Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.
Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.
Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.
Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.
Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Kenaikan Kelas
🦋
Sejak malam itu, malam ketika kakek Wiratama membela Fero tanpa berpikir dua kali. Ada sesuatu yang berubah dalam diri Nadira.
Kecewa? Sudah jelas. Tapi lebih dari itu… muncul obsesi yang keras, ia harus membuat kakeknya bangga. Dengan cara apa pun. Seberapapun harganya.
Dan cara paling masuk akal bagi Nadira waktu itu hanyalah satu:
Belajar.
Belajar.
Belajar, sampai orang tidak bisa lagi mengabaikannya.
Setiap malam, lampu kamar kecil Nadira menyala paling terakhir. Jam dinding berdetak keras, melewati pukul 23.00, 00.30, 01.10…
Tetapi buku-buku matematika, IPS, dan Bahasa Indonesia masih terbuka lebar. Bahkan ketika kelopak matanya berat, ia memaksa tetap terjaga. Tangannya menggenggam pulpen sampai gemetar.
"Sedikit lagi… sedikit lagi… aku harus masuk tiga besar," gumamnya dengan suara lemah.
Kadang kepalanya jatuh ke meja karena terlalu mengantuk. Kadang ia terbangun dengan leher sakit. Tapi begitu sadar, ia segera kembali mengerjakan latihan soal.
Keinginannya bukan sekadar hanya ingin pintar. Tapi ingin dilihat. Ingin dianggap berharga dan ingin dicintai.
Karena di rumah itu… nilai adalah satu-satunya alasan yang ia bisa mendapat satu-dua menit senyum dari kakek Wiratama.
Pagi-pagi, Nadira selalu bangun dengan kepala berat. Matanya merah, kulit wajahnya mulai kusam dan mulai ditumbuhi jerawat kecil akibat stres dan kurang tidur. Pipi yang dulu berisi, kini menipis.
Tidak ada yang memperhatikan perubahan itu.
Di meja makan, kakek Wiratama membagikan uang jajan.
"Fero, ini uangmu. Sepuluh ribu."
Fero mengambilnya sambil senyum puas.
"Nadira, ini lima ribu. Jangan boros."
Nadira menerima tanpa protes. Ia sudah terbiasa. Bahkan kadang hanya diberi tiga ribu—tidak cukup untuk beli makan, tapi ia tetap memasukkan ke kantong tanpa suara.
Ia ingin protes. Ingin mengatakan bahwa dirinya juga butuh kebutuhan perempuan: skincare, pembalut tambahan, deodorant, bahkan sekadar jajan minum es saat haus.
Tapi… ia memilih diam. Karena baginya, jika ia patuh… mungkin suatu hari kakek akan bangga.
Setidaknya itu yang ia yakini.
Hari Ujian
Ruang kelas 7A terasa tegang. Semua siswa duduk rapi, lembar ujian tertutup di atas meja masing-masing.
Nadira duduk di sisi kanan, sementara di meja sebelah kirinya, Keenan duduk tegak dengan pulpen siap di tangan.
Pengawas berdiri di depan kelas. "Sebelum dimulai, pastikan alat tulis lengkap. Ujian berlangsung selama 90 menit."
Nadira menarik napas panjang. Ini momen penting. Momen yang sudah ia persiapkan dengan insomnia selama berminggu-minggu.
Saat bel berbunyi, kertas ujian dibalik.
Nadira langsung bekerja cepat, fokus penuh.
Di sisi kiri, Keenan beberapa kali menoleh.
Pertama, hanya sekilas. Kedua, agak lama. Ketiga, ia menatap langsung menatap wajah Nadira, rambut panjangnya yang sedikit kusut, pipinya yang makin tirus, mata yang berkantung tapi tetap tajam ke arah soal.
Keenan mengangkat sedikit alisnya. Ia memperhatikan bukan karena Nadira aneh. Tapi karena ia menyadari perubahan
Nadira tampak… berbeda. Lebih kurus. Lebih letih. Tapi lebih serius.
Diam-diam, ia tersenyum miring. "Ambisius juga ternyata," gumamnya lirih.
Nadira, yang mendengar lirihan itu, menoleh cepat. "A-apa?"
"Enggak," Keenan menggeleng sambil menahan senyum. "Kamu serius banget ya?"
Nadira menelan ludah. "Ujian."
"Ya aku tau, tapi… jangan terlalu maksain diri. Kamu kelihatan capek banget."
Tidak ada yang pernah berkata begitu ke Nadira. Tidak ada yang pernah memperhatikan capeknya selama ini.
Untuk sesaat, hatinya hangat. Tapi ia buru-buru menepis perasaan itu.
"Aku harus masuk tiga besar," jawab Nadira tegas.
Keenan terdiam beberapa detik. Tatapannya berubah… lebih dalam. Seolah ia ingin bertanya 'kenapa', tapi menahannya.
Akhirnya ia hanya mengangguk. "Oke. Semangat, Nadira."
Dan mereka kembali mengerjakan soal masing-masing.
Hari demi hari, Nadira makin keras pada dirinya sendiri. Ia tidak peduli lagi soal makan, istirahat, ataupun tidur.
