cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SABOTASE DI SAAT FAJAR
BAB 34 .
RUMAH BESAR MR. NAKATA — RUANG BAWAH TANAH — MALAM
Pintu besi tebal terbuka perlahan.
Tangga turun menuju ruang bawah tanah yang dingin, berbau logam dan oli senjata.
Mr. Nakata berdiri menunggu.
Tidak ada amarah di wajahnya kini.
Yang ada hanyalah ketenangan berbahaya.
Tiga pria masuk bersamaan.
Langkah mereka senyap.
Postur tegak.
Tatapan dingin.
Bukan preman.
PRIA PERTAMA
Tinggi, kepala plontos, bekas luka panjang di leher kiri.
Nama panggilan: RAGA.
Mantan tentara bayaran konflik Asia Tengah.
Spesialis sabotase jalur logistik.
Ia memindai ruangan tanpa bicara.
PRIA KEDUA
Lebih kecil, tapi matanya tajam seperti pisau.
Nama panggilan: VIKRAM.
Ahli bahan peledak rakitan dan kecelakaan “alami”.
Senyumnya tipis—nyaris tidak ada emosi.
PRIA KETIGA
Tubuh besar, bahu lebar.
Nama panggilan: MORO.
Petarung jarak dekat.
Pernah bertugas sebagai “pembersih” di zona konflik.
Ia berhenti tepat di depan Nakata.
“Kami dengar Anda butuh masalah diselesaikan,” katanya datar.
Nakata tersenyum tipis.
“Saya tidak butuh kekerasan,” katanya pelan.
“Saya butuh pasokan berhenti.”
Ia menekan tombol di meja.
Peta digital muncul—jalur vendor kecil menuju PT. Korean Industry milik Tuan Kim.
“Terlalu banyak tangan kecil,” lanjut Nakata.
“Mereka merasa penting.”
Raga mencondongkan tubuh.
“Berapa lama Anda ingin jalur ini mati?”
Nakata menatapnya lurus.
“Cukup lama untuk membuat mereka menyerah.”
STRATEGI MEREKA
Vikram menunjuk salah satu jalur.
“Jembatan tua,” katanya.
“Tidak perlu dihancurkan. Cukup ditutup dua jam. Truk akan terlambat. Kontrak gagal.”
Moro menyeringai tipis.
“Kalau ada yang melawan?”
Raga menjawab lebih dulu.
“Kita buat mereka berpikir itu kecelakaan.”
Nakata mengangguk puas.
“Tidak ada darah jika bisa dihindari,” katanya.
“Kalau tidak bisa…”
Ia berhenti sejenak.
“Kalian profesional.”
PERINGATAN TERAKHIR
Salah satu anak buah Nakata memberanikan diri.
“Tuan… ada Sersan Bima.”
Raga mengangkat alis.
“militer arhanud cirebon ?”
“Ya.”
Raga menoleh ke dua rekannya.
“Menarik.”
Vikram tersenyum tipis.
“Biasanya yang seperti itu keras kepala.”
Moro mengepalkan tangan.
“Aku suka tantangan.”
Nakata menatap mereka satu per satu.
“Dia bukan target utama,” katanya.
“Tapi kalau dia berdiri di jalur…”
Ia tidak melanjutkan.
Tidak perlu.
KESEPAKATAN GELAP
Nakata mendorong tiga map hitam ke tengah meja.
“Detail vendor,” katanya.
“Jadwal pengiriman. Kebiasaan mereka.”
Raga mengambil map pertama.
“Bayaran?”
Nakata menyebut angka.
Tidak ada yang terkejut.
Vikram mengangguk.
“Kapan mulai?”
“Subuh,” jawab Nakata.
“Saat orang-orang kecil merasa aman.”
POTONGAN ADEGAN — TEMPAT LAIN
POS RONDA DESA — MALAM
Sersan Bima duduk bersama Eren dan beberapa warga.
Peta kertas terbentang.
“Preman lokal mulai hilang,” kata Eren.
“Itu tidak normal.”
