-benar akan menaklukkan Raditya malam ini!" seru Mama Reva bangga, matanya berbinar.
Ayah Haris mengangguk. "Kamu sangat cantik, Bian. Kirana, kamu juga harus lebih ceria. Jangan muram seperti itu."
Kirana tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja, Yah." Ia mendongak, menatap Bianca. "Gaun yang bagus, Bi. Itu warna yang berani."
"Tentu saja berani. Aku harus berani, Mbak. Ingat, aku sedang berburu!" balas Bianca, nadanya angkuh, lalu ia melirik gaun Kirana dengan pandangan meremehkan. "Mbak kenapa pakai warna hutan begitu? Jangan sampai keluarga Mahardika berpikir kita kekurangan uang sampai-sampai Mbak harus memakai gaun vintage seperti itu."
Mama Reva langsung menimpali. "Iya, Kirana. Kenapa kamu tidak memakai gaun baru saja? Gaunmu terlalu kusam. Tidak cocok untuk makan malam di rumah sebesar itu."
"Aku nyaman dengan ini, Ma. Dan aku tidak datang untuk pamer," jawab Kirana tenang, senyumnya tidak goyah. Ia tidak mau ambil pusing. Baginya, pakaian tidak menentukan nilai dirinya.
Ayah Haris menghentikan perdebatan itu. "Sudah! Kita harus berangkat. Pak Rustam sudah menyiapkan mobil untuk kita. Ayo!"
**
Mobil sedan mewah milik Haris Adyatama melaju mulus di jalanan elit Kota Surabaya. Di dalam mobil, suasana terasa kontras antara ketegangan formal dan kegembiraan yang meluap-luap.
Di kursi belakang, Bianca duduk tegap di antara Ayah Haris dan Mama Reva, gaun merah menyalanya menyita perhatian.
"Pak Rustam, tolong hati-hati ya, jangan sampai mobil ini kotor," ujar Bianca kepada Pak Rustam, supir lama keluarga Adyatama, yang duduk di belakang kemudi. Nadanya jelas meremehkan, seolah kotoran adalah penyakit menular yang dibawa oleh supirnya.
Pak Rustam hanya mengangguk sopan. "Siap, Nona Bianca."
Di kursi depan, di samping Pak Rustam, duduk Kirana. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menikmati pemandangan lampu-lampu malam yang berkilauan. Pakaiannya yang emerald kontras dengan euforia adiknya yang memantul di kaca.
"Aduh, Ma! Aku tidak sabar! Aku yakin rumah Mahardika itu pasti lebih mewah dari yang ada di majalah-majalah properti," celoteh Bianca riang. "Aku sudah membayangkan menjadi Nyonya muda di sana. Aku akan mengadakan pesta setiap minggu!"
Mama Reva tersenyum sambil menepuk punggung tangan Bianca dengan lembut. "Pelan-pelan, Sayang. Jangan terburu-buru. Ingat, kamu harus tampil penuh kesopanan dan keanggunan. Jangan sampai mempermalukan kita di depan keluarga Mahardika. Ini adalah acara penting untuk perjodohanmu dengan Raditya."
"Tentu, Ma. Aku akan menjaga diriku dengan baik. Aku tidak akan mungkin mengecewakan Mama dan Ayah. Aku akan memastikan Raditya jatuh cinta padaku malam ini juga," jawab Bianca, yakin seratus persen.
Ayah Haris tersenyum bangga. Ia sudah membayangkan merger bisnis yang akan segera terjadi.
Sementara itu, Kirana hanya tersenyum tipis di balik kegelapan mobil. Euforia Bianca terdengar seperti dengungan nyamuk di telinganya. Baginya, kemewahan itu hanya jerat, dan ia sudah muak dengan jaring-jaring sutra yang membungkus keluarganya.
"Mbak Kirana, kenapa diam saja? Apa kamu cemburu, Mbak?" sindir Bianca tiba-tiba. "Sudahlah, kamu tidak usah khawatir. Kalau aku sudah menikah dengan Mas Raditya, aku akan pastikan kamu tetap boleh bekerja di kafe itu. Aku bahkan akan mentraktirmu kopi setiap hari."
Kirana menoleh ke belakang, menatap adiknya dengan tatapan tenang. "Aku menikmati malamku, Bi. Dan aku tidak cemburu. Semoga rencanamu berhasil dan kamu bahagia."
