NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tidak DiInginkan

Menantu Yang Tidak DiInginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:194
Nilai: 5
Nama Author: Thida_Rak

Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.

Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.

Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Setelah salat subuh, Dian duduk di lantai ruang tengah dengan buku kecil di pangkuannya. Udara pagi masih sejuk, rumah sunyi, hanya terdengar dengusan napas Naya dari kamar. Momen seperti ini selalu ia manfaatkan untuk menata segalanya—setidaknya agar pikirannya terasa lebih rapi.

Ia membuka halaman kosong, lalu mulai menulis perlahan.

“Tepung tapioka… tepung terigu… bawang putih… daun bawang…”

Untuk cilok dan epok-epok, ia menambahkan isian ayam, wortel, kol, juga kentang. Tangannya berhenti sejenak saat menulis cabai dan bumbu halus. Harus cukup, jangan berlebihan, batinnya menghitung-hitung.

Di halaman berikutnya, ia mencatat kebutuhan rumah:

beras, minyak, telur, gula, kopi sachet—yang ini ia beri tanda kecil, senyum tipis terbit di sudut bibirnya—gas sudah aman, sabun cuci, sabun mandi.

Lalu ia menarik napas dalam-dalam sebelum menulis baris terakhir:

susu Naya, pampers.

Dian menutup bukunya pelan. Ia tahu uang yang ia pegang harus diatur sebaik mungkin. Uang dari mertua akan ia sisihkan—untuk bayar air dan membeli token listrik saja. Selebihnya, ia ingin berdiri dengan kakinya sendiri. Dari hasil jualannya. Dari lelah yang ia pahami asal-usulnya.

“Pelan-pelan,” bisiknya pada diri sendiri.

“Yang penting cukup dan halal.”

Dari kamar terdengar suara Naya bergerak, lalu gumaman kecil yang khas. Dian menoleh, matanya melembut.

“Ibu di sini, sayang,” ucapnya sambil bangkit berdiri.

Ia menyimpan catatan belanja ke dalam tas kecil. Hari ini akan panjang, melelahkan, tapi jelas arahnya. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Dian merasa—meski sendirian—ia sedang berjalan maju.

Pukul tujuh pagi, Dian dan Naya sudah siap. Dian menggendong Naya sebentar sebelum memasangkannya helm kecil kesayangan, lalu mereka keluar rumah. Udara pagi masih segar, jalanan belum terlalu ramai—waktu yang pas sebelum pasar mulai padat.

Sebelum ke pasar, Dian mengajak Naya sarapan terlebih dahulu. Ia membelokkan motor ke warung nasi ayam langganan, tempat sederhana tapi selalu bersih dan rasanya tak pernah berubah. Begitu turun, aroma ayam goreng dan nasi hangat langsung menyambut.

“Bu, ayam…” Naya menunjuk etalase dengan mata berbinar.

“Iya, sayang. Ayam kesukaan kita,” jawab Dian sambil tersenyum.

Mereka duduk di bangku kayu dekat jendela. Dian memesan dua porsi nasi ayam—satu porsi kecil tanpa sambal untuk Naya, satu lagi untuk dirinya. Tak lama, pesanan datang. Dian meniup nasi di sendok kecil sebelum menyuapkan ke mulut Naya.

“Mmm,” Naya mengangguk-angguk kecil, tanda suka.

Dian memperhatikan putrinya makan dengan lahap. Di saat-saat seperti ini, hatinya terasa lebih ringan. Meski lelah, meski banyak yang harus dipikirkan, kebahagiaan sederhana itu cukup menguatkannya.

“Pelan-pelan ya makannya,” ucap Dian lembut.

Setelah sarapan, Dian mengelap tangan dan mulut Naya dengan tisu, lalu membayar di kasir. Ia menghela napas panjang—hari masih pagi, tenaga masih ada.

“Ayo, Nak. Kita ke pasar,” katanya sambil menggenggam tangan kecil Naya.

Mereka kembali menaiki motor. Pasar menunggu, daftar belanja ada di tas, dan Dian sudah siap menjalani hari—satu langkah kecil lagi untuk tetap bertahan dan bangkit.

Nanti setelah sampai di pasar, barulah Dian menggendong Naya lagi. Selama di jalan, Naya memang paling suka berdiri di depan motor, kedua tangannya memegang spion sambil melihat kanan kiri dengan rasa ingin tahu yang besar.

“Pegang yang kuat ya, Nak,” ujar Dian setiap kali motor mulai melaju.

“Iya, Bu,” jawab Naya polos, meski matanya tak lepas dari kendaraan yang berlalu-lalang.

Sesampainya di pasar, Dian memarkir motor di tempat biasa. Ia mematikan mesin, lalu menurunkan Naya dengan hati-hati. Seperti biasa, Dian langsung menggendong putrinya—lebih aman dan juga lebih cepat di tengah keramaian.

Suasana pasar sudah ramai. Pedagang sayur berteriak menawarkan dagangan, aroma ikan segar bercampur dengan bau rempah-rempah. Dian membuka catatan kecil di ponselnya, mengecek satu per satu kebutuhan hari ini.

