NovelToon NovelToon
Sistem: Peluang 100%

Sistem: Peluang 100%

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Naik Kelas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]

Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Misi Darurat

Malam distrik Barat terasa seperti kuburan beton. Sepi keparat yang bikin telinga berdenging.

Fais menggerakkan kakinya. Menelan aspal hitam di bawah sol sepatunya.

Tugas rutin. Misi harian lari lima puluh kilometer.

Langkahnya stabil. Sangat stabil. Paru-parunya menarik oksigen dalam ritme mekanis yang kejam.

Tidak ada emosi. Pikirannya kosong melompong. Bersih seperti lantai barak setelah disikat habis-habisan.

Tapi jangan salah. Tiap pijakan kakinya melampaui batas wajar manusia. Ia melesat lebih cepat dari angin yang menyapu jalanan basah.

Lampu jalanan kuning berkelebat satu demi satu. Menjadi garis cahaya buram di ekor matanya.

Ia membelah jalan belakang ruko yang lembap. Menyelip masuk ke gang sempit yang bau kencing. Mengitari jalur drainase distrik Barat tanpa menurunkan tempo sedikit pun.

Lalu, rentetan itu terhenti.

Ting.

Layar antarmuka merobek pandangannya. Suara notifikasi menancap tajam di gendang telinga.

Bukan warna biru neon. Warnanya merah. Merah darah yang memuakkan.

[MISI DARURAT TERPICU]

[Selamatkan target terluka.]

Teks itu berkedip. Menampilkan deretan angka yang tidak masuk akal di bagian bawah.

[Hadiah:10% Probabilitas, 10 Tahun Pengalaman Tempur, Kecepatan x2.]

Langkah Fais mati. Berhenti total. Sol sepatunya berdecit panjang, menggores genangan air di atas aspal.

Tatapannya menajam. Otot rahangnya mengeras pelan.

Otaknya mencerna deretan teks itu dengan cepat. Sistem ini pelit. Sangat pelit. Tidak pernah sekalipun benda abstrak di matanya ini memberikan hadiah sebrutal ini secara cuma-cuma.

Sepuluh tahun pengalaman tempur. Kecepatan dikali dua.

Satu kesimpulan logis memukul telak kepalanya. Hadiah sebesar ini berarti ancamannya juga tidak normal.

Ia akan menghadapi sesuatu yang berskala besar. Sesuatu yang mematikan.

Napas Fais terhela perlahan.

Dunia di sekitarnya mendadak berhenti berputar.

Waktu melambat. Sangat lambat. Tetesan air hujan dari ujung seng ruko turun mengambang di udara, seolah menolak untuk menyentuh tanah.

Persepsinya ditarik melar hingga satu detik terasa seperti berjam-jam yang membeku.

Tanpa membuang sisa waktu yang mengendap, Fais membuka inventaris dimensinya.

Gerakannya terukur. Efisien. Tidak ada satu milimeter pun otot yang membuang kalori sia-sia.

Udara di depan perutnya berdesir aneh.

Tangan kanannya merogoh kekosongan. Menarik keluar gagang logam dingin. Pistol semi-otomatis hitam legam.

Disusul deretan magazine penuh peluru padat.

Tangannya masuk lagi. Menarik baton besi sekeras baja. Pisau taktis bermata ganda yang ujungnya haus darah.

Semuanya berpindah tempat dalam hitungan kedipan mata. Terpasang rapi, mengunci di sabuk taktis hitam yang melingkari pinggangnya.

Terakhir, sebuah tas kecil perlengkapan medis lapangan ia lekatkan kuat-kuat di sisi kiri sabuknya.

Tetesan air hujan tadi akhirnya menabrak aspal. Pecah. Waktu kembali berjalan normal.

Tidak ada kepanikan di wajah Fais. Nol.

Sama sekali tidak ada keringat dingin yang menetes dari pelipisnya.

Semakin gila situasinya, semakin beku isi kepalanya. Pengalaman tempur bertahun-tahun yang disuntikkan sistem merasuki tiap serat sarafnya. Insting bertahan hidup mengambil alih kemudi secara otomatis.

Layar di pandangannya berubah liar.

Untuk pertama kalinya sejak ia mendapatkan sistem ini, dua fungsi intinya meledak bersamaan. Bekerja sangat agresif.

Analisis Jejak. Analisis Probabilitas.

Deretan data tumpang tindih menghajar retinanya. Arah jejak darah di tanah. Estimasi rute pelarian dari utara. Titik buta persembunyian. Kemungkinan celah penyergapan. Probabilitas ancaman dari sudut buta.

Informasi muntah di depan matanya.

Kaki Fais bergerak. Mengikuti panduan panah neon yang mengarah ke himpitan ruko gelap di ujung jalan.

Ia menembus lorong sempit. Bau sampah membusuk perlahan digantikan oleh bau lain.

Jejaknya berhenti tepat di atas penutup gorong-gorong besi berkarat.

Fais berlutut. Jari-jarinya mengait pada lubang besi tua itu. Dengan satu tarikan tanpa suara, pelat seberat puluhan kilo itu tergeser pelan.

Bau itu seketika menampar hidungnya. Bau darah segar. Bau daging terbakar yang aneh.

Di bawah sana, dalam kegelapan yang lembap, dua sosok meringkuk rapat.

Seorang wanita dengan pakaian kotor berlumur cairan merah gelap. Ia memeluk erat seorang pria muda.

Napas Fais tertahan sedetik. Matanya menyapu kondisi pria muda itu.

Pria itu setengah termutilasi. Separuh tubuhnya hancur seolah baru saja dimasukkan ke dalam mesin penggiling.