Bima menatap peta lama.
“Kalau Nakata kalah dengan cara kotor,” katanya pelan,
“dia akan pakai tangan yang lebih dingin.”
Pak Tirto mengangguk.
“Kami siap, Pak.”
Bima menatap mereka.
“Siap mental saja tidak cukup.”
KEMBALI KE RUMAH NAKATA
Tiga pria itu berjalan keluar.
Pintu besi menutup perlahan.
Nakata berdiri sendirian.
Ia mengangkat gelas.
“Sekarang,” gumamnya,
“kita lihat…
seberapa lama keberanian rakyat kecil
bertahan menghadapi perang sungguhan.”
Lampu padam.
Dan di luar kota,
tiga bayangan bergerak—
membawa pengalaman perang
ke desa yang baru belajar
melawan ketakutan.
JALUR UTAMA MENUJU PT. KOREAN INDUSTRY — SUBUH
Kabut masih menggantung rendah ketika tiga kendaraan vendor kecil bergerak beriringan. Lampu temaram menembus dingin pagi.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada musik.
Hanya suara mesin dan doa yang dipendam di dada.
Di balik rumpun bambu di tepi jalan, Raga berjongkok. Tangannya memegang teropong kecil.
“Target masuk,” katanya lirih lewat alat komunikasi.
“Tiga truk. Formasi rapat.”
Di kejauhan, Vikram sudah lebih dulu bekerja. Ia menanam benda kecil di tepi jembatan tua—bukan bom besar, hanya alat pelepas baut penahan. Cukup untuk membuat jembatan tidak runtuh, tapi tidak aman dilewati.
Sementara itu, Moro berdiri di balik truk kosong yang diparkir melintang sebagian badan jalan—menyamar sebagai kendaraan mogok.
DETIK PERTAMA KONTAK
Truk vendor melambat.
Pak Wiryo, yang mengemudi di depan, menyipitkan mata.
“Jembatan… kenapa ada truk di situ?” gumamnya.
Ia mengangkat HT.
“Hati-hati. Ada yang aneh.”
Kalimat itu belum selesai ketika—
KRAAAAK!
Bunyi logam tua berderit.
Roda depan truk pertama turun setengah. Tidak jatuh—tapi cukup membuat kendaraan miring berbahaya.
“REM! REM!” teriak Pak Wiryo.
Truk kedua berhenti mendadak. Truk ketiga hampir menabrak.
Kacau.
SERANGAN PSIKOLOGIS
Moro melangkah keluar.
Tangannya terangkat, seolah membantu.
“Tenang! Tenang! Saya bantu!” katanya keras.
Dua pekerja turun refleks.
Kesalahan.
Moro bergerak cepat.
Satu tangan mencengkeram kerah, tangan lain menghantam perut.
DUUK!
Korban terlipat tanpa suara.
Raga muncul dari sisi lain, menyergap sopir truk kedua. Tidak memukul—hanya mengunci leher, menekan saraf.
“Tidur,” bisiknya.
Sopir roboh.
VIKRAM MUNCUL
Vikram berdiri di ujung jembatan, tersenyum tipis.
“Ini bukan perampokan,” katanya datar.
“Ini keterlambatan.”
Ia melempar granat asap kecil ke tanah.
PSSSSSS!
Asap putih menutup pandangan.
“Barang tetap utuh,” lanjutnya.
“Kalau kalian diam.”
PERLAWANAN DIMULAI
Namun dari balik asap, sebuah suara tegas terdengar.
“JANGAN PANIK!”
Sersan Bima melompat turun dari kendaraan pengintai yang sejak tadi mengikuti dari jarak jauh.
Eren menyusul.
“Kita hadapi,” kata Bima singkat.
Asap menipis.
Raga dan Moro langsung menyadari—
ini bukan warga biasa.
Raga mengangkat tangan sedikit.
“Kontak militer,” katanya ke alat komunikasi.
“Siap.”
BENTROKAN LANGSUNG
Moro menyerang lebih dulu.
