Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vano mode Ngambek
Malam itu, Aelira melirik takut-takut ke arah sofa. Di sana, Ravian duduk dengan kaki terentang, kepala bersandar, dan wajah kusut.
Cowok itu menunduk ke HP bermain games.
“Van, masih marah?” tanya Aelira pelan.
Ravian tak menjawab. Tak menoleh. Tak bergeming.
Aelira menunduk, menggigit bibirnya. Lalu memberanikan diri bersuara lagi, “Kamu ke sini, dong! Aku mau ngomong sama kamu.”
Ravian sama sekali tidak menggubris.
“Ya udah…” Aelira menyibak selimutnya. “Aku aja yang ke situ.”
Ravian mendecak pelan.
“Yaudah, yaudah. Gue yang ke situ.” Dengan malas, cowok itu akhirnya berdiri dan berjalan menghampiri, seperti anak kecil yang akhirnya menurut tapi tetap mau terlihat kesal.
Aelira diam-diam tersenyum menang, kemudian menggeser tempat duduk di ranjang—memberi ruang.
“Om Linyi tadi ke sini, bareng temen-temen kamu juga—jengukin aku,” ucap Aelira pelan membuat Ravian hampir mengamuk karena Aelira baru cerita. “Kamu habis marah-marah, ya?” lanjutnya bertanya.
Ravian mendengus.
“Mereka suruh gue klarifikasi. Biar fans tenang. Biar image gue aman.”
Aelira mengangguk pelan. “Tapi kamu nggak mau?”
Cowok itu menoleh cepat. Sorot matanya tajam—suaranya keras. "Jelas enggak."
Aelira menatap Ravian lama, lalu menghela napas—membuka HP-nya dan menunjukkan layar sosial medianya.
“Lihat, deh!”
Mata Ravian menyipit, lalu mengambil HP itu.
Matanya menyapu komentar jahat yang menusuk.
“Kalo bener Ravian pacaran sama cewek itu, gue unfollow!”
“Ih, cewek kampungan banget. Mana pantas sama Ravian.”
“Cewek ini siapa sih, norak banget deket-deket Ravian gue.”
“Ravian gak mungkin selera rendah gini.”
“Gue gak percaya sebelum Ravian klarifikasi sendiri.”
“Pansos doang, dasar muka numpang!”
Rahangnya mengencang. Nafasnya mulai memburu. "Brengsek! Gue bakal cari orang-orang ini."
Aelira buru-buru memeluk lengannya dan menempelkan pipinya ke bahu Ravian—membuat cowok itu terdiam seketika. Detak jantungnya yang tadinya keras mulai mereda, digantikan rasa hangat yang menyebar dari pelukan lembut itu.
“Enggak usah marah-marah, Van. Mending klarifikasi aja, ya?” Dia membujuk dengan suara paling manis yang pernah Ravian dengar. “Yang manis, oke? Bilang aja aku temen kecil kamu gitu~”
Ravian menatap Aelira dengan tatapan tajam. “Temen kecil pala lo.”
“Aku malu tau dibilang pacar kamu,” Aelira menjawab sambil memainkan ujung selimut. “Kan kamu idola, harus jaga citra—”
Wajah Ravian langsung membara. Tangannya mencengkeram lengan Aelira pelan tapi posesif.
“Ngomong gitu sekali lagi gue beneran cium lo di depan semua wartawan.”
Aelira mendelik. “Ya udah, klarifikasi dikit aja, ya? Bilang aja aku sahabat kamu dari kecil, yang kamu sayang. Kasian fans kamu pasti pada patah hati~” Dia mencium pipi Ravian dengan cepat. CUP! “Satu kali.”
Ravian menahan napas, matanya melebar. Wajahnya memerah, jantungnya berdebar kencang—tapi dia tetap mencoba bersikap dingin. Padahal dalam hati, cowok itu sudah meleleh.
“Eli, jangan gitu. Gue lagi marah.” Decak Ravian kesal, tapi matanya menghindar karena gengsi.
CUP!!
“Dua kali.” Aelira mendaratkan ciuman lembut di pipinya lagi. “Aku diserang netizen, masa kamu tega sih liat aku stres, nggak fokus belajar?” tanyanya serius dengan mata berkilat.