Setiap malam, jam 2 pagi masih ia pakai untuk membaca ulang pelajaran. Sampai matanya pedih. Sampai kepalanya berdenyut.
Di sekolah, ia mulai sering pusing. Ketika guru bertanya sesuatu, ia bisa menjawabnya dengan cepat. Tapi setelah itu, pandangannya berputar.
Suatu hari, Izarra menatapnya lama.
"Dira… kamu makin kurus. Kamu sakit, ya?"
Nadira tersenyum kecil. "Nggak. Aku cuma fokus belajar aja."
"Kamu belajar sampe jam berapa?"
"Jam… 1. Kadang juga sampai jam 2."
Izarra mencelos. "DIRA! KAMU Gila?!"
"Harus. Aku mau masuk tiga besar."
Izarra menahan bahu Nadira. "Tiga besar tuh bukan tiket bahagia, Nadira. Kamu bisa sakit beneran..."
"Aku nggak apa-apa kok," Nadira memotong cepat, tatapannya jauh. "Aku harus buktiin kalau aku nggak malas. Kalau aku juga bisa banggain Kakek."
Izarra terdiam. Ada rasa iba yang menekan dadanya. Karena dari cara bicara Nadira… Izarra tahu, Anak itu tidak sedang mengejar prestasi. Ia sedang mengejar cinta yang tidak pernah utuh.
***
Hari pembagian raport tiba. Ruang kelas dipenuhi bisik-bisik tegang.
Nadira duduk di barisan tengah, menggigit bibir bawah. Telapak tangannya dingin.
Guru wali kelas mulai membaca peringkat.
"Peringkat lima: Wilona."
"Peringkat empat: Anna."
Nadira menahan napas.
"Peringkat tiga…
NADIRA CHAVA."
Sekelompok siswa bertepuk tangan.
Izarra langsung memeluknya. "GILA KAMU BERHASIL! AKU BANGGA BANGET!"
Nadira tersenyum. Tapi bukan senyum lega. Lebih seperti… senyum kosong yang menuntut pengakuan.
Ia ingin melihat reaksi kakek. Ia ingin reaksi itu, bukan tepuk tangan teman-teman.
Keenan menatap dari mejanya.
Senyumnya lembut. "Congrats, Nadira."
Nadira membalas dengan anggukan kecil, lalu memeluk raportnya erat—seolah itu bukti bahwa dirinya layak dicintai.
"Kita lanjutkan lagi, Peringkat dua : Silvia dan peringkat pertama : Vanya"
Nadira juga tak lupa memberi selamat pada kedua temannya. Hanya Izarra yang tidak masuk sepuluh besar.
***
Saat pulang, Erwin sudah ada di rumah. Ia baru membuka raportnya sendiri.
"Kamu dapat berapa, Win?" tanya kakek.
Erwin menjawab pelan, "Peringkat tujuh, Kek."
"Bagus! Tingkatkan lagi," puji kakek.
Tak lama, Nadira masuk. Ia menyerahkan raportnya dengan tangan gemetar.
Kakek Wiratama membuka lembaran raport itu.
Alisnya terangkat. "Peringkat tiga?"
Nadira menahan napas.
Akhirnya kakek berkata, "Lumayan."
Lumayan?
Hanya itu, tidak lebih, tidak kurang. Dan entah kenapa… hati Nadira terasa diremas dari dalam.
Erwin yang mendengar itu terdiam, tapi sorot matanya berubah tajam. Ada rasa tidak terima—karena prestasi Nadira kali ini mengalahkannya yang sekolah di negeri.
"Hebat ya kamu, Dir," kata Erwin dengan nada datar. "Sekolah swasta tapi dapat tiga besar. Pantes sih."
Nadira mengerutkan kening. "Maksud mas apa?"
"Ya… sekolah swasta kan gampang nilainya."
Ucapan itu seperti pisau, sakit.
Kakek ikut mengangguk tipis, tanpa sadar menambah luka. "Iya, mungkin standar nilai di SMP swasta lebih ringan."
Dan dalam sesaat, semua usaha Nadira, semua begadang, semua sakit kepala, semua lapar, semua rasa ingin mati ketika belajar... terasa sia-sia.
Nadira menunduk.
Raport itu tiba-tiba terasa berat, seperti batu.
Di kamar, ia duduk di lantai, memegang raport itu erat.
Ia tidak menangis. Tapi ia menggigit bibirnya sampai nyaris berdarah. Lalu, perlahan, ia berbisik pada dirinya sendiri.
"Aku harus… lebih baik lagi. Aku harus bikin mereka nggak punya alasan buat bilang lumayan lagi."
Sejak hari itu… obsesi Nadira naik level.
Belajar makin keras. Tidur makin sedikit. Makan makin jarang. Tubuhnya makin kurus, wajahnya makin berjerawat, tapi ia tidak peduli.
Karena dalam pikirannya hanya ada satu kalimat: 'Aku harus jadi satu-satunya cucu yang pantas dibanggakan.'
Dan tidak ada yang tahu… Bahwa tekad keras itu diam-diam sedang meretakkan jiwanya.