Ia menghantam Bima dengan pukulan lurus keras.
Bima menangkis—mundur satu langkah.
“Berat,” gumamnya.
Dua teknik bertemu.
Militer lawan militer.
Moro menyeringai.
“Lama tidak dapat lawan sepadan.”
Mereka bertukar pukulan cepat—keras—presisi.
Di sisi lain, Eren berhadapan dengan Raga.
Raga bergerak efisien. Tidak boros tenaga.
Eren menghindar, menyapu kaki.
Raga melompat mundur.
“Bagus,” katanya dingin.
VIKRAM DAN PILIHAN KEJAM
Vikram melihat situasi berubah.
Ia menekan pemicu di tangannya.
Klik.
Tidak ada ledakan.
Hanya besi pengunci jembatan yang terlepas lebih jauh.
“Truk itu harus pergi sekarang,” katanya ke arah para vendor.
“Atau kalian jatuh bersama jembatan.”
Pak Tirto mengepalkan tangan.
“Kita mundur,” katanya tegas pada pekerja.
“Nyawa dulu.”
TARIK ULUR
Bima mendengar itu.
Ia mendorong Moro mundur, lalu berteriak,
“Eren! Amankan warga!”
Eren mengangguk, menarik para sopir menjauh.
Raga menyadari tujuan tercapai.
“Cukup,” katanya pada rekannya.
Moro berhenti, napas berat, mata masih menyala.
Vikram menatap Bima.
“Kami akan datang lagi,” katanya tenang.
“Sampai pasokan berhenti.”
MUNDUR TERATUR
Tiga pria itu menghilang ke balik kabut—
tanpa panik, tanpa tergesa.
Jembatan masih berdiri—
tapi tidak bisa dilewati.
Konvoi gagal hari itu.
SETELAHNYA — PAGI
Para vendor duduk di pinggir jalan. Wajah pucat, tapi tidak runtuh.
Pak Tirto menatap Bima.
“Mereka beda.”
Bima mengangguk.
“Ya,” katanya pelan.
“Ini bukan teror murahan.”
Ia memandang ke arah kabut yang mulai terangkat.
“Ini perang logistik.”
Dan jauh di kota,
Mr. Nakata menerima laporan.
Senyumnya kembali muncul.
Sementara di desa,
semua orang mengerti satu hal—
perlawanan mereka baru memasuki babak paling berbahaya.
Jam dinding berdetak keras.
Tik. Tok. Tik. Tok.
Tuan Kim Jong-un berdiri di depan jendela kaca besar, memandangi lantai produksi yang setengah kosong. Mesin-mesin berjalan, tapi tidak penuh. Ritmenya pincang.
Pintu diketuk.
“Masuk.”
Manajer logistik masuk dengan wajah tegang.
“Tuan… tiga truk bahan tidak sampai.”
Kim menoleh perlahan.
“Alasan?”
“Jembatan tua di jalur barat. Tidak ambruk, tapi tidak bisa dilewati. Ada… insiden.”
Kim menghela napas panjang.
“Ini ketiga kalinya minggu ini,” katanya pelan.
“FIFA tidak menunggu.”
Ia berjalan ke meja, membuka jadwal produksi.
“Kalau ini berlanjut,” lanjutnya,
“kita meleset kontrak. Denda. Reputasi.”
Tangannya mengetuk meja.
“Kirim pesan ke semua vendor. Saya mau laporan langsung.
Balai desa penuh.
Wajah-wajah lelah. Marah. Cemas.
Pak Kades berdiri di depan, mengetuk meja.
“Tenang dulu,” katanya.
“Kita sudah terlalu lama ditekan.”
Pak Tirto berdiri.
“Kalau jalur ini terus diganggu, kami mati pelan-pelan, Pak.”
Suara gumam setuju terdengar.
Pak Kades mengangguk, lalu menoleh ke satu sosok di sampingnya.
Pak Dosen Deden.
Tenang. Berkacamata. Map cokelat di tangan.
“Silakan, Pak Deden.”
