Freya Rodriguez seorang wanita cantik anggun dan dewasa dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria misterius yang dingin bahkan tak seorangpun tau kehidupannya dengan jelas. Pria itu bernama Pablo Xander seorang pria yang hidup sendirian setelah kakeknya meninggal, kakeknya menjodohkan dia dengan freya yang mau tak mau harus menurut karena kakeknya adalah kesayanganya.
_
Tanpa disadari mereka berdua telah saling mencintai satu sama lain setelah pertemuan pertama. Freya yang menerima semua kekurangan Pablo begitupun sebaliknya membuat mereka berdua sangat bahagia dengan keluarga kecilnya bersama dengan anak Pablo yang selama ini di rahasiakan dari publik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meet Nael
Di ujung lorong, pintu perpustakaan pribadi yang besar terbuka sedikit. Freya berhenti sejenak, merapikan gaun warna krem miliknya. Jantungnya berdegup kencang, karena ia tahu hari ini ia akan berhadapan dengan kenyataan yang selama ini disembunyikan darinya.
Seorang anak. Darah daging Pablo.
Saat Freya mendorong pintu, aroma kayu cendana dan buku-buku tua menyambutnya. Namun, pandangannya tidak langsung tertuju pada deretan rak buku, melainkan pada seorang bocah laki-laki yang sedang duduk bersila di atas permadani Persia.
Bocah itu tampak lebih besar dari yang dibayangkan Freya. Dia bukan lagi bayi, melainkan anak kecil berumur lima tahun yang tampak sangat cerdas. Rambutnya hitam legam, persis seperti milik Pablo, dengan sepasang mata yang tajam namun penuh rasa ingin tahu.
"Halo," suara Freya hampir menghilang di tenggorokan.
Anak itu mendongak. Ia meletakkan sebuah buku bergambar tentang tata surya yang tadi sedang dipelajarinya. Ia tidak tampak takut atau malu; sebaliknya, ia menatap Freya dengan ketenangan yang tidak biasa untuk anak seusianya.
"Kau siapa?" tanya bocah itu. Suaranya jernih dan penuh wibawa, mengingatkan Freya pada sosok mendiang Kakek Alaric.
"Namaku Freya," jawabnya perlahan, melangkah masuk ke dalam ruangan. "Dan kau... pasti Nael?"
Anak itu mengangguk kecil. "Nael Xander. Daddy bilang akan ada tamu cantik yang datang, tapi dia tidak bilang kalau tamu itu punya mata yang sedih."
Freya terpaku. Kecerdasan dan kejujuran anak ini seperti pisau yang mengiris keraguannya. Ia berlutut di hadapan Nael, mencoba menyamakan tingginya. Di saat yang sama, Pablo melirik mereka berdua dari arah pintu. Dia bersandar di depan pintu perpustakaan dengan memperhatikan keduanya.
Pablo tidak mendekati keduanya melainkan dia berjalan ke arah rak buku dan bersandar disana sekarang.
Nael menarik ujung gaunnya.
"Kau mau lihat planetku?"
Freya menoleh, mencoba tersenyum meskipun hatinya bergetar. "Planetmu?"
"Iya. Aku sedang belajar tentang Saturnus. Dia punya cincin yang cantik, tapi dia sangat jauh dan dingin. Apakah kau juga merasa dingin?" tanya Nael dengan polosnya.
Freya merasakan matanya memanas.
Dia mengambil buku dari tangan Nael dan mulai duduk di samping anak itu. "Tadi aku merasa dingin, Nael. Tapi sekarang, duduk di sini bersamamu, rasanya sedikit lebih hangat."
Selama satu jam berikutnya, Freya tenggelam dalam dunia Nael. Anak itu sangat vokal. Ia bercerita tentang bagaimana Kakek Alaric sering membacakannya dongeng sebelum tidur, dan bagaimana ia sangat merindukan pria tua itu.
Freya menyadari bahwa Nael juga sedang berduka dengan caranya sendiri.
Pablo hanya berdiri di sana, bersandar pada rak buku, mengamati setiap interaksi itu dengan perasaan haru. Ia melihat Freya tertawa kecil saat Nael mencoba menjelaskan mengapa Pluto tidak lagi dianggap planet. Di momen itu, Pablo tahu bahwa keputusannya untuk jujur adalah hal yang benar, meski ia tahu jalan di depan masih panjang.
Namun, saat waktu menunjukkan pukul tujuh malam dan seorang pengasuh datang untuk menjemput Nael untuk makan malam, ketakutan Freya kembali muncul.
"Selamat malam, Nona Cantik," ucap Nael sambil melambaikan tangan kecilnya sebelum keluar dari ruangan.
Setelah pintu tertutup, keheningan kembali menguasai perpustakaan. Freya berdiri, wajahnya kembali serius.
"Dia luar biasa, Pablo. Benar-benar luar biasa," kata Freya.
"Tapi kau takut," potong Pablo, seolah bisa membaca setiap inci pikiran Freya.
Dia mendekat, memerangkap Freya dalam pelukannya yang hangat. "Kau takut tidak bisa menjadi ibu yang baik? Atau kau takut aku masih mencintai ibunya?"
Freya menunduk, menyandarkan kepalanya di dada bidang Pablo. "Keduanya. Dan aku takut hidupku tidak akan pernah sama lagi. Kita sudah dijodohkan oleh Kakek Alaric, tapi memiliki anak... itu adalah komitmen yang berbeda, Pablo."
Pablo mengecup puncak kepala Freya. "Aku tidak memintamu menjadi pengganti ibunya, Freya. Dia meninggal saat Nael masih bayi. Aku hanya ingin kau menjadi Freya yang kucintai, yang ada di sampingku saat aku membesarkannya. Kita akan belajar bersama. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian."
Freya memejamkan mata, menghirup aroma maskulin Pablo yang menenangkan. Pria ini sangat baik, terlalu baik untuk dilepaskan. Namun, bayangan wajah Nael yang cerdas terus terngiang di benaknya.
Dia tahu, mulai malam ini, Mansion Xander bukan lagi sekadar tempat ia mengunjungi Pablo, melainkan sebuah tempat di mana masa depannya akan diuji oleh cinta, tanggung jawab, dan rahasia-rahasia yang mungkin masih tersimpan di balik dinding-dindingnya.