seorang gadis bernama kayla diculik oleh orang misterius saat sedang bereda di club malam bersama teman temannya. pria misterius itu lalu mengurung kayla di sebuah ruangan yang gelap bagaikan penjara. kayla bertanya tanya siapa pria yang menculiknya.
apa yang akan dilakukan oleh penculik itu kepada kayla yuk baca kelanjutan kisah dari tahanan obsesi.
mencari ide itu sulit gusy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KENCAN
Hari-hari berikutnya di dalam sel itu berubah menjadi rutinitas yang aneh dan menyakitkan. Ruangan yang tadinya terasa seperti kuburan, kini sedikit menghangat karena keberadaan satu sama lain. Karena rantai mereka dipaku pada titik yang berdekatan di dinding yang sama, Aris dan Kayla bisa duduk berdampingan, bahu mereka bersentuhan, saling berbagi suhu tubuh di tengah dinginnya ruangan beton tersebut.
Hubungan mereka tumbuh melampaui sekadar rekan senasib. Aris, yang tadinya tertutup dan keras, mulai membuka diri. Saat malam tiba dan lampu meredup menjadi cahaya merah yang remang, Aris sering membisikkan cerita tentang dunianya sebelum diculik—tentang bengkel kecilnya, tentang kegemarannya mendaki gunung, dan tentang impian-impian sederhana yang kini terasa seperti dongeng dari planet lain.
Kayla mendengarkan dengan saksama, kepalanya bersandar di bahu Aris. Ia mulai hafal aroma tubuh Aris yang bercampur dengan bau obat-obatan, dan ia mulai merasa aman hanya dengan mendengar detak jantung pria itu.
Sentuhan di Tengah Kegelapan
"Kenapa kamu terus menatapku?" bisik Aris suatu malam, suaranya parau namun lembut.
Kayla yang sedang mengusap tangan Aris yang penuh bekas luka, tersenyum kecil. "Aku hanya sedang mencoba mengingat setiap garis di wajahmu. Agar kalau kita... kalau aku tidak bisa melihatmu lagi, aku tidak akan lupa."
Aris mengeratkan rangkulannya pada bahu Kayla. Ia mencium puncak kepala Kayla dengan penuh perasaan. "Kita akan keluar, Kayla. Aku janji. Bukan cuma aku, tapi kita."
Kayla mendongak, menatap mata cokelat Aris yang dalam. Di dalam ruangan yang dipenuhi kamera dan mikroskop tak terlihat itu, mereka menciptakan dunia kecil mereka sendiri. Kayla merasakan perasaan yang lebih dalam dari sekadar simpati. Ia mencintai Aris. Mencintai pria yang telah menjadi pelindungnya di tengah neraka ini.
Dengan perlahan, Kayla mendekatkan wajahnya, dan Aris menyambutnya. Di bawah pengawasan lensa kamera yang dingin, kedua tahanan itu berciuman untuk pertama kalinya—sebuah ciuman yang terasa seperti perlawanan terhadap pria bertopeng. Ciuman itu penuh dengan rasa haus akan kehidupan, rasa takut akan kehilangan, dan janji yang tak terucapkan untuk saling menjaga.
Kejutan dari Laci Otomatis
Tiba-tiba, suara klik mekanis yang sangat dibenci Kayla terdengar. Laci otomatis di bawah foto yang robek itu terbuka.
Biasanya, laci itu berisi makanan menjijikkan atau alat penyiksaan. Namun kali ini, di dalamnya terdapat sebuah gaun putih bersih yang sangat indah—seperti gaun pengantin sederhana—dan sebuah setelan jas hitam yang rapi. Di tengah pakaian itu, terdapat sebuah kue kecil dengan lilin yang menyala, dan selembar kertas bertuliskan:
"Rayakan cinta kalian. Jamuan terakhir akan segera dimulai."
Wajah Aris seketika berubah pucat. Ia tahu betul apa artinya "Jamuan Terakhir" dalam kamus psikopat yang menyekap mereka. Pria bertopeng itu bukan sedang berbaik hati; ia sedang mempersiapkan sebuah klimaks yang tragis untuk hiburannya sendiri. Ia ingin memberi mereka kebahagiaan sesaat sebelum menghancurkannya berkeping-keping.
"Kayla, jangan sentuh bajunya," bisik Aris dengan nada waspada.
Namun, Kayla menatap gaun itu dengan pandangan kosong. Ia mengambil kue kecil itu dan membaginya menjadi dua. "Kalau ini memang malam terakhir kita, aku ingin menghabiskannya sebagai milikmu, Aris. Bukan sebagai korbannya."
