Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.
Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.
Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:
Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.
Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.
Saat sumpah itu terucap—
DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.
Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.
Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Sekte yang Belum Ada
Malam turun tanpa suara. Angin menyusup lewat celah papan gubuk, membawa hawa dingin yang membuat nyala lampu minyak bergetar kecil. Bayangan dua sosok memanjang di dinding tanah liat, saling berhadapan, terpisah jarak beberapa langkah.
Xu Tian duduk bersila dengan punggung lurus. Tangannya bertumpu di lutut, telapak terbuka, kosong. Tidak ada aura yang ia lepaskan. Tidak ada tekanan. Hanya kehadiran seorang pria yang pernah jatuh dan belum benar-benar bangkit.
Di seberangnya, Chen Yu duduk lebih rendah. Bahunya masih tegang, seolah tubuhnya belum yakin boleh beristirahat. Luka di lengannya telah dibalut kain kasar, noda darah mengering di tepinya.
Keheningan itu panjang.
Lampu minyak mengeluarkan bunyi halus. Di luar, seekor anjing menggonggong jauh, lalu sunyi kembali.
Xu Tian menarik napas. Ketika ia berbicara, suaranya tidak keras.
“Aku akan mendirikan sekte.”
Kalimat itu melayang sebentar di udara, lalu jatuh tanpa gema.
Chen Yu tidak langsung bereaksi. Ia menatap Xu Tian, menunggu kelanjutan, seolah kalimat barusan hanyalah pembuka dari sesuatu yang lebih besar. Namun Xu Tian diam.
“Sek… sekte?” Chen Yu mengulang pelan.
Xu Tian mengangguk sekali.
“Ya.”
Chen Yu menelan ludah. Tatapannya bergerak cepat, menyapu gubuk sempit itu. Dinding kayu lapuk. Lantai tanah. Satu lampu minyak. Tidak ada tanda wilayah, tidak ada lambang, tidak ada apa pun yang menyerupai tempat berkumpulnya orang-orang kuat.
“Di mana?” tanyanya akhirnya.
“Belum ada,” jawab Xu Tian.
Jawaban itu terlalu jujur. Terlalu telanjang.
Chen Yu tertawa kecil, tanpa suara gembira. “Maksud senior… belum dibangun?”
“Belum ada sama sekali.”
Kali ini Chen Yu benar-benar menatap Xu Tian. Matanya menyipit tipis, bukan marah, bukan menghina, melainkan mencoba memastikan apakah ia sedang dipermainkan.
“Kalau begitu,” katanya perlahan, “itu bukan sekte.”
Xu Tian menerima kalimat itu tanpa berubah ekspresi.
“Aku tahu.”
Keheningan kembali turun. Angin menggeser daun kering di luar, bunyinya terdengar jelas karena tidak ada suara lain yang menutupinya.
Chen Yu menghela napas panjang. “Senior,” ucapnya hati-hati, “aku berutang nyawa. Itu tidak berubah. Tapi… jangan menjadikanku bahan percobaan mimpi.”
Xu Tian mengangkat pandangannya. Tatapannya tenang, tidak tersinggung.
“Aku tidak punya mimpi besar untuk dijual,” katanya. “Dan aku tidak mencari orang untuk mengisi kekosongan.”
Chen Yu mengernyit. “Lalu apa ini?”
Xu Tian berpikir sejenak sebelum menjawab. Kata-kata itu tidak datang mudah.
“Ini pengakuan,” katanya. “Bahwa aku tidak cocok dengan dunia yang ada. Dan aku tidak ingin kembali memohon pada pintu yang sudah menutupku.”
Chen Yu menggenggam kain di lututnya. “Semua orang bilang begitu saat terdesak.”
“Mungkin,” jawab Xu Tian. “Karena banyak yang memang terdesak.”
“Kalau begitu apa bedanya dengan pelarian?” tanya Chen Yu tajam.
Xu Tian tidak segera membalas. Ia menatap api lampu yang bergoyang. Bayangan di dinding ikut bergerak, seakan dua sosok itu berubah bentuk.
“Pelarian menghindari arah,” katanya akhirnya. “Ini memilih arah lain.”
Chen Yu menggeleng kecil. “Kata-kata.”
Xu Tian mengangguk. “Ya. Saat ini hanya kata-kata.”
Kejujuran itu membuat Chen Yu terdiam. Ia terbiasa dengan janji kosong yang dibungkus keyakinan palsu. Namun pria di depannya tidak berusaha membuat ucapannya terdengar lebih berat dari yang sebenarnya.
“Di mana muridmu?” tanya Chen Yu lagi.
“Belum ada.”
“Kekuatanmu?”
Xu Tian menatapnya lurus. “Tidak cukup untuk melindungi siapa pun tanpa risiko.”
Chen Yu tertawa pendek. Kali ini ada nada pahit yang jelas. “Lalu mengapa aku harus mendengarkan ini?”
