Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Rendra Aditya adalah putra sulung pemilik Darmawan Grup. Hampir semua orang di perusahaan percaya bahwa suatu hari nanti pria itu akan menggantikan Agung Darmawan sebagai direktur utama. Namun berbeda dengan dugaan banyak orang, Rendra sebenarnya tidak terlalu tertarik terjun langsung mengurus perusahaan keluarga. Ia lebih suka bergerak di balik layar, mengawasi investasi dan mengurus bisnis pribadinya yang berkembang cukup pesat. Karena itu, kehadirannya di kantor pusat Darmawan Grup selalu menjadi perhatian besar.
Pagi itu suasana kantor utama terasa sedikit berbeda.
Beberapa pegawai berbisik saat melihat beberapa orang berpakaian formal memasuki ruang arsip perusahaan. Mereka adalah tim audit internal pilihan Rendra sendiri. Selama beberapa hari terakhir mereka bekerja diam-diam memeriksa dokumen keuangan, aliran dana, dan laporan pengeluaran dari berbagai anak perusahaan.
Semua itu bermula karena Clara.
Adiknya yang keras kepala itu terus mendesak agar dilakukan audit internal independen. Clara bahkan terang-terangan mengatakan bahwa ia tidak percaya pada auditor internal pilihan ayah mereka sendiri.
“Kalau orang-orang ayah yang memeriksa, hasilnya pasti dibersihkan dulu,” kata Clara waktu itu dengan nada kesal.
Rendra sempat menghela napas panjang mendengar tuduhan adiknya. Bagaimanapun juga, Agung Darmawan adalah sosok yang sangat dihormati di dunia bisnis. Namun Clara tetap bersikeras.
“Aku tidak peduli. Aku hanya ingin semuanya diperiksa dengan jujur.”
Pada akhirnya Rendra mengalah. Setelah mendapat izin langsung dari ayahnya, ia mengirim orang-orang kepercayaannya untuk melakukan audit.
Dan kini hasilnya mulai terlihat.
Di ruang kerja sementaranya, Rendra duduk sambil membaca lembar demi lembar laporan yang baru diberikan bawahannya. Wajahnya yang biasanya tenang perlahan berubah serius.
“Jadi ini temuannya?” tanyanya datar.
“Benar, Pak Rendra,” jawab salah satu auditor. “Kami menemukan aliran dana yang tidak wajar.”
Rendra mengangkat pandangannya.
“Jelaskan.”
Auditor itu segera membuka beberapa dokumen.
“Perusahaan utama mengirim dana ke beberapa anak perusahaan dengan alasan operasional dan pengembangan proyek. Namun sebagian dana ternyata dialihkan lagi ke perusahaan lain.”
“Perusahaan mana?”
Pria itu menarik napas pelan sebelum menjawab.
“Perusahaan milik pak Surya.”
Ruangan mendadak hening.
Rendra menatap laporan itu cukup lama. Tatapannya tajam namun tetap tenang. Ia terbiasa menghadapi angka dan permainan bisnis, tetapi pola transfer dana ini jelas mencurigakan.
“Jumlahnya?”
“Sangat besar jika diakumulasi selama dua tahun terakhir.”
Rendra kembali membaca rincian transaksi. Nominal demi nominal terpampang jelas di hadapannya. Ada beberapa tanda tangan persetujuan dari pimpinan anak perusahaan. Namun tidak ada nama Tony di sana.
“Tidak ada hubungan langsung dengan Tony?” tanya Rendra lagi.
“Belum ada bukti yang mengarah ke sana.”
“Belum ada,” ulang Rendra pelan.
Ia lalu menutup map laporan itu.
“Siapkan semua salinan data. Saya akan bicara langsung dengan ayah.”
“Baik, Pak.”
Tanpa membuang waktu lagi, Rendra segera pergi menuju kantor pusat Darmawan Grup.
Sementara itu di divisi finance, Clara sedang memijat pelipisnya sendiri sambil menatap layar komputer dengan wajah putus asa.
“Astaga...” gumamnya pelan.
Amanda yang duduk di meja sebelah melirik heran.
“Kenapa?”
“Aku lupa save pekerjaanku kemarin.”
Amanda langsung menahan napas.
“Yang laporan pengeluaran itu?”
Clara mengangguk lemas.
“Semua hilang.”
Amanda langsung merasa bersalah.
“Maaf... aku kira kamu sudah menyimpannya sebelum pergi makan siang sama Tony.”
