NovelToon NovelToon
Kembalinya Permaisuri Yang Terlupakan

Kembalinya Permaisuri Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Dokter Genius
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: prasetiyoandi

Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.

Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.

Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.

​Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.

Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.

​Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: KEPANIKAN SANG PENGKHIANAT

​Kegelapan yang menyelimuti ballroom Grand Astoria selama tiga detik terasa seperti keabadian yang mencekam bagi Adrian Mahendra.

Dalam kegelapan total itu, indranya seolah ditarik kembali ke malam badai lima tahun lalu—malam di mana ia mendengar suara decit rem yang blong dan dentuman logam yang jatuh ke jurang.

Saat lampu kristal kembali menyala dengan sentakan listrik yang tajam, suasana tidak kembali normal. Sebaliknya, teriakan tertahan dan bisik-bisik ngeri pecah di seluruh penjuru ruangan.

​Di layar proyektor raksasa setinggi lima meter yang seharusnya menampilkan grafik kesuksesan Mahendra Group, kini terpampang tulisan berwarna merah darah yang berkedip-kedip dengan font yang menyeramkan:

"DARAH HARUS DIBAYAR DENGAN DARAH. SANG EMPRESS TELAH KEMBALI."

​Adrian berdiri mematung di tengah lantai dansa, wajahnya berubah dari pucat menjadi seputih porselen. Gelas kristal berisi champagne mahal yang pecah di bawah kakinya adalah simbol dari ketenangannya yang hancur berkeping-keping.

Ia menatap layar itu dengan mata melotot, napasnya tersengal seolah oksigen di ruangan itu baru saja dihisap habis oleh entitas tak kasat mata.

​"Siapa... siapa yang melakukan lelucon murahan ini?!" teriak Sisca histeris. Ia mencengkeram lengan Adrian begitu kuat hingga kuku-kuku panjangnya yang dicat merah merobek kain jas suaminya.

"Adrian! Lakukan sesuatu! Panggil keamanan! Ini sabotase! Ini penghinaan terang-terangan terhadap keluarga kita!"

​Namun, Adrian tidak bisa bergerak. Otaknya seolah mengalami korsleting. Pikirannya melayang pada sosok Dr. Alana yang baru saja pergi bersama Arlan Syailendra.

Kata-kata terakhir wanita itu—bisikan tentang rem mobil yang diputus—terus bergema di telinganya seperti kutukan dari alam kubur.

Bagaimana dia bisa tahu detail itu? Tidak ada saksi mata malam itu. Semua orang yang terlibat sudah kubungkam. Tidak mungkin dia adalah Aura... tapi kemiripan itu... tidak, Aura sudah membusuk di dasar jurang!

​Di lantai mezanin yang gelap, tersembunyi di balik bayangan pilar marmer yang besar, Lukas duduk dengan tenang. Wajah bocah berusia empat tahun itu diterangi oleh cahaya biru redup dari tablet transparannya.

Jari-jarinya yang kecil namun lincah menari di atas keyboard virtual dengan ritme yang sangat stabil, seolah ia tidak sedang melakukan sabotase tingkat tinggi, melainkan hanya sedang bermain gim sederhana.

​"Enkripsi server mereka benar-benar seperti lelucon, Mummy," bisik Lukas ke arah mikro-earpiece yang tertanam di telinganya.

"Aku sudah menanamkan worm ke seluruh database finansial Mahendra Group. Dalam sepuluh menit, aku bisa membuat seluruh aset yang mereka simpan di bank offshore membeku secara otomatis. Apakah aku harus menekan tombol 'eksekusi' sekarang?"

​Di ruang VIP lantai atas, Alana berdiri di samping Arlan, menyaksikan kekacauan di bawah melalui monitor keamanan.

Wajahnya tetap tenang, tanpa sedikit pun emosi yang terlihat, namun ada kilatan kemenangan yang dingin di matanya. Ia menyesap sisa wine di gelasnya, menikmati pemandangan Adrian yang tampak seperti tikus yang terpojok.

