NovelToon NovelToon
Pria Pembuly Yang Menjadi Takdirku

Pria Pembuly Yang Menjadi Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: nana_riana

Dulu, Alya hanya gadis pendiam yang selalu menjadi sasaran ejekan di sekolah. Hari-harinya dipenuhi rasa takut, terutama karena Reno,ketua geng paling disegani sekaligus pria yang paling sering membuat hidupnya terasa menyakitkan. Bagi Alya, Reno adalah luka yang ingin ia lupakan selamanya.
Namun takdir mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun berlalu.
Kini, Alya telah berubah menjadi wanita mandiri dan sukses, sementara Reno bukan lagi remaja arogan seperti dulu. Di balik sikap dinginnya, Reno menyimpan penyesalan yang tak pernah sempat ia ungkapkan. Pertemuan mereka kembali membuka kenangan lama, menghadirkan benci yang perlahan berubah menjadi perasaan yang tak terduga.
Bisakah seseorang yang pernah menyakitimu menjadi rumah terbaik untuk hatimu? Atau masa lalu akan tetap menjadi penghalang di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21 — Menjauh Demi Cinta

Sudah tiga hari sejak malam di rooftop sekolah itu.

Tiga hari tanpa kabar,tanpa pertemuan,tanpa suara Reno yang biasanya selalu memenuhi hidup Alya.

Dan anehnya, keheningan itu terasa jauh lebih menyakitkan dari pada pertengkaran mereka.

Alya mencoba kembali menjalani rutinitas seperti biasa.Datang ke kantor,menyelesaikan revisi desain.Alya tersenyum saat diajak bicara rekan kerja.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Siska pelan saat melihat Alya melamun lagi.

Alya tersenyum kecil memaksa.

“Aku baik.”

“Kak Alya…” Siska terlihat ragu. “Pak Reno juga nggak kelihatan baik.”

Deg.

Jantung Alya langsung terasa tidak nyaman.

“Maksudnya?”

“Beliau nggak masuk kantor tiga hari.” Siska menunduk pelan. “Dan tadi pagi aku lihat beliau wajahnya capek banget."

Alya langsung menggenggam jemarinya sendiri pelan karena ia tahu Reno pasti hancur sekarang.

Dan bagian paling menyebalkan adalah

Hatinyalah yang paling khawatir.

Sementara itu, Reno sedang duduk sendirian di ruang kerjanya dengan mata lelah.

Tumpukan dokumen di meja bahkan belum disentuh.

Pikirannya terlalu penuh oleh Alya.

Setiap kali memejamkan mata, Reno selalu teringat tatapan kecewa wanita itu malam itu.

Dan itu terasa lebih menyakitkan daripada apa pun.

Tok.

Tok.

“Masuk.”

Vanessa masuk sambil membawa kopi.

“Aku takut kamu mati kelaparan di sini.”

Reno tertawa kecil hambar.

“Nggak lucu.”

Vanessa meletakkan kopi di meja lalu duduk di depannya.

“Kalian masih belum baikan?”

Reno diam cukup lama sebelum akhirnya menjawab lirih,

“Alya butuh waktu.”

Tatapan Vanessa perlahan melembut.

“Aku belum pernah lihat kamu seserius ini sama seseorang.”

“Aku juga belum pernah sesayang ini sama seseorang.”

Jawaban itu terdengar begitu tulus hingga Vanessa hanya bisa menghela napas kecil.

“Terus sekarang kamu mau gimana?”

Reno menatap kosong ke arah jendela.

“Aku mulai mikir mungkin Dimas benar.”

Vanessa langsung mengernyit.

“Apaan sih?”

“Kalau Alya terus sama aku…” Reno tertawa kecil pahit, “yang ada dia cuma terus terluka.”

Suasana ruangan mendadak hening.

Dan untuk pertama kalinya, Vanessa melihat keraguan besar di mata Reno.

Malam harinya, Alya pulang lebih larut dari biasanya karena lembur.

Saat keluar gedung kantor, hujan rintik-rintik mulai turun.

Alya baru saja hendak memesan taksi online ketika sebuah payung hitam tiba-tiba terbuka di atas kepalanya.

Deg.

Alya langsung mengenali aroma parfum itu.

Reno.

Pria itu berdiri di sampingnya dengan wajah lelah namun tatapan yang tetap lembut seperti biasa.

“Kamu belum pulang?” tanya Alya pelan.

“Nungguin kamu.”

Suasana langsung canggung.

Sudah beberapa hari mereka tidak bertemu seperti ini.

Dan jantung Alya langsung berdebar kacau lagi.

“Aku bisa pulang sendiri.”

“Aku tahu.”

“Tapi?”

Reno tersenyum kecil.

“Aku cuma pengen pastiin kamu aman."

Hati Alya langsung terasa nyeri.

Karena bahkan setelah semuanya hancur, Reno masih memikirkan dirinya terlebih dahulu.

Hujan mulai turun sedikit lebih deras.

Namun mereka tetap berdiri diam di depan gedung kantor tanpa tahu harus bicara apa lagi.

“Alya.”

“Hm?”

Reno menatap wanita itu lama sekali sebelum akhirnya berkata pelan,

“Aku mau mundur.”

Deg.

