NovelToon NovelToon
Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2

Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Tulus

Selamat datang kembali, Pembaca Setia!

Terima kasih karena telah melangkah sejauh ini bersama Aulia. Jika kamu ada di sini, artinya kamu telah menjadi saksi bisu betapa perihnya luka yang ia simpan selama lima tahun, dan betapa kuatnya ia saat mencoba berdiri di atas kakinya sendiri di buku pertama.

Di "Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2", perjalanan ini akan menjadi lebih menantang. Kita akan menyaksikan bagaimana Aulia mengubah rasa sakitnya menjadi kekuatan, bagaimana rahasia kelam masa lalu mulai terkuak satu per satu, dan ke mana arah hatinya akan berlabuh.

Terima kasih telah setia menanti dan mendukung karya ini. Mari kita lanjutkan perjuangan Aulia sampai akhir!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Inspirasi di Tengah Kegelapan

Di dalam keheningan laboratorium UME yang hanya diterangi lampu meja, Aulia akhirnya menemukan sebuah terobosan besar dalam riset robotikanya. Ia menyadari bahwa logika mesin tidak bisa hanya mengandalkan sensor visual yang kaku. Dengan menggunakan logika "konteks" atau pembagian zona—seperti halnya pemahaman bahwa vas bunga dan gelas minum memiliki tempat dan fungsi yang berbeda meskipun bentuknya serupa—tingkat akurasi lengan robotik itu meningkat pesat.

Meski masih memerlukan ribuan kali pengujian untuk mencapai kesempurnaan, Aulia bisa merasakan dadanya bergemuruh pelan. Usahanya mulai menunjukkan titik terang di tengah badai kehidupan pribadinya yang kian gelap.

Sebelum meninggalkan laboratorium, Aulia melihat sisa mawar biru pemberian Edric yang masih tergeletak di meja. Dengan gerakan tenang, ia merangkainya ke dalam sebuah vas bening. Kegiatan sederhana ini memberinya rasa damai yang langka. Saat itulah, pintu laboratorium terbuka dan Mavin muncul.

Wajah Mavin tampak sedikit gelisah; ia jelas telah mendengar gosip yang beredar di kantor tentang hadiah mewah senilai miliaran rupiah yang diterima Aulia siang tadi. Namun, saat melihat ketenangan Aulia yang memperlakukan bunga-bunga mahal itu "hanya sebagai dekorasi meja", Mavin merasa sedikit lega. Ia tidak bertanya lebih jauh, dan mereka pun memutuskan untuk pulang bersama karena jam sudah menunjukkan waktu yang sangat larut.

Penantian yang Tak Biasa

Sesampainya di kompleks apartemen, udara malam yang dingin menyambut mereka. Namun, langkah Aulia mendadak terhenti saat matanya menangkap siluet yang sangat ia kenal di bawah keremangan lampu jalan: Rizki.

Pria itu berdiri bersandar pada mobil mewahnya yang terparkir di tempat gelap. Wajahnya tampak lebih muram dari biasanya, dan aura yang dipancarkannya begitu menekan hingga membuat suasana di sekitar gerbang apartemen terasa mencekam. Rizki telah berdiri di sana, menunggu Aulia selama hampir tiga jam—sebuah tindakan yang belum pernah, dan bahkan mustahil, ia lakukan selama lima tahun pernikahan mereka.

"Aku meneleponmu berkali-kali, kenapa tidak diangkat?" tanya Rizki. Suaranya rendah, bergetar karena amarah yang berusaha ia tahan di depan Mavin.

Aulia menjawab dengan nada datar, "Ponselku dalam mode senyap. Aku sedang bekerja di laboratorium."

Namun, saat Rizki melangkah mendekat, indra penciumannya yang tajam menangkap sesuatu yang membuat darahnya mendidih. Aroma parfum pria yang sangat maskulin dan elegan menempel di pakaian Aulia—itu adalah aroma parfum milik Mavin yang tadi sempat berjalan bersisian dengannya.

