Wasiat dua kakek yang bersahabat sejak lama menetapkan Adam dan Hawa sebagai pasangan di masa depan. Namun ketika waktu itu tiba, Adam justru menolak perjodohan tersebut. Ia merasa belum siap dan memilih fokus pada hidup serta pekerjaannya di Australia. Demi menghindari perjodohan itu, Adam mendorong adiknya Harun untuk menggantikan posisinya menikahi Hawa. Keputusan itu ternyata menjadi titik awal munculnya berbagai masalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan kembali
Tiga bulan kemudian...
Segalanya perlahan mereda. Luka yang dulu terasa begitu perih kini hanya menyisakan bekas, tak lagi menyayat. Hawa Aluna telah melewati masa iddahnya dengan hati yang lebih lapang, seolah belajar berdamai dengan masa lalu.
Adam kembali ke Australia demi mengejar pekerjaannya yang sempat terbengkalai, sementara Harun berangkat ke Sumatera. Hingga saat ini, ia belum juga menikahi Raisa secara resmi, meninggalkan banyak tanya yang menggantung di udara. Mereka menjalani kehidupan masing-masing.
Hawa memutus komunikasi antara Adam ataupun Harun. Ia kini lebih bahagia, tidak lagi perempuan yang terjebak dalam ketakutan dan paksaan, melainkan seorang janda yang berdiri tegak dengan harga diri utuh, bahkan masih perawan.
Hawa kembali menjalani rutinitasnya sebagai seorang perawat aktif di rumah sakit. Seragam putih yang membalut tubuhnya seolah menjadi simbol awal baru. Wajahnya tetap cantik, pembawaannya anggun, ramah dan senyum profesional yang kerap menghiasi bibirnya membuat tak sedikit pria diam-diam menaruh perhatian padanya.
Sayangnya bagi Hawa, semua itu hanyalah latar. Ia sudah mengikhlaskan masa lalu dan memilih fokus pada dirinya sendiri.
Siang itu, saat jam istirahat, Hawa duduk di ruang perawat sambil meneguk air mineral. Hari itu ada pasien kecelakaan yang membuat dirinya cukup kelelahan.
Tubuhnya memang lelah, tapi hatinya terasa jauh lebih ringan dibandingkan beberapa bulan lalu.
“Hawa, ada yang mencari kamu!” panggil salah satu temannya dengan nada penuh arti.
Hawa mengangkat wajahnya perlahan.
“Siapa?” tanyanya singkat, tanpa ekspresi berlebihan.
Temannya mendekat, lalu berbisik genit sambil tersenyum lebar.
“Nggak tahu namanya, tapi orangnya hitam manis, ganteng pula. Aku pikir ia cukup tajir buat kamu!" Hawa hanya menghela napas kecil lalu mencubit tipis temannya hingga meninggalkan ruangan.
Candaan itu mengantarkan Hawa pada Rasa penasaran yang memang menyelinap dipikirannya, meski ia berusaha menahannya. Akhirnya, ia berdiri dan melangkah santai menuju lobi ruang tunggu.
Lobi tampak tidak terlalu ramai. Ada beberapa pasien duduk menanti giliran, sebagian keluarga sibuk dengan ponsel masing-masing. Hawa mengedarkan pandangan, namun tak menemukan sosok yang dimaksud.
“Katanya ada yang mencariku?” ucap Hawa pada temannya yang bertugas sebagai resepsionis disana.
“Dia duduk di sana, Wa” jawab temannya sambil menunjuk ke arah pojok ruang tunggu khusus.
“Ouh!” Hawa mengangguk pelan.
Sepanjang langkah kakinya menuju sosok pria yang dimaksud, hati Hawa dipenuhi tanda tanya.
Pikirannya berkelana, menebak-nebak siapa gerangan orang yang ingin menemuinya.
"Siapa, ya? batinnya penasaran. Kalau memang dia mengenalku, kenapa tidak langsung menelpon saja?" Rasa ingin tahu itu kian menguat seiring langkahnya yang semakin mendekat, membuat detak jantungnya tanpa sadar ikut berpacu.
Hawa menoleh mengikuti arah telunjuk itu.
Seorang pria duduk sendirian, tubuhnya tegap, fokus pada layar ponsel di tangannya. Posturnya tenang, auranya dewasa bukan tipe pria yang mencolok.
Entah mengapa, kehadiran pria itu menimbulkan rasa de javu di benak Hawa, sebuah perasaan asing sekaligus akrab, seakan ia pernah mengenalnya… di masa lalu yang samar.
Hawa melangkah mendekat, menjaga jarak sopan seperti yang selalu ia lakukan pada siapa pun.
“Maaf, saya Hawa. Apakah benar Anda mencari saya?” ucapnya lembut, profesional, dengan nada yang sama seperti saat ia berbicara pada pasien atau keluarga pasien.
