Yudi seorang pria dari dunia modern terlempar ke Tahun 700 masehi di pulau Buton, saat ayahnya meninggal Ayahnya mengatakan Bahwa ibunya ada di Bumi bagian utara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Bayang-Bayang Perang dan Haluan Baru
25 Juli 700 Masehi
Aula megah istana Srivijaya masih diliputi keheningan yang tegang setelah suara denting pedang baja Yudi memudar. Raja Srivijaya, yang selama ini merasa memiliki armada dan persenjataan terkuat di lautan selatan, kini menatap sebilah pedang dan busur silang di depannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Baginya, senjata ini bukan sekadar alat perang; ini adalah sihir yang ditempa menjadi logam.
"Berapa banyak yang kau miliki, Pengembara?" suara Raja memecah keheningan, matanya masih terpaku pada kilauan baja Damascus era tahun 1000 yang dibawa Yudi.
Yudi tersenyum tipis, menyandarkan tubuhnya dengan santai. "Cukup untuk mempersenjatai pasukan elitmu, Baginda. Tapi seperti yang kubilang, aku tidak mencari emas. Aku menginginkan akses bebas ke seluruh pelabuhanmu dan informasi tentang peta laut menuju Barat."
Raja tidak berpikir dua kali. Kesepakatan itu pun terjadi. Yudi menyerahkan peti berisi beberapa lusin pedang baja dan busur silang sebagai "sampel" awal. Sebagai gantinya, ia menerima gulungan peta kuno yang lebih mendetail dan izin khusus yang tertulis di atas lempengan perak—tanda bahwa ia adalah tamu agung Srivijaya yang tak boleh diganggu oleh patroli laut mana pun.
"Pembelian yang menguntungkan, bukan?" bisik Yudi pada Galuh saat mereka berjalan keluar dari istana.
"Tuan... senjata-senjata itu... jika mereka tahu Tuan punya ribuan lagi di dalam 'ruang gaib' itu, mereka mungkin akan mencoba menahan Tuan selamanya," balas Galuh dengan wajah cemas.
"Biarkan saja mereka mencoba," jawab Yudi sambil melangkah menuju dermaga. "Setelah ini, kita tidak akan lama-lama di sini. Aku bosan dengan aroma rempah Srivijaya. Sistem, arahkan koordinat selanjutnya ke Tanah India. Aku ingin melihat pusat agama Buddha di dunia paralel ini."
Pelabuhan Srivijaya – Sisi Gelap
Di sudut pelabuhan yang penuh dengan tumpukan peti kayu, dua pasang mata mengawasi setiap gerak-gerik Yudi. Mereka mengenakan pakaian pedagang biasa, namun di balik kain sutra murahan itu, tersembunyi belati tipis dan simbol burung phoenix kecil di pergelangan tangan mereka.
Mereka adalah anggota Shadow Phoenix, organisasi rahasia yang dipimpin oleh Yue Qing.
"Ciri-cirinya sangat mirip dengan lukisan yang diberikan Nona Yue Qing," bisik salah satu dari mereka. "Wajahnya, auranya... tapi lihat kapal putih raksasa itu. Pangeran tidak mungkin memiliki kekuatan seperti itu jika dia hanya tinggal di gubuk Buton selama tujuh belas tahun."
"Jangan banyak bicara. Kirimkan pesan melalui elang tercepat sekarang. Beritahu Nona bahwa target terdeteksi di Srivijaya dengan keajaiban yang tak masuk akal," perintah rekannya.
Bayangan itu menghilang di balik kerumunan. Mereka tidak menyadari bahwa Yudi, dengan skill beladiri dan indra tingkat tertingginya, sebenarnya sudah merasakan keberadaan mereka. Namun, Yudi memilih untuk mengabaikannya. Baginya, mata-mata itu hanyalah lalat yang tidak berdaya di depan gajah.
Di Atas Kapal Induk Dinasti Zhou
Suasana di kapal induk Maharani Wu Lin mendadak berubah menjadi kacau. Bukan karena serangan laut, melainkan karena sebuah pesan darurat yang dibawa oleh kapal kurir tercepat dari daratan utara.
Yue Qing berlari menuju kabin Maharani dengan wajah pucat. Ia menemukan Wu Lin sedang menatap laut, memegang sebuah kalung kecil yang seharusnya diberikan pada Yudi.
"Yang Mulia! Berita buruk dari Luoyang!" seru Yue Qing sambil berlutut.