Napas Alya langsung tercekat.

“Apa?”

Tatapan Reno penuh rasa sakit.

“Kalau itu bikin hidup kamu lebih tenang.”

Air mata Alya langsung menggenang seketika.

“Jadi… kamu nyerah?”

“Aku nggak pernah nyerah sayang sama kamu.” Suara Reno mulai serak. “Tapi aku capek lihat kamu terus nangis gara-gara aku.”

Hujan turun semakin deras.

Dan Alya merasa dadanya benar-benar sakit sekarang.

Karena mendengar Reno ingin pergi ternyata jauh lebih menyakitkan daripada semua amarahnya.

“Aku pikir…” suara Alya mulai bergetar, “kamu bakal terus bertahan.”

Reno tertawa kecil pahit.

“Aku mau.” Tatapannya melemah penuh luka. “Tapi kalau bertahan malah bikin kamu hancur, aku harus gimana?”

Air mata Alya akhirnya jatuh.

Karena ia bisa melihat sendiri betapa Reno sedang berusaha melepaskan orang yang paling dicintainya.

Dan itu bukan sesuatu yang mudah.

“Aku nggak tahu…” bisik Alya lirih.

Reno menggenggam payung lebih erat.

“Aku bakal tetap ada kalau kamu butuh aku.” Tatapannya begitu lembut malam itu. “Tapi aku nggak akan maksa kamu lagi.”

Setelah mengatakan itu, Reno perlahan menyerahkan payungnya pada Alya.

“Jangan sakit.”

Lalu pria itu berjalan pergi di tengah hujan tanpa menoleh lagi.

Dan untuk pertama kalinya Alya merasa mungkin ia benar-benar akan kehilangan Reno.

“Aku nggak mau kehilangan kamu…”

Bisikan itu keluar begitu saja dari bibir Alya.

Langkah Reno langsung terhenti di tengah hujan.

Namun pria itu tidak langsung berbalik.

Alya sendiri tampak terkejut dengan ucapannya barusan.

Air matanya terus jatuh sambil menggenggam payung yang diberikan Reno.

“Alya…” suara Reno terdengar lirih.

“Aku benci semua masa lalu itu.” Napas Alya mulai tidak teratur. “Aku benci kenyataan kalau kamu yang mulai semuanya.”

Reno menunduk pelan.

Karena ia tahu dirinya pantas dibenci.

“Tapi…” suara Alya semakin kecil, “aku juga nggak bisa bayangin hidup aku tanpa kamu sekarang.”

Deg.

Jantung Reno langsung berdegup keras.

Pria itu perlahan berbalik menatap Alya lagi.

Hujan membasahi tubuhnya sepenuhnya, namun tatapannya hanya tertuju pada wanita itu.

“Alya.”

“Aku capek…” Alya menangis semakin keras. “Kenapa harus kamu orangnya?”

Kalimat itu membuat dada Reno terasa sesak.

Karena andai bisa memilih, ia juga tidak ingin menjadi orang yang paling menyakiti sekaligus paling mencintai Alya.

Reno akhirnya berjalan mendekat perlahan.

Namun kali ini ia berhenti beberapa langkah di depan Alya, seolah takut wanita itu kembali menjauh.

“Aku nggak minta kamu langsung maafin semuanya,” ucap Reno pelan. “Aku cuma pengen tetap ada di hidup kamu.”

Tatapan Alya penuh luka.

“Gimana caranya aku lupa semua rasa sakit itu?”

Reno tersenyum kecil pahit.

“Mungkin kamu nggak akan pernah lupa.”

Jawaban jujur itu justru membuat Alya semakin menangis.

Karena Reno tidak mencoba membela dirinya lagi.

Pria itu menerima semua kebenciannya.

“Aku juga nggak bisa lupa,” lanjut Reno lirih. “Aku ingat semua hal buruk yang pernah aku lakuin ke kamu.”

Suasana di bawah hujan itu terasa begitu menyakitkan.

Namun di saat bersamaan, ada ketulusan yang akhirnya terlihat jelas di antara mereka.

“Alya.”

“Hm?”

“Kalau suatu hari nanti kamu benar-benar nggak bisa maafin aku…” mata Reno perlahan memerah, “aku bakal tetap bersyukur pernah dicintai sama kamu.”

Deg.

Air mata Alya jatuh semakin deras.

Karena cinta Reno terasa terlalu besar untuk diabaikan begitu saja.

Dan sebelum Alya sempat menahan dirinya, wanita itu tiba-tiba melangkah maju lalu memeluk Reno erat di tengah hujan.

Tubuh Reno langsung membeku sesaat.

“Alya…” ucap Reno

“Aku masih marah sama kamu,” bisik Alya sambil menangis di dada Reno. “Masih sakit banget.”

Reno langsung memeluknya balik perlahan.

Erat.

Penuh hati-hati.

“Aku tahu.”

“Tapi jangan pergi dulu…”

Suara Alya benar-benar terdengar rapuh.

Dan detik itu juga, Reno sadar meski hubungan mereka retak, hati Alya ternyata masih memilih dirinya.

1
tinuet'z
sangat menarik
partini
hoki Banggt si Reno di cinta ugal-ugalan wehhh mau sakiti Ampe darah" tetep cinta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!