Ravian menunduk. Nafasnya berat. Tangannya secara refleks meraih jari-jari Aelira dan menggenggamnya erat. “Gue bukan tega. Gue cuma…”
“Cuma apa, Van?”
“Cuma nggak rela lo diperlakuin kayak gitu. Padahal lo cewek paling berharga di dunia buat gue.” Suaranya lirih, nyaris seperti bisikan.
Aelira meleleh mendengarnya. Dia menarik dagu Ravian supaya menoleh—lalu menunjukkan senyuman puppy eyes-nya yang paling mematikan. “Klarifikasi, ya? Sekali ini aja. Ya ya ya? Untuk aku?”
Ravian memejamkan mata frustasi, menarik napas panjang. Dia menggenggam erat tangan Aelira, lalu mencium punggung tangannya pelan.
“Lo satu-satunya orang yang bisa bikin gue begini, tau nggak?” bisiknya di sela jemari Aelira. “Gue yang keras kepala, gue yang nggak pernah denger kata orang—tiba-tiba lumer kayak es krim kena matahari cuma karena lo panggil ‘Van’ sama lo lirik pake mata kerbau lo itu.”
Aelira terkekeh. “Mata kerbau?”
“Iya. Mata kerbau paling manis sejagat raya. Cuma lo yang punya.” Ravian mendengus kecil. “Makanya lo berani banget manja-manja ke gue. Padahal lo tau gue nggak pernah bisa nolak lo.”
Lalu dia menarik tengkuk leher Aelira dan mencium—melumat bibir Aelira sesaat, penuh, membuat Aelira membeku sekaligus meleleh dalam satu waktu.
“Fine, gue kalah. Gue bakal klarifikasi. Puas?” Ravian tersenyum sinis, tapi matanya berkaca-kaca lembut.
Aelira berdehem dan gelagapan kecil. Wajahnya merona. “O-oke.”
Ravian tersenyum miring dan mendekatkan wajah—bibirnya nyaris menyentuh telinga Aelira. “Sini, cium lagi! Satu aja. Gue masih ngambek, lho. Mana tau dengan ciuman gue jadi nggak ngambek lagi.”
“Nggak mau. Kamu kan udah mau klarifikasi.” Aelira buru-buru menaruh wajahnya di bantal.
Tapi Ravian tertawa kecil—suara beratnya terdengar sangat dekat. “Udah tau. Tapi gue suka digituin.”
Aelira bergumam dari balik bantal, “Dasar Vano manja.”
Dan Ravian—yang sedetik lalu masih tampak dingin dan jutek—kini tersenyum lebar seperti anak kecil yang berhasil mencuri permen. Dia membelai rambut Aelira pelan, jemarinya mengusap lembut pelan.
“Ya, karena yang bisa buat gue manja cuma lo, Eli. Cuma lo.”
---
Beberapa hari kemudian, di konferensi pers:
Ravian menggenggam mic, menatap kamera dengan dingin—tapi tangannya menggenggam erat tangan Aelira di bawah meja.
“Gue klarifikasi satu kali. Perempuan ini—Aelira—bukan cuma temen kecil gue.”
Wartawan gempar.
“Dia adalah...” Ravian berhenti, menoleh ke Aelira yang panik menggeleng kecil.
Cowok itu tersenyum miring.
“Dia adalah orang yang bisa bikin gue nurut. Cuma dia. Sekian.”
Tanpa memberi kesempatan lanjutan, Ravian menggenggam pergelangan tangan Aelira dan menariknya pergi—meninggalkan ruangan yang bergemuruh.
“RAVIAN, MAKSUD ANDA APA?!”
“RAVIAN, JELASKAN!”
Di dalam mobil, Aelira menatap Ravian dengan dada naik turun. “Itu bukan klarifikasi! Itu malah tambah—”
“Gue janji klarifikasi. Nggak janji bakal ngejelasin.” Ravian memasang sabuk pengaman untuk Aelira—wajahnya sangat dekat. “Dan gue nggak pernah bohong. Emang cuma lo yang bisa buat gue nurut.”
Mobil melaju. Aelira terdiam, tapi sudut bibirnya naik tanpa bisa disembunyikan.
Ravian menggenggam tangannya erat sepanjang perjalanan—dan tidak melepaskannya sedetik pun.