Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.
Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.
Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.
(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 5: Pemeriksaan dan Hipotesis
Didepan kamar Alice, Eri mencoba untuk mengetuk dengan pelan berharap orang yang ada didalam kamar membukakan pintu untuknya.
Tiga menit berlalu, tidak ada jawaban dari dalam.
Dengan terpaksa, Eri menggedor pintu lebih keras berharap kali ini ada jawaban dari dalam.
Bukannya jawaban, hanya keheningan yang didapat oleh Eri.
"Ini aneh. Kenapa tidak ada jawaban sama sekali?"
Bingung sekaligus heran, Eri yang terpaksa membuka pintu mengetahui kalau pintu kamar Alice tidak terkunci, mendorongnya dengan pelan.
"Permisi."
Meskipun bertindak tidak sopan, Eri tetap mengatakan permisi sebagai bentuk kesopanan agar orang yang didalam tidak marah atas tindakan tidak sopan darinya.
Eri yang tidak melihat ada gadis kecil yang duduk di kursi di meja belajarnya yang terdapat kristal putih yang menerangi ruangannya dalam gelap, bingung dimana gadis itu.
Bahkan dirinya tidak ada di kasur membuat Eri bertanya-tanya kemana perginya gadis kecil yang dimaksud oleh tante dari teman ibunya, Luna.
"Halo, apakah ada orang?"
Begitu melewati kasur, tanpa sengaja Eri terjatuh karena tersandung oleh sesuatu ke lantai. Ia meringis kesakitan sesaat sebelum akhirnya pandangannya mengarah ke sesuatu yang tergeletak di lantai.
"Eh?"
Seketika wajah pucat terlihat di wajah Eri, antara terkejut, bingung dan takut, semuanya terlihat melalui ekspresinya yang shock saat melihat gadis kecil tergeletak di lantai tak sadarkan diri, tetap tersengal-sengal selagi tubuhnya berkeringat.
"Oi, apakah kamu baik-baik saja?"
Berusaha menggoyangkan tubuh gadis kecil yang tergeletak tak sadarkan diri dengan nafas tersengal-sengal dan keringat membasahi wajahnya, tidak ada jawaban dari gadis kecil itu pada Eri membuat Eri semakin panik dan khawatir.
"Aku harus beritahu Ibu."
Tanpa berlama-lama, ia pergi meninggalkan kamar Alice dalam kondisi terbuka karena saking paniknya, membuka pintu kamar Lisa dalam kondisi terburu-buru dengan wajah panik dan takut.
"Ada apa, Sayang?"
Lisa dan Luna sama-sama terkejut, mereka berdiri dari duduknya di sofa selagi menatap ke Eri yang langsung membuka pintu dengan keras tanpa perlahan-lahan.
"Bu... dia... dia tidak sadarkan diri...."
"Dia?! Siapa maksudmu?!"
Mendapat tekanan dari Luna, ekspresi Eri semakin takut dan khawatir, ia tergagap untuk berbicara karena saking takutnya, ia akan disalahkan membuatnya meneteskan air mata.
Mengetahui putrinya tidak sanggup menahan tekanan dari Luna, Lisa terpaksa untuk menepuk pundaknya selagi mendekati Luna tersenyum tanpa mengatakan apapun untuk membuatnya tenang.
"Maaf."
"Tidak masalah."
Setelah Luna tenang, Lisa menatap ke Eri yang tetap berdiri di pintu terbuka dari kamar Lisa selagi menanyakan putrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Sayang, bolehkah aku tahu apa yang kamu lihat?"
"Ya."
Dijelaskan Eri pada mereka kalau ia melihat seorang gadis kecil berambut pirang panjang dengan gaun kasual pink sepanjang bawah lutut tergeletak tak sadarkan diri di lantai di sisi kasur dengan nafas tersengal-sengal.
Mendengar penjelasan dari Eri tentang putrinya, Luna tanpa berpikir panjang bergegas pergi ke kamar Alice meninggalkan kamar Lisa membuat Lisa mengikuti Luna, sedangkan Eri menetap di kamar ibunya yang masih kebingungan dalam diam, tubuhnya tet gemetar ketakutan melihat sesuatu yang baru pertama kali dilihatnya.
Setibanya Luna didalam kamar Alice, ia segera mendekati putrinya yang tergeletak tak sadarkan diri dengan nafas tersengal-sengal dan wajahnya yang berkeringat, mencoba untuk mengetahui apa yang terjadi pada putrinya.
Padahal setahu Luna, Alice sebelumnya baik-baik saja tapi sepertinya ia menjadi seperti ini karena Luna lengah mengawasinya.
"Lisa!"
"Ya, aku paham," angguk Lisa yang memahami maksud dari perkataan Luna. "Bawa putrimu ke kamarku, aku akan memeriksa kondisinya."
"Ya."