Clara menjatuhkan kepalanya ke meja.
“Kenapa hidupku begini menyedihkan?”
Amanda tertawa kecil.
“Karena kamu terlalu sibuk jatuh cinta.”
Clara langsung mendelik.
“Amanda.”
“Oke, oke. Tapi serius, kemarin wajahmu seperti orang habis memenangkan undian.”
Clara menghela napas panjang sebelum kembali mengetik ulang pekerjaannya. Jarinya bergerak cepat di atas keyboard meski jelas terlihat kesal.
Belum sampai setengah pekerjaan selesai, beberapa pegawai tiba-tiba mulai berbisik cukup heboh.
“Itu mobil Pak Rendra, kan?”
“Serius? Pak Rendra datang?”
“Jarang sekali beliau muncul di sini.”
Clara langsung mengangkat kepala.
“Kak Rendra?”
Amanda ikut menoleh ke arah luar ruangan.
“Sepertinya benar.”
Clara langsung berdiri tanpa berpikir panjang.
“Hei, pekerjaanmu belum selesai,” protes Amanda.
“Nanti saja!”
“Kamu benar-benar anak kesayangan keluarga konglomerat. Bisa kabur kapan saja.”
Clara sudah tidak mendengarkan lagi. Ia buru-buru keluar dari ruangan dan menuju lift.
Pikirannya dipenuhi rasa penasaran.
Hasil audit pasti sudah keluar.
Di lantai paling atas, suasana kantor Agung Darmawan jauh lebih tenang dibanding bagian lain perusahaan.
Pria paruh baya itu sedang duduk santai di kursinya ketika Rendra masuk membawa map tebal berisi hasil audit.
“Kau datang juga,” kata Agung tenang.
Rendra langsung duduk di depan meja ayahnya.
“Aku sudah menerima hasil audit.”
Agung tersenyum kecil.
“Dan?”
Rendra menyerahkan map tersebut.
“Ada aliran dana mencurigakan dari perusahaan utama dan beberapa anak perusahaan.”
Agung membuka dokumen itu tanpa terlihat terkejut sedikit pun.
“Tujuannya perusahaan milik keluarga Tony,” lanjut Rendra.
Agung membaca beberapa halaman lalu tersenyum tipis.
“Aku sudah tahu.”
Rendra langsung mengernyit.
“Sudah tahu?”
“Ayah sudah memantaunya cukup lama.”
Jawaban itu membuat Rendra terdiam beberapa detik.
“Kalau Ayah sudah tahu, kenapa dibiarkan?”
Agung menutup map perlahan.
“Karena Ayah sedang menunggu.”
“Menunggu apa?”
“Dalang utamanya.”
Tatapan Rendra berubah serius.
“Maksud Ayah?”
“Data ini hanya mengarah pada beberapa pimpinan anak perusahaan. Mereka memang terlibat, tapi Ayah yakin ada orang lain yang mengatur semuanya dari belakang.”
Rendra menyandarkan tubuhnya perlahan.
“Dan Ayah belum menemukannya.”
“Belum.”
“Kenapa tidak langsung bertindak pada mereka dulu?”
Agung tersenyum kecil.
“Kalau Ayah bergerak terlalu cepat, orang di belakang mereka akan kabur.”
Rendra terdiam cukup lama. Ia memahami logika itu, tetapi tetap merasa heran.
“Kalau begitu kenapa Ayah mengizinkan audit internal?”
Agung memijat dahinya pelan.
“Semuanya gara-gara Clara.”
Baru saja pintu terbuka pelan.
Clara masuk dengan napas sedikit terburu-buru.
“Kak Rendra benar-benar di sini...” gumamnya.
Rendra menoleh sekilas.
“Kau datang cepat sekali.”
“Tentu saja. Aku ingin tahu hasil audit.”
Clara lalu melihat map di atas meja.
“Itu hasilnya?”
Agung menghela napas panjang.
“Kemarilah.”
Clara mendekat perlahan. Wajahnya penuh rasa penasaran.
“Ada apa sebenarnya?” tanyanya.
Agung menatap putrinya beberapa saat sebelum bicara.
“Ayah sebenarnya sudah mengetahui soal aliran dana itu sejak lama.”
Mata Clara langsung melebar.
“Apa?”
“Ayah sedang menyelidikinya diam-diam.”
“Kenapa Ayah tidak bilang padaku?”
“Karena penyelidikannya belum selesai.”
Clara terlihat tidak percaya.
“Jadi selama ini Ayah tahu ada masalah?”