Xu Tian tidak membantah. Ia menggeser posisinya sedikit, suara kain bergesek dengan tanah terdengar pelan.
“Karena aku akan mengatakan satu hal lagi,” katanya.
Chen Yu menunggu.
“Aku tidak menjanjikan kau akan aman,” lanjut Xu Tian. “Aku tidak menjanjikan kau akan kuat. Aku tidak menjanjikan apa pun yang biasanya dijanjikan oleh orang-orang yang ingin diikuti.”
Lampu minyak bergetar, nyalanya hampir padam, lalu kembali stabil.
“Yang bisa kutawarkan,” kata Xu Tian, “hanya satu tempat berdiri. Tidak di bawah mereka. Tidak di atas siapa pun.”
Chen Yu menunduk. Rambutnya jatuh menutupi mata. Ia diam cukup lama.
“Tempat berdiri,” ulangnya pelan. “Aku pernah berdiri di banyak tempat. Semuanya runtuh.”
Xu Tian tidak menyangkal. “Karena tempat itu bukan milikmu.”
Chen Yu mendongak. “Dan yang ini milik siapa?”
Xu Tian menjawab tanpa ragu. “Belum milik siapa pun.”
Kalimat itu menggantung. Tidak megah. Tidak menenangkan. Namun justru di situlah beratnya terasa.
Chen Yu menarik napas dalam-dalam. “Senior,” katanya, “aku pernah diuji. Pernah dibawa masuk. Pernah dipercaya sebentar. Lalu dibuang. Aku tahu pola ini.”
Xu Tian mendengarkan tanpa menyela.
“Aku tidak takut bekerja,” lanjut Chen Yu. “Tidak takut menderita. Yang kutakutkan adalah… percaya lagi.”
Xu Tian merasakan kata itu menghantam lebih keras dari tuduhan apa pun.
“Aku tidak akan memintamu percaya,” katanya. “Tidak sekarang.”
Chen Yu mengerutkan kening. “Lalu?”
“Aku hanya mengatakan apa yang akan kulakukan,” jawab Xu Tian. “Keputusan tetap di tanganmu.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Jika kau pergi malam ini, aku tidak akan menahan.”
Chen Yu menatapnya, jelas terkejut. “Senior tidak takut kehilangan?”
Xu Tian tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. “Aku sudah kehilangan terlalu banyak untuk takut pada satu hal lagi.”
Keheningan kembali menyelimuti gubuk. Kali ini berbeda. Tidak sepenuhnya dingin, namun tidak hangat.
Di pinggir penglihatan Xu Tian, panel sistem tetap redup, diam, seolah tidak hadir. Tidak ada dorongan. Tidak ada peringatan.
Ini bukan urusannya.
Chen Yu berdiri perlahan. Lututnya sempat goyah, namun ia menegakkan diri. Ia melangkah satu langkah, lalu berhenti.
“Jika aku bertanya satu hal terakhir,” katanya, “senior akan menjawab jujur?”
Xu Tian mengangguk.
“Kenapa aku?” tanya Chen Yu.
Xu Tian tidak langsung menjawab. Ia bangkit berdiri. Tinggi mereka hampir sejajar sekarang. Bayangan di dinding menyatu.
“Karena saat kulihat kau hampir mati,” katanya, “aku tidak melihat orang lemah. Aku melihat seseorang yang dipaksa berjalan di jalan yang salah.”
Chen Yu mengepalkan tangan. Kukunya menekan telapak.
“Dan kau?” tanyanya balik. “Jalan apa yang senior pilih?”
Xu Tian menatap lurus ke depan, melewati Chen Yu, seakan melihat sesuatu yang belum ada.
“Jalan yang belum dibangun,” katanya.
Chen Yu terdiam lama. Lampu minyak kembali bergetar, kali ini lebih kuat, seolah angin malam mendesak masuk.
Ketika ia akhirnya bergerak, Chen Yu tidak pergi ke pintu.
Ia mundur satu langkah. Lalu satu langkah lagi.
Dan berhenti.
Babak keheningan itu terasa lebih berat dari sebelumnya. Xu Tian menunggu, tanpa mendesak, tanpa kata.
Malam masih panjang.
...
Chen Yu berdiri diam cukup lama. Nafasnya terdengar jelas di ruang sempit itu, naik turun tidak teratur. Tangannya mengepal, lalu perlahan mengendur.
Ia menatap lantai tanah di bawah kakinya. Tanah yang keras, dingin, dan tidak menjanjikan apa pun.
“Aku tidak tahu harus percaya apa,” katanya lirih.
Xu Tian tidak bergerak. “Aku juga tidak.”
Chen Yu mengangkat kepala. “Kalau aku ikut, aku bisa mati.”
“Bisa,” jawab Xu Tian tanpa ragu.
“Bisa kelaparan.”
“Bisa.”
“Bisa dibuang lagi.”