Alice yang tak sadarkan diri digendong oleh Luna menuju ke kamar Lisa.
Saat memasuki kamar Lisa, Luna meletakkan Alice diatas sofa dengan membaringkannya di sana menyerahkan urusan ini pada Lisa.
"Sayang, kamu bisa bermain di kamarmu."
Mendengar perkataan ibunya, Eri yang masih gemetar ketakutan dengan wajah panik segera pergi meninggalkan kamar ibunya kembali ke kamarnya.
Begitu putrinya kembali ke kamarnya, Lisa segera memeriksa kondisi Alice. Mulai dari denyut nadi, semuanya berjalan normal namun dengan pernafasan yang tersengal-sengal seolah-olah sesuatu terjadi padanya.
"Denyut nadi, normal. Suhu tubuh, normal. Tidak ada tanda-tanda terluka maupun diracuni."
Selagi memeriksa kondisi Alice, fokus Lisa benar-benar tertuju padanya selagi tetap tenang memeriksanya tanpa mengambil keputusan yang cepat mengenai apa yang terjadi pada Alicia.
"Mungkinkah gadis ini...."
Diam-diam Lisa mengamati Alice dengan Appraisal di mata kirinya mencoba untuk mengetahui apakah spekulasinya benar atau tidak mengenai gejala yang dialami oleh Alice saat ini.
"Ini..."
"Ada apa, Lisa?"
Helaan nafas panjang terdengar dari Lisa membuat Luna yang bingung terlihat panik, takut kalau putrinya, Alice memiliki penyakit yang serius yang tidak bisa disembuhkan.
"Tidak perlu memasang wajah seperti itu, putrimu baik-baik saja."
Terkejut mendengar perkataan lembut dari Lisa, Luna bertanya-tanya atas apa yang temannya lihat sehingga ia bisa mengetahui kalau Lisa tersenyum kecil padanya.
"Dia hanya kekurangan mana, tidak lebih dari itu."
"Kekurangan mana? Hanya itu?"
"Ya. Setidaknya itu melegakan-mu, bukan?"
Luna menganggukkan kepalanya, setuju pada perkataan Lisa. Perasaannya yang sebelumnya takut dan khawatir tersapu bersih oleh ketenangan dan kelegaan karena putrinya, Alice tidak mengalami penyakit parah melainkan hanya kekurangan mana.
"Tapi, bagaimana bisa putriku kekurangan mana? Bukankah sebelumnya dia baik-baik saja?"
Ditatapnya Lisa yang sedang mengambil sesuatu dari rak lemari dibawah, menuangkan wadah tabung yang mirip seperti teko dari kaca ke botol kecil untuk menyesuaikan proporsi yang dimiliki oleh Alice, Luna bertanya-tanya atas apa yang terjadi pada putrinya.
"Entahlah, aku tidak tahu. Pokoknya jikalau ia memiliki tindakan yang mencurigakan segera beritahu aku nanti."
"Ya."
Hanya mengangguk setuju pada perkataan Lisa, tatapan mata Luna tertuju pada temannya yang sedang memaksa Alice, putri Luna meneguk cairan berwarna biru gelap dari botol kecil kaca di mulutnya.
"Yah, setidaknya ia akan sadar keesokan pagi."
Bernafas lega karena putrinya sudah terselamatkan, Luna tidak tahu apa yang akan terjadi pada Alice bila Lisa tidak ada di istana ini.
Kemungkinan terburuknya, putrinya akan mati tanpa tahu penyebabnya apa karena bila istana ini tidak memiliki orang yang ahli di bidang medis, angka kematian akan tinggi. Setidaknya itulah yang Luna pikirkan.
Tapi beruntung keluarga Lisa, Christina merupakan mahir dalam bidang medis, mereka cekatan dalam menangani pasien baik luka luar maupun dalam, semuanya bisa disembuhkan melalui obat herbal. Bahkan jikalau kondisinya sudah memburuk, keluarga mereka bisa melakukan operasi layaknya medis untuk menyembuhkan penyakit serius.
"Terimakasih banyak, Lisa. Aku berhutang padamu."
"Tidak masalah. Lagipula kita teman, aku tidak memerlukan balasan apapun darimu."
Tersenyum mendengar kata-kata tulus dari Lisa, dengan segera Luna menggendong Alice layaknya putri di gendongannya untuk membawanya kembali ke kamar putrinya, meninggalkan Lisa yang merenung dalam diam.
"Ini benar-benar aneh."
Di dalam kamar Lisa, Lisa yang duduk di sofa bersandar dengan menyilang lengannya selagi memikirkan apa yang terjadi pada Alice, putri dari Luna.
"Setahuku, gadis kecil itu tidak dilukai diluar maupun diracuni dari dalam. Tapi, kenapa bisa kekurangan mana?"