​"Anakmu benar-benar monster kecil di dunia teknologi, bukan?" suara Arlan terdengar di belakangnya. Pria itu berdiri begitu dekat sehingga Alana bisa merasakan hawa panas dari tubuhnya yang kuat, serta aroma maskulin yang bercampur dengan bau tembakau mahal.

​Alana tidak menoleh. "Dia hanya melindungi apa yang menjadi miliknya, Tuan Arlan. Kami telah belajar dengan cara yang keras bahwa di dunia ini, jika kau tidak memiliki taring dan cakar, kau hanya akan menjadi santapan bagi pemangsa seperti pria di bawah sana."

​Arlan terdiam sejenak, matanya tidak lepas dari profil samping wajah Alana.

Ia merasa semakin tertarik, namun juga semakin waspada. Alana bukan sekadar dokter; dia adalah seorang jenderal yang sedang menggerakkan pasukan bayangan.

"Sabotase ini akan memicu investigasi internasional, Alana. Kau baru saja memukul sarang lebah. Besok pagi, Mahendra Group akan berada di bawah mikroskop otoritas pajak dan intelijen bisnis. Kau benar-benar ingin menghancurkan mereka dalam semalam?"

​"Menghancurkan mereka dalam semalam terlalu baik bagi mereka, Tuan Arlan," balas Alana dingin sembari meletakkan gelasnya.

"Aku ingin mereka merasakan setiap detik penderitaan. Aku ingin mereka melihat istana yang mereka bangun dengan darah orang lain runtuh bata demi bata."

​Alana berbalik untuk keluar dari ruangan, namun langkahnya terhenti saat tangan besar Arlan mencengkeram pergelangan tangannya.

Cengkeraman itu tidak menyakitkan, namun penuh dengan dominasi yang tak terbantahkan.

​"Katakan padaku satu hal," suara Arlan merendah, menjadi sangat serius hingga memenuhi ruangan yang sunyi itu. "Siapa ayah dari anak-anak itu? Kenapa Lukas memiliki struktur rahang yang sangat mirip dengan... Adrian Mahendra?"

​Tubuh Alana menegang sesaat, namun ia dengan cepat menguasai dirinya. Ia menatap Arlan tepat di matanya—mata yang biasanya membuat para pemimpin dunia gemetar ketakutan.

"Ayah mereka sudah mati di mataku sejak lima tahun lalu, Tuan Arlan. Dan jika Anda mencoba menyelidiki anak-anak saya, Anda akan menyadari bahwa saya bisa menjadi musuh yang jauh lebih berbahaya daripada Adrian."

​Alana menarik tangannya dengan sentakan halus namun tegas, lalu melangkah keluar dari ruangan dengan jubah merahnya yang berkibar. Arlan tidak mengejarnya. Ia hanya berdiri di sana, menatap pintu yang tertutup.

​"Harry," panggil Arlan tanpa menoleh.

​Asisten pribadinya, Harry, muncul dari balik pintu samping. "Ya, Tuan?"

​"Ambil sampel dari gelas yang digunakan anak laki-laki itu di meja makan tadi. Aku ingin tes DNA secepatnya. Bandingkan dengan sampel Adrian Mahendra yang kita miliki di database," perintah Arlan. Matanya berkilat penuh misteri. "Aku harus tahu apakah kecurigaanku benar. Jika anak itu adalah darah daging Mahendra, maka Alana memegang kartu as yang bisa mengguncang seluruh negeri ini."

​Sementara itu, di bawah, di tengah kekacauan ballroom, Adrian mencoba menghubungi kepala keamanannya melalui ponsel, namun ia menyadari bahwa seluruh sinyal di dalam gedung itu telah mati total.

Para tamu undangan—para elit yang biasanya menjilat padanya—kini mulai berbisik-bisik jahat, menatap Adrian dengan pandangan penuh kecurigaan dan jijik. Reputasi "pria keluarga yang sempurna" yang ia bangun dengan susah payah selama lima tahun kini mulai retak di depan umum.