Xu Tian mengangguk. “Bisa.”
Kejujuran itu memutus sisa ilusi terakhir. Chen Yu tertawa pelan, suaranya serak. “Senior benar-benar buruk dalam membujuk orang.”
Xu Tian menatapnya. “Aku tidak ingin membujuk.”
Hening kembali turun. Di luar, angin bertiup lebih kencang. Papan dinding berderit, debu tipis jatuh dari balok kayu.
Chen Yu melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Ia berhenti tepat di hadapan Xu Tian.
“Kalau aku ikut,” katanya, suaranya lebih tenang, “aku tidak ingin diselamatkan.”
Xu Tian mengangkat alis tipis.
“Aku tidak ingin ditarik keluar dari lumpur,” lanjut Chen Yu. “Aku ingin berdiri sendiri. Kalau aku jatuh, biarkan aku jatuh karena langkahku sendiri.”
Xu Tian menatapnya lama. Tatapan itu tidak menilai, tidak menguji. Hanya menerima.
“Kalau kau ikut,” katanya, “aku tidak akan menyeretmu. Dan aku tidak akan mendorongmu.”
Chen Yu mengangguk pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, seolah melepaskan sesuatu yang menekan dadanya sejak lama.
Tanpa aba-aba, ia melangkah mundur satu langkah.
Lalu lututnya menyentuh tanah.
Suara itu kecil. Namun di gubuk sunyi, terdengar jelas.
Xu Tian refleks ingin bergerak, namun menahan diri.
Chen Yu menurunkan tubuhnya sepenuhnya. Telapak tangannya menempel di tanah. Kepalanya menunduk hingga dahi hampir menyentuh lantai.
Ia berhenti sejenak, lalu benar-benar menempelkan dahinya ke tanah.
Sujud.
Tidak ada seruan. Tidak ada sumpah panjang. Tidak ada janji yang diucapkan lantang.
Hanya satu kalimat, teredam oleh tanah.
“Jika jalannya belum ada,” kata Chen Yu, “izinkan aku berjalan di belakangmu.”
Xu Tian merasakan sesuatu menekan dadanya. Bukan kekuatan, bukan aura. Beban.
Untuk sesaat, ia tidak menjawab.
Lampu minyak bergetar hebat, nyalanya memanjang, lalu stabil kembali. Udara di gubuk terasa lebih berat, seolah ruang sempit itu menerima sesuatu yang baru.
Xu Tian menurunkan pandangannya ke sosok yang bersujud di depannya.
“Bangun,” katanya akhirnya.
Chen Yu mengangkat kepala, ragu. “Senior…?”
“Bangun,” ulang Xu Tian. “Aku tidak menerima orang yang berlutut selamanya.”
Chen Yu menggertakkan gigi, lalu perlahan berdiri. Lututnya kotor oleh tanah. Tangannya gemetar ringan.
Xu Tian menatapnya lurus. “Aku tidak akan memanggilmu murid hari ini.”
Chen Yu terdiam.
“Dan aku tidak akan memanggil diriku guru,” lanjut Xu Tian. “Belum.”
Chen Yu mengangguk, seolah sudah menduga.
“Mulai malam ini,” kata Xu Tian, “kau tinggal di sini. Kita bertahan hidup dulu.”
“Baik,” jawab Chen Yu singkat.
Di pinggir penglihatan Xu Tian, panel sistem yang sejak tadi redup tiba-tiba bergetar.
Cahaya tipis menyala, lalu menguat.
Tidak ada suara keras. Tidak ada gemuruh.
Namun Xu Tian merasakan perubahan yang jelas, seolah sesuatu yang lama kosong kini terisi satu titik kecil.
[Entitas Baru Terdeteksi]
Tulisan itu muncul singkat.
[Status: Terikat]
Xu Tian menahan napas. Tatapannya tetap pada Chen Yu, yang sama sekali tidak menyadari apa pun.
Panel bergeser. Baris baru muncul, lebih lambat, lebih berat.
[Fondasi Sekte: Terbentuk]
Xu Tian tidak bergerak. Ia tidak merasa bangga. Tidak merasa lega.
Yang ia rasakan hanyalah satu hal: jalan di depannya kini tidak lagi bisa ditinggalkan begitu saja.
Chen Yu mengusap lututnya, lalu menatap Xu Tian. “Apa yang harus kulakukan sekarang?”
Xu Tian memadamkan panel dengan satu niat. Cahaya menghilang, gubuk kembali seperti semula.
Ia menoleh ke pintu yang reyot, ke malam yang dingin di luar.
“Besok,” katanya, “kita cari tempat yang lebih aman.”
Chen Yu mengangguk.
“Dan setelah itu?”
Xu Tian menjawab tanpa ragu. “Kita mulai membangun.”
Di luar, angin malam berhenti sejenak, seolah mendengar kata itu.
Sekte itu belum ada.
Namun fondasinya telah diletakkan.