Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.
Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.
Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 25.
Jenny duduk terpaku di tepi ranjang.
Pesan itu masih menyala di layar ponselnya, seolah menertawakan kegelisahan yang mulai merayap ke seluruh tubuhnya. Nafasnya terasa pendek. Dadanya sesak, bukan karena takut untuk dirinya sendiri, tapi karena Ethan sudah berani menyentuh keluarganya.
Ia mengepalkan tangan.
“Bangsat…! Berani-beraninya nyeret orang tuaku!”
Jenny bangkit, berjalan mondar-mandir di kamar tamu. Otaknya berputar cepat. Ethan tidak hanya menguntit Milea, pria itu mulai menyerang orang-orang terdekat Milea.
Saat itu lah, terdengar ketukan pelan di pintu. Jenny tersentak, dia berjalan ke pintu dan membukanya.
Rangga berdiri di depan pintu, wajahnya masih terlihat lelah tapi matanya tajam. “Kita sarapan, Milea minta kamu siap-siap.“
Jenny terlihat gugup.
Rangga langsung sadar.
“Ada apa?” suara pria itu menurun, waspada. “Semalam juga sepertinya kamu mau ngomong sesuatu.”
Jenny terlihat ragu untuk bicara.
“Jen, kalau ini soal Milea... aku harus tahu.” Rangga menekankan setiap kata-katanya.
Jenny menelan ludah, akhirnya ia menyerahkan ponselnya dan memperlihatkan pesan dari Ethan.
Rangga membaca pesan itu tanpa berkedip, rahangnya mengeras perlahan. Otot di pelipisnya menegang jelas. “Dia mengancam keluargamu.”
Jenny mengangguk. “Kata Mama, Papaku dipecat.”
Rangga mengangkat kepalanya dari layar ponsel, tatapannya berubah menjadi jauh lebih berbahaya. “Dia menyentuh orang yang salah.”
“Rangga, kita jangan gegabah. Dia mau aku jadi mata-mata dan perusak rumah tanggamu. Kalau kita salah langkah—”
“Justru karena itu kita pakai ini, biarkan dia pikir kamu ketakutan... biarkan dia merasa menang. Tapi semua langkahmu, di bawah kendali kita.”
Jenny terdiam. “Kamu mau aku pura-pura nurut?”
“Iya, karena orang sepertinya harus mendekam di penjara. Tapi kita butuh banyak bukti... kita jebak dia. Aku nggak akan biarkan dia menang dan menyentuh Milea.“ Jawab Rangga dengan tatapan tajam.
Jenny mengangguk setuju, meskipun ada keraguan dalam hatinya.
Sementara itu, Milea tidak tahu apa-apa. Ia duduk di ruang makan, meminum coklat hangat sambil membaca berita ringan di tablet. Rangga terlihat seperti biasa, tapi ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan yang Milea rasakan dari suaminya itu.
“Kamu serius nggak ke kantor hari ini?” tanya Milea.
Rangga menggeleng. “Aku kerja dari rumah.”
Milea tersenyum. “Apa ada sesuatu?”
Rangga membalas senyum itu, lalu mengecup kening Milea. “Apa harus ada sesuatu dulu, baru aku boleh berleha-leha di rumah. Lagipula, sudah lama aku sadar ada hal yang lebih penting dari pekerjaan... itu kamu, sayang.“
Milea hanya terkekeh pelan, dia tidak curiga. Ia tidak melihat bagaimana setelah itu Rangga menoleh ke arah Jenny, tatapannya singkat dan penuh arti.
Sore harinya, pesan baru masuk ke ponsel Jenny.
Ethan.
[Aku tunggu jawabanmu, jangan bikin aku kehilangan kesabaran.]
Jenny membalas dengan tangan bergetar, tapi kata-katanya sudah disepakati.
Jenny.
[Aku butuh jaminan, keluargaku nggak disentuh lagi.]
Balasan datang cepat.
Ethan.
