NovelToon NovelToon
Candy Cane

Candy Cane

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Beda Usia
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: Lunea Bubble

Candelle Luna (Candy), 19 tahun, tidak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena… ibu tirinya takut anak kandungnya menikah dengan pria “tua, kaya, dan super pelit”.

Hasilnya?
Candy yang dikorbankan sebagai pengantin pengganti untuk Revo Bara Luneth—pria 37 tahun yang lebih dingin dari kulkas dua pintu, hemat bicara, dan hemat… segalanya.

Pernikahan ini harusnya berakhir kacau.
Tapi ternyata, gadis yang terlihat penurut itu punya lebih banyak kejutan daripada permen candy cane yang manis di luar, pedas di dalam.

"Gadis pendiam dan lembut itu… dia? Tidak mungkin." — Revo

"Astaga, hidup baru mulai, tapi sudah dilempar ke mode hard married life!" — Candy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunea Bubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan

Jam tangan di pergelangan tangan Candy seakan berdetak lebih cepat dari biasanya.

Candy duduk tegak di meja yang telah ditentukan. Tangannya saling bertaut di pangkuan, jemarinya dingin. Gaun krem pilihannya mendadak terasa terlalu rapi—atau mungkin ia saja yang terlalu tegang.

Tenang. Cuma makan siang. Sama calon suami dingin, pelit, kejam, minim kata.

"Tenang, Candy. Tenang," gumamnya pelan sambil menunduk.

Alih-alih menenangkan, usaha itu justru membuat dadanya terasa semakin sesak.

"Astaga…" bisiknya sambil mengusap dada, seolah bisa menahan jantungnya agar tidak meloncat keluar.

Suara riuh para pengunjung restoran sama sekali tak membantu. Justru membuat pikirannya semakin kalut.

Langkah kaki terdengar mendekat.

Candy refleks mengeratkan tautan tangannya. Setiap langkah itu terasa seperti hitungan mundur.

"Candy," sapa seorang pria.

Aduh. Beneran dia, batinnya panik.

"Halo," lanjut pria itu, suaranya terdengar ramah.

Kata si Mbah Gugel, dia irit bicara. Kok ramah banget? Lagi-lagi Candy bermonolog dalam hati.

"Saya duduk, ya," ucap pria itu sambil menarik kursi dan duduk di seberangnya.

What? Mana yang katanya pelit, kejam, minim kata? Si Mbah Gugel emang nggak bisa dipercaya.

Didorong rasa penasaran—dan sedikit keberanian—Candy perlahan mengangkat kepalanya.

Pandangan mereka bertemu.

Mata Candy langsung membulat.

"Tua dari Hongkong," celetuknya tanpa sadar.

Pria di depannya mengangkat sebelah alis. "Tua dari Hongkong?" ulangnya, jelas heran.

Candy terperangah.

Bukan kakek-kakek. Bukan om-om berperut buncit. Bukan pula pria menyeramkan berwajah antagonis kelas berat.

Pria di hadapannya masih muda. Tubuhnya proporsional, posturnya tegap, dengan kulit cerah dan sepasang mata hitam pekat yang tajam—namun tenang. Plus setelan jas abu-abu gelap membuatnya terlihat maskulin.

Itu pasti dia.

Revo Bara Luneth.

"Ehem," pria itu berdehem pelan.

Candy tersentak, baru menyadari sejak tadi ia menatap terlalu lama.

Candy tersenyum kaku lalu mengulurkan tangan. "Aku Candy."

"Senang berkenalan dengan Anda, Nona Candy," ucap Danny sambil membalas uluran tangannya.

Ya.

Pria itu Danny.

Bukan Revo.

Dua menit sebelum memasuki restoran, Revo berjalan paling depan. Tiba-tiba pria itu berhenti, lalu langsung duduk di meja terdekat.

"Eh, Pak Bos!" Danny terkejut. "Itu bukan meja Anda. Di sana!" Ia menunjuk seorang gadis yang sudah duduk menunggu.

Wajah Revo tetap datar. "Siapa yang buat masalah?"

"Aku," jawab Danny cepat.

"Kalau begitu, siapa yang harus menyelesaikan?" ucapnya dingin sambil menatap tajam ke arah Candy, yang duduk sekitar tiga meja darinya.

"A-aku," jawab Danny tak berdaya.

Revo memberi kode dengan telunjuknya, menyuruh Danny pergi ke meja Candy.

Danny menatap Candy dengan pasrah, lalu menghela napas.

"Dari sekian banyak pekerjaan, kurasa ini yang paling berisiko," gumamnya pelan.

"Mau aku demosi?" tanya Revo datar tanpa mengalihkan pandangan.

"Tidak," jawab Danny cepat.

"Kalau begitu, titip ini," ucap Revo sambil meletakkan tablet di meja, lalu pergi begitu saja.

Revo melirik sekilas sebelum mengambil tablet itu.

Dengan langkah mantap, Danny berjalan mendekati Candy. Tiba-tiba rasa iba muncul di hatinya saat melihat gadis itu. Meski masih menunduk, ia bisa menilai bahwa Candy lebih cantik daripada foto.

