NovelToon NovelToon
Istriku Diambil Papa

Istriku Diambil Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Konflik etika
Popularitas:520
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.

Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal Dari Nol

​Tiga bulan telah berlalu sejak malam berdarah di mercusuar pesisir selatan. Bagi dunia luar, nama Baskoro telah menjadi sejarah kelam korupsi yang membusuk di balik jeruji besi, sementara Rina dinyatakan sebagai buronan internasional yang "diduga tewas" setelah perahu cepatnya ditemukan hancur di perairan Australia. Namun bagi Agil, "diduga tewas" adalah kata lain dari "sedang merencanakan sesuatu".

​Agil dan Laila kini tinggal di sebuah desa nelayan terpencil di kaki bukit Karangasem, Bali. Di bawah perlindungan saksi yang tidak resmi—yang diatur oleh Gito melalui jalur bawah tanah—mereka hidup sebagai 'Wayan' dan 'Sari'. Agil bekerja membantu nelayan setempat memperbaiki mesin kapal, sementara Laila mengajar anak-anak desa membaca di sebuah saung kecil.

​Luka yang Bersembunyi

​Sore itu, matahari terbenam dengan warna jingga yang menyakitkan. Agil duduk di teras gubuk bambu mereka, menatap telapak tangannya yang cacat. Luka bakar akibat asam malam itu telah meninggalkan jaringan parut yang tebal dan kaku, pengingat permanen akan kunci yang ia hancurkan di depan ibunya.

​Laila keluar membawa dua gelas kopi kental. Ia duduk di samping Agil, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Laila tampak lebih berisi, wajahnya tak lagi sepucat dulu, namun setiap kali mendengar suara mesin mobil yang mendekat ke desa, tubuhnya masih tersentak.

​"Mas... apa kamu masih memikirkan dia?" tanya Laila pelan.

​Agil menghela napas, aroma garam laut memenuhi rongga dadanya. "Aku tidak memikirkan dia sebagai ibu, Laila. Aku memikirkannya sebagai predator. Wanita seperti Rina tidak mati begitu saja karena kecelakaan perahu. Dia terlalu mencintai dirinya sendiri untuk mati semudah itu."

​Laila menggenggam tangan Agil yang cacat. "Tapi kita sudah tidak punya apa-apa lagi. Kuncinya hancur, dokumennya terbakar. Apa lagi yang dia inginkan dari kita?"

​Agil terdiam. Ia tidak berani mengatakan pada Laila bahwa sebelum kunci itu meleleh, ia sempat menghafal deretan nomor seri yang terukir di bagian belakangnya—nomor yang bukan merupakan kunci brankas, melainkan nomor koordinat satelit untuk sebuah server penyimpanan awan (cloud storage) yang berisi cadangan terakhir data Project Cendrawasih.

​Tamu dari Masa Lalu

​Ketentangan yang mereka bangun selama tiga bulan pecah ketika sebuah motor tua berhenti di depan gubuk mereka. Pengendaranya mengenakan helm tertutup dan jaket kulit yang penuh debu. Agil segera berdiri, tangannya secara insting meraba pisau kecil yang selalu ia selipkan di balik ikat pinggangnya.

​Pengendara itu membuka helmnya. Itu Gito. Wajahnya tampak lebih tua sepuluh tahun, dengan bekas luka baru yang melintang di pipinya.

​"Pak Agil... kita punya masalah," ucap Gito tanpa basa-basi.

​Agil mengajak Gito masuk ke dalam. Laila segera masuk ke kamar, ia tahu jika Gito datang, berarti kedamaian mereka telah usai.

​"Nyonya Rina terlihat di Singapura dua minggu lalu," bisik Gito setelah meneguk kopinya. "Dia tidak sendiri. Dia sedang membangun aliansi dengan 'The Consortium', organisasi payung yang dulu mendanai Proyek Icarus milik Bapak Anda. Mereka marah karena dana mereka hilang saat Anda menghancurkan server digital tempo hari."

​Agil mengepalkan tangannya. "Berapa banyak yang mereka tahu?"

​"Mereka tahu Anda masih hidup. Dan mereka tahu bahwa 'kunci perak' itu bukan hanya kunci fisik. Mereka sedang memburu siapa pun yang memiliki akses ke server cadangan. Mereka sudah mulai membersihkan orang-orang yang membantu kita. Andy di London... ditemukan tergantung di apartemennya kemarin."

​Perangkap di Tengah Sunyi

​Agil merasakan dingin yang merayap di punggungnya. Kematian Andy adalah pesan. Rina sedang memangkas semua dahan sebelum menebang pohon utamanya: Agil.

​"Kita harus pindah lagi, Gito?" tanya Laila yang ternyata mendengarkan dari balik tirai kamar.

​"Tidak, Bu Laila," jawab Gito dengan nada menyesal. "Jika kita pindah sekarang, mereka akan lebih mudah melacak pergerakan kita. Mereka sudah mengawasi pelabuhan dan bandara. Tempat ini... untuk sementara... adalah benteng terbaik kita, meski kita terkepung."

​Malam itu, desa yang biasanya tenang terasa mencekam. Suara jangkrik terdengar seperti detak bom waktu. Agil tidak bisa tidur. Ia keluar ke teras, menatap kegelapan hutan di belakang desa.

​Tiba-tiba, ia melihat sebuah titik cahaya merah kecil di antara pepohonan. Laser penembak jitu.

​"Tiarap!" teriak Agil sambil menerjang Laila yang baru saja keluar ingin menyusulnya.

​Syuuuut!