​"Tuan Adrian, kita harus pergi sekarang! Situasi tidak terkendali!" bisik Leo—yang menyamar sebagai staf keamanan hotel—sambil berpura-pura membantu Adrian melewati kerumunan.

"Pihak berwajib sedang menuju ke sini karena laporan adanya aktivitas peretasan pada server pusat gedung. Wartawan sudah mengepung pintu depan."

​Adrian, dalam keadaan panik dan bingung, tidak menyadari bahwa pria yang membimbingnya adalah tangan kanan Alana.

Ia dan Sisca segera dilarikan melalui jalur layanan yang sempit menuju tempat parkir bawah tanah, menghindari kerumunan wartawan yang haus akan skandal.

​Saat mereka tiba di tempat parkir yang dingin dan remang-remang, Adrian terengah-engah. Ia bersandar pada mobil Maybach-nya, keringat dingin mengucur deras di dahinya.

"Sisca... wanita itu... Dr. Alana... dia bukan sekadar dokter. Cari tahu latar belakangnya di luar negeri! Aku tidak peduli berapa biayanya, sewa intelijen terbaik! Aku harus tahu apakah dia punya hubungan dengan si jalang Aura!"

​Sisca menggertakkan giginya, wajah cantiknya kini tampak mengerikan karena amarah yang meluap.

"Aku akan menghancurkannya, Adrian! Aku tidak akan membiarkan siapa pun merebut posisiku! Jika dia adalah Aura yang bangkit dari kubur, maka aku akan mengirimnya kembali ke neraka secara permanen!"

​Namun, saat Adrian hendak membuka pintu mobilnya, ia membeku. Matanya tertuju pada sebuah benda yang tertempel tepat di kaca jendela pengemudi.

Sebuah kuntum bunga lotus kecil yang terbuat dari perak murni, persis seperti perhiasan yang dikenakan wanita berbaju merah tadi.

Di bawah bunga itu, terdapat selembar kartu kecil dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali—tulisan tangan Aura.

​"Selamat datang di neraka yang sesungguhnya, Suamiku. Ini baru permulaan."

​Lutut Adrian lemas. Ia jatuh terduduk di atas beton aspal yang dingin. Ketakutan primer yang ia pendam selama bertahun-tahun kini meledak sepenuhnya dalam dadanya.

Ia tahu sekarang—ini bukan sekadar persaingan bisnis atau sabotase teknis. Ini adalah perburuan maut, dan dia adalah mangsanya.

​Di kejauhan, dari dalam mobil Rolls-Royce yang bergerak menjauh dari hotel, Alana melihat pemandangan itu melalui monitor yang terhubung ke kamera parkir.

Lukas dan Luna duduk di sampingnya. Luna sedang asyik memakan cokelat kecil, sementara Lukas menutup laptopnya dengan suara klik yang memuaskan.

​"Mummy, apakah pria pengecut itu sedang menangis?" tanya Luna polos sambil memiringkan kepalanya yang mungil.

​Alana mengusap lembut rambut putrinya, namun matanya tetap dingin menatap layar. "Dia belum menangis, Luna. Dia baru saja mulai merasa takut. Menangis adalah untuk mereka yang menyesal, sementara dia... dia hanya akan merasakan keputusasaan sampai napas terakhirnya."

​Mobil itu terus melaju menembus kegelapan malam Kota A. Di belakang mereka, lampu-lampu megah Grand Astoria perlahan mengecil, namun api dendam yang baru saja dinyalakan Alana di pusat kota itu akan terus berkobar, membakar setiap jengkal kekuasaan Mahendra hingga tidak ada yang tersisa selain abu.

​Di dalam kantor rahasianya, Arlan Syailendra menatap hasil pindaian profil Lukas di layar besarnya.