Pertanyaan itu masih tidak dimengerti oleh Lisa, karena setahunya makhluk yang bisa melakukan itu tidak lain adalah monster girl seperti succubus ataupun incubus, mereka bisa mengurangi energi kehidupan dari target mereka.
Kalaupun tidak mengurangi energi kehidupan dari target mereka, setidaknya Lisa yakin itu dapat mengurangi esensi mana yang dimiliki oleh seseorang untuk bertahan hidup.
Sekali lagi, Lisa mencoba untuk mengingat percakapan antara ia dengan Luna sebelumnya.
"Aku tidak paham kenapa putriku, Alice, membaca buku tentang pengetahuan umum."
"Ia juga bersikeras ketika aku membujuknya untuk membaca buku lain seperti buku cerita."
"Ah...."
Sekilas apa yang Lisa ingat, ia sudah memahami apa yang terjadi pada Alice.
Meskipun ini hanya hipotesis sementara dari Lisa, dirinya yakin kalau buku pengetahuan umum yang mencakup bab tentang mana, mungkin saja semuanya terjadi karena hal tersebut.
Karena mustahil bagi siapapun mencelakai seseorang tanpa terluka dan diracuni untuk membuat mana orang tersebut berkurang, kecuali orang itu menggunakan mananya untuk melakukan sesuatu.
"Tapi, apa yang dilakukannya?"
Hal ini yang tidak dipahami oleh Lisa.
Kalaupun Alice menggunakan mana di tubuhnya, mana tersebut hanya bisa menggunakan sihir yang jauh lebih rendah dari sihir dasar atau lebih tepatnya element dasar.
"Jika ia menggunakan mana untuk menggunakan sihir yang lebih seperti element dasar, apa tujuannya?"
Pertanyaan lain muncul dibenak Lisa seolah-olah tidak ada habisnya bila ia menjawab satu pertanyaan, pertanyaan lain muncul lagi dibenaknya seolah-olah mencoba untuk menggali motif dibalik apa yang terjadi pada Alice.
•••••
Lisa POV
Hening, inilah yang kurasakan saat ini.
Sudah beberapa hari berlalu sejak insiden putri Luna, Alice, pingsan dengan nafas tersengal-sengal dan wajahnya berkeringat, aku terus-menerus melakukan kegiatan aku di kamarku dengan menyeruput teh di cangkir selagi mengamati buku yang kubaca untuk mengetahui apa yang kurang dan lebih.
Mengenai putriku, Eri, ia tidak ada disini karena ia sedang melakukan tugasnya sebagai putriku tercinta untuk mengetahui apa yang dilakukan oleh gadis kecil seusianya, Alice.
Dengan begitu, aku bisa mendapatkan jawaban pasti untuk menjawab pertanyaan yang muncul di benakku terus-menerus agar semuanya jelas, tanpa prasangka yang tidak pasti benar atau buruk.
Aku yang menghela nafas panjang berdiri dari kursi di meja kerjaku, berjalan kearah rak buku lalu mengambil buku di rak tertinggi yang sudah lama tidak kubaca.
Jika Alice benar-benar memiliki pemikiran orang dewasa, itu artinya buku ini ada benarnya.
Tatapanku mengarah ke buku yang masih tertutup di tanganku dengan judul "The Reincarnation", buku yang tidak menampilkan siapapun yang menulisnya, hanya menjelaskan pada pembaca kalau reinkarnasi benar-benar ada di dunia ini.
Meskipun aku meragukan apa yang dikatakan buku ini, tapi saat aku mendengar apa yang dikatakan oleh Luna, aku menduga kalau Alice merupakan reinkarnasi seseorang, entah apakah itu orang dewasa atau remaja sebelumnya, itu hanya dugaan sementara.
Kalaupun benar, aku hanya ingin tahu bagaimana sistem dunia ini bekerja untuk mereka yang bukan dari dunia ini.
Apakah mereka memiliki berkah dan anugrah sama seperti kami, orang-orang di dunia ini? Ataukah mereka tidak memilikinya karena tidak diakui dan dianggap ada oleh dewa di dunia ini?
Apapun itu, aku tidak bisa menyimpulkan apapun saat ini.
Lebih baik jika aku anggap kalau Alice saat ini memiliki pemikiran dewasa karena jika aku anggap ia sebagai reincarnator, itu hanya anggapan kosong tanpa bukti sama sekali.
"Yah, lupakan tentang ini."
Meletakkan kembali buku yang tidak jadi aku buka dan baca di rak tertinggi, aku kembali duduk dan bersandar di kursi, tatapanku kembali fokus pada laporan mengenai barang masuk hari ini.
"Lebih baik aku memikirkan urusanku daripada urusan orang lain."
Ya, itu benar.
Urusan mereka adalah urusan mereka, urusanku adalah urusanku.
Apapun itu, aku tidak ingin ikut campur dalam permasalahan yang bukan permasalahan aku sama sekali meskipun itu adalah masalah temanku, Luna.