Jawaban Kirana yang datar itu justru membuat Bianca kesal. Gadis itu selalu tenang, selalu membuat dirinya terlihat superior secara moral.
"Terserah," gumam Bianca, kembali fokus merapikan tata rambutnya.
**
Mobil keluarga Adytama memasuki kawasan paling eksklusif di kota Surabaya. Kompleks rumahnya terlihat lebih seperti resort mewah. Saat mobil Ayah Haris berhenti di sebuah gerbang tinggi yang dihiasi patung-patung seni modern, Bianca dan Mama Reva menahan napas kagum.
“Ma… ini beneran rumah orang?” bisiknya, suara meninggi karena terlalu takjub. “Kaya resort… no, no… lebih mewah dari resort!”
“Iya sayang, kamu benar. Mama terkejut.” Mama Reva mengangguk antusias.
Kirana tidak bereaksi sebesar adiknya. Ia duduk tenang di samping Pak Rustam, memandangi deretan rumah bergaya arsitektur modern tropis yang terlihat seperti karya seni hidup. Jalanan selebar lapangan bola, pepohonan rimbun, pagar batu bertekstur, dan lampu-lampu taman yang diarahkan khusus untuk menonjolkan setiap detail artistik di kawasan itu.
Mobil berhenti di depan sebuah gerbang setinggi enam meter, dihiasi patung abstrak hitam yang tampak seperti manusia dengan sayap patah. Gerbang itu otomatis terbuka, memperlihatkan halaman luas dengan jalan batu abu yang mengarah ke penthouse besar yang berdiri di tepi tebing buatan.
Bianca menahan napas sampai bahunya naik. “Ma! Lihat itu kolamnya! Oh my God, itu infinity pool kan?!”
Ayah Haris tersenyum sambil menggeleng. “Ya Tuhan, Bianca… kamu belum masuk sudah heboh.”
Saat mobil berhenti, dua sosok elegan sudah berdiri di pintu depan. Rivaldo Mahardika dan Dela Mahardika. Sosok pria setengah baya berwibawa yang tidak perlu bicara untuk terlihat berkelas, dan wanita anggun dengan postur sempurna, rambut terangkat rapi, wajah tanpa cela.
Aura mereka… berbeda. Aura orang yang lahir untuk memimpin. Keduanya pasangan yang elegan, berwibawa, dan sangat karismatik.
Papi Rivaldo tersenyum ramah sambil membuka tangan. “Selamat datang. Ayo, silakan masuk.”
Bianca hampir lupa cara berjalan. Ia buru-buru merapikan gaun merah wine yang dipakainya.
“Mama… aku gimana? Rambutku oke? Make-up ku masih on?”
Mama Reva memberi anggukan kecil. “Sempurna.”
Begitu mereka masuk, ruang tamu itu seperti pameran arsitektur. Dinding kaca dari lantai hingga langit-langit menampilkan panorama Surabaya malam hari. Angin sejuk dari balkon masuk melalui celah tirai tipis. Kolam infinity memantulkan cahaya lampu kota, seolah langit kedua berada di bawah mereka.
Kirana terpaku. Ada rasa canggung merayap di kulitnya. Bukan karena tidak terbiasa pada kemewahan. Tapi karena ia merasa sedang memasuki markas keluarga yang terlalu besar untuk kehidupannya.
“Kalian tidak terjebak macet, kan?” tanya Papi Rivaldo sambil merangkul pundak Ayah Haris, mengarahkannya menuju ruang makan.
“Tidak sama sekali, Pak Rivaldo. Jalannya lancar,” jawab Ayah Haris sopan.
Ruang makan membuat napas Kirana membeku. Meja makan marmer hitam sepanjang hampir empat meter, lilin tinggi, porselen putih berlis emas, dan gelas kristal yang memantulkan cahaya lembut. Aroma rosemary, daging panggang, dan wine memenuhi udara.
Bianca langsung memilih kursi di samping Mami Dela, memamerkan gaun merahnya sambil tersenyum manis. Kirana duduk di antara ayah dan mama tirinya, berusaha setenang mungkin.
Saat semua siap, Mama Reva memecah keheningan. “Bu Dela, kalau boleh tahu, Raditya tidak ikut bergabung?”