Rizki merasa harga dirinya hancur berkeping-keping. Ia sudah merendahkan harga dirinya dengan menunggu di depan apartemen berjam-jam layaknya seorang pemohon, namun istrinya justru pulang larut malam dengan aroma pria lain di tubuhnya.

"Kamu tahu tidak, aku sudah menunggu berapa lama di sini hanya untuk bicara denganmu?!" tuntut Rizki, matanya berkilat penuh kecemburuan yang ia samarkan dengan kemarahan.

Aulia menatap Rizki dengan tatapan heran yang justru menyakitkan bagi pria itu. Baginya, penantian Rizki tidak lagi masuk akal. Mereka sudah berada di ambang perceraian, dan tidak ada lagi yang perlu dipertahankan.

"Ada urusan mendesak apa sampai kamu harus menunggu di sini? Kita bisa bicara di kantor besok," tanya Aulia dingin.

Rizki sempat terdiam. Ada banyak hal yang sebenarnya ingin ia sampaikan. Ia ingin bicara tentang rasa sakit yang ia rasakan setelah melihat nisan Hope. Ia ingin mencoba melakukan saran Fadil untuk mulai memperlakukan Aulia dengan lembut. Namun, saat melihat Aulia berdiri begitu dekat dengan Mavin, egonya kembali mengambil alih kendali.

Alih-alih bicara dengan nada menyesal, ia justru mengeluarkan perintah dengan nada otoriter yang biasa ia gunakan untuk menekan Aulia:

"Masuk ke mobil. Sekarang."

Rizki masih mencoba mengendalikan Aulia dengan cara lama, menggunakan dominasi dan gertakan. Namun, ia lupa bahwa wanita di hadapannya bukan lagi Aulia yang dulu akan langsung menunduk patuh karena takut.

Aulia berdiri tegak, tidak bergeming sedikit pun. Di jam sedini ini, ke mana Rizki berniat membawanya? Dan apakah Rizki menyadari bahwa setiap bentakan yang ia keluarkan justru semakin mendorong Aulia untuk menjauh selamanya?

1
Sweet Girl
Klo kalian saling mendukung, Khan keren ya...
Sweet Girl
Telat...
Sweet Girl
Menyayat hati.
Sweet Girl
Hhaaaa Gantle kali kau Mavin...👍
Sweet Girl
Sak bahagiane persepsi mu terhadap Aulia, Van...
Sweet Girl
Semoga kamu bisa menyelesaikan semua proyek mu dan bisa operasi, Aulia.
Sweet Girl
Bwahahaha kapok Lu.... ngerasa Ndak kamu...
Sweet Girl
Mantap...👍
Sweet Girl
Sengkuni mulai beraksi.
Sweet Girl
Harus menyadari lho Tor...
Sweet Girl
Enak aja Hak Melati di klaim Aulia.
emang apa prestasinya Melati, Ken...
Sweet Girl
Bwahahaha tau Ndak pintunya... klo Ndak tau tak anter... tak gandeng sampai pintu.
Sweet Girl
Tor... bikin mereka yg akan menghancurkan Aulia, gagal semua ya...
kasihan tau Aulia... udah capek capek mikir, mau di sabotase.
Sweet Girl
Jangan percaya sama mereka Aulia, kamu harus tetep pantau tuuu pergerakan Jin iprit sama Henry.
Sweet Girl
Oooaaalah baru mudeng ini si Jin iprit Khan adik tiri nya Aulia ya...
weeeesss angel... angel...
Sweet Girl
Semoga kopinya ada Sianidanya🤣
Sweet Girl
Yo mbok wes toh Tor... penderitaannya Aulia...
Sampek kurang turu lhooo sangking mau menunjukkan keberhasilan dr tantangan Henry.
Sweet Girl
semangat aja dalam memperbaiki SDM, Aulia.
Ndak usah mikirin hal hal yg bikin kita jatuh.
Sweet Girl
Buruk Hatinya.
Sweet Girl
Bagaimana ceritanya Tor... kok Violetta sampai Ndak tau klo Pamela habis minum obat perangsang.
padahal tadi yang jemput Pamela di rumah Rizki Khan Violetta.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!