Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Pagi itu sinar matahari masuk melalui celah jendela ruang makan, menciptakan suasana hangat di rumah baru mereka.
Yudiz sudah rapi dengan baju koko berwarna abu-abu muda dan sarung bermotif senada.
Ia sedang menyesap kopi hitamnya sambil sesekali melirik jam tangan, sedikit gelisah karena acara di pondok akan segera dimulai.
"Lilis! Rani! Apa kalian masih lama? Kita bisa terlambat kalau tidak berangkat sekarang," tanya Yudiz sedikit meninggikan suaranya agar terdengar sampai ke area kamar tamu.
Tak ada jawaban verbal, hanya suara tawa kecil Lilis yang terdengar samar dari balik pintu.
Yudiz baru saja hendak berdiri untuk menyusul mereka saat terdengar bunyi pintu terbuka.
Ceklek!
"Taraaaa! Lihat Mas! Cantik nggak Mbak Rani kalau begini?" seru Lilis dengan nada bangga, seolah baru saja memenangkan kompetisi desain busana.
Yudiz yang tadinya hendak melayangkan protes langsung terdiam mematung.
Cangkir kopi yang dipegangnya tertahan di udara dan menelan salivanya, tenggorokannya mendadak terasa kering.
Di hadapannya, berdiri Rani yang tampak sangat berbeda.
Gadis sirkuit itu mengenakan gamis berwarna pastel pemberian Umi Siti, namun yang membuat jantung Yudiz serasa berhenti berdetak adalah selembar hijab instan yang menutup rambut panjangnya dengan rapi.
Wajahnya yang polos tanpa riasan berlebihan kini tampak jauh lebih teduh dan bercahaya, membingkai matanya yang besar dengan sangat cantik.
Rani yang biasanya tampak garang dengan helm, kini terlihat sangat anggun, meski ekspresi wajahnya tampak sangat tidak nyaman dan kikuk.
"Mas! Malah bengong!"
Rani melangkah maju dan dengan tangan kirinya yang sehat, ia menepuk pundak kakaknya.
"Woi, Abi! Kenapa? Jelek ya? Aneh ya? Aku bilang juga apa, Lis, aku ini nggak cocok pakai gorden begini di kepala!" gerutu Rani sambil mencoba menarik-narik ujung hijabnya karena merasa gatal.
Yudiz tersentak dari lamunannya. Ia berdeham berkali-kali, mencoba mengatur ritme jantungnya yang kini berdetak dua kali lebih kencang dari biasanya.
"Masya Allah, tidak, Rani. Kamu sangat cantik," ucap Yudiz tulus, suaranya sedikit serak.
Lilis menyenggol lengan Yudiz sambil tertawa menggoda.
"Cieee, Mas Yudiz naksir lagi ya sama istrinya sendiri? Sampai nggak kedip gitu!"
Wajah Rani seketika berubah merah padam dan langsung memalingkan muka, menghindari tatapan mata Yudiz yang kini menatapnya dengan penuh kekaguman.
"Sudahlah! Ayo berangkat! Semakin lama kita di sini, aku semakin pengen copot ini hijab!"
Yudiz tersenyum, kali ini senyumnya terasa sangat lebar.
Ia berdiri dan mendekati Rani, lalu dengan sangat hati-hati ia merapikan posisi hijab Rani yang sedikit miring akibat ditarik-tarik tadi.
"Tahan dulu ya, Sayang. Hari ini saja, demi Abi dan Umi di pondok," bisik Yudiz tepat di telinga Rani, membuat bulu kuduk gadis itu merinding bukan karena takut, tapi karena sensasi aneh yang menyenangkan.
Rani hanya bisa mengangguk kecil, kehilangan kata-kata.
Ia pun berjalan mengikuti Yudiz menuju mobil dengan langkah yang masih canggung karena harus memakai gamis panjang.
"Jangan lari-lari, nanti jatuh," tegur Yudiz sambil membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Mobil Yudiz perlahan memasuki gerbang pesantren yang sudah ramai oleh hilir mudik santri.
Begitu pintu mobil terbuka, suasana mendadak hening sejenak.
Pandangan semua orang tertuju pada sosok yang turun dari kursi penumpang.
Kyai Abdullah yang sedang berbincang dengan beberapa ustadz sepuh di teras ndalem seketika menghentikan ucapannya.