Mami Dela menunjukkan senyum halus, sedikit meminta maaf. “Maaf sekali… Raditya mendadak melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Seharusnya dia ada di sini, tapi… kalian tahu bagaimana pekerjaannya.”
Bianca membelalakkan mata. “Ke… luar negeri? Malam ini juga?” Nadanya tampak kecewa, tapi lebih ke arah impian-impian glamornya yang buyar.
“Kalau aku jadi keluarga mereka… aku pasti sering ikut dia ke luar negeri…” batinnya berbisik.
Ayah Haris melanjutkan perkenalan. “Ini kedua putri saya, Kirana… dan Bianca.”
Kirana memberi salam yang sopan. “Senang bertemu dengan Pak Rivaldo dan Bu Dela.”
Bianca melengkungkan bibir, memberikan senyum elegan. “Senang bertemu juga. Tempatnya luar biasa indah.”
Papi Rivaldo menoleh ke Bianca. “Jadi… Bianca sekarang sedang apa?”
“Masih kuliah, Pak. Jurusan desain interior di universitas swasta,” jawabnya dengan nada bangga.
“Oh, bagus sekali,” puji Mami Dela. “Desain interior itu penting. Suatu hari bisa membantu mengembangkan bisnis ayahmu.”
Bianca tersipu-sipu. “Iya, Bu. Terima kasih banyak.”
Papi Rivaldo kemudian menatap Kirana. “Lalu kamu, Kirana?”
“Sekarang saya bekerja di kafe, Pak. Sebagai barista.”
“Barista?” Mami Dela tampak penasaran. “Apa Kirana juga kuliah?”
Kirana tersenyum. “Sudah lulus, Bu.”
“Berapa usiamu?” tanya Papi Rivaldo.
“Dua puluh tujuh.”
Papi Rivaldo mengangguk pelan. Matanya sempat memperhatikan cara Kirana berbicara—sederhana, tenang, tidak dibuat-buat.
“Dewasa.” ujarnya singkat namun bermakna.
Bianca melirik Kirana cepat. Ada rasa tak nyaman menyusup dalam tatapannya. Seolah ia tidak suka lawan “pertandingan tak terlihatnya” dipuji halus meskipun sedikit.
Para orang tua melanjutkan obrolan tentang bisnis, peluang kerja sama, hingga masa depan kedua keluarga itu.
Namun… tanpa mereka sadari, seseorang mendengarkan dari balik pilar marmer besar di dekat meja makan.
Sosok pria tinggi dengan kaos hitam polos, celana kargo gelap, dan rambutnya sedikit berantakan seperti baru keluar dari ruang gym. Sorot matanya tajam, seolah bisa membaca orang hanya dengan melihat.
Dia adalah Raditya Mahardika atau… Rio, nama samarannya.
Ia baru saja pulang dari melatih supir-supir perusahaan Mahardika Group—pekerjaan yang ia lakukan sebagai penyamaran untuk memahami perilaku karyawannya. Dan saat membuka pintu belakang penthouse, ia mendengar suara-suara asing.
Awalnya ia ingin menyelinap ke kamar, tapi dengan santai dan waspada, ia memposisikan diri di tempat yang tidak terlihat, tapi cukup dekat untuk mendengar semuanya.
Matanya kemudian tertumbuk pada dua sosok perempuan di meja makan itu.
Pertama: Bianca. Gaun merah, make-up tajam, gesture penuh percaya diri, senyum manis yang… terlihat penuh perhitungan. Seperti seseorang yang tahu bagaimana memikat targetnya.
Kedua: Kirana. Long dress berwarna deep emerald, rambutnya diurai dan hanya dihiasi anting-anting mutiara kecil, raut wajah lembut dan kalem. Tidak terlalu menonjol, tapi justru itu yang membuatnya sulit tidak dilihat.
Satu penuh glamor dan satu penuh ketenangan. Raditya mengevaluasi mereka seperti orang yang membaca buku terbuka.
Dari balik pilar itu, Raditya mencuri detik demi detik untuk menganalisis keluarga yang diagendakan untuk dijodohkan dengannya. Tapi ia tersenyum tipis. Sebuah senyum yang hanya muncul saat ia sedang bermain-main dalam pikirannya.
“Jadi… ini calon ‘keluargaku’, ya?”
***