Pak Deden melangkah maju.
“Yang kita hadapi sekarang,” katanya pelan tapi jelas,
“bukan preman. Ini operasi terencana.”
Ia membuka map.
“Jalur lama kita mudah ditebak,” lanjutnya.
“Mereka tahu jadwal. Tahu rute.”
Ia mengangkat selembar peta.
“Solusinya bukan melawan di jalan,” katanya.
“Tapi menghilang dari radar.”
Warga saling pandang.
“Maksudnya?” tanya Pak Wiryo.
STRATEGI BARU
Pak Deden menunjuk peta desa.
“Kita pecah pasokan,” jelasnya.
“Bukan satu konvoi besar. Tapi kecil-kecil.”
“Waktu acak. Rute berbeda. Jam berbeda.”
Ia menoleh ke Pak Kades.
“Dan kita libatkan pemerintah desa secara resmi.”
Pak Kades mengangguk.
“Surat jalan,” katanya.
“Pengawalan administratif. Bukan senjata.”
Beberapa warga tampak ragu.
“Kalau tetap disabotase?” tanya seseorang.
Pak Deden tersenyum tipis.
“Maka itu bukan lagi urusan desa,” katanya.
“Itu sudah masuk tindak pidana serius.”
JARINGAN KEAMANAN
Bima yang duduk di belakang ikut bicara.
“Kami buat tim pantau,” katanya.
“Bukan konvoi. Tapi mata.”
“Pos ronda jadi titik laporan cepat.”
Eren menambahkan,
“Dan jalur alternatif disiapkan, walau lebih jauh.”
Pak Tirto mengepalkan tangan.
“Biaya naik.”
Pak Deden mengangguk.
“Ya,” katanya jujur.
“Tapi produksi hidup.”
KEPUTUSAN DESA
Pak Kades mengetuk meja lagi.
“Mulai besok,” katanya tegas,
“rencana Pak Deden kita jalankan.”
“Tidak ada lagi kirim sendiri-sendiri tanpa koordinasi.”
Sorak kecil terdengar. Bukan riuh—tapi mantap.
KEMBALI KE PT. KOREAN INDUSTRY — SORE
Kim Jong-un menerima laporan baru.
Vendor-vendor menghubungi.
Nada mereka berubah.
“Ada rencana,” kata salah satu lewat telepon.
Kim menutup panggilan.
Ia menatap jadwal.
Masih mungkin dikejar.
“Bagus,” gumamnya.
“Yang kecil akhirnya belajar berpikir.”
Namun di sudut lain kota,
Nakata juga membaca pergerakan itu.
Dan ia tahu—
permainan akan menjadi
lebih rapi, lebih sunyi, dan lebih berbahaya.
PINGGIRAN DESA — MALAM
Tiga pria berdiri di balik semak belukar.
Gelap. Sunyi.
Hanya suara serangga dan desir angin sawah.
Di depan mereka, jalan lama—jalur yang selama ini selalu dilewati truk vendor kecil.
Salah satu dari mereka, bertubuh besar dengan bekas luka di leher, melirik jam.
“Sudah lewat setengah jam,” gumamnya.
Pria kedua—berwajah tajam, mantan penembak jarak jauh—menyipitkan mata ke arah tikungan. “Tenang. Mereka selalu lewat sini.”
Yang ketiga menyalakan rokok, asapnya menari di udara malam. “Bos Nakata bilang… target pasti lewat jalur ini.”
Mereka tidak tahu— malam itu jalur itu kosong.
JALAN ALTERNATIF — WAKTU YANG SAMA
Di sisi lain desa, dua truk kecil melaju pelan.
Tidak ada logo. Tidak ada konvoi.
Lampu disetel redup.
Di kabin depan, Pak Tirto menggenggam kemudi. Telapak tangannya basah, tapi wajahnya tegas.
“Kecepatan stabil,” katanya.
“Jangan ngebut.”
Sopir di belakang menjawab lewat HT. “Siap, Pak. Jalur bersih.”