[Pintar, kita bisa bicara.]
Jenny menatap pesan di layar ponselnya, lalu dengan ia mengetik satu pesan lagi.
Jenny.
[Baik, kita ketemu.]
Di sudut ruangan, Rangga berdiri diam dengan wajah tanpa ekspresi.
“Dia memakan umpannya,” ujar Jenny lirih.
Rangga mengangguk. “Bagus.”
“Ga… kalau nanti aku berubah pikiran—”
“Jen,” potong Rangga, menatap wanita itu dalam. “Ini soal keselamatan semua orang.”
Jenny mengangguk pelan.
Sementara itu di tempatnya, Ethan tersenyum tipis membaca pesan Jenny. “Pintar, akhirnya kamu memilih sisi yang benar.”
Pria itu tidak tahu, bahwa setiap langkahnya kini sedang diperhitungkan.
Malam turun pelan, membawa hawa dingin yang menyelinap ke sela-sela jendela rumah Rangga. Milea sudah tertidur di kamar mereka. Nafasnya teratur, wajahnya tampak tenang karena dia tak tahu bahwa bahaya sedang mengitari hidupnya dari jarak yang begitu dekat.
Rangga berdiri di depan jendela di ruang tamu, tirai sedikit terbuka. Tatapannya menembus kegelapan, seolah bisa melihat sosok yang sejak beberapa hari terakhir hanya muncul sebagai bayangan.
“Dia masih di luar,” ucapnya pelan.
Jenny yang duduk di sofa menegang. “Kamu yakin?”
Rangga mengangguk. “Mobil hitam itu, parkirnya selalu dua rumah dari sini. Mesinnya menyala sebentar, lalu mati. Pola yang sama setiap malam...”
Jenny menghembuskan napas pelan, ponselnya bergetar.
Ethan.
[Besok, jam 3 sore. Kafe di Menteng, datanglah sendiri.]
Jenny menunjukkan pesan itu pada Rangga.
“Besok dia mau ketemu.”
“Bagus.”
“Ga… kalau dia sadar aku dipantau—”
“Dia nggak akan tau, orang seperti dia terlalu percaya diri. Kita juga akan berhati-hati, dan memperhitungkan langkah kita.”
Keesokan harinya, jam menunjukkan pukul 14.40 WIB. Jenny duduk di kursi kafe yang menghadap jendela. Ia sengaja datang lebih awal, sesuai instruksi. Ponselnya diletakkan terbalik di meja, tasnya rapi di sisi kursi.
Tangannya dingin, setiap suara langkah membuat bahunya menegang.
“Tenang,” bisiknya pada diri sendiri. “Aku nggak sendirian.”
Di luar kafe di dalam mobil abu-abu, Rangga duduk dengan kacamata hitam dan topi rendah. Sebuah ponsel lain ada di tangannya, layar menampilkan titik lokasi Jenny bergerak stabil.
Milea sendiri, sudah dititipkan pada orang tua Rangga.
Rangga secara khusus berpesan agar orang tuanya menahan Milea di rumah mereka, sampai ia sendiri datang menjemput istrinya.
Arga berdiri beberapa meter dari pintu kafe, berpura-pura merokok. Matanya awas, tubuhnya siap bergerak.
Pukul 15.02 WIB, Ethan berjalan masuk.
Pria itu masih sama, postur tegap dengan wajah tampan blasteran yang mudah mencuri perhatian. Senyumnya tipis, dingin. Matanya langsung menemukan Jenny, seperti pemburu yang akhirnya melihat mangsanya duduk manis.
“Jenny,” sapanya sambil duduk tanpa izin. “Kamu kelihatan… lebih pintar dari yang aku kira.”
Jenny menegakkan punggung. “Aku ke sini bukan buat basa-basi.”
Ethan tersenyum kecil. “Tentu, aku juga.”
Pria itu menyilangkan kaki, santai.