"Wajah Alana, otak seorang jenius, dan darah seorang pengkhianat... Kombinasi yang sangat berbahaya," gumam Arlan.

Ia menuangkan wiski ke gelasnya, matanya menatap tajam ke arah kegelapan kota. "Alana, kau pikir kau bisa menggunakanku sebagai pedangmu? Kita lihat saja, siapa yang sebenarnya akan memegang kendali di akhir permainan ini."

1
Nor Azlin
semoga mereka menjadi keluarga yang utuh yah ...aku harap si Arlan pun mencuba formula teratai juga agar mereka bisa membantai para musuh-musuh mereka dengan mudah ...semoga mereka selamat sampai ke tujuan nya yah ...Alana kembali lagi deh di mana Pulau rahsia mu kan masih ada yah ...di sana kalian bisa membentuk satu Tim yang lebih baik lagi juga setia yah ...lanjutkan thor
Nor Azlin
kasihan Leo kerana terpaksa di berkhianat pada Alena namun pada akhirnya dia berkorban demi Alena sama anak2 nya ...semoga mereka semua terselamat dari musuh2 mereka yah ...lanjutkan thor
Nor Azlin
siapa agak nya yang berkhianat yah tidak mungkin si Leo tapi siapa yah🤔🤔🤔 semoga cepat ketahuan orang nya deh...lanjutkan thor
Osie
eh msh continue yaaa...waah lg seruuu ini..moga msh ada lanjutannya 🙏🙏🙏
Lili Inggrid
lanjut
Osie
waaw makin kesini makin kompleks alur nya...kereeeennn
Osie
fuuuiiihh deg deg an aku bacanya..alana n anak anak nya best banget dah
Osie
balas dendam yg sangat apik👍👍👍👍👍
Osie
siapa atlan hingga dia terlalu ikut campur urusan hidup alana
Osie
hmmm menarik..tapi aku kok curiga ya kalau anak alana bukan anak Adrian tapi anaknya arlan syeilendra....bisa jd kan..siapa tau ada insiden di masa lalu yg bikin Alan tidur dgn arlan..
Osie
waaaaawww amazing...kereeenn abiizzzz😍😍😍
Osie
mampir nih..ku baca sipnosisnya..sepertinya bagus walau diawali menyakitkan tp ku suka kelanjutannya aura bangkit jd wanita tangguh dan moga gak menge menye..dan kalau lht judul soti cerita transmigrasi ya🙏🙏
Nor Azlin
dasar orang gila ni semua demi harta sanggup membunuh darah dagingnya demi merebut warisan yang Aura dapat dari kakek nya ...kalau begitu hancurkan usaha nya itu biar hancur lebur deh biar jadi pengemis & terlunta2 di jalan2 biar dia tau rasa ... lanjutkan thor
Nor Azlin
sudah tentu dia lah kerana ingin saham2 yang kakek nya berikan pada Aura harta bisa membuat orang jadi gila ...bukan nya sisca sama Andrian itu pacar sedari mula yah kerana ancaman juga saham2 itu dia pura2 menerima pernikahan itu setelah kakeknya meninggal ini lah masa nya mereka berbuat onah kembali kan sudah tidak ada halangan untuk menjalin kasih kembali kan ancaman nya sudah tidak ada ertinya lagi kerana sudah dikalang tanah ...orang yang sudah meninggal bisa apa jadi yang hidup ini jadi masalah nya kalau dia pun mati nah tidak ada curiga di kalangan masyarakat kan 😂😂😂lanjutkan thor
shabiru Al
wow,, tanpa basa basi alana langsung menabuh genderang perang dengan adrian
shabiru Al
tdkah terlalu dini melibatkan anak kembarnya dalam misi balas dendam,, bagaimana pun adrian adalah ayah kandung sikembar
shabiru Al
kenapa aura di habisi... benarkah adrian ada dbalik kecelakaan aura ?
shabiru Al
mampir thor,, belum bisa komen banyak ya... nyimak dulu jalan ceritanya..😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!