Di titik tertentu, seorang warga berdiri di pinggir jalan, pura-pura merokok.
Ia mengangkat dua jari.
Aman.
Truk melaju lagi.
KEMBALI KE JALUR LAMA
Waktu terus berjalan.
Tiga orang suruhan Nakata mulai gelisah.
“Kenapa belum lewat?” tanya si bertubuh besar.
Pria berwajah tajam mengeluarkan ponsel. “Tidak ada pergerakan. Sepi.”
Rokok si ketiga sudah habis dua batang. “Jangan-jangan mereka—”
Belum selesai kalimatnya,
suara motor warga melintas santai.
Bukan truk.
Bukan target.
Wajah mereka mengeras.
“Kita… nunggu di tempat yang salah,” gumam salah satu.
GERBANG PT. KOREAN INDUSTRY — MALAM
Pintu besi terbuka perlahan.
Satpam memberi hormat.
Dua truk kecil masuk, tanpa hambatan.
Pak Tirto menghela napas panjang begitu mesin dimatikan.
Manajer logistik berlari menghampiri.
“Pak Tirto?”
“Iya.”
Ia menepuk bak truk. “Lengkap. Sesuai standar.”
Beberapa menit kemudian, Tuan Kim Jong-un sendiri turun ke lantai penerimaan.
Ia menatap bahan baku itu, lalu menoleh ke Pak Tirto.
“Kalian tepat waktu,” katanya.
“Bahkan lebih cepat dari jadwal revisi.”
Pak Tirto menunduk hormat. “Kami hanya mengikuti arahan desa, Tuan.”
Kim tersenyum tipis.
“Dan itu keputusan yang tepat.”
Ia memberi isyarat ke asistennya.
“Bayarkan. Tambahkan insentif.”
Asisten mengangguk. “Bonus penuh, Tuan.”
Pak Tirto terdiam.
Matanya berkaca-kaca.
“Terima kasih.”
Kim menepuk bahunya.
“Kalian bukan vendor kecil,” katanya tenang.
“Kalian mitra.”
RUMAH MEWAH NAKATA — MALAM
Tablet di tangan Nakata bergetar.
Laporan masuk.
Pasokan lolos.
Tidak ada gangguan.
Rahang Nakata mengeras.
“Apa maksudnya tidak ada?” suaranya dingin.
Salah satu anak buahnya menunduk. “Mereka… tidak lewat jalur biasa, Tuan.”
Nakata tertawa pendek—tanpa humor.
“Berarti,” katanya perlahan,
“mereka mulai belajar.”
Ia menatap ke tiga mantan tentara bayaran itu.
“Kalian menunggu bayangan,” lanjutnya.
“Bukan target.”
Ruangan hening.
Nakata menyeringai tipis. “Tak apa.”
Ia berdiri.
“Permainan baru saja naik level.”
Di luar, malam semakin pekat.
Di satu sisi, vendor kecil menang tanpa bertarung.
Di sisi lain, seorang pria kaya mulai menyusun langkah
yang tidak lagi sekadar menakut-nakuti.
Lampu ruangan diredupkan.
Di dinding, layar besar menampilkan peta desa, jalur distribusi, dan titik vendor kecil. Garis-garis merah dan biru saling bersilangan—seperti urat saraf yang sedang dipelajari sebelum dipotong.
Mr. Nakata berdiri dengan tangan di belakang punggung.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang.
Tiga mantan tentara bayaran berdiri berjajar.
Beberapa anak buah lama Nakata duduk menunduk.
“Preman gagal,” kata Nakata akhirnya.
“Ular gagal. Menunggu di jalan juga gagal.”
Ia menoleh perlahan.
“Artinya,” lanjutnya pelan,
“kita berhenti jadi hantu yang berisik.”
Salah satu tentara bayaran—pria berambut cepak dengan tatapan dingin—angkat suara. “Lalu kita jadi apa, Tuan?”
Nakata tersenyum tipis.
“Kita jadi angin.”