Tapi bukan itu yang membuat Fais terdiam.

Pria muda itu masih hidup.

Dagingnya basah. Menggeliat. Serat-serat otot merah menyala merayap lambat. Menjahit robekan tubuhnya sendiri secara mengerikan.

Regenerasi paksa yang melawan akal sehat.

Layar di matanya berdenging pelan.

[Analisis Jejak aktif.]

[Alya Renata]

[Reno Renata]

[Identifikasi: Inhumane Gen.]

Wanita itu tersentak. Matanya yang merah menyala menatap Fais.

Tatapan itu memancarkan aura membunuh yang putus asa. Tubuhnya gemetar hebat, menutupi adiknya bagai induk serigala yang tersudut di ujung tebing.

Kewaspadaannya berada di tingkat maksimal. Trauma dan teror yang mengejarnya entah dari neraka mana belum menguap dari kepalanya.

Fais tidak bicara. Ia membiarkan tubuhnya jatuh ringan ke dalam selokan bau itu.

Langkahnya pelan. Tenang. Tangannya perlahan merogoh sabuk taktis.

"Jangan maju," suara wanita itu bergetar parau.

Fais mengabaikannya. Tangannya menarik keluar perlengkapan medis. Ia berlutut di sebelah wanita itu tanpa peduli pada ancamannya.

"Tahan napas Anda. Aku mengunci pembuluh darah utamanya," ucap Fais datar.

Tangannya bergerak merobek kemejanya sendiri untuk mengikat luka sang pria muda. Ia mengoleskan obat penahan syok, lalu membalut luka terbesar dengan kassa tebal.

Gerakannya terlalu tenang. Terlalu terlatih. Persis seperti mesin jahit yang diprogram tanpa emosi.

Alya membeku. Otaknya mogok memproses pemandangan ini.

Mesin pembunuh di depannya ini baru saja membungkam kewaspadaannya hanya dengan efisiensi medis tingkat militer.

Lalu, merah kembali menyiram pandangan Fais. Layar sistem merespons gila.

[Saran: evakuasi tidak memungkinkan.]

[Deteksi ancaman mendekat.]

[Probabilitas kontak tempur: tinggi.]

Suara itu datang.

Langkah kaki menghantam genangan air di ujung lorong got. Ketukan sepatu bot berat. Satu, dua. Banyak. Teratur.

Fais berdiri perlahan. Menoleh ke arah suara.

Bayangan-bayangan besar muncul dari kegelapan lorong basah. Empat pria perlahan masuk ke dalam jarak pandang.

Namun mereka bukan manusia yang bisa diajak bicara.

Tubuh mereka terlalu besar. Otot-ototnya membengkak merobek lengan baju.

Gerakan langkah mereka sinkron satu sama lain. Mengayun bersama. Menapak bersama.

Mata mereka kosong menatap lurus ke depan. Tidak ada kehidupan di sana. Hanya bekas jahitan kasar dan logam dingin yang tertanam di sepanjang leher dan rahang mereka.

Teks peringatan berdenging kembali.

[Identifikasi awal: Super Soldier Experiment.]

Mata Fais menyipit tipis. Udara busuk di bawah tanah ini mendadak terasa lebih berat.

Dinding pemahamannya tentang kota ini hancur. Untuk pertama kalinya, ia menyadari Muara Tenang tidak cuma berisi preman pasar dan kartel narkoba murah.

Ada sisi yang jauh lebih gelap. Sisi di mana manusia dipotong dan dijahit kembali menjadi senjata mati. Eksperimen gila yang disembunyikan di balik gemerlap kota.

Fais memiringkan lehernya. Terdengar bunyi tulang berderik pelan.

Tangan kanannya meraih pinggang. Menarik baton besinya dalam satu sentakan mulus. Besi itu memanjang dengan suara logam bergesekan tajam.

Pistol hitamnya tetap tertidur rapi di sarungnya. Menunggu dipanggil.

Para pria raksasa itu berhenti lima meter dari Fais. Menutup rapat jalan keluar.

Pemimpin kelompok itu membuka mulutnya. Rahang logamnya bergemeretak. Suaranya kering seperti kerikil yang diinjak.

"Serahkan aset itu."

Hening. Fais hanya menatap lurus ke mata kosong pria itu. Grip tangannya pada gagang baton semakin erat.

Layar di retinanya berkedip satu kali.

[Misi Darurat dimulai.]

1
ghost
novel ga jelas...ga usah di baca
Ironside: Terima kasih /Joyful/, kalau boleh tahu. Apa yang perlu aku perbaiki?
total 1 replies
ghost
novel tolol
Ironside: Oke /Smile/
total 1 replies
Cecilia
up heii, udh nunggu agak lama masih 25 chapter. 200 chapter lah kakk
Ironside: Apa-apaan kamu Kak /Curse/. Aku sedang revisi /Scream/
total 2 replies
Gege
kan bisa turun di ruangan fitness apartemen, lari diatas tritmil Thor...🤣🤣
Ironside: Iya sih /Facepalm/
total 1 replies
Gege
pelit bener systemnya Thor...dimana mana ada system buat memudahkan, dan banyak cheat..hiburan harapan dalam bentuk tulisan yang mengalir ringan..🤣
Ironside: Untuk perkembangan sifat MC juga, karena pengalamannya sebatas tukang bangunan aja 😆.
total 1 replies
Cecilia
mana Insectnya kak
Ironside: Tidak ada /Scream/
total 1 replies
Yui
Akhirnya setelah 3x bulan purnama, author ini bikin nopel yang ada insectnya /Proud//Proud/
Ironside: Sembarangan /Curse//Curse//Curse/, tidak ada insect di sini /Grievance/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!