Agung mengangguk pelan.
Clara langsung menatap Rendra lalu kembali ke ayahnya.
“Kalau Ayah sudah tahu, kenapa membiarkan semuanya berjalan?”
“Ayah sedang menunggu bukti yang lebih besar.”
Clara mulai merasa dadanya tidak nyaman.
“Lalu Tony...”
Agung langsung memotong.
“Belum ada bukti yang mengarah pada Tony.”
Clara terdiam.
“Data audit hanya menunjukkan keterlibatan beberapa pimpinan anak perusahaan dan perusahaan milik orang tua Tony,” lanjut Agung. “Tapi tidak ada bukti bahwa Tony ikut terlibat.”
Clara perlahan menundukkan kepala.
Ia teringat semua tuduhan dan kecurigaan yang selama ini ia simpan diam-diam. Semua rasa marahnya pada Doni tiba-tiba terasa sangat memalukan.
“Jadi...” suaranya mengecil. “Tony mungkin benar-benar tidak tahu apa-apa?”
“Tidak juga, justru dia bisa jadi dalangnya” jawab Agung tenang.
Rendra memperhatikan adiknya cukup lama sebelum akhirnya bicara.
“Karena itulah Ayah kesal saat kau memaksa audit dilakukan sekarang.”
Clara menggigit bibirnya sendiri.
“Aku hanya ingin kebenaran.”
“Ayah tahu,” jawab Agung lembut. “Tapi terkadang kebenaran tidak bisa didapat dengan terburu-buru.”
Ruangan kembali hening.
Clara tampak gelisah. Untuk pertama kalinya sejak semua masalah ini dimulai, keyakinannya mulai goyah.
“Kalau Tony benar-benar tidak bersalah...” gumamnya pelan.
Rendra menyilangkan tangan.
“Maka seseorang sedang memanfaatkan keluarganya.”
Clara langsung mengangkat kepala.
“Maksud Kakak?”
“Perusahaan orang tuanya menerima dana ilegal. Itu fakta. "Dan Tony kemungkinan terlibat sangat besar.”
Agung mengangguk pelan.
“Dan itulah yang sedang Ayah cari tahu.”
Clara terduduk perlahan di sofa dekat meja ayahnya. Pikirannya terasa kacau.
Selama ini ia percaya Doni menyembunyikan sesuatu. Ia bahkan sampai meminta audit khusus demi membongkar semuanya. Namun sekarang justru Tony orang yang dia sukai adalah orang yang menggelapkan dana.
Ironis sekali hidup manusia. Sedikit kecurigaan saja bisa membuat orang merasa seperti detektif paling hebat sedunia, lalu lima menit kemudian sadar ternyata hanya berlarian sambil membawa asumsi seperti ayam kehilangan arah.
“Aku...” Clara menunduk pelan. “Aku tidak tahu harus percaya apa lagi sekarang.”
Agung menatap putrinya dengan lembut.
“Karena itu Ayah menyuruhmu berhenti ikut campur dulu.”
“Tapi Ayah tidak pernah menjelaskan apa pun.”
“Karena Ayah ingin melindungimu.”
Clara langsung mengangkat kepala.
“Melindungiku?”
“Kalau orang di belakang semua ini sadar bahwa keluarga kita sudah mengetahui terlalu banyak, keadaan bisa berbahaya.”
Rendra menambahkan dengan nada serius.
“Orang yang mampu memindahkan dana sebesar itu selama bertahun-tahun jelas bukan orang sembarangan.”
Clara menelan ludah pelan.
Untuk pertama kalinya ia benar-benar menyadari bahwa masalah ini jauh lebih besar dari sekadar manipulasi laporan keuangan biasa.
Agung lalu berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati jendela besar di ruangannya.
“Mulai sekarang jangan bertindak sendiri lagi.”
Clara terdiam.
“Ayah tidak ingin kau terluka hanya karena terlalu keras kepala.”
Kalimat itu membuat Clara perlahan menundukkan kepala.
Untuk sesaat ia merasa seperti anak kecil yang baru sadar bahwa dunia nyata jauh lebih rumit dibanding yang ia bayangkan.
Sedangkan di sisi lain ruangan, Rendra kembali membuka laporan audit dengan wajah serius.
Permainan ini ternyata jauh lebih dalam daripada dugaan mereka.
Dan seseorang di luar sana pasti mulai menyadari bahwa Darmawan Grup sudah semakin dekat menemukan kebenaran.