“Aku cuma mau satu hal... akses dan rutinitas Milea. Jam dia keluar rumah, siapa yang dia temui, dan juga kondisi emosinya sekarang. Kamu dekat dengannya dan tinggal di rumahnya, jadi pasti tau dengan pasti. Dan, buatlah mereka bertengkar, hingga mereka berpisah.”
Jenny menahan gemetar di jari-jarinya. “Dan setelah itu?”
“Setelah itu?” Ethan mengangkat bahu. “Keluargamu aman, untuk sementara.”
“Untuk sementara?” Jenny menajamkan suara.
Ethan mencondongkan tubuh, merendahkan suaranya. “Setelah semuanya selesai dan aku mendapatkan Milea lagi, aku tak akan mengganggumu. Dan seluruh keluargamu... akan aman.“
Jenny menarik nafas dalam-dalam menenangkan dirinya.
“Milea hanya boleh menjadi milikku,” lanjut Ethan, senyumnya berubah miring. Ada suatu kegilaan dalam mata pria itu, dan Jenny bisa melihatnya.
Ethan lalu menaruh sebuah ponsel di tengah meja. “Ini nomor khusus. Mulai hari ini, kamu pakai untuk melapor padaku.“
Jenny menatap ponsel itu beberapa detik, lalu mengambilnya. “Baik, sesuai keinginanmu. Tapi ingat, jangan sentuh keluargaku.“
Ethan tersenyum puas. Ia bangkit, merapikan jasnya. “Oh ya… satu lagi.”
Jenny mengangkat wajahnya.
“Jangan coba-coba berani menipuku, atau berlagak seperti pahlawan dengan menyelamatkan hubungan pernikahan mereka. Kalau tidak, kau akan menyesalinya!“ Setelah mengancam, laki-laki itu pergi begitu saja.
Begitu pintu kafe tertutup, Jenny baru berani menghembuskan napas panjang. Tubuhnya gemetar hebat, Ethan adalah orang yang berbahaya.
Di luar, Arga sudah bergerak mendekat. Rangga keluar dari mobil, wajahnya dingin dan nyaris tak terbaca.
“Semua terekam?” tanya Jenny pelan saat mereka berkumpul.
Rangga mengangguk.
“Terus, apa lagi langkah kita?” tanya Arga.
“Sesuai rencana, kita biarkan dia merasa menang. Dan saat dia lengah… kita tutup semua jalan untuknya.”
Di seberang jalan, Ethan berdiri di atas trotoar dengan rokok menyala di sela jarinya. Asap tipis mengepul, seiring senyum kecil yang mengembang di sudut bibirnya. Dalam benaknya, Milea sudah hampir kembali ke sisinya. Wanita yang dulu terpisah darinya oleh kecelakaan yang membuatnya terkurung dalam tubuh lumpuh selama bertahun-tahun. Kini, akhirnya dia bisa berjalan lagi. Dan baginya, itu hanya berarti satu hal... Milea harus kembali menjadi miliknya, bagaimanapun caranya.
“Tunggu aku, Milea sayang. Dulu… orang tuaku membawaku ke Australia tanpa persetujuanku. Aku tidak pernah berniat meninggalkanmu setelah kecelakaan, saat itu... aku pun tak berdaya. Kini aku sudah kembali, kita akan segera bersama lagi. Aku akan mencintaimu seperti dulu, kita akan saling mencintai lagi.“
Sorot matanya tak lagi lembut, penuh keyakinan yang terlihat seperti... Obsesi.
skrg dah terlambat untuk bersama Milea, tapi tuh Ethan terobsesi bgt sme Milea. semoga rencana Rangga berhasil.
apa gak seharusnya Milea dikasih tau ya, takutnya nanti bisa salah paham. apa orang tua Milea dikasih tau Rangga?
malah datang kayak maling, datang dengan cara tidak baik baik
Lebih baik kamu kasih tahu Rangga deh, biar Rangga yang urus semuanya... 😌