​Sebuah peluru berperedam menembus tiang bambu gubuk mereka, hanya beberapa sentimeter dari kepala Agil.

​Langkah Catur di Hutan Bali

​"Gito! Mereka di sini!" Agil berteriak.

​Gito keluar dengan senapan otomatis yang ia sembunyikan di bawah dipan kayu. "Lewat pintu belakang! Masuk ke arah hutan bakau! Aku akan menahan mereka!"

​Agil menarik Laila, berlari menembus kegelapan menuju rawa-rawa bakau yang berlumpur. Mereka tidak bisa menggunakan lampu senter. Mereka harus mengandalkan insting. Di belakang mereka, suara tembakan mulai bersahutan. Gito bertempur sendirian melawan setidaknya lima orang pembunuh bayaran profesional.

​"Mas... aku tidak kuat lagi," Laila terengah-engah, kakinya terperosok ke dalam lumpur sedalam lutut.

​"Sebentar lagi, Laila. Ada gua di balik tebing itu, kita harus sampai ke sana," Agil terus menariknya.

​Namun, saat mereka mencapai pinggiran tebing, sesosok bayangan menghalangi jalan mereka. Bukan pria bersenjata, melainkan seorang wanita dengan postur yang sangat Agil kenali. Wanita itu berdiri dengan tenang, memegang sebuah tablet digital yang layarnya bersinar terang di tengah kegelapan.

​"Kau pikir bisa bersembunyi di lubang tikus ini selamanya, Agil?" suara itu dingin dan berwibawa. Rina.

​Rina tampak sangat berbeda. Rambutnya dipotong pendek, dan ada bekas luka operasi plastik yang belum sempurna di garis rahangnya. Ia tampak lebih seperti mesin daripada manusia.

​"Di mana Gito?" geram Agil, menempatkan Laila di belakangnya.

​"Sersan setiamu itu sedang sibuk bermain dengan teman-temanku," jawab Rina. "Sekarang, Agil... berikan aku nomor seri itu. Aku tahu kau menghafalnya. Kunci perak itu hanya pajangan, nomor di belakangnya adalah akses aslinya. Jangan buat aku harus menyiksa Laila lagi untuk mendapatkan informasi itu darimu."

​Harga Sebuah Rahasia

​Agil menatap ibunya dengan kebencian murni. "Mama tidak akan pernah mendapatkannya. Nomor itu akan mati bersamaku."

​"Oh, benarkah?" Rina menekan sebuah tombol di tabletnya.

​Tiba-tiba, dari arah desa, terdengar suara ledakan besar. Saung kecil tempat Laila mengajar anak-anak meledak, apinya membumbung tinggi ke langit.

​"Anak-anak desa itu... mereka tidak tahu apa-apa, Agil," ucap Rina tanpa emosi. "Setiap sepuluh menit kau diam, satu rumah di desa ini akan terbakar. Aku akan memusnahkan seluruh desa ini hanya untuk memastikan kau tahu bahwa aku tidak sedang bermain."

​Laila menjerit, menutup mulutnya dengan tangan. "Anda gila! Mereka orang-orang tidak berdosa!"

​"Dalam perang, tidak ada yang tidak berdosa, Laila. Hanya ada yang berguna dan yang menjadi gangguan," balas Rina.

​Agil berdiri di persimpangan yang mustahil. Jika ia memberikan nomor itu, Rina akan memiliki kekuatan untuk mengguncang ekonomi dunia dan kembali ke puncak kekuasaan. Jika ia diam, orang-orang desa yang baik hati yang telah menolong mereka akan mati terbakar.

​"Mas... jangan," bisik Laila. "Jika kamu memberikannya, dia akan membunuh kita semua setelah itu."

​Agil menatap Laila, lalu menatap api yang mulai menjalar di desa. Ia mengambil sebuah langkah maju, mendekati Rina.

​"Aku akan memberikan nomornya," ucap Agil. "Tapi dengan satu syarat."

​"Apa?" Rina bertanya, matanya berkilat penuh kemenangan.

​"Kau harus membiarkan Laila pergi dengan perahu nelayan di bawah tebing ini. Begitu perahunya mencapai batas cakrawala, aku akan mengetikkan nomor itu di tabletmu."

​Rina berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Kesepakatan yang adil. Aku hanya butuh datanya, aku tidak butuh mayat menantuku yang tidak berguna ini."

​Agil memeluk Laila untuk terakhir kalinya. Ia membisikkan sesuatu di telinga Laila yang membuat mata Laila terbelalak. Agil lalu mendorong perahu nelayan kecil itu ke laut, membiarkan Laila terbawa arus keluar dari teluk.

​Kini, Agil berdiri sendirian menghadap ibunya. Ia mengambil tablet dari tangan Rina.

​"Ketikkan sekarang," perintah Rina, pistolnya kini mengarah tepat ke jantung Agil.

​Agil mulai mengetikkan deretan angka. Namun, ia tidak mengetikkan kode akses server. Ia mengetikkan protokol Self-Destruct untuk satelit penyimpanan tersebut—sebuah perintah yang ia pelajari dari catatan rahasia Surya Wijaya sebagai upaya terakhir jika data itu jatuh ke tangan yang salah.

​"Apa yang kau lakukan?!" teriak Rina saat melihat peringatan merah muncul di layar.

​"Selamat tinggal pada kekuasaanmu, Ma," bisik Agil.

​Tepat saat itu, sebuah ledakan cahaya terlihat di langit malam—satelit itu terbakar di atmosfer. Dan di saat yang sama, Agil menerjang ibunya, menyeret Rina jatuh bersamanya ke arah jurang laut selatan yang berbatu tajam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!