Kayla menatap Aris dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh tekad. Di dalam hati, ia sudah memutuskan: jika salah satu dari mereka harus mati malam ini, ia akan memastikan Aris-lah yang berjalan keluar dari pintu baja itu.
Suasananya menjadi sangat mengharukan sekaligus mencekam.
Malam itu, sel beton yang dingin berubah menjadi panggung sandiwara yang paling ganjil sekaligus paling romantis di dunia. Meski mereka tahu ribuan lensa kamera mungkin sedang menguliti setiap gerak-gerik mereka, Aris dan Kayla memutuskan untuk mengabaikan sang "Sutradara" gila itu untuk sementara.
Kayla perlahan mengenakan gaun putih itu. Kainnya terasa lembut dan mewah, sangat kontras dengan lantai semen yang kusam. Ia menyisir rambutnya yang kusut dengan jari, berusaha terlihat cantik di depan Aris. Sementara itu, Aris mengenakan setelan jas hitam yang pas di tubuhnya, menutupi luka sayatan di dadanya yang masih terasa nyeri.
Ketika mereka berdua berdiri—sejauh yang diizinkan oleh panjang rantai di kaki masing-masing—mereka tampak seperti pasangan yang siap melangkah ke pelaminan, bukan dua orang yang sedang menunggu ajal.
Aris mengulurkan tangannya, menyambut jemari Kayla. "Kamu sangat cantik, Kayla. Bahkan lebih cantik dari hari pertama aku melihatmu di balik kaca itu."
Kayla tersenyum, meski matanya berkaca-kaca. "Dan kamu terlihat seperti pria yang siap membawaku berdansa di sebuah pesta besar, bukan di dalam lubang ini."
Mereka duduk berhadapan di atas lantai, dengan kue kecil berlilin yang kini diletakkan di tengah-tengah sebagai hidangan utama. Cahaya lilin yang mungil itu menari-nari di wajah mereka, memberikan kehangatan yang sudah lama tidak mereka rasakan. Aris membagi kue itu dengan sangat hati-hati, menyuapi Kayla dengan gerakan yang lembut.
"Malam ini, lupakan dia," bisik Aris sambil menatap mata Kayla. "Lupakan pria bertopeng itu. Lupakan rantai ini. Bayangkan kita sedang berada di sebuah restoran di pinggir pantai. Kita bisa mendengar suara ombak, dan angin malam terasa sejuk."
Kayla memejamkan mata, mencoba mengikuti narasi Aris. "Aku bisa mencium aroma lautnya, Aris. Aku melihat lampu-lampu kapal di kejauhan."
"Dan aku sedang menggenggam tanganmu, berjanji bahwa aku tidak akan pernah melepaskannya," lanjut Aris.
Dansa dalam Kebisuan
Tanpa musik, tanpa suara—kecuali dengung halus dari mesin pendingin ruangan—Aris bangkit berdiri dan menarik Kayla ke dalam pelukannya. Mereka mulai berdansa perlahan dalam radius yang sangat terbatas. Dentingan rantai di pergelangan kaki mereka yang bergesekan dengan lantai beton justru terdengar seperti irama musik perkusi yang menyedihkan namun indah.
Kayla menyandarkan kepalanya di dada Aris, mendengarkan detak jantung pria itu yang tenang. Untuk pertama kalinya sejak ia diculik, rasa takutnya hilang sepenuhnya. Perasaannya pada Aris telah memberikan semacam perlisai batin. Jika ini adalah saat-saat terakhirnya, ia merasa cukup karena telah menemukan cinta di tempat yang paling tidak terduga.
"Aku mencintaimu, Aris," bisik Kayla lirih.
Aris memeluknya lebih erat, mencium keningnya lama sekali. "Aku juga mencintaimu, Kayla. Lebih dari nyawaku sendiri."
Anehnya, pria bertopeng itu benar-benar tidak mengganggu. Tidak ada gas bius, tidak ada suara gerinda, dan tidak ada teriakan dari pengeras suara. Ia seolah memberikan mereka waktu beberapa jam untuk benar-benar menjadi manusia kembali. Namun, ketenangan ini justru terasa seperti keheningan sebelum badai besar menghantam.
Saat lilin kecil di atas kue itu perlahan padam dan menyisakan asap tipis, Aris dan Kayla kembali duduk berdampingan di sudut ruangan, saling berpelukan erat di bawah sorotan lampu merah yang mulai berkedip—tanda bahwa waktu kencan mereka telah habis.