Benar saja. Saat gadis itu mengangkat kepala, Danny melihat dengan jelas kecantikan alaminya. Sangat cocok dipanggil Candy.

Bosnya benar-benar pendek akal jika sampai melepaskan yang satu ini. Gadis ini terlihat polos, baik, dan sangat muda—tapi Bella-nya tetap nomor satu.

"Nona Candy—"

"Candy saja, Om," potong Candy cepat.

Mata Danny langsung membulat. Ia benar-benar terkejut saat gadis cantik itu memanggilnya om.

"Ah!" serunya refleks.

Saat itu juga Danny menyadari satu hal: Candy jelas salah paham. Ia harus segera meluruskan ini—kalau tidak, bisa gawat.

"Begini, soal pernikahan—"

"Mau batal, ya, Om?" sela Candy sambil tersenyum manis.

Danny terdiam sesaat. Dalam hati, ia justru bersyukur memiliki otak yang bekerja cepat. Senyum licik perlahan terbit di sudut bibirnya.

"Justru ingin kupercepat," jawabnya ringan.

"Hah? Nggak salah, Om?" tanya Candy terkejut.

Candy sempat mengira pertemuan ini akan membahas pembatalan pernikahan—bukan kebalikannya.

Ekspresi kesal langsung tercetak jelas di wajah gadis itu. Danny sampai harus menutup mulut agar tawanya tak lolos.

Salah Revo sendiri kenapa memerintahkannya bertukar peran.

Terlanjur tercebur ke dalam masalah, sekalian saja ia berenang sambil menyelam.

Lagipula, ada Bella di sisinya.

Candy menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Memutar otak. Setelah mendapat jawaban, Candy menegakkan tubuh dan melipat tangan di depan dada.

"Kalau dipercepat," katanya datar, "emang mau kapan, Om?"

Danny tersedak udara sendiri.

Kapan?

Pertanyaan itu jelas bukan bagian dari rencana dadakannya.

"Ehm—" Danny mengusap tengkuk.

"Secepatnya?"

"Secepatnya itu kapan?" Candy memiringkan kepala. "Minggu ini? Minggu depan? Atau Om cuma bercanda?"

Tatapan Candy lurus dan menekan. Sama sekali tak terlihat seperti gadis polos yang barusan ia pikirkan.

Kena gue, batin Danny.

"Ya… tentu saja tidak bercanda," jawabnya sambil tersenyum profesional—senyum yang biasa ia pakai saat presentasi klien, bukan menghadapi calon pengantin yang salah orang. "Aku cuma… ingin memastikan kamu siap."

Candy mendengus pelan.

"Siap atau nggak, dari awal aku juga nggak dikasih pilihan," gumamnya.

Danny membeku. Sekarang dia mengerti akan perasaan iba-nya tadi. Gadis ini menjadi pengganti kakaknya. Jika saja Rania tidak kabur, pasti dia dan Revo yang nantinya akan bersanding. Rencana tinggal rencana.

"Oh?" katanya hati-hati.

"Begini, aku hanya menjalankan tugas," terang Danny akhirnya.

Ia memutuskan untuk memberitahu gadis itu siapa dirinya sebenarnya.

"Menjalankan tugas?" Candy mengulang pelan.

Danny mengangguk.

"Jadi…" suara Candy terdengar tertahan.

"Om bukan Om Revo?" Sebelah matanya menyipit, seolah masih berharap ada jawaban lain.

Danny menggeleng pelan.

"What?" Candy berteriak lirih.

Ini tempat umum. Ia tidak ingin menarik perhatian atau membuat keributan. Namun perasaannya kembali tidak tenang. Kepala Candy menunduk, dan wajahnya tampak seperti akan menangis.

"Jadi… bayanganku tentang kakek-kakek, perut buncit, dan wajah kejam antagonis itu bakal benar-benar jadi kenyataan, dong," ucapnya lirih dengan wajah sedih.

"Kakek-kakek?" ulang Danny.

Candy mengangguk lemas tanpa menatapnya.

"Perut buncit?" Danny mengangkat kedua tangannya, memperagakan perut membuncit.

"Hm…" Candy kembali mengangguk.

"Wajah antagonis," lanjut Danny.

"Jangan diulang-ulang, deh, Om!" keluh Candy.

Seketika tawa Danny pecah. Ia tertawa terbahak sampai harus memejamkan mata, bahkan air mata menggenang di sudutnya.

Beberapa pengunjung restoran di sekitar mereka mulai menoleh.

Begitu pula Revo.

Interaksi antara Danny dan Candy, entah kenapa, berhasil mengusik ketenangan Revo—walau hanya sebentar.

"Maaf, maaf," ucap Danny sambil membenarkan posisi duduknya dan mengatur napas.

"Tapi, benar kan, om?" tanya Candy.

"Uhuk," Danny terbatuk sebentar sambil menutup mulut.

"Anggap saja begitu," jawab Danny akhirnya.

"Astaga," desah Candy. "Hidup baru dimulai, tapi udah dilempar ke mode hard married life."

"Hah!" seru Danny sambil tertawa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!