“Sayur dulu ya, Nak,” ucap Dian sambil melangkah ke lapak langganan.

Naya menyandarkan kepalanya di bahu ibunya, sesekali menunjuk tomat merah atau cabai yang ditata rapi. Dian tersenyum kecil, menuruti permintaan Naya sekadar untuk memegang kantong plastik atau memilih wortel yang menurut Naya “cantik”.

Di sela tawar-menawar, Dian tetap fokus. Ia menghitung uang di dompet, memastikan cukup untuk bahan dagangan dan kebutuhan rumah. Meski sederhana, ia tahu setiap rupiah harus dikelola dengan cermat.

“Pelan-pelan ya, Dian, yang penting cukup,” batinnya sambil menerima kembalian.

Dengan Naya di gendongan dan kantong belanja mulai penuh, Dian melangkah mantap menyusuri pasar. Hari ini bukan hari yang mudah, tapi ia tahu—selama ia dan Naya bersama, ia akan selalu menemukan alasan untuk kuat.

Setelah dari lapak sayur, Dian melangkah ke penjual ayam. Ia memilih ayam yang masih segar, menimbang sebentar lalu mengangguk yakin.

“Setengah ekor ya, Bu. Potong kecil-kecil,” ujarnya.

Penjual ayam bekerja cepat, sementara Dian menenangkan Naya yang mulai gelisah di gendongan. Setelah ayam, Dian membeli ikan dan tahu tempe—sekadar lauk untuk beberapa hari ke depan. Ia tak berlebihan, cukup sesuai kebutuhan.

Langkahnya kemudian berbelok ke toko kelontong di depan pasar. Toko kecil itu sudah ia kenal sejak lama. Dian menyebutkan satu per satu daftar belanjanya.

“Tepung kanji dua kilo, terigu satu kilo, ya, Pak,” ucap Dian.

“Iya, Bu Dian,” jawab pemilik toko sambil mengambilkan barang.

Dian menerima belanjaan itu, lalu menatanya rapi ke dalam tas besar yang dibawanya. Ia menghela napas kecil—setidaknya bahan utama untuk cilok, cireng, dan epok-epok sudah aman.

“Nanti kalau supermarket sudah buka, baru beli susu sama pampers Naya,” gumamnya pelan, seolah mengingatkan diri sendiri.

Naya menyandarkan kepala di bahu Dian, matanya mulai setengah terpejam. Dian mengusap punggung anaknya lembut.

“Sabar ya, Nak. Habis ini kita pulang, nanti ibu masak,” bisiknya penuh sayang.

Dengan belanjaan di tangan dan Naya di pelukan, Dian melangkah keluar pasar. Meski lelah, ada rasa lega di hatinya—hari ini, setidaknya satu per satu kebutuhan bisa ia penuhi dengan usahanya sendiri.

Pukul setengah sepuluh semua belanjaan sudah tertata rapi di rumah. Dian memastikan ayam dan ikan masuk ke kulkas, sementara tepung-tepungan ia susun di rak dapur. Ia menghela napas lega, lalu kembali menggendong Naya yang terlelap pulas, napas kecilnya teratur menyentuh leher Dian.

“Bentar lagi ya, Nak,” gumamnya pelan.

Dian kemudian melajukan motor menuju minimarket terdekat. Jalanan mulai ramai, namun ia berkendara perlahan, berhati-hati agar Naya tetap nyaman di gendongannya. Sesekali ia menoleh ke kaca spion, memastikan anaknya masih tertidur dengan tenang.

Sampai di depan toko, Dian memarkir motor dengan hati-hati. Ia masuk, langsung menuju rak susu dan pampers. Tangannya bergerak cepat—memilih ukuran yang biasa dipakai Naya, menghitung lagi di kepala agar cukup sampai beberapa minggu ke depan.

“Cukup ini dulu,” katanya lirih, menyesuaikan dengan isi dompet.

Setelah membayar, Dian kembali ke motor. Naya masih tertidur, wajahnya tampak damai. Dian tersenyum tipis.

Dalam hati, ia berjanji pada dirinya sendiri: apa pun yang terjadi, kebutuhan anaknya harus selalu jadi yang utama. Dengan tekad itu, Dian pun melajukan motor pulang, siap melanjutkan hari dan usahanya demi masa depan Naya.

Sesampainya di rumah, Dian langsung membawa Naya ke kamar dan membaringkannya dengan hati-hati. Setelah memastikan anaknya masih terlelap, ia berganti pakaian, lalu bergegas ke dapur. Pekerjaan masih banyak menantinya—memasak, merapikan rumah, dan tumpukan cucian yang sudah menggunung.

Ia melirik keranjang pakaian sambil menghela napas pelan. Untung Naya masih pakai pampers, batinnya, setidaknya ini sedikit meringankan urusan mencuci.

Tanpa banyak mengeluh, Dian mulai bergerak. Tangannya cekatan, pikirannya tertata. Ia tahu, rumah harus tetap berjalan, seberat apa pun keadaannya. Demi Naya, ia memilih kuat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!