RENCANA BARU: TIGA LAPIS
Nakata menekan remote.
Slide pertama muncul.
LAPIS PERTAMA: ADMINISTRASI
“Vendor kecil hidup dari izin,” katanya.
“Surat jalan. Sertifikat. Standar.”
Ia menoleh ke manajer hukumnya.
“Mulai besok,” perintahnya,
“laporkan mereka ke semua lembaga yang bisa disentuh.”
“Keselamatan kerja. Limbah. Pajak. Standar mutu.”
Manajer itu mengangguk cepat. “Kami bisa buat inspeksi mendadak.”
Nakata mengangguk puas. “Buat mereka sibuk di meja. Bukan di jalan.”
LAPIS KEDUA: LOGISTIK HALUS
Slide berganti.
Gudang. Bahan bakar. Suku cadang.
“Kita tidak menghentikan truk,” kata Nakata.
“Kita hentikan kemampuannya berjalan.”
Ia menoleh ke salah satu tentara bayaran.
“Kamu,” katanya,
“urus bengkel-bengkel kecil di sekitar jalur alternatif.”
Pria itu menyeringai. “Suku cadang ‘kosong’ sementara?”
“Bukan kosong,” koreksi Nakata.
“Datang… tapi salah.”
Ia mencondongkan badan ke meja. “Rem tidak pas. Filter terlambat. Oli tercampur.”
“Tidak kecelakaan,” katanya dingin.
“Hanya sering mogok.”
LAPIS KETIGA: PSIKOLOGIS
Slide terakhir.
Foto-foto buruh vendor kecil. Rumah mereka. Anak-anak mereka—diambil dari media sosial.
Beberapa anak buah menelan ludah.
“Kita tidak sentuh mereka,” kata Nakata pelan.
“Kita sentuh rasa aman.”
Ia menunjuk layar. “Surat anonim. Peringatan halus. Isu.”
“Buat mereka saling curiga,” lanjutnya.
“Siapa yang bocor? Siapa yang kerja sama?”
Salah satu anak buah ragu. “Kalau aparat—”
Nakata mengangkat tangan. “Tidak ada kekerasan,” katanya.
“Tidak ada darah.”
Ia tersenyum. “Yang bersih… paling sulit dibuktikan.
Nakata menoleh ke tiga tentara bayaran.
“Kalian bertiga,” katanya,
“tidak turun ke lapangan.”
Mereka terkejut.
“Kalian pengendali,” lanjutnya.
“Pakai orang lokal. Lepas tangan.”
Ia mendekat, suaranya nyaris berbisik. “Dan satu hal lagi.”
Mata mereka tertuju padanya.
“Cari celah di dalam desa,” kata Nakata.
“Tidak ada sistem yang rapat tanpa satu orang lelah… atau rakus.”
SISI LAIN — RUMAH MBAH KLOWOR — MALAM
Sandi duduk bersila. Mata terpejam.
Napasnya tenang.
Aura di sekitarnya berbeda—lebih padat.
Mbah Klowor membuka mata perlahan. “Tenagamu sudah mengalir tanpa hambatan,” katanya.
“Tapi itu juga berarti… kau akan lebih peka.”
Sandi membuka mata. “Ada yang bergerak,” katanya pelan.
“Bukan di jalan.”
Mbah Klowor mengangguk. “Musuh yang cerdas… selalu menyerang yang tidak terlihat.”
KEMBALI KE RUMAH NAKATA
Nakata menutup layar.
“Vendor kecil menang satu ronde,” katanya.
“Biarkan mereka merasa aman.”
Ia mengambil jasnya.
“Karena ronde berikutnya,” lanjutnya dingin,
“tidak akan terasa seperti serangan.”
Ia melangkah keluar ruangan.
Di belakangnya,
sebuah rencana berjalan—tanpa teriakan, tanpa ular, tanpa jebakan kasar.
Hanya tekanan pelan…
yang jika dibiarkan,
bisa menghentikan seluruh nadi pasokan
tanpa satu pun peluru ditembakkan.