Pria itu seketika membeku.
Suara itu…
Tenang. Jernih. Lembut.
Suara yang selama berbulan-bulan hanya hidup di kepalanya, hadir sebagai gema dalam kesunyian malam-malam panjang yang ia lalui seorang diri.
Perlahan, pria itu mengangkat wajahnya. Ekspresinya dingin, nyaris tak terbaca. Namun pada detik berikutnya, dunia seolah berhenti berputar.
Hawa tertegun. Napasnya refleks tercekat di tenggorokan. Jantungnya berdetak tidak beraturan, seolah lupa cara bekerja dengan normal.
“M–Mas… Adam?” lirihnya nyaris tak terdengar, gugup, seakan takut nama itu hanya akan menguap sebagai ilusi.
Adam tersenyum. Senyum yang sama.
Tipis, tenang, dan begitu khas, seolah waktu tak pernah berani mengubahnya, meski jarak dan takdir sudah memisahkan mereka.
Wajah Adam tampak lebih tirus, garis rahangnya lebih tegas, namun di balik matanya masih tersimpan kelelahan yang dulu sering Hawa lihat… kelelahan yang tak pernah benar-benar ia ceritakan.
“Hawa, bagaimana kabarmu?” ucap Adam pelan. Nada suaranya rendah, hangat, selembut sutra yang menyentuh kulit.
“Aku baru saja tiba dari Sydney… dan hal pertama yang ingin kulakukan adalah menemuimu.”
Hawa terdiam. Dadanya bergetar,bukan karena luka lama yang kembali menganga, melainkan karena sebuah pertemuan yang tak pernah ia bayangkan lagi akan terjadi.
Datang begitu tiba-tiba, tepat di saat ia merasa telah benar-benar berdamai dengan masa lalu.
Saat semua orang tak lagi menekannya dengan perjodohan, tak lagi mendorongnya pada nama cucu kakek almarhum Sulaiman, tak lagi memaksanya memilih hidup yang bukan miliknya.
“B… baik,” jawabnya singkat dan gugup.
Kegugupan itu justru membuat Adam refleks tersenyum
Tak ada pelukan apalagi air mata.
Hanya dua pasang mata yang saling menatap dalam diam, menyimpan ribuan kata yang tak sempat terucap, tentang cinta yang mulai ada, rindu, juga tentang kehilangan dan waktu yang berjalan tanpa menunggu siapa pun. Namun di sanalah, di sudut lobi rumah sakit yang dingin dan sibuk itu, sebuah bab baru perlahan menunggu untuk dimulai… sekali lagi.
“Maaf, saya sedang sibuk. Pergi. Jangan ganggu saya!”
Hawa langsung memalingkan wajahnya. Langkahnya dipercepat, hampir berlari meninggalkan Adam tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.
Dadanya berdebar hebat, napasnya terasa sesak. Bukan karena benci, melainkan ketakutan yang tiba-tiba bangkit, menusuk kenangan yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Ia tidak ingin kembali hadir dalam lingkaran masa lalu yang pernah menghancurkannya hingga nyaris tak bersisa.
Setibanya di ruang istirahat, Hawa menyandarkan punggungnya ke pintu. Wajahnya pucat, napasnya belum sepenuhnya teratur. Ia tampak gelisah, pikirannya berlarian tak tentu arah. Tangannya gemetar saat meraih secangkir minuman; genggamannya melemah hingga cangkir itu hampir saja terlepas dan jatuh ke lantai.
"Kenapa Adam harus kembali ke Indonesia? batinnya berteriak panik. Dan kenapa harus muncul di hadapanku, bahkan datang menjemputku segala? Ya Allah… bagaimana ini?"
Belum sempat ia menenangkan diri, bunyi dering telepon memecah keheningan ruang istirahat.
“Tring!”
Hawa terlonjak kecil. Dengan tangan masih bergetar, ia mengangkat gagang telepon.
“Hawa, datang ke ruangan saya sekarang,” suara tegas sang manajer terdengar di seberang sana.
“B–baik, Pak,” jawab Hawa tergesa. Ia segera bergegas keluar, berharap panggilan itu menjadi penyelamat, memberinya alasan untuk menjauh dan, siapa tahu, menghindari Adam untuk selamanya.
Namun harapan itu runtuh seketika.
Saat Hawa tiba di ruangan manajer, langkahnya mendadak terhenti. Di sana, Adam telah duduk dengan sikap tenang, berbicara akrab dan tampak begitu kompak dengan Vino, manajer rumah sakit swasta tempat ia bekerja.
Dunia Hawa seolah kembali menyempit. Takdir yang berusaha ia hindari, justru kembali mempertemukan mereka kali ini, tanpa jalan untuk mundur.
pesen 1 yg seperti Hawa ya Allah
🤤🏃🏃🏃