Beliau melepas kacamata, mengusapnya sejenak, lalu tersenyum sangat lebar hingga matanya menyipit.
"Masya Allah, apakah ini beneran Rani?" tanya Kyai Abdullah saat rombongan kecil itu mendekat.
Beliau menoleh ke arah istrinya, Nyai Salmah yang berdiri di sampingnya.
"Lihat, Bu Nyai. Hari ini ada bidadari surga yang mampir ke pondok kita."
Rani menunduk malu, wajahnya panas sedingin es di tengah teriknya matahari pagi.
Ia menyalimi tangan Kyai Abdullah dan Nyai Salmah dengan sangat sopan.
"Pangapunten, Kyai Abi. Rani masih belajar," bisik Rani lirih.
Para santri dan santriwati yang biasanya melihat Rani dengan pandangan sinis atau heran, kini mulai berbisik-bisik penuh kekaguman.
"Itu beneran istrinya Gus Yudiz?"
"Cantik banget ya kalau pakai hijab, auranya beda!"
"Kayak ustadzah dari Mesir..."
Namun, di tengah pujian itu, Nyai Salmah hanya terdiam.
Beliau menatap Rani dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu matanya beralih pada perban di tangan Rani.
Ada rasa iba, tapi juga sedikit keraguan yang masih membekas.
Sementara itu, di barisan santriwati senior, seorang gadis bernama Sarah mencengkeram erat kedua tangannya.
Matanya menatap tajam ke arah hijab pastel yang dikenakan Rani.
Sarah, yang selama ini dianggap calon terkuat untuk Yudiz sebelum perjodohan mendadak itu terjadi, merasa dadanya sesak karena cemburu.
Yudiz yang menyadari suasana mulai tidak nyaman bagi Rani, segera merangkul pundak istrinya dengan lembut.
"Ayo, kita ke aula. Acaranya akan segera dimulai."
Namun, langkah mereka terhenti tepat di pintu masuk aula.
Dari arah gerbang lain, sebuah iring-iringan mobil mewah datang.
Seorang gadis cantik dengan hijab syar'i berwarna putih bersih turun dengan anggun, diikuti oleh keluarga besarnya.
Gadis itu adalah Laila, putri dari seorang ulama besar sahabat karib Kyai Abdullah sekaligus pengusaha sukses.
Keluarga Laila datang membawa beberapa nampan besar berisi kue-kue premium dan buah-buahan untuk para santri.
"Assalamualaikum, Kyai, Nyai, Mas Yudiz," sapa Laila dengan suara yang sangat merdu dan lembut.
Ia menunduk sopan, memberikan aura kedamaian yang sangat kontras dengan aura "liar" Rani yang biasanya.
Keluarga besar Laila langsung disambut hangat. Suasana di aula mendadak berubah menjadi ajang reuni keluarga terpandang.
"Mas Yudiz, ini ada titipan dari Abi. Katanya buat nambah-nambah menu syukuran hari ini," ucap Laila sambil menatap Yudiz dengan binar mata yang santun namun menyimpan makna mendalam.
Rani yang berdiri di samping Yudiz tiba-tiba merasa sangat kecil.
Ia melirik gamis pastelnya yang merupakan pinjaman, lalu melirik tangan kanannya yang dibungkus kasa.
Di depan Laila yang tampak begitu "sempurna" sebagai menantu idaman pondok, Rani merasa seperti mesin motor tua yang dipaksa masuk ke dalam pameran perhiasan.
Yudiz merasakan perubahan sikap Rani. Ia mengeratkan genggamannya di lengan Rani, seolah ingin mengatakan bahwa keberadaan Laila tidak mengubah apa pun.
"Terima kasih, Laila. Sampaikan salamku untuk Abah," jawab Yudiz singkat dan formal.
Laila menganggukkan kepalanya dan ia mencari tempat duduk.
Acara syukuran di aula pondok berlangsung dengan khidmat.
Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an menggema, menciptakan suasana yang menyejukkan bagi siapa pun yang mendengar. Namun, bagi Rani, duduk di jajaran depan di antara para Nyai dan ustadzah senior terasa seperti ujian ketahanan mental.
Ia terus berusaha memperbaiki duduknya yang kaku, sementara tangan kirinya sesekali menyentuh perban di tangan kanannya yang mulai terasa sedikit berdenyut.