Wu Lin menoleh dengan cepat. "Apa? Apakah mereka menemukannya?"
"Bukan, Yang Mulia... Ini tentang perbatasan utara. Kekaisaran Tang yang telah lama kita tekan... mereka telah mengumpulkan kekuatan besar. Jenderal-jenderal Tang yang setia pada klan Li sedang bersiap melakukan invasi besar-besaran untuk merebut kembali takhta. Mereka memanfaatkan ketidakhadiran Anda di istana untuk menghasut rakyat!"
Wu Lin tertegun. Jantungnya berdenyut kencang. Di satu sisi, ia baru saja mendapatkan laporan dari Shadow Phoenix bahwa ada tanda-tanda keberadaan putranya di Srivijaya—jaraknya hanya tinggal beberapa puluh mil lagi. Di sisi lain, takhta yang ia bangun dengan darah dan air mata sedang berada di ujung tanduk. Jika ia tidak kembali sekarang, Dinasti Zhou akan runtuh, dan ia tidak akan punya tempat untuk membawa Yudi pulang nantinya.
"Sialan!" Wu Lin memukul pagar kapal dengan keras hingga tangannya berdarah. "Kenapa sekarang?! Kenapa saat aku sudah begitu dekat dengannya?!"
"Yang Mulia... jika Luoyang jatuh, kita semua akan mati. Kita harus kembali," desak Yue Qing. Hatinya sebenarnya hancur; ia ingin segera ke Srivijaya untuk memastikan identitas pemuda misterius itu, namun tugas utamanya adalah menjaga keselamatan sang Maharani.
Wu Lin memejamkan mata rapat-rapat. Air mata mengalir di pipinya. "Putraku... maafkan ibu. Ibu harus menyelamatkan rumahmu sebelum membawamu kembali."
Dengan suara parau yang dipenuhi kepedihan, Wu Lin mengeluarkan perintah yang mengguncang seluruh armada. "Putar haluan! Seluruh armada kembali ke Luoyang dengan kecepatan penuh! Tinggalkan beberapa unit Shadow Phoenix di sini untuk terus memantau. Kita kembali ke perang!"
Armada raksasa itu mulai berbelok perlahan, menciptakan pusaran air besar di lautan. Mereka meninggalkan perairan Srivijaya tepat di saat Yudi sedang bersiap untuk berangkat ke arah yang berlawanan.
27 Juli 700 Masehi
Yudi berdiri di dek Superyacht-nya, menatap radar yang menunjukkan pergerakan massa besar kapal yang menjauh ke arah Utara. Notifikasi sistem kembali berdenting.
[Pemberitahuan: Armada Dinasti Zhou telah mengubah haluan ke Utara. Status: Ancaman Interupsi Berkurang.]
Yudi menarik napas panjang, ada perasaan lega yang aneh, namun juga sedikit kekosongan di hatinya yang tidak ia pahami. "Jadi dia memilih takhtanya lagi, ya? Baguslah. Itu artinya aku bisa jalan-jalan ke India tanpa perlu drama keluarga."
"Tuan, semua perbekalan sudah siap. Bahan bakar... eh, apa pun yang menggerakkan kapal ini juga sudah siap," lapor Galuh yang masih belum paham istilah bahan bakar.
"Bagus. Lepaskan tali tambat. Kita menuju Barat, melintasi Samudera Hindia," perintah Yudi.
Yudi mendorong tuas gas. Superyacht itu menderu, membelah ombak dengan kecepatan tinggi, meninggalkan pelabuhan Srivijaya yang penuh dengan desas-desus tentang "Dewa Baja" yang baru saja singgah.
Yudi tidak tahu bahwa saat ia meluncur menuju India, ibunya sedang bersiap menghadapi perang terbesar dalam hidupnya. Ia juga tidak tahu bahwa Yue Qing telah menanamkan agen-agen rahasianya di setiap jalur pelayaran menuju Barat.
"India... katanya di sana penganut Buddha paling taat. Mari kita lihat apakah mereka punya sesuatu yang bisa menghiburku," gumam Yudi sambil menyesuaikan kacamata hitamnya.
Kapal mewah itu menghilang di cakrawala, mengejar matahari terbenam. Di atas lautan yang luas, takdir mulai bercabang. Satu menuju medan perang berdarah di Tiongkok, dan satu lagi menuju petualangan tak terbatas di tanah para resi. Dan di tengah-tengah itu semua, rahasia tentang siapa Yudi sebenarnya tetap tersimpan rapat di